
riri yang hampir menyerah akan kemana malam ini, tiba tiba teringat perkataan bi dean.
(masih ingat bi dean kan?)
dia ingat, sertifikat tanah yang bi dean berikan untuk nya, si tanah itu juga ada rumah kecil, hanya sepetak tidak punya ruangan lain.
dia pernah ke sana sekali untuk melihat kondisi, ternyata memang ada, tapi butuh satu jam untuk naik kendaraan, sedangkan dia hanya berjalan kaki.
dengan menarik nafas sedalam dalam nya, dia bertekad akan ke sana.
jauhnya perjalanan hampir membuat nya tumbang, bahkan hampir menangis karena sangat ketakutan saat ada jalanan yang gelap, dia takut sesuatu yang di pikirannya terjadi.
sepanjang perjalanan juga di dalam kepalanya hanya bagaimana dia akan melanjutkan kehidupannya setelah ini. dia mulai menata kehidupannya.
untungnya dari rumah tadi, dia membujuk rega agar mengizinkannya mengambil sesuatu barang yang sangat penting, apa lagi kalau bukan surat tanah itu, dan beberapa pakaiannya dalam satu tas ransel sekolahnya, dan juga celengan nya.
berkali kali air matanya mengalir karena rasa takut yang hebat, tapi dia tidak menyerah.
dia pasrah jika harus mati di jalanan ini, itu sudah keinginan nya sejak lama, juga keinginan papinya.
menempuh perjalanan kurang lebih 4 jam dini hari dia sampai di tempat tujuannya.
riri mulai merasakan sakit pada pinggangnya, cepat cepat dia mengambil obatnya lalu meminum nya. beberapa menit, sakit nya sudah hilang.
__ADS_1
dia membuka pintunya dengan kunci yang sedikit berkarat.
riri bernafas lega berhasil membuka pintunya, dia masuk, rumah sepetak hanya berukuran 4 x 4 m itu sangat gelap.
rumah itu tepat berada di belakang rumah permukiman warna, rumah di depannya berbaris rapi, hanya rumah itu sendiri di situ. jarak nya tidak jauh, bahkan cahaya lampu belakang rumah warga sampai ke rumah itu. disinilah bi dean dengan suaminya tinggal dulu, setelah suami bi dean meninggal, dia memutuskan memulai hidup baru, dan berakhir bekerja di rumah keluarga rega.
akhir nya dia memutuskan membuka sedikit pintu, agar sedikit cahaya masuk, setidaknya dia tidur tidak dalam keadaan seperti orang buta yg tidak melihat apapun.
dalam keadaan seperti ini, riri tidak takut berada di rumah yang sudah tidak di huni begitu lama.
dia memutuskan untuk tidur, riri seperti baru menutup matanya, terdengar suara orang berbisik bisik dari luar, dia bangkit, lalu keluar.
"aaaa!!! setaan!!! teriak beberapa warga langsung berlarian. "
beberapa warga itu langsung berhenti, melihat kebelakang, riri menghampiri mereka.
"pak, saya manusia bukan hantu"
"beneran dek, bukan hantu" tanya seorang warga.
"benar pak, liat, kaki saya nyentuh tanah kan. "
"O iya sih nyentuh tanah, jadi adik ini beneran manusia"
__ADS_1
"maaf dek, kami hanya memastikan, soalnya tadi istri saya liat rumah itu terbuka setelah beberapa tahun, karena ibu yang punya rumah ini gak punya anak, keluarganya juga gak tau kemana, kami pikir ada 'penghuninya' atau pencuri masuk, jadi kami hanya memastikan saja "
"begitu ya pak, iya deh gak papa"
"adik siapanya yang punya rumah ini? "
"saya anaknya. "
warga bingung...
"maksudnya saya anak angkatnya pak, kalau bapak gak percaya, saya punya surat tanah yang di wariskan ke saya. "
"ooh begitu ya. "
"tapi kenapa pintunya di buka gitu, gak takut penjahat masuk? "
"oh, itu, rumahnya gelap, jadi saya buka pintunya, biar cahaya nya masuk. "
"ooh begitu ya, kalau mau tidur tutup saja pintunya dik, ini pegang aja senter bapak, takut ada orang iseng atau penjahat masuk"
"oh iya boleh saya pinjam ya pak, besok saya kembalikan. "
"iya pegang aja, kami balik dulu ya. "
__ADS_1
"iya Pak Terima kasih. "