
belakangan ini kesehatan riri semakin menurun, pinggang nya lebih sering terasa sakit, pekerjaan rumah banyak terbengkalai, dia juga merasa sering merasa sakit di kepala nya. untung papinya sedang ada pekerjaan di luar negri, setidaknya riri tidak mendengar bentakan rega sejenak.
semua mapel yang nilainya tidak mencapai KKM sudah riri tuntaskan hari ini. dia merasa lega.
"kar, lo udah tuntas semua" kata teman sekelas riri.
"iya baru aja tadi, lo belum? "
"tinggal satu lagi sih. "
"cepat selesain bentar lagi bagi rapot"
"aman kar"
"okeh, gue duluan ya, ada kerjaan. "
riri berjalan keluar sekolah, karena memang semua urusannya di sekolah, jadi di perbolehkan pulang.
setiap hari Kamis jadwalnya melakukan cuci darah, untung saja reza ada urusan, sehingga tidak membuat riri pusing mencari alasan.
***
"belakangan ini ada keluhan yang aneh? " tanya perawat pada riri.
__ADS_1
"ada, kepala riri sering sakit" jujurnya.
"itu saja? "
riri mengangguk.
"baiklah, saya akan laporkan pada dokter reyhan, adek boleh istirahat. "
"Terima kasih kak"
sangking akrab nya pada perawat dan beberapa dokter di sini, panggilan mereka juga berbeda dengan pasien lain. riri bahkan punya ruang rawat sendiri, yang hanya dia yang boleh menempatinya, bahkan ruang rawat seperti kamar nya, ada beberapa foto terpajang di sana, setiap tahun foto yang terpajang pasti bertambah satu , tepat saat hari ulang tahun riri.
bukan foto keluarga nya, melainkan foto bersama para perawat dan dokter di sana, setiap tahun mereka tidak lupa merayakan ulang tahun riri, dan pasti riri menerima banyak kado, dia punya beberapa boneka yang jenis nya berbeda di ruangan itu. nara juga tidak pernah lupa ulang tahun riri, setiap tahun memberikan kado.
*****
di ruangan lain di rumah sakit itu.
ada dua dokter pria dan satu dokter wanita, salah satunya dokter reyhan, dan perawat kembar wanita, serta satu perawat lagi, jadi ada tiga perawat yang merawat riri.
mereka semua rasanya ingin menangis melihat hasil lab riri yang baru saja di lakukan.
rasanya tidak sanggup melihat gadis kecil mereka kembali mendapat cobaan yang begitu berat. mereka sudah menganggap riri sebagai adik dan anak mereka, gadis kecil mereka.
__ADS_1
"dokter reyhan, sepertinya saya tidak sanggup memberitahukan soal ini pada riri. " kata dokter roni.
"saya juga, nanti bisa bisa saya gak bisa ngomong karena nangis. " kata dokter maya sambil menghapus air matanya.
"heeh...bagaimana pun kita tidak boleh merahasiakan nya pada riri. saya yang akan beri tahu kalau kalian tidak sanggup. "
"tapi dokter, nanti riri semakin sedih bagaimana" kata perawat yang kembar bernama mawar.
"kalian seperti baru mengenal riri saja, kalimat lihat kan, selama ini walaupun beberapa kali di kecewakan gagal operasi ginjal, dia tidak pernah sedih, malah dia yang menghibur saya, jadi jangan khawatir, saya yakin riri kuat, pasti bisa menerima ini semua, yang kita lakukan hanya berusaha mengobati dia sebaik mungkin. "
mereka semua mengangguk.
.
.
.
.
.
author gak sanggup lanjutin, karena nangis, gak tau kalian dapet feel sedih nya atau enggak, atau author yang berlebihan yakš¤£. besok kayaknya di lanjutin, tapi gak janjiš¤Ŗ
__ADS_1