
Episode 8
***
Pagi hari sekali zuri bangun lebih awal dari pada semua nya.
Sebelum keluar dari kamarnya, dia terlebih dulu membersihkan kamar mandinya.
suara nyaring terdengar, menggosok lantai kamar mandi dengan sekuat tenaganya, sudah lama tidak di bersihkan, membuat lantai menjadi licin.
Semalam
Sore dia terjatuh di kamar mandi karena licin, membuat sikutnya tergores, tidak parah tapi perih saat mandi.
Setelah itu dia turun untuk membantu bi dean, yang tugasnya sebagai tukang masak, sedangkan pelayan lain bersih bersih.
Membantu yang bisa di bantu nya, setelah itu dia naik lagi ke atas untuk bersiap ke sekolah.
Turun dengan cepat, berpamitan dengan bi dean, lalu keluar.
"Pak, riri ke sekolah dulu ya " Dia menyapa para bodyguard yang menjaga gerbang.
"Iya Non hati hati.. " Riri memberi isyarat 'oke'
"Non, mau bapak antar? " Zuri menggeleng kepalanya dengan semangat, pak supir tersenyum mengelus kepala zuri. "Jangan lari lari ya Non, jalan biasa aja gak telat kok, nanti non kelelahan. "
"Oke Pak... " berpamitan mencium punggung tangan pak supir dengan sopan, lalu pergi.
__ADS_1
Zuri tau, tidak ada gunanya dia menunggu rega turun lalu meminta salam, dia pasti akan di abaikan lagi, membuat dia jadi terlambat, dia harus rajin dan disiplin waktu.
***
Rega berangkat lebih cepat dari biasanya dengan asisten pribadinya....
Saat jalanan mulai ramai, dia melihat zuri di pinggir trotoar menunggu jalanan sepi, sambil memegang tali tas gendongnya.
Sepertinya asisten rega juga menyadarinya.
"Tuan, bolehkah saya membantu nya menyebrang? " Asistennya izin terlebih dahulu, dia juga khawatir jika terjadi sesuatu pada anak majikannya itu.
Diam sejenak....
"Tidak perlu. " Rega kembali fokus dengan ponselnya.
Jantung rega berdetak kencang.
Dia menoleh ke belakang, ternyata kejadian itu tepat di belakang mobil nya.
Dia bernafas lega, mejadian itu tidak seburuk yang di bayangkan nya.
Zuri terlihat jongkok di jalan raya, tapi tidak sampai ke tengah, sambil memeluk kucing.
Sepertinya dia menyelamatkan kucing.
Pengemudi yang hampir menabrak zuri marah marah.
__ADS_1
Asisten rega turun bahkan tanpa izin majikannya, dia tidak Terima zuri di marahi.
Rega membiarkannya, kembali fokus pada HP nya.
Sepuluh menit asistennya tidak masuk masuk ke mobil, ternyata mereka masih berdebat.
Membuat rega harus turun tangan, dia keluar, langsung menyela perkataan orang asing itu.
"Dia anak saya, mau apa anda. "
Tentu saja kalimat itu membuat zuri tadi nya menundukkan takut, langsung menatap rega, dan langsung memeluk kaki nya.
"Papi....hiks" Dia benar benar takut di marahi di depan umum, sekaligus senang rega mengakui dia anaknya.
Setelah berdebat sedikit, akhirnya masalah selesai.
Menarik tangan zuri masuk ke mobil dengan kasar, zuri masih memeluk kucing itu.
Mobil melaju ke sekolah zuri, setelah menunjukkan arahnya.
"Kamu mau mati hanya karena menyelamatkan kucing ini ha!.. " Geram rega.
"Kasian papi, nanti ketabrak mobil. " Lirihnya.
"Kasian sama kucing? Kamu gak kasin sama diri kamu sendiri ha? Kalau kena tabrak bagaimana? Kamu mau mati? syukur kalau langsung mati, kalau hanya cidera berat, trus di rawat di rumah sakit, kamu pikir gak butuh uang, saya kerja bukan buat kamu, tahu? " Kata rega
Zuri menggeleng. "Maaf papi, riri gak ulangi lagi"
__ADS_1
next