
"Masa depan kamu masih panjang ri... Kenapa gak sekolah, mau jadi apa kamu?"
"Gak ada" Jawabnya sambil cemberut ingin menangis.
"Ck!! "
"Saya tanya sekali lagi, kenapa kamu bohong, kenapa gak sekolah, saya lihat kamu masuk toilet SPBU untuk ganti baju."
Masih diam.
"Huuff... RI..." Mencoba berbicara lembut sambil memegang bahu riri.
"Gak ada uang" Katanya dengan cepat.
Dokter reyhan tertegun melihat riri. Masih memilin ujung baju kaos yang sudah lusuh itu.
Riri hanya menggerakkan bibir nya ke segala arah, serta mengedip ngedipkan matanya agar tidak menangis.
Dokter reyhan hanya menghela nafas
"Pokoknya kamu harus sekolah" Tegasnya
"Riri gak punya uang! " Katanya sedikit berteriak.
"Saya yang bayar"
"Gak! Utang riri udah banyak sama om dokter, riri gak mampu bayar nya"
"Saya sudah pernah janji kan akan membiayai kebutuhan kamu"
"Kapan? Mana ada"
"Ada, waktu kamu mau beli kado untuk si brengsek itu"
"Itu papi nya riri"
__ADS_1
"Lah, yang bilang papi saya siapa, saya sih ogah mengakui orang seperti dia sebegai orang tua"
"Om. Kalau om ada di posisi riri sekarang, pasti om akan melakukan hal yang sama, sejahat jahat nya orang tua, itu tetap orang tua kita, om mungkin selalu mendapat dukungan, suport dari orang tua, gak pernah kekurangan. Tapi riri cuma punya papi dan mami di dunia ini, kalau riri gak nganggep mereka orang tua, trus riri gak punya siapa siapa lagi, setidaknya riri punya tujuan hidup di dunia ini. "
Dokter reyhan memandang nanar riri dari samping.
"Sstr... Jangan nangis" Sambil menghapus air mata gadis yang begitu tangguh itu. " Maaf kalau kata kata saya salah"
Riri hanya mengangguk.
"Gak ada yang mau di omongin lagi kan om , riri udah mau telat"
"Jangan turun, saya antar. "
Riri hanya diam
"Oke, diam berarti setuju"
Riri menoleh ingin membantah, belum berbicara tapi sudah di bungkam oleh dokter reyhan
"Diam, jangan membantah, saya akan berbicara dengan bos kamu"
Dia tidak lagi memikirkan soal biaya, tapi masih tetap bekerja paruh waktu di restoran setelah pulang sekolah, karena masih memiliki hutang kepada bos nya.
"Pulang sama siapa kar? " Tanya sang ketua kelas pada riri di luar gerbang sekolah.
"Sendiri" Katanya sambil tersenyum.
"Gue anter ya"
"Eh gak perlu, gue masi ada urusan, mau ke rumah sakit" Tolak ya cepat.
"Lo sakit? "
"Enggak kok, cuma ada urusan aja. "
__ADS_1
"Ooh kalau gitu gue duluan ya"
"Sip"
Beberapa menit menunggu, akhrinya mobil dokter reyhan datang, dengan cepat dia masuk.
"Gimana sekolahnya? " Tanya dokter reyhan dengan senyum paling cerah. Sambil melajukan mobilnya.
"Gak gimana gimana"
"Gak ada yang ganggu kan? "
"Gak lah, kan ada om hahaha" Kata riri dengan gaya imut.
"Hehee gemess" Sambil mencubit pipi riri.
"Om! Riri gak mau cuci darah hari ini! " Katanya tiba tiba dan sedikit berteriak. Membuat dokter reyhan kaget.
"Loh kok tiba tiba. " Geramnya.
"Gak mau, pokoknya riri gak mau"
"RI... Ingat kesehatan kamu"
"Tapi riri benar benar gak mau"
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
mohon maaf jika beberapa hari kedepan susah up ya, krna menuju kelulusan author sibuk ujian