I Became The Seconde Wife For Of A Emperor

I Became The Seconde Wife For Of A Emperor
SIA-SIA


__ADS_3

...12...


...❤----------------🖤...


Aeris di bawa ke kamar istana ratu lalu di baringkan, tabib-tabib yang ahli menyembuhkan datang untuk mengobati Aeris.


"Ibu!!!"


"Alaric!!! Aeris..."


Diana tidak bisa mengatakan kondisi Aeris bagaimana karena tak berdaya melihat Aeris.


"Bagaimana Aeris ibu!!! Aeris tidak apa-apa kan!!!"


Alaric menekan pundak ibunya tidak bisa menahan amarah.


"Alaric hentikan, ibumu juga sedang panik," bentak Hesperos.


Alaric lari ke ruangan Aeris di baringkan.


"Yang mulia raja!!!"


Semua tabib panik karena Alaric tiba-tiba menerobos masuk.


"Aeris..."


Alaric melebarkan matanya tidak percaya apa yang ia lihat, seseorang yang ia cintai terbaring tidak bergerak sama sekali.


"Tabib apa Aeris bisa di selamat kan!" khawatir Alaric.


"Yang mulia ratu meminum tanaman beracun yang bernama Lilith, yang membuat siapa yang meminumnya akan kehilangan kesadaran nya jika 24 jam tidak ada penawarnya, yang mulia tidak bisa di selamat kan lagi," ujar Tabib.


"Apa, apa maksudmu!"


Alaric berusaha menahan emosinya.


"Apa penawarnya!" tanya Alaric.


"Tanaman Liliana, itu ada di Kerajaan barat, butuh berjam-jam untuk pergi kesana yang mulia,"


"Aku akan kesana!!!" tukas Alaric.


"Itu tidak mungkin yang mulia,"


"Itu mungkin aku akan kesana sekarang juga!" kekeh Alaric.


"Biar saya saja yang mulia!"


Seorang anak yang kisaran nya 10 tahun ingin menggantikan Alaric mencari tanaman obat.


Itu adalah Luan.


"Saya sudah bersumpah pada anda, akan melindungi dan menyelamatkan yang mulia ratu jika terjadi apa-apa, saya akan pergi ke kerajaan barat sekarang."


"Aku tidak percaya padamu!" bantah Alaric.


"Kalau begitu bagaimana kalau saya ikut anda mencari tanaman itu, korbankan saya yang mulia, saya sudah bersumpah!"


Alaric terdiam wajahnya mengkerut kesal.


"Baiklah ikuti aku!"


Alaric pun menyetujui Luan yang akan ikut mencari tanaman.


"Dimana letak tanaman itu???" tanya Alaric lagi.


"Di hutan dekat kerajaan Rania," ucap tabib.


Alaric pun bergegas setelah tahu tujuan nya.


"Kau jangan mau ikut!" bentak Edana.

__ADS_1


"Apa, apa maksud ibu???"


Kenapa dia tiba-tiba berbicara denganku. Heran Luan.


"Biarkan saja ratu Aeris mati, setelah ratu Aeris mati aku akan jadi ratu dan aku akan mengakui mu sebagai anakku," ucap Edana sambil merayu Luan.


"Benarkah itu ibu!"


Hah anak ini memang gampang di rayu.


"Yah, demi ibumu ibu, tolong ya..."


"Hah miris!" kekah Luan.


"Apa,"


Edana terperanjat kaget.


"Karena gila harta, ibu rela dengan kejam meracuni yang mulia ratu, agar dapat duduk di kursi tahta,"


"Memangnya setelah yang mulia ratu tiada, ibu akan dengan mudah kembali menjadi ratu!"


"Hah sial tentu saja siapa lagi," jawab angkuh Edana.


"Tidak mungkin yang mulia raja memberikan gelar ratu pada orang yang tidak ia cintai," ujar Luan sambil mengeluarkan siluet mata yang tajam.


"Seharusnya ibu berpikir dua kali untuk berbicara denganku, karena kebodohanmu aku jadi tahu siapa tersangka yang talah meracuni seorang yang berharga bagiku," ketua Luan.


"Hah silakan saja, siapa yanga kan percaya, dan akan ku pastikan seorang yang berharga itu akan mati saat kau pulang," ancam Edana.


Aku tidak akan takut dengan geretak kan itu.


Aku yakin yang mulia ratu Aeris akan selamat.


Luan pun pergi bergegas untuk mengikuti Alaric mencari tanaman Liliana.


Tidak hanya Alaric dan Luan saja. Kane, Rigel dan beberapa prajurit yang menghormati Aeris ikut turun mencari tanaman Liliana itu.


"Hentikan perasaan anda pada yang mulia ratu Aeris, yang mulia raja sangat mencintainya," pintar bawahannya.


"Ku pikir kau tidak peka," kekah Altair.


"Aku benar-benar harus merelakan cinta pertama ku, aku bahkan tidak bisa apa-apa saat cinta pertama ku sedang di ambang kematian,"


"Hatinya sangat cantik!" ungkap Altair merujuk ke Aeris.


"Kita bisa berdoa Duke," saran bawahannya.


"Hmm..."


Aeris meskipun kau tak mengingatku, aku harap kau selamat...


"Jadi wanita yang ku sukai pada pandangan pertama itu adalah ratu yang tengah di ambang kematian!"


"Iya pangeran Serulin!"


Serulin terkekah meskipun begitu ia tidak bisa menyembunyikan wajah kecewanya..


"Dia istri yang mulia raja Alaric rupanya..."


"Ahk sir Robert, aku akan membantu wanita itu!"


"Ahk, jangan mengharapkan sesuatu pangeran!"


"Aku hanya ingin menjadi temanya, aku juga tidak tahu sihir ku bisa mempan atau tidak!"


"Kenapa anda ingin menolong nya???" tanya Sir Robert penasaran.


"Hah, memangnya ada alasan kenapa kita menolong seseorang,"


Robert tertegun mendengar perkataan Serulin.

__ADS_1


"Jka dia bangun, itu akan menjadi akhir dari cinta pertama ku," kekah Serulin.


Serulin pun bergegas ke ruangan Aeris dan membantu Aeris.


Para tabib berterima kasih karena sihir Serulin berpengaruh, sihir Serulin memberi pengaruh lama untuk racun nya menyebar ke seluruh tubuh.


"Woah... Woah... Woah..."


"Banyak sekali yang membantu ratu Aeris, ratu Aeris memang baik ya," ucap Elvern di hadapan Edana.


Edana yang mendengar itu hanya memainkan giginya geram.


"Hah orang baik dari mana, dia harus menanggung akibatnya karena suka bermain drama," Ungkap Edana.


"Melihat tingkah laku anda, saya jadi curiga kalau anda yang memasukan racun itu!" ujar Elvern.


"Siapa lagi, kau jangan berpura-pura tidak tahu begitu sayang ku," goda Edana.


Menjijikan, aku bukan sayangmu.


"Kenapa anda melakukan ini???" tanya Elvern.


"Apa lagi! Dia sudah merebut gelar ratu ku, aku tidak marah bagaimana," ujar Edana.


"Tapi kau telah menyakiti hal yang kusukai!" gerutu Elvern.


"Hah apa maksudmu!" Edana bingung.


"Dasar wanita tidak tahu diri, beraninya kau menyakiti wanita kesukaan ku!" geretak Elvern.


"Aaaaaaaaaa,"


Elvern mencekik leher Edana membuat Edana sesak tidak bisa bernafas.


"Lepaskan... Lepaskan aku ahkkk,"


"Kau harus mati!!!" Elvern.


"Ada apa ini, Edana dan pangeran Elvern apa yang sedang kalian lakukan!!!"


"Ahk kami hanya sedang bercanda~" ujar Elvern sambil tersenyum pencitraan.


Setelah dia hampir membuatku mati, dia menganggap ini bercanda, pria gila, padahal aku mempercayai nya!!!!


"Pangeran dari pada bercanda kenapa anda tidak ikut membantu penyembuhan," saran Sofia.


"Maafkan saya,"


"Anda juga nona Edana," ketua Sofia.


"Huh! Tidak sudi aku!"


Edana berlari meninggalkan Sofia dan Elvern.


Dia kabur? Huh kabur kemana dia, aku harus berasal di sini dulu, setelah itu aku akan menghukum ratu bodong itu. Ujar Elvern.


Wajah Elvern seperti seorang yang kehilangan mangsanya.


Aku curiga ini perbuatan nona Edana, kalau benar, aku harap dia mendapat balasan yang lebih besar.


Hukuman mati saja tidak cukup untuk seorang Edana, aku harap aku melihatnya di neraka nanti.


Di perjalanan...


Alaric dan rombongan nya sudah sampai di hutan Rania temat tujuan, tapi tidak menemukan sama sekali bunga yang bernama Lilian.


"Bagaimana ini..." Alaric mulai putus asa.


"Siapa kalian? Apa yang kalian di tempat yang suci ini???"


Siapa dia????

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2