
...8...
...❤----------------🖤...
"Ahk aku belum tahu nama mu, siapa nama mu???"
"Nama saya Luan,"
"Woah nama yang cantik," girang Aeris.
"Ahk Luan sebenarnya banyak yang ingin ku tanyakan padamu, tapi aku ingin kau istirahat sampai pulih, dan mulai sekarang aku akan mengurusmu," ujar Aeris dengan senang.
Mata Luan berbinar-binar tidak menyangka.
"Yah... Itu juga jika Luan tidak keberatan berada di asuhan ku,"
"Ahk apa itu tidak terlalu berlebihan..."
Luan tidak merasa enak.
"Itu keinginan ku sendiri dan yang mulia juga tidak keberatan," tutur Aeris tersenyum.
"Ahk..."
Senyuman nya membuat hatiku tenang.
"Jika tidak keberatan saya akan berada di bawah asuhan anda," ujar Luan.
"Haha iya... Iya..."
Aeris memeluk Luan membuat Luan sedikit memekik terkejut.
"Anggap saja aku keluarga baru mu, aku tidak pernah memaksa Luan untuk pergi ke keluarga yang lain karena aku hanya berhak mengasuh mu," ucap Aeris.
Aku mengatakan ini, karena aku takut Luan akan canggung dengan keluarga aslinya.
"Baiklah istirahat yang banyak ya," saran Aeris membaringkan kembali Luan.
"Terimakasih banyak yang mulia ratu,"
"Hmmm..."
***
Sementara masalah yang lain sudah terselesaikan ada masalah yang harus Aeris atasi.
Sebelum nya...
"Kenapa anda membantu kami, padahal saya bisa memanggil tabib lain, saya merasa tidak enak padahal anda adalah tamu,"
"Seharusnya kami yang melayani anda,"
"Tidak apa-apa," jawab Altair
"Saya membantu anda karena melihat ketulusan hati anda..." ujar Altair
"Hah? Apa?" Aeris bingung.
"Apa ini!!!"
Terdengar suara seseorang yang cukup keras membuat Aeris dan Altair menghentikan pembicaraan nya.
Yang mulia raja!!!
Oh tidak pasti dia salah paham!!!
"Ahk kurasa saya harus pergi, urusan saya sudah selesai," ujar Altair memberi salam pada Aeris.
"Ratu kenapa anda membawa anak Edana???"
"Hah???" Aeris terheran-heran.
Bukan kah ini anak nya juga, apa dia tidak mengakui anaknya.
"Dia... Dia tadi terluka dan pingsan jadi aku membantunya," Tegas Aeris.
"Kenapa tidak ibunya yang menolong nya," tanya Alaric kesal.
Tapi kau juga ayahnya.
__ADS_1
"Apa... Kenapa kalian sama saja!!!" Kesal Aeris.
"Apa maksud ratu???"
"Yang mulia ibunya adalah Edana yang tidak peduli kehadiran anaknya, apa anda juga tidak peduli dengan kehadiran anak anda!!!"
"Hah apa???" Alaric kini bingung.
Aeris marah.
"Memangnya apa salahnya saya membantu anak yang terluka, apa itu dosa!!!"
Aeris pun pergi dari kamarnya dan berlari tanpa tahu tujuan.
"Ratu... Ratu mengira itu anak ku dan Edana!"
"Bagaimana aku mengatakan kalau ini salah paham???"
Begitulah kejadiannya...
"Aku berlari sampai taman dan duduk sampai malam tiba, dan dia tak mencari ku sama sekali, aku pun pergi ke kamarku."
"Aku tidak tahu harus tidur dimana karena kamar di pakai oleh Luan, tidak mungkin aku membangunkannya,"
"Tapi kalau di pikir-pikir aku terlalu terbawa emosi, padahal aku hanya istri politiknya,"
"Apa aku tidur di sofa ya," Gumam Aeris.
"Di kamar saya saja!". "Oh Astaga..." Aeris kaget saat Alaric tiba-tiba ada di dekatnya.
"Ratu tidur di kamar saya saja," titah Alaric.
"Tidak saya akan tidur di Sofa, aku juga harus menjaga Luan," Kekeh Aeris.
CEKRAM.
Alaric kesal lalu mendekat ke arah Aeris, Aeris yang merasa takut pun kini mundur.
Apa yang akan di lakukan? Meskipun Alaric sejauh ini baik, tapi dia di kenal kejam.
Aeris pun tidak bisa mundur lagi karena di sudah di ujung tembok lorong, dan Alaric memegang tangan Aeris.
Apa yang akan dia lakukan???
Aku bisa merasakan deru nafas nya...
"Ratu dengarkan aku dan jangan memberontak!" tegas Alaric.
"Apa yang akan anda lakukan!!!"
Alaric mengangkat Aeris ala bridal style, Aeris memekik kan badanya karena pertama kali di sentuh dan di gendong langsung oleh pria.
"Ahk yang mulia lepaskan saya! Lepaskan! Lepaskan!!!"
"Diam ratu ini sudah malam, nanti berisik, ikut dulu saja!" kesal Alaric.
"Tidak mau huhu... Hiks... Hiks..."
"Ahk ratu! Kenapa anda menangis???"
Alaric pun mencepatkan jalan nya untuk pergi ke kamar.
***
Alaric pun sampai di kamar lalu mendudukkan Aeris yang masih menangis.
"Huhu... Hiks... Hiks... huhu,"
"Ratu kenapa menangis?" tanya Alaric bingung.
Uhk aku juga tidak tahu kenapa aku menangis, kenapa perasaan ku sensitif begini...
"Huhu hiks... Hiks..."
Bagaimana ini, ratu diam saja.
Alaric pun bingung harus apa, dia pun teringat dengan seseorang yang menenangkan saat sedih.
Ahk ini memalukan, tapi jika ratu bisa berhenti menangis, aku harus mencoba nya...
__ADS_1
Alaric memeluk dan meletakan badan Aeris ke arah dada Alaric lalu mengusap kepala dan punggung Aeris.
"Ratu kenapa anda menangis, maaf kan saya karena membentak Ratu," ujar Alaric sambil menepuk-nepuk punggung Aeris.
"Huhu... Hiks..."
Seketika Aeris perlahan mulai berhenti menangis dan Alaric melonggarkan pelukannya karena Aeris sedikit menggerutu.
"Sudah baik kan???" Tanya Alaric khawatir.
Ahk tatapannya, apa itu tatapan Alaric saat mengkhawatirkan ku? Dia terlihat panik, aku jadi merasa bersalah...
Aeris hanya terdiam tak menjawab pertanyaan Alaric membuat Alaric terus kebingungan.
Alaric pun mulai berbicara karena ingin menghilangkan kecanggungan.
"Ratu, maaf sebelumnya ratu salah paham..."
Aeris sedikit menggerakkan tangan nya tanda penasaran.
"Luan bukan lah anak saya, tapi anak Edana dari laki-laki lain,"
"Hah???" Aeris tertegun.
"Saya tidak tahu kenapa ratu sangat marah, tapi detik-detik anda marah, itu masalah yang ratu katakan, dan saya berusaha memperbaiki kesalahpahaman itu," ujar Alaric.
Aeris pun masih terdiam.
Entah kenapa rasanya tenang saat mendengar itu.
Apa dari awal aku memang marah karena itu, dasar menyebalkan kau Aeris. Aeris menggerutu di benak nya.
"Maaf..."
Gumam Aeris.
"Kenapa ratu meminta maaf???"
"Aku terbawa emosi, aku jadi menunjukan sisi buruk ku yang selalu ku sembunyikan," ujar Aeris menyesal.
Alaric tiba-tiba mendekat dan menyentuh tangan Aeris.
"Aeris Theodor Odelia Ratu ku..."
Saat Alaric mengatakan nama Aeris untuk pertama kali, bulu kuduk Aeris naik drastis saking merinding nya.
"Aeris adalah istri ku, bukan hanya sekedar istri politik tapi benar-benar istri sah..."
"Jangan malu untuk menunjukan sisi buruk anda, kita kan sudah berjanji untuk menerima setiap kekurangan dan kelebihan kita saat mengucapkan janji suci," ungkap Alaric.
Tidak biasanya Yang mulia berbicara setenang ini. ucap Aeris.
"Jadi jangan menangis itu membuatku sedih dan sakit," ucap Alaric.
Alaric bahkan mencium punggung tangan Aeris membuat sangat empu terperanjat dan wajahnya memerah.
Tidak... Tidak... Tidak... Jantungku kenapa berdebar dengan cepat, wajahku terasa panas.
Alaric, apa benar dia Alaric???
"Ahk kenapa anda melakukan itu!!!" ujar Aeris gelagapan.
"Ahk Ratu apa anda tidak peka..." gerutu Alaric.
Suasana yang tadinya panas dan mendebarkan kini berubah drastis jadi jengkel.
Ahk kenapa Alaric jadi kesal, apa aku terlalu keterlaluan.
"Aku menyukai Ratu." ujar Alaric datar.
"Apa!!!" Aeris merinding mendengar pernyataan Alaric.
"Apa kurang jelas!"
"Aku - suka - Ratu," ujar Alaric yang sudah kesal karena Aeris tidak peka.
Sial... Bukan hanya ratu saja yang malu, aku juga malu mengatakan ini, kenapa aku harus terlahir dengan sifat malu...
...----------------...
__ADS_1