
✨✨✨✨✨✨✨
"Ge... Abang mau nanya.. " kata reza.
"Satu pertanyaan gocap ya..haha" Jadilah kening gea di jitak karena kalimatnya itu.
"Iiss... Sakit tau... Cuma gocap kok" Mengelus keningnya, pura pura sakit.
"Iya iya, aman."
"Abang ku yang ganteng mau nanya apa"
"Em.. Itu, temen lo, karina, gue perhatiin beberapa hari gak masuk ya? "
"Ha?.. Apa? " Dia terkejut. Tapi sekejap berfikir, raut wajah gea menjadi jahil. "Eemmm... Ada apa ini dengan abang ku, abang perhatiin karina ya..." Gea menunjuk reza semakin ke dapan mendekati wajahnya reza.
Krak!!
Aaaa!!!
"Aduhh, putus jari ku, kok di gigit sih"
"Wajah lo nyebelin, baru gue nanyain dia, udah heboh, gimana kalo gue pacaran. "
"Ha? Apa?.. Abang niat macarin karina? Waahh... Boleh tu, gea setuju, karina itu baik, imut, tangguh, lumayan lucu lah orang nya. "
Reza menatap malas wajah adiknya ini.
"Ck... Gue nanya gak di jawab jawab, temen lo itu memang gak masuk, atau gue yang gak liat dia? " Tanya reza lagi.
"Hem... Nanti deh... Eh sekarang aja deh gea tanya, minjam HP, gea gak ada pulsa. Pulsa abang banyak kan"
"Nih.. " Menyerahkan dengan malas, padahal dalam hati bersorak senang, pasti gea ngirim pesan ke karina, lumayan, dapet nomornya. Hehe
"Kenapa senyum senyum? " Tanya gea sinis.
"Hah... Gak ada"
__ADS_1
"Oh.yaudah... Nih, nanti kalau udah di bales, abang aja yang bales. Sekarang minta gocap"
"Entar gue transfer.. "
"Hah, masa cuma gocap doang di transfer"
"Iya nanti lima juta"
"Yess... Umach. " Gea mengangkat tangannya senang, kemudian mencium pipi reza, yang langsung di hapus oleh pemiliknya.
Reza melihat pesan yang di kirim, mata nya langsung membulat membacanya.
Memandang sengit ke arah tangga tempat di lewati adik nya barusan.
"Adek laknaaatt!!! " Reza berteriak keras. Kemudian terdengar suara tertawa yang sangat keras.
Berarti sedari tadi gea masih memantaunya, ingin melihat reaksinya saat melihat pesan yang di kirimnya.
keesokan paginya, saat bangun, riri tidak biasanya mendapat pesan, lalu dia penasaran dan melihatnya
"Kar, gue sayang sama lo, mau gak jadi pacar gue"
"Reza"
Kata terakhir di bawah kalimat pesan itu.
Reza? Reza siapa?
Jantungnya langsung berdetak kencang, gak mungkin kan reza abangnya gea.
Riri mengabaikan pesan itu, dia ingin masak dan bersih bersih sedikit, sebelum maminya bangun.
Dia hanya punya beberapa jam untuk tidur dan istirahat, karena semua pekerjaan harus di lakukan saat semua sudah tidur, dan saat semua belum bangun.
Dia memasak mie instan karena merasa sangat lapar , setelah itu dia meminum obat nya.
****
__ADS_1
****
Saat berjalan menuju tempatnya bekerja, riri melihat beberapa sepeda bekas berjejer di pinggir jalan, rasanya ingin sekali membelinya, tapi dia tidak ingin memborosan dulu, jalan juga masih bisa kok.
Sebuah mobil berhenti di samping riri, tambah kaget lagi saat orang tersebut menariknya paksa ke dalam.
"Apaan sih om! " Riri kesal.
Dokter reyhan menjalankan mobilnya,
"Buka tas kamu! " Kata dokter reyhan, tersimpan kesal dan marah di sana.
"Gak"
"Buka! "
"Untuk apa sih?! "
Riri sudah khawatir, takut dokter reyhan tau kalau selama ini dia tidak bersekolah.
Dokter reyhan menghentikan mobilnya secara tiba tiba.
Merampas tas riri lalu membukanya dengan kasar.
"Apa ini?! " Geram dokter reyhan.
"Gak ada, sini tas riri"
"Kenapa bohong? " Menatap riri.
"Kenapa gak ke sekolah?, jawab"
Riri langsung menunduk.
"Masa depan kamu masih panjang ri... Kenapa gak sekolah, mau jadi apa kamu?"
"Gak ada" Jawabnya sambil cemberut ingin menangis.
__ADS_1
"Ck!! "