
...27...
...❤----------------🖤...
"Hanya ini yang bisa aku perlihatkan kan, peninggalan-peninggalan lainya aku tidak tahu!"
Diana sedikit kecewa.
"Ahk ibu jangan begitu, melihat ini aku sudah merasa puas!" ucap Aeris menenangkan.
"Hmm benarlah???" tanya Diana. "Iya ini lebih dari cukup," ujar Aeris.
"Ibu sangat senang saat melihat Aeris tersenyum..."
Aeris hanya tertawa malu.
Setelah puas melihat-lihat tempat peninggalan, Diana dan Aeris pun pulang.
"Terimakasih sudah menyempatkan waktunya berjalan bersamaku, ibu tahu Aeris sibuk, kenapa Aeris malah mengantarkan ibu???"
"Tidak sibuk banget kok,"
Pekerjaan ratu sangat mudah, aku juga nanti akan mengerjakan sedikit.
"Aku seharusnya yang berterima kasih karena sudah menunjukan tempat yang begitu ..."
"Itu tidak seberapa!" tukas ibu Alaric.
"Kalau begitu ibu, aku pamit pulang dulu," ujar Aeris. "Hmmm sekali lagi terimakasih!"
Aeris pun langsung bekerja setelah mengantarkan Diana pulang ke istana.
Aeris pun masuk ke ruang kerjanya dan mengerjakan pekerjaan sisanya.
Beberapa menit kemudian...
"Ahk sudah selesai!"
Tok~tok~tok~
Tiba-tiba ada suara ketukan pintu.
"Ahk masuk..."
Saat di buka terlihat seorang dengan iris merah masuk ke ruangan kerja Aeris.
Yang mulia raja!!!
Oh ya dia memang ingin menunjukan sesuatu.
"Apa anda sedang senggang???"
"Yah saya sudah tidak sibuk..." ucap Aeris santai.
Ratu selalu mengerjakan tugas nya dengan cepat meskipun banyak, karena itu dia selalu terlihat santai.
Berkat Ratu wilayah utara semakin maju.
"Sudah berjalan-jalan dengan ibu? aku datang ke sini karena katanya ratu sudah pulang,"
"Jadi aku bergegas kesini!" ungkap Alaric.
"Yah hari ini saya tidak sibuk, katanya tadi yang mulia ingin menunjukan kan sesuatu, aku penasaran!" ucap Aeris.
Alaric menghela napas lalu mendekati Aeris.
Apa yanga kan dia lakukan, dia ada di belakang ku.
"Ratu tolong jangan bergerak sebentar..." bisik Alaric
Ahk...
Alaric tengah memasangkan kalung di leher jenjang Aeris.
__ADS_1
"Woah..." Aeris takjub.
Kalung dengan liontin bunga mawar tengah di pakai oleh Aeris.
"I-ini untuk saya yang mulia???" tanya aeris memasang wajah tidak menyangka.
"Untuk siapa lagi," balas Alaric.
"Ini sangat cantik yang mulia terimakasih..." lirih Aeris.
Aeris tidak bisa berkata-kata saking senangnya.
Hadiah pertama dari yang mulia, kalungnya tidak mewah aku sangat menyukainya.
"Tapi, apa alasan anda memberikan ini???" tanya Aeris penasaran.
"Saya kemarin kedatangan penjual emas dan berlian, dari memperlihatkan kalung-laung yang mewah, tapi karena ku pikir ratu tidak suka sesuatu yang mewah!"
"Aku pun menemukan kalung ini, kalung yang terlihat seperti ratu..."
Dia mengetahui karakteristik ku.
"Jadi saya ingin memberikan ini, desainnya juga sederhana tapi elegant pasti itu akan cocok di pakai ratu, dan benar saja itu sangat cantik!"
Aeris tersenyum saking terharunya.
Dia banyak mengetahui tentangku, tapi aku belum mengenal Alaric lebih jauh, apa hal-hql yang ia suka.
"Ratu kenapa anda melamun???"
"Ahk tidak aku hanya sedang memikirkan sesuatu," Aeris jadi gelagapan.
Alaric pun jadi bingung.
"Ada apa apa ada sesuatu yang mengganggu???" tanya Alaric frontal.
Aeris terlihat gugup dan gelagapan.
"Yang mulia terlihat sudah mengenal jauh tentangku, tapi... aku, aku tidak tahu apa-apa tentang yang mulia, maaf..."
Aeris menundukkan kepalanya malu.
Alaric membelak kan matanya kaget dengan pernyataan Aeris.
"Ratu, ratu tidak perlu menelaah saya pun ratu juga nanti akan tahu tentang saya,"
Alaric mendekati Aeris.
"Karena cinta bukan tentang seberapa kita mengenal seseorang, apa kesukaan nya, warna favorit nya apa, apa yang tidak di sukai, jadi jangan terlalu mempedulikan itu!!!" ucap Alaric sambil menenangkan Aeris.
"Yah ratu? Jika ratu memang ingin memberiku apa-apa, ratu bisa bertanya! Saya selalu menantikan kehadiran ratu," ucap Alaric.
Wajah Alaric dan Aeris begitu dekat sekarang, mereka saling menatap, Aeris yang canggung dan Alaric santai.
Atmosfer nya kenapa jadi begini, jantungku berdetak kencang, apa Alaric bisa mendengarnya???
Suhu badanku juga sangat panas.
"Ratu..."
"Ahk iya..."
Alaric tiba-tiba semakin mendekat.
"Bolehlah aku mengecup???"
"Hah???"
Aku pun hanya terdiam dan mengiyakannya, Alaric tersenyum lalu mengecup keningku.
Cup.
__ADS_1
"Sekali lagi boleh kan???" tanya Alaric frontal.
Aku hanya terdiam membeku dan membiarkan Alaric memainkan permainan.
Alaric mengecup kening lalu pipi dan terakhir bibir, setiap inci wajah Aeris dengan brutal alaric mengecupnya.
Cup.
Sontak wajah Aeris langsung memerah seperti tomat rebut, sedangkan Alaric tersenyum puas.
Astaga aku tidak bisa mengendalikan tubuhku, seolah aku pasrah dengan tindakan yang mulia.
Yang mulia terlihat menggoda.
Alaric pun mendekati Aeris dan memberi tanda di sana, membuat Aeris memekik geli.
"Ahk..." desah kecil Aeris.
"Ahk maaf kan aku!!!"
Alaric menghentikan permainan nya.
Ahk dia tiba-tiba jadi panik.
"Ahk tidak apa-apa..."
Yang mulia menandai ku di leher, ahk kenapa aku malu sekali...
"Maafkan aku, apa sakit..." tanya Alaric.
"Tidak apa-apa," tukas Aeris.
"Ini sebagai tanda, kalau saya... Hanya milik yang mulia raja saja," ucap Aeris.
"Yah Ratu milik ku hanya akan menjadi milik ku, selamanya,"
Cup.
Alaric mendarat kan ciuman terakhir di kening.
Oh astaga...
Entah sudah keberapa kali yang mulai membuat jantung ku berdebar, padahal baru tadi normal.
Tapi sekarang kacau lagi..
"Saya sangat senang hari ini!!!"
"Jika yang mulia senang begitu pun say lebih senang melihat yang mulia senang," umar Aeris.
Tok~tok~tok~
tiba-tiba ada suara pintu mengetuk.
"Siapa???"
"Yang mulia ratu ini saya Kane, apa yang mulia raja sedang bersama anda yang mulia ratu???"
"Ahk ya ada apa???"
"Apa yang mulia raja dan ratu tidak sedang berbuat apa-apa yang senonoh kan, seperti bercinta di ruang kerja tidak kan???" celetuk Kane.
Hah dasar, Kane memang tidak bisa mengontrol perkataan nya.
Dia sangat blak-blak kan.
"Tidak, ada apa Kane," bentak Alaric kesal.
"Ahk yang mulia raja maaf, pangeran Elvern ingin berpamitan dengan anda, dia memutuskan untuk pulang." ungkap Kane.
Seketika mata Alaric dan Aeris berbinar mendengar kabar itu...
...----------------...
__ADS_1