
...20...
...❤----------------🖤...
"Ahk siapa pria ini Aeris???"
"Ahk ibu ia adalah pangeran Elvern dari Kerajaan Moonlight,"
"Salam ibu yang mulia, suatu kehormatan bisa bertemu dengan anda,"
"Ahk duduklah kita munim sirup buah ini, anda bisa mencobanya pangeran," ramah Ibu Aeris.
Oh astaga kenapa ibu harus mengajak nya, aku bahkan tidak terlalu dekat untuk bersapaan seperti tadi.
"Ahk ini sirup, saya pikir ini teh,"
"Oh astaga, maaf bukanya yang mulia ratu ada trauma meminum teh!" celetuk Elvern.
"Ahk putriku tidak ada trauma atau alergi minum teh, dia malah sangat menyukai teh..." heran Ibu Aeris.
"Mungkin itu dulu, tapi kan yang mulia ratu baru saja keracunan saat minum teh!" ungkap Elvern blak-blakan.
"Apa!!! Apa itu benar Aeris,"
Sontak ibu Aeris yang bernama bella itu kaget.
"Ahk..."
Dasarnya pria ini! Mulutnya tidak bisa di rem, bagaimana aku menjelaskan nya pada ibu, ini kan kejadian yang di rahasia kan pada keluarga ku. Bahkan semua orang saksi mata tutup mulut.
Tapi, pria ini membeberkan nya dengan santai tanpa merasa berdosa sama sekali.
Kejadian Aeris berada di ambang kematian, di rahasiakan dari keluarga Aeris.
Tapi raja Henry tentu saja tahu itu sebagai informasi keadaan Aeris.
"Haha nanti aku bicarakan itu, kita kan sedang bersenang-senang, ibu tenang lah..."
"Ahk baiklah,"
Raut wajah ibu Aeris terlihat kecewa dan khawatir.
***
"Maaf aku ingin bicara sebentar dengan anda pangeran!" tegas Aeris pada Elvern.
"Yah apa itu, yang mulia terlihat marah pada saya,"
"Saya hanya sedikit kecewa pada anda," ujar Aeris.
"Pangeran tahu kalau kejadian yang saya alami adalah rahasia untuk keluarga saya, tapi kenapa anda membeberkan nya dengan mudah, saya harap pangeran ke depannya lebih berhati-hati saat tinggal di sini,"
Elvern hanya menggaruk tengkuknya dan melihat ke mana-mana tidak fokus pada lawan bicaranya.
"Haha maaf yang mulia saya lupa," kekah Aeris.
"Saya juga tidak mengerti kenapa anda belum pulang, padahal bisnis sudah berakhir?".
"Karena saya masih ingin melihat anda,"
"Apa,"
Aeris tidak mengerti dengan apa yang di ungkapkan pangeran Elvern.
__ADS_1
"Ah lupakan, aku hanya masih belum menjalankan tugasku!" ujar Elvern terbata-bata. "Tugas apa itu???" tanya Aeris.
"Ahk saya di suruh kakak saya untuk mencari wanita di wilayah utara, karena katanya wanita di utara sangat cantik-cantik hehe~"
Alasan apa itu, dasar mandang fisik...
"Carilah secepatnya!!!" pintar Aeris.
"Haha tidak semudah itu, karena wanita yang saya sukai punya tameng yang kuat," kekah Elvern.
"Apa syukurlah anda sudah punya calon yang anda inginkan, semoga anda dapat memikat hatinya,"
"Haha benar, semoga aku bisa mendapatkan wanita yang di hadapanku," celetuk Elvern.
"Hah???"
Dari tadi bicara nya selalu ngelantur. Kesal Aeris.
"Maksud saya, ahk lupakan," ujar Elvern gelagapan.
"Baiklah sampai di sini saja, tolong kali ini saya tidak main-main, dengarkan ada yang saya bilang tadi," tegas Aeris.
"Jangan beritahu itu karena ibu saya punya penyakit jantung," tyryr dan tegas aeris.
Elvern hanya terdiam dan Aeris berlalu pergi.
Bagaimana agar aku bisa mendapat mu Aeris!
Aku sangat terobsesi pada mu.
Elvern tersenyum menyeringai.
🍁🍁🍁
"Ahk aku masih kepikiran Aeris, dia jadi punya trauma dengan teh karena keracunan saat minum teh," resah ibu Aeris.
Fufufu pasti dia penasaran dengan kejadian itu.
Elvern pun mendekati ibu Aeris dan melupakan dengan mudah perintah tegas dari Aeris.
"Kita berjumpa lagi ibu ratu~" sapa Elvern.
"Ahk pangeran Elvern, sedang apa anda disini!" tanya ibu Aeris.
"Saya sedang berjalan-jalan hehe..."
Elvern bisa melihat kalau ibu Aeris tidak pokus berbicara dengan nya dan sibuk melamun membuat Elvern kesal.
Menyebalkan! Tapi ini kesempatan yang bagus.
"Ibu ratu anda terlihat resah, apa yang anda pikirkan," tanya Elvern sambil tersenyum mencurigakan.
"Ahk tidak, aku hanya..."
"Anda bisa bercerita pada saya, jika saya bisa jawab saya akan memberitahu!" tawar Elvern.
Sontak mata ibu Aeris berbinar-binar, dan raa penasaran pun ia sampaikan.
"Apa pangeran tahu bagaimana kilas balik kenapa yang mulia ratu bisa keracunan???"
"Aha!!!"
"Begini ceritanya..."
__ADS_1
Elvern pun menceritakan dari awal sampai akhir dengan lengkap kejadian itu, yang membuat Ibu Aeris kaget.
Lama bercerita, Elvern pun selesai menceritakan kronologi nya kepada ibu Aeris.
"Begitulah ceritanya, sebenarnya ini di rahasiakan, tapi saya beritahu karena anda ibu ratu," ujar Elvern bangga.
"Oh astaga, anakku sudah mengalami masa yang berat,"
"Ya ya bu..." tukas Elvern.
"Terima kasih sudah menceritakan ini, aku jadi sedikit tahu tentang kabar Aeris yang terlihat baik-baik saja, kalau begitu sampai jumpa!" ucap Ibu Aeris.
"Ah ya..."
Apa? Dia tidak sesak nafas? Bukankah dia punya penyakit?
Elvern yang berencana membuat ibu Aeris kambuh dengan penyakitnya dan menjadi pahlawan yang menyelamatkan ibu Aeris padahal itu perbuatan nya sendiri, tapi rencana itu tidak terealisasikan.
Ibu Aeris malah berterima lalu pergi dalam keadaan baik-baik saja.
"Sudah kuduga aku memang tidak bisa percaya pada pria itu," lirih Aeris yang melihat kejadian itu.
"Untung saja ibu masih baik-baik saja, tapi tidak tahu nantinya, aku harap ibu bisa menerima ini dengan tenang agara kondisinya baik-baik saja." khawatir Aeris.
Di balik kejadian itu ada Aeris yang melihat kejadian itu, karena dari awal Aeris tidak percaya dengan Elvern dan benar saja Elvern membeberkan rahasia yang bukan rahasia lagi.
Rencana yang jadi realisasi untuk Aeris tapi tidak untuk Elvern.
***
"Apa yang sedang anda pikirkan ratu???" tanya Alaric.
"Ahk aku sedang berpikir bagaimana menyampaikan kejadian yang di rahasia kan itu pada ibu agara ibu bisa tenang dan baik-baik saja setelah mendengar itu,"
Ahk aku dengar semua keluarga sudah tahu itu, ayah dan kakak ratu tenang karena orang yang meracuni ratu sudah di hukum mati.
Tapi ibu ratu meskipun sudah mengetahui nya pasti masih merasa resah.
Tapi siapa yang memberi tahu keluarga Ratu??? Apa ratu sendiri??? tidak mungkin...
"Cerita kan saja sebisa ratu, pasti ibu ratu juga mengerti," ucap Alaric.
Aeris terdiam.
Hah merepotkan saja, ini semua ulah pangeran Elvern, kenapa Alaric tidak menyuruhnya pergi, dia sudah seminggu kelebihan di sini.
Meresahkan.
Cup.
Alaric mengecup puncak kepala Aeris, Aeris memekik kaget.
"Ratu jangan banyak pikiran, jika ada masalah cerita ya, aku juga ingin berguna di mata ratu!" Lirih Alaric.
Benar, hubungan kami masih kaku, jika aku ada masalah aku selalu memendam nya, dan merahasiakannya.
Tapi kenapa Alaric, harus berbicara seperti itu, aku jadi merasa bersalah...
"Hmm aku akan cerita, terimakasih untuk perhatiannya,"
Aeris memegang tangan Alaric lalu menciumnya.
"Ahk bukan kah saya yang harus melakukan itu ," kaget alaric sekaligus malu.
__ADS_1
Dan Aeris hanya tertawa kecil melihat wajah Alaric yang tidak santai.
...----------------...