I Became The Seconde Wife For Of A Emperor

I Became The Seconde Wife For Of A Emperor
AKAN MENJADI IBU YANG BAIK


__ADS_3


...22...


...❤----------------🖤...


"Salam yang mulia ratu dan yang mulia raja..."


"Salam pangeran Elvern," ucapan Aeris dan Alaric serentak.


Kalau ku perhatikan, dia selalu saja mendekati ratu, ratu juga terlihat risih...


Kenapa dia mendekati wanita yang sudah bersuami... Geram Alaric.


"Ada apa pangeran Elvern???"


"Ahk saya sedang jalan-jalan, dan tidak sengaja melihat anda!"


Lagi-lagi, alasannya selalu seperti itu.


"Jadi saya berniat menyapa yang mulia," ujar Elvern seperti biasa dengan senyuman khas nya.


"Oh ya apa yang mulia sedang membicarakan masalah anak, aku jadi tahu dari percakapan kalian, apa kalian menikah karena politik?"


"Apa!!!" kesal Alaric.


"Haha jangan marah, seharusnya jika kalian pengantin sungguhan yang mulia ratu pasti sudah mengandung, karena pasti kalian telah melewati malam pertama bersama," celetuk Elvern.


"Maaf pangeran, tapi kami menikah bukan karena politik, kami benar-benar menikah dan berjanji akan hidup bersama selamanya," kesal Alaric.


Perkataan pangeran Elvern tidak sopan, apa dia menyadari itu hal yang tidak perlu di bicarakan.


Seperti orang tua kuno saja.


"Maaf pangeran Alaric, kami mungkin terlihat seperti pernikahan politik tapi itu tidak benar, memang kami belum mempunyai keturunan karena kami baru saja mengenal..."


"Kami pasti akan memikirkan itu jika sudah matang!"


"Dan sekarang, kami sudah saling mencintai!" tukas Aeris.


Sontak kedua pria yang tengah mendengar pernyataan itu kaget, yang satu menahan kesal dan yang satu menahan malu.


"Dan ya, apakah perkataan pangeran Elvern itu seperti orang yang sedang mengurusi rumah tangga orang," celetuk Aeris.


Elvern tidak bisa berkata-kata.


"Saya berusaha tidak marah dengan kata-kata pangeran, karena pangeran adalah tamu kami, "


"Maaf atas perkataan saya yang mungkin membuat yang mulia tersinggung,"


"Bukan mungkin, tapi jika seseorang mendengar itu orang itu pasti akan tersinggung,"


Jangan playing victim dasar pangeran tidak bermoral.


Aeris memotong perkataan Elvern.


"Kurasa pangeran kesini bukan hanya untuk menyapa, melihat pangeran mengomentari masalah pernikahan dan anak, kurasa dari tadi anda sedang menguping," ejek Aeris sambil menyeringai.


"Sekali lagi karena anda tamu jadi kami menghormati anda pangeran Elvern..."


"Kami pergi dulu, ayo yang mulia,"


Aeris merangkul tangan Alaric dan mengajaknya pergi dari sana.


Sementara Pangeran Elvern...


"Haha aku sangat kesal melihat cintaku memperlakukan ku dengan sangat jahat!"


"Aku jadi semakin ingin mendapatkan mu!!!"


"Hahahahhaha,"


"Aku tahu Aeris ku yang cantik itu sebenarnya tertarik padaku," ujar Elvern girang.


"Siapa yang tidak menyukai tampang seperti pria dongeng ini haha, aku bahkan bisa mengalahkan ketampanan si Alaric itu!" kesal Elvern.


"Aku jadi punya ide yang bagus!"

__ADS_1


🍁🍁🍁


"Hah pangeran menyebalkan," gerutu Aeris.


"Hah apa???"


"Maaf yang mulia, meskipun pangeran Elvern adalah teman yang mulia saya tidak menyukainya, apa yang mulia lihat dia tadi sedang merendahkan kita," kesal Aeris.


"Tidak, dia bukan temanku!"


"Hmmm???"


"Dia hanya rekan kerja tidak lama, saya bukan temannya, saya juga risih saat dia terus mendekati ratu," Alaric ikut kesal.


*Hmmm apa dia cemburu???


Ku pikir dia akan maraha karena pangeran Elvern merendahkannya*.


"Ohh ratu soal itu bagaimana???"


"Ahk soal apa???" Aeris bertanya balik.


"I-itu..." gagap Alaric. "Iya apa???" tanya Aeris.


"Masalah a-anak,"


Alaric sudah mengungkapkan bukanya tenang Alaric sangat khawatir.


"Oh haha,"


Aku tidak menyangka dia masih memikirkan itu.


"Jujur raja..."


"Saya tidak keberatan, hanya saja saya belum siap, dan saya takut anda tidak menginginkannya..."


"Apa maksud anda ratu!" Alaric bingung.


"Saya teringat Luan, aku takut aku menjadi orang tua yang tidak bisa menyayangi anaknya,"


"Aku tidak ada bedanya dengan Edana," keluh Aeris.


Aeris terperanjat kaget mendengar Alaric yang tiba-tiba berteriak.


"Yang mulia???"


Wajah Alaric raut nya berubah jadi kesal dan masam.


"Maaf mungkin pertanyaan ini membebani ratu, soalnya aku takut ratu kepikiran..."


"Aku yakin ratu akan jadi ibu yang baik, karena mengurus kerajaan pun Anda sangat baik di banding ratu-ratu sebelum nya..."


"Dan aku yakin ratu akan menjadi ibu yang baik,"


"Kenapa anda sangat yakin yang mulia?" tanya Aeris.


"Saat kau bersikeras merawat Luan, dan memberikan motifasi sampai Luan punya cita-cita dan impian, dimana Luan bisa jadi anak yang tumbuh dengan baik,".


" Itu sudah membuktikan ratu akan menjadi ibu yang sangat baik," ujar Alaric sambil tersenyum bangga pada Aeris.


Aeris hanya terdiam.


"Aku merasa sakit hati karena ratu merasa tidak layak menjadi seorang ibu," gumam Alaric.


Alaric, oh astaga perkataan ku keterlaluan.


"Dan ratu, jangan samakan ratu dengan Edana, anda terlalu mewah untuk di samakan dengan wanita itu," ucap Alaric sambil menatap sendu ke arah Aeris.


"Seharusnya aku yang berpikir, apakah aku layak menjadi ayah yang baik!" tukas Alaric.


"Aku malah terburu-buru mengatakan itu padahal aku sendiri belum siap," kelahiran Alaric.


"Tidak, jika memang yang mulia menginginkan anak, aku akan memberikan nya, asalkan..."


Alaric penasaran dengan perkataan selanjutnya Aeris.


"Asalkan yang mulia menyayangi anak itu..." lirih Aeris.

__ADS_1


Sontak Alaric melebarkan mantanya saking tidak tertebaknya perkataan Aeris.


"Yah aku akan berusaha, mohon bantuannya..." ucap Alaric.


Suasana jadi tenang tapi tidak ada rasa canggung, melainkan rasa haru dan ketidak sangkaan.


"Saya juga!" ucap Aeris sambil tertawa senang.


"Jadi apa ratu siap!"


Alaric tiba-tiba mendekati Aeris.


Oh astaga aku terbawa suasana.


Alaric semakin agresif, Alaric sekarang memeluk pinggang Aeris dan mendekati wajah Aeris.


"Ahk yang mulia ini terlalu..."


"Apa ratu, terlalu apa..."


Alaric tidak mendengarkan perkataan Aeris.


Alaric mendekati leher Aeris meski Aeris memberontak Alaric tidak menggubris.


Tapi...


"Yang mulia ratu saya masuk,"


BRAK.


Suara pintu yang terbuka cukup keras.


"Oh astaga!!!"


Rigel yang tidak tahu akan ada adegan ambigu pun melihat keadaan Aeris dan Alaric sontak terdiam membeku.


Saat sadar Rigel meminta maaf lalu menutup kembali pintu.


Oh astaga apa yang aku lihat...


Sebentar lagi aku punya keponakan...


Rigel senang sekaligus merasa bersalah dalam satu keadaan.


"Oh astaga memalukan," gerutu Aeris.


"Pfttt,"


"Yang mulia kenapa anda tertawa," kesal Aeris.


"Aku tertawa karena melihat wajah ratu yang kaget saat kepergok oleh Rigel, itu sangat konyol," kekah Alaric.


Aeris hanya mengerutkan bibirnya kesal.


Meskipun kesal...


Senang melihat yang mulia tertawa lepas begini...


"Ahk ada surat?!"


Seorang burung tiba-tiba masuk dari jendela kamar.


"Ahk ini burung ratu???" tanya Alaric penasaran.


"Ahk, ini... ini burung teman saya,"


"Teman laki-laki???" tanya lagi Alaric dengan sedikit wajah yang mau cemburu.


"Perempuan..."


Aeris membaca surat dari temannya yaitu Blancha dan Rania.


Aeris berteman akrab sedari kecil.


"Woah mereka sedang ada di wilayah utara, bolehkah aku menemui mereka yang mulia," girang Aeris...


__ADS_1


...----------------...


__ADS_2