
...7...
...🖤----------------❤...
"Ibu! Ibu! Yang mulia ratu Aeris sangat hebat," Puji seorang anak yang ikut bersama Edana yang sedari tadi mengintip.
"Hebat apanya, dia hanya beruntung, harusnya aku yang jadi ratu,"
"Kalau bukan karena kau dan ayahmu itu, aku akan berada di samping yang mulia raja," Bentak Edana.
"Ahk maafkan aku ibu," ucap anak itu merasa bersalah.
"Huh jangan dekati aku, aku bukan ibu mu,"
Edana pergi meninggalkan anak itu.
Tidak apa-apa, aku bisa tinggal di sini berkat ibu, aku harus berterima kasih seperti apa kata ayah.
Penyambutan pun selesai, Aeris berniat untuk istirahat dan membawa buku yang dia tinggalkan di perpustakaan.
"Saya pamit pergi dulu yang mulia..." ujar Aeris sopan.
"Hmm... Terima kasih untuk hari ini," ucap Alaric sambil tersenyum.
"Woah apa anda tersenyum, anda sangat tampan saat tersenyum, sebelum sama-sama, kalau begitu sampai jumpa~"
Apa?! Dia baru saja memujiku tampan! Pujian pertama dari Ratu!
"Woah anda sangat serasi yang mulia," ucap salah satu menteri yang menonton kedekatan Aeris dan Alaric.
Bisa di bilang Alaric tengah ada di ruangan kerjanya bersama partner-patner nya dan patner nya itu disebut Menteri.
"Benar, yang mulia ratu ternyata bisa membuat anda jatuh ya," goda menteri lainya.
Rigel dan Kane selalu duo bawahan pembuat onar mendengar itu pun ikut menggoda Alaric.
"Ho... Saya bahkan sudah sering melihat keromantisan mereka berdua para pekerja sekalian," ucap Kane dengan percaya diri.
"Woah irinya..." kagum semua pekerjaan yang ada di sana.
"Katanya yang mulia menghabiskan malam pertama nya juga loh..." celetuk Rigel tanpa merasa dosa.
Orang yang ada disana kembali kagum.
Dasar bawahan gak guna!!!. Teriak batin Alaric.
Sementara bawahan Alaric hanya tertawa setelah mengumbar hal itu.
🍁🍁🍁
"Aku tidak sabar membaca buku sejarah di perpustakaan la~la~la~laaaa~"
"Eh???"
'Hiks... Hiks... Hiks...'
Aku seperti mendengar suara orang menangis, tunggu dimana suara nya???
Aeris pun melupakan niatnya ke perpustakaan dan fokus mencari sumber suara seseorang yang menangis.
'Hiks... Hiks... Hiks... '
"Ahk ketemu, eh!"
"Hei nak kamu kenapa???"
Aeris menghampiri seorang anak laki-laki yang tengah menangis.
"Huhu... Jangan dekati aku hiks... "
Anak itu mengelak.
"Hei perlihatkan wajahmu! Aku bukan orang jahat, ayo cerita!"
"Siapa kamu huh!"
"Eh???" Anak itu tertegun saat melihat siapa yang tengah berdiri di dekat nya.
*Yang mulia ratu Aeris!!!
Oh tidak aku sudah lancang*!!!
__ADS_1
"Kamu gak papa???" Tanya Aeris.
"Oh Tuhan, maafkan saya yang mulia ratu, saya pikir itu bukan ratu!!!"
Anak itu kembali menangis bahkan sampai tersujud-sujud.
"Oh jangan di pikirkan, sekarang lebih baik kau jawab pertanyaan ku," tegas Aeris.
Seketika anak itu terdiam.
"Huhu... Hiks... Hiks..."
"Jangan menangis lagi nak, kamu kenapa aku akan membantu mu,"
"Hah? Itu tidak mungkin, seorang ratu terhormat membantu anak jelata seperti saya," ujar Anak itu.
"Oh astaga, bukan kah itu tugas ratu, siapa yang mengajar kan pernyataan itu..." kesal Aeris.
"Duh apa ini berisik sekali!!!"
"Ibu..." ujar anak itu tersenyum.
Edana? Anak ini memanggil Edana ibu??
seketika aku terdiam membeku, saat anak itu menyebut Edana dengan sebutan 'Ibu' Aku mulai berpikiran negatif.
*Jika ibunya adalah Edana??? Apakah Alaric!!!
Tidak itu wajah Aeris, aku hanya istri politiknya, ini wajar.
Tapi kenapa hatiku terasa tercabik-cabik*...
"Ahk ibu, aku tidak apa-apa, aku tidak berbuat kesalahan pada yang mulia ratu, yang mulia ratu hanya menenangkan ku, jangan khawatir aku tidak apa-apa bu,"
Kenapa anak itu jadi panik begitu???
"Ahk apa peduli ku, sudah ku bilang jangan panggil aku ibu!!!"
"Ahhkkkk!!!!"
Edana mendorong anaknya ke tembok dengan kuat.
"Hah apa yang kau lakukan nona edana!" teriak Aeris.
"Jangan sok baik dia pantas di perlakuan seperti ini karena dia menghancurkan hidupku!!!"
"Dasar kau ini!!!" Geram Aeris.
"Ti-tidak jangan yang mulia,"
Anak itu tiba-tiba menahan Aeris agar tidak menyerang Edana.
"Jangan apa-apa kan ibu saya, saya minta maaf, tolong yang mulia ratu," ujar anak itu bersikeras sambil menangis.
"Hei nak tenanglah!" Aeris khawatir karena tiba-tiba anak itu mimisan.
"Asataga kamu mimisan!!!"
"Saya tidak apa-apa yang mulia..." lirihnya.
Anak itu setelah mengatakan kata 'Tidak apa-apa' kemudian langsung pingsan.
"Oh astaga!" panik Aeris.
"Hah merepotkan, memang anak pembawa sial," Edana pergi seolah tidak terjadi apa-apa.
Sial ibu tidak tahu diri.
Tenang Aeris sekarang kita harus menyelamatkan anak ini, aku akan membawanya ke kamarku.
Aeris pun menggendong anak Edana ke kamarnya untuk di selamatkan, ia berlari dan tidak mempedulikan siapa yang tengah melihatnya lusuh.
"Hei lihat yang mulia ratu menggendong anak nya nyonya Edana!" Bisik pelayan yang melihat Aeris berlari.
"Iya kenapa nona membawa anak itu!"
Aeris yang tidak melihat jalan dan fokus melihat keadaan anak Edana sambil berlari tanpa sepengetahuan menabrak seseorang lalu terjatuh.
"Ahk apa dia tidak apa-apa, maafkan saya, saya sedang bergegas."
"Biar saya bantu angkat anak ini,"
Pria yang tadi bertubrukan dengan Aeris membawa paksa anak Edana.
__ADS_1
"Anda yang mulia ratu, biar saya yang membawa anak ini, saya akan mengobatinya dimana saya bisa meletakkan nya,"
"Kenapa anda mau membantu saya!!!" curiga Aeris pada pria yang memiliki kulit eksotis itu.
"Nanti saya jelaskan, mari kita bantu anak ini dulu," titah pria itu.
"Baiklah tolong ikuti saya,"
Aeris pun dan pria yang mengangkat anak Edana itu bergegas pergi ke ke kamar Aeris.
"Letakan saja di kasurku,"
"Ahk nona apa yang terjadi," Sofia tiba-tiba panik.
"Itu anak nona Edana!!!" Kaget Lili.
"Anak nona Edana pingsan, aku membawanya kesini untuk membantunya,"
"Dan tuan apa anda benar-benar bisa membantunya, dia tadi terdorong ke tembok dengan kuat,"
Aeris menceritakan kronologi nya dengan panik.
"Dia sempat mimisan lalu pingsan, kumohon selamat kan dia," pintar Aeris memohon.
"Tenang, saya bisa menyelamatkan nya, anda bisa tunggu di luar,"
Apa aku bisa percaya pria ini???
"Percaya saja pada saya!"
"Ah baik,"
Aeris kaget karena pria itu seperti bisa membaca pikiran nya.
Mencurigakan.
Aeris pun bersama para sayang menunggu pria mengobati anak itu.
"Nona minum lah dulu, anda pasti lelah dan kaget," Sofia khawatir.
"Ahk anda sampai berkeringat apa anda tidak apa-apa???" Tanya Lili.
"Hmmm," jawab singkat Aeris sambil tersenyum agar bisa menyakinkan dayang-dayang nya kalau dia baik-baik saja.
Beberapa menit kemudian...
CLAK
{ Suara membuka pintu }
"Ahk apa anak itu baik-baik saja!!!"
"Yah, dia baik-baik saja, lukanya tidak berat, yang mulia ratu bisa melihat nya,"
Aeris pun bergegas melihat anak itu.
"Nak..." lirih Aeris
"Yang mulia ratu..."
"Syukurlah kamu tidak apa-apa!" Aeris tersenyum.
*Yang mulia menyelamatkan ku... Ibu, aku tidak melihat ibu sama sekali.
Hanya dia*.
Wajah Anak itu tiba-tiba menjadi masam dan sedikit mengeluarkan air mata.
"Nak kamu tidak apa-apa???" Aeris mulai panik lagi.
"Saya baik-baik saja yang mulia ratu," jawab anak itu.
Dia menatap ku dengan khawatir, apa ibu pernah menatapku dengan seperti ini???
"Ahk tuan kalau boleh tau siapa kah anda, saya sangat berterimakasih karena telah menolong anak ini,"
Aeris yang melihat pria itu belum pergi.
"Saya tamu perwakilan dari Kerajaan selatan, nama saya adalah Altair,"
"Ahk... Sebenarnya kenapa anda ingin menolong kami, padahal saya bisa memanggil tabib disini,"
"Karena hati anda yang tulus..." tutur Altair.
__ADS_1
"Apa?!" bingung Aeris.
...----------------...