I LOVE YOU (Papi)

I LOVE YOU (Papi)
13


__ADS_3

13


...sekali lagi like woi!! gue maksa pokoknya....


...*******...


"Kalau telfon supir papi boleh gak ya.. " Gumam zuri pelan.


Mengurungkan niat nya melakukan itu, jika pak supir menolongnya pasti supir yang akan di marahi.


"Kalau telfon ibu.....tapi ibu lagi sakit.. "


Zuri merasa aneh, entah kenapa semakin ke sini semakin sepi.


Dia berhenti... Takut jika tetap berjalan dia akan semakin terjebak.


"Kok kayaknya makin jauh ya... " Menghapus air matanya yang mengalir tanpa bisa di cegah.


Dia berbalik, ingin kembali ke tempat semula.


Tapi karena sudah berjalan tanpa henti, dia merasa lelah dan haus, juga nyeri di pinggangnya.


Jadi dia duduk di bawah pohon besar di pinggir jalan yang sepi.


Dagunya bertopang pada lututnya yang di tekuk, dengan kedua tangan yang melingkar di kaki nya.


"Huufff... " Menghela nafas, bukan karena lelah. Sesak. Sesak yang di rasakannya saat ini.


Sambil melamun...dia kembali mengingat masa kecilnya.


Sewaktu dia masih kelas tiga SD kalau tidak salah, dia pernah berjualan gorengan di dalam kelas, saat jam istirahat.


Saat semua anak menghabiskan waktu bermain atau makan di kantin saat jam istirahat, dia malah menjual dagangannya kepada teman teman nya, atau pada kelas lain yang sudah tau dia jualan, pasti datang ke kelas nya.


Dia hanya duduk di bangku nya, menunggu, dan meminta uang bagi teman yang baru membeli.


Dagangan itu milik warung yang ada di dekat sekolah nya, dia menjualkannya ke dalam kelas, karena tukang jualan tidak di perbolehkan masuk ke area melewati gerbang sekolah, dengan upah lima belas ribu jika semua dagangannya habis.


Uang itu di tabungnya di dalam toples bekas yang bisa di buka kapan saja.


Setiap kenaikan kelas dia akan memakai tabungannya untuk membeli peralatan sekolah, atau jika tas dan sepatunya tidak layak di pakai lagi.

__ADS_1


Bi dean pun tidak tau jika zuri pernah melakukan itu dia heran saat zuri memberikannya uang sepuluh dan lima ribuan yang di gulung dan di ikat pakai karet gelang.


"Untuk beli buku riri bu.. " Mata polos itu menengadah memberikan uang tabungannya pada bi dean.


Bi dean tidak banyak bertanya, dia tersenyum menerima uang itu, besoknya riri sudah mendapatkan buku dan pena nya plus sepatu baru.


"Jangan pakai sepatu itu lagi ya non, ini musim hujan, nanti kaos kakinya basah karena sepatunya bolong." Kata bi dean.


"Makasih bu.. "


Tin tin!!


Suara klakson menyadarkan zuri, tidak sadar air mata nya mengalir karena membayangkan itu, lalu menghapusnya cepat.


Melihat mobil fortuner warna hitam di depan nya.


"Lo temannya gea itu ya. "... Kata orang itu.


" I-iya... " Jawabnya ragu, masih mengingat ingat siapa orang ini.


"Ngapain di situ? "


"Ooh... Yaudah, ayo gue antar. "


Zuri diam, masih tidak mengingat orang ini.


"Gue abangnya gea, gak perlu takut. "


"Oh.... I-iya saya ingat. "


"Kayak nya waktu itu dingin banget, sekarang kok.... "


Langsung menggelengkan kepalanya.


"Masuk."


"Ah.. I-iya.. "


Zuri membuka pintu mobil.


"Gue bukan supir lo, duduk di depan! "

__ADS_1


Zuri langsung pindah.


Dia langsung duduk, dengan tasnya di pangkuannya.


"Pakai sabuk pengaman"


Zuri menurut.


Tapi dia tidak tau memasangkannya.


"Gi-gimana masangnya.... "


"Ck... " Lelaki itu langsung memasangkannya.


****


"Nama lo siapa? "


"Zu... Eh... Ka-karina... " Katanya sambil menunduk.


"Ooh... Nama gue reza Devantara, panggil aja reza atau Eza, atau Dev juga bisa. "


"I-iya.. "


"Mau lanjut dimana? " Tanya awan.


"Em... Belum tau kak"


"Kalau mau boleh daftar di SMK Rajawali, tempat gue sekolah. "


"Em... Swasta ya kak? "


" Ya....karena itu SMK paling dekat."


"Kayak nya enggak deh kak. "


"Maaf ya, malau misalnya yang tidak mampu kuliah bagus loh ngambil SMK, marena bisa bekerja di bidang yang sudah kita kuasai, beda dengan SMA... Ya.. Walaupun gue nanti tetap kuliah sih untuk memperdalam kemampuan. "


"Tapi tergantung di lo nya juga sih" Lanjut awan.


"Iya nanti deh saya pikir pikir. "

__ADS_1


__ADS_2