I Became The Seconde Wife For Of A Emperor

I Became The Seconde Wife For Of A Emperor
MALAM YANG PANJANG


__ADS_3

...28...


...🖤----------------❤...


"Ahk yang mulia raja maaf, pangeran Elvern ingin berpamitan dengan anda, dia memutuskan untuk pulang." ungkap Kane.


Seketika mata Alaric dan Aeris berbinar mendengar kabar itu...


Akhirnya dia pulang.


Girang hari mereka berdua. Mau gak senang gimana, pangeran Elevern bisa di bilang hama di antara Alami dan Aeris, risih nya Pangeran Elevern selalu mendekati Aeris.


"Baiklah, ayo bersiap untuk berpamitan!" ujar Alaric.


Meskipun tidak hyper terlihat wajah yang mulia sangat senang.


Hah akhirnya tidak ada yang menggangu ku lagi.


Aeris dan Alaric pun keluar untuk berpamitan dengan pangeran Elevern, Kane yang melihat keantusiasan pasangan itu pun menggeleng kepala saking tidak mengerti.


Kenapa mereka begitu senang???


Apa akun melakukan hal yang baik???. Ujar Kane.


🍀🍀🍀


Alaric dan Aeris pun sampai di gerbang keluar dan bertemu dengan Elevern.


Tapi Elevern tidak sendirian.


Ah itu Blancha, apa yang ia lakukan???


Elevern datang untuk berpamitan dengan membawa teman Aeris, Aeris berusaha terlihat tenang, meskipun kini di benak nya penuh pertanyaan.


"Terima kasih sudah mau menyempatkan waktu berpamitan..." ucap Elvern seperti biasa Elvern selalu tersenyum menyeringai.


Padahal pas malam dia mengeluarkan tabiat buruknya, kini kembali dengan pencitraan nya.


Dan Blancha kenapa dia terlihat ketakutan begitu???


"Karena saya sudah mendapatkan pasangan, saya akan pamit pergi, lihatlah namanya Blancha wilayah sini memang sangat cantik-cantik perempuan nya ya~" ujar Elvern senang.


"Syukurlah kalau begitu semoga sampai dengan selamat di perjalanan..." ucap Alaric.


"Yah terimakasih, ahk yang mulia ratu apa anda tidak mengenal sahabat anda sendiri," celetuk Elvern menunjukan Blancha.


"Hallo Blancha aku, aku menunggu waktu untuk menyapa mu!!" ucap Aeris lembut.


"Pangeran sebenarnya ratu Aeris sudah tahu tentang hubungan kita, ratu mendukung kita iya kan ratu Aeris???" ungkap Blancha dengan semangat.


Kata siapa, jujur aku merasa ragu-ragu, ku harap dia bersikap baik pada Blancha.


"Haha iya," jawab gagap Aeris.


"Salam saya sahabatnya ratu Aeris..."


Blancha menyapa Alaric.


"Hmm saya tahu itu," ketus Alaric.


Oh astaga kenapa dia bersikap dingin begitu. Rengek Aeris.


"Haha dia memang sedingin es saat pertama kali bertemu, tenang lah raja tidak membencimu..." bisik Aeris ke Blancha untuk menenangkan.


Ahk apa itu, apa itu tanda...


Aeris ku sudah di tandai oleh pria cabe ini...


Elvern melihat tanda di leher bekas Alaric saat Aeris tengah berbisik ke Blancha.


Raut wajah Elvern menahan emosi membuat Alaric yang melihat nya bingung.


"Blancha kenapa kamu bisa ikut kesini, apa kau juga akan ikut dengan pangeran Elvern ke kerajaannya???" tanya Aeris.

__ADS_1


"Iya! Aeris memang peka,"


Apa yang di katakan Aeris benar kalau Blancha akan ikut Elvern.


"Kenapa yang mulia apa anda cemburu," celetuk Elvern.


"Cemburu,"


Alaric dan Aeris mengucapkan bersamaan sontak mereka tertawa kecil.


"Apa maksud anda pangeran Elvern, untuk apa saya cemburu, saya bukan kekasih anda!"


"Haha, aku yang ku maksud a-adalah cemburu karena tidak di ajak pulang ke kerajaan timur, anda kan pasti penasaran dengan Kerajaan kami," ujar Elvern gelagapan.


Ngomong apa sih pangeran ini, Blancha juga kenapa senyum-senyum aja.


"Yah kalau saya penasaran saya bisa kesana jika pangeran berkenan," ucap Aeris datar.


Dan atmosfer nya tiba-tiba aneh. Alaric pun bertindak.


"Kalau begitu kalian tidak boleh berlama-lama,"


"Aha iya,"


"Tunggu Blancha, apa kau sudah ijin pada orang tua mu? Bagaimana dengan Riana??"


"Ahk sudah, soal Riana dia sudah pulang tenang lah," jawab Blancha.


"Kau yakin ingin pergi kesana, aku jadi khawatir, saling berkabar terus ya!" pinta Aeris.


"Iya, nanti aku akan kabari saat sampai, aku akan menghabiskan waktu ku dengan pangeran ku, benarkan?"."Tentu putri ku," jawab spontan Elvern.


Aku harap Elvern benar-benar mencintai temanku ini, firasat ku tidak enak.


"Tenang lah Aeris, kau terlihat khawatir, dia kekasih ku loh," tukas Blancha.


"Haha iya,"


Elvern bisa melihat siluet mata Aeris saat memintanya menjaga temannya.


Mata Aeris ku bersinar.


Memang cantik...


"Tentu saja, apapun perintah ratu saya akan laksanakan!" Hormat Elvern.


"Aku pegang kata-kata mu!" Tegas Aeris.


Aeris pun berpamitan dengan Blancha, merek saling berpelukan lalu kemudian mereka pun berpisah.


"Anda terlihat tidak baik-baik saja, apa ratu memikirkan sesuatu?"


"Yah aku khawatir pada temanku, aku tahu aku tidak berhak mengatur hubungan mereka karena kau membenci pangeran, tapi..."


"Aku tahu perasaan ratu, tenanglah..."


Alaric memeluk Aeris.


Hah yang mulia jadi sering menyentuhku.


Itu menenangkan, setiap yang mulia tiba-tiba memeluk, mengecup, perlakuan sederhana itu sangat menenangkan...


"Terimakasih perhatiannya,"


"Apapun untuk ratu!"


"Ayo kita pergi ke istana, sudah larut malam," pintar Aeris.


"Aaaa yang mulia apa yang sedang yang mulia lakukan???!"


Alaric tiba-tiba mengangkat badan Aeris ala bridal style membuat Aeris sedikit terperanjat kaget.


"Ratu tenanglah, aku akan antarkan ratu sampai kamar!" ujar Alaric.

__ADS_1


"Kamar? Kenapa ke kamar, kita harus makan malam, itu jadwalnya," bingung Aeris.


"Ratu memang tidak peka! Kita belum selesai loh!" rengek Alaric.


"Apa yang belum selesai," tanya Aeris semakin bingung.


"Permainan tadi di ruangan tempat bekerja! Apa ratu mengingat nya," Goda Alaric.


"Oh astaga..."


Aku dalam bahaya, dia beneran akan melakukan itu?


Aku akan segera di makan?!


Aeris terdiam membeku, pikiran nya linglung.


Tapi seketika Aeris sadar situasinya, tahu dia akan di makan Aeris pun memberontak.


"Tidak, aku belum siap yang mulia, beri aku waktu," Ucap Aeris histeris.


Aeris menarik kerah baju Alaric memberontak, tapi pikiran Alaric bukan seperti itu.


"Wah ratu sangat agresif~" goda Alaric yang melihat Aeris menarik kerah baju nya sampai terbuka.


"Tidak bukan seperti itu," bantah Aeris.


"Sudah ratu, ratu sudah kabur berulang kali, itu membuat ku sakit hati," rengek Alaric.


"Ahk kumohon yang mulia, yang mulia aku takut..." Aeris semakin memberontak.


"Huhu aku tida mau, huhu..." rengek Aeris. "Jangan menangis bohongan aku tidak akan melepas kan niat ku meski ratu menangis!" tegas Alaric serius.


Mereka pun sampai di kamar.


Sebelumnya saat sebelum masuk ke kamar ada pelayanan kerajaan yang menyiduk keberadaan mereka, itu tandanya akan ada rumor yang tidak benar. Tapi Alaric tidak menggubris nya.


***


Alaric membaringkan badan Aeris. Disanakah Aeris tidak bisa berbuat apa-apa lagi.


Alaric membuka baju nya membuat Aeris memekik malu.


Sial badannya sangat indah.


"Yang mulia apa yang mulia lakukan!!!"


Aeris masih membantah.


"Ratu tidak suka???"


"Hah apa maksud anda???"


Tiba-tiba Alaric menarik tangan Aeris dan meletakan di perut berotot nya.


"Hah apa yang sedang yang mulia lakukan!!!"


"Bilang saja ratu suka," goda Alaric.


Ini kah otot perut...


"Dengar ratu, hari ini ratu harus kuat, saya tidaka kan berhenti kalau saya tidak mau!" bisik Alaric.


Ahk geli...


Telinga dan perutku seolah ada kupu-kupu.


Dan di menit itu, di detik itu aku dan yang mulia benar-benar sudah saling Terikat.


...----------------...


{ Temen-temen jangan lupa suport ya dengan cara like dan comen, baca terus juga! Kalian juga bisa kritik oke biar author belajar lebih baik lagi dalam membuat novel, sekali lagi makasih ya yang udah baca! 🍀🌻🍀}


{ Kalau ada kalimat atau kata yang typo atau salah langsung komen aja ya! itu membantu banget! Sebutin bab nya nanti author benerin, makasih❣ }

__ADS_1


__ADS_2