
Zuri kaget saat mengantar makanan ke meja makan. Sedangkan para ratu dan raja sedang menunggu makanan di sajikan.
Cuma? Cuma katanya? Gila!
"Iya, nanti papi urus, kamu cuma tinggal masuk aja. "
"Makasih papi.. " Kata nadia dengan semangat.
"Kak... Jangan manjakan dia." Peringat adiknya rega, ibunya nadia.
"Biar kan saja, nadia harus mendapatkan yang terbaik. "
"Bleekkk" Nadia mengejek ibunya.
"Kamu" Langsung menoyor kepala anaknya.
"Pi... Riri juga mau masuk sekolah bagus itu juga. " Zuri memberanikan diri berbicara, ini kesempatan terakhir.
"Masuk sekolah itu, atau pergi dari rumah ini! Pilih. " Kata rega dingin.
Zuri diam, dia langsung menuju dapur tanpa menjawab.
"Non mau masuk sekolah itu juga? Biar bibi urus. " Kata bi dan tiba tiba.
"Gak perlu bu, masuknya aja udah satu M, bisa buat riri setahun itu hehe. "
"Gak papa non, nanti bibi pinjam dari tuan. "
"Eh gak perlu bu, mending riri gak sekolah dari pada pergi dari sini, riri gak mau ninggalin ibu. Lagi pula keinginan riri belum terwujud untuk buat papi sayang sama riri, jadi riri gak boleh pergi dari rumah ini. "
__ADS_1
"Jadi non mau masuk ke sekolah yang mana? Nanti bibi urus. "
Zuri teringat perkataan awan.
"SMK." Katanya tanpa sadar.
"Oke, non mau masuk smk, nanti bibi urus. "
"Eh bukan bu..."
"Udah gak papa non, bibi masih ada tabungan. "
"Tapi itu sekolah swasta, SPP nya lumayan mahal. "
"Gak papa non. "
"Besok kita pergi ya, sebelum pendaftaran nya tutup. " Riri mengangguk.
***
Zuri dan bi dean sedang membaca brosur yang mereka dapat kan.
"Bu... Mahal banget uang masuk nya, trus harus langsung bayar pembayaran SPP di bulan pertama" Kata riri lesu, memang gak semahal uang masuk sekolah yang di minta nadia waktu itu, bahkan ini jauh lebih murah, tapi bagi riri itu sangat mahal.
"Gak papa non, tenang aja, Itu urusan bibi."
"Ibu gak pinjam dari papi kan? "
"Ya gak lah, bibi masih punya tabungan, liat ini.. " Bi dean menunjukkan buku berisi transaksi transaksi di bank. Setiap bulan bi dean akan menyimpannya di sana.
__ADS_1
Lima puluh juta?.. Batin riri.
"Ibu bawa buku ini tiap hari? "
"Ah... Bukan bermaksud membawa, cuma tempatnya selalu di sini, jadi terbawa heheh"
Mereka mengisi formulir pendaftaran,dan syarat syarat yang di minta pihak sekolah, serta lumayan lama berfikir jurusan apa yang akan di ambilnya, dia memutuskan mengambil jurusan arsitektur.
Hem,... Lumayan cocok lah dengan skil yang dia miliki, melukis butuh banyak ide dan inspirasi menarik, menggambar bangunan juga begitu.
walaupun sudah hari terakhir, tapi masih banyak aja yang mendaftar.
"Non kita makan bakso yuk, bibi lapar. "
"Iya bu ayo, riri juga Eh ternyata ada warung bakso dekat sini bu. " Kata riri semangat.
*****
"Bu... Besok hari pernikahan papi sama mami kan?. "
"Iya non.. " Kata bi dean tanpa menoleh,sibuk mengupas bawang, dan zuri yang menumis sayur.
"Riri di ajak gak ya.. " Lirih nya dengan pandangan menerawang. "Huuff... Walaupun di bolehin ikut, tapi riri gak punya baju bagus, nanti malah buat mami sama papi malu. " Sambung nya.
"Besok ikut aja sama bibi, tapi jangan sampai tuan tau. " Bisik bi dean.
Zuri menggeleng. "Gak deh, besok kalau mami nanya, ibu bantu papi jawab ya , bilang kalau riri lagi sakit. Papi pasti gak ajak riri, riri yakin mami pasti nanya, takutnya papi gak bisa jawab heheh. "
Bi dean hanya tersenyum mengangguk.
__ADS_1