
Senin.....
Zuri bersiap siap memakai pakaian sekolah nya. Lalu pengirim pesan pada maminya bahwa dia pergi lebih cepat.
Untuk ke sekolah?... Bukan.
Tentu saja mencari pekerjaan. Mau apa lagi. Terpaksa berpura pura memakai seragam sekolah agar pelayan rumah tidak curiga, lalu dia akan mengganti baju di SPBU atau toilet umum.
Memutuskan tidak bersekolah lagi. Karena memang gak tau ingin bagaimana lagi menghadapi guru guru di sana.
Sebenarnya dia merasa bersalah seakan dia berbohong pada maminya, padahal kan memang berbohong. Tapi demi kenyamanan rumah dan keselamatan nya, dia harus berbohong.
Huh... Semoga teman temannya tidak ada yang melihatnya.
******
"Pak, paya cuma punya ijazah SD, yang SMP belum keluar, bagaimana pak? perjaan apa yang bisa saya lakukan? "
"Ijazah SD mana bisa jadi jaminan, sedangkan yang lulus SMA saja sulit cari kerja.lebih baik kamu pergi. "
Zuri menghela nafas. Ayo keluarkan jurus kasihannya.
"Huh... Pak... Saya mohon, saya hidup menderita, keluarga saya baru mendapat musibah, saya tidak bisa lanjut SMA, demi adik adik saya bisa makan pak, tolong kasihani saya. " Zuri mengantupkan kedua tangannya memohon, memasang raut wajah sesedih mungkin.
Pandangan bapak bapak di depan nya itu sekarang sepertinya mulai melembutkan, tidak sejudes tadi.
"Memangnya orang tua kamu kemana? "
"Orang tua saya kerja pak, tapi saya ingin membantu perekonomian keluarga saya, adik saya mau masuk SMP pak, cukup saya yang putus sekolah, jangan adik saya. Saya mohon pak, tolong Terima saya bekerja di sini, apa pun itu. "
"Memangnya adik kamu ada berapa? "
Apaan sih si bapak, emang itu perlu?. Yaudah, jawab ajalah.
"Sepuluh pak... Adik saya sepuluh... Banyak kan pak, makanya saya mohon Terima saya. "
"Orang tua kamu kerja apa? "
"Eee... Orang tua saya pemulung pak... Pendapatannya gak menentu" Anj*r... Bapak gue ceo. Batin riri.
"Huff... Kamu kasian juga, baiklah, kamu bisa bekerja di sini, tapi cuma jadi pencuci piring, karena tukang cuci piring juga sudah banyak, kamu cuma bantu bantu mereka.tapi ingat, jangan mengharapkan gajinya sama. "
"Yes!!... Bener kan pak? Ka-kalau gitu saya bisa kerja sekarang kan pak. "
"Kamu mau gaji harian atau bulanan? "
"Boleh pilih pak? " Di balas deheman.
"Em... Bulanan aja pak, biar bisa di tabung. "
Bapak itu mengeluarkan sesuatu dari laci meja nya.
"Gaji kamu empat puluh ribu sehari,jadi kalau sebulan di kali tiga puluh, jadi gaji kamu satu juta dua ratus."
Bapak itu menyerahkan uang warna merah pada riri.
"Pak ini apa? Saya belum kerja, bapak mau mecat saya atau gimana? " Riri khawatir. Masa belum kerja udh di kasi duit sih.
__ADS_1
"Saya kasihan sama kamu, ini untuk kebutuhan keluarga mu, takutnya kalian gak makan sampai gajian kamu bulan depan. Jadi saya kasi sekarang. "
Riri tertegun... Dia membeku... Lalu menunduk, seketika merasa bersalah dengan bapak ini, dia orang baik, dengan teganya dia membohongi orang tua.
"Ma-maaf pak, se-sebenarnya saya...---“
" Iya, saya tau, kamu pasti berbohong, kamu tidak punya adik sepuluh, walaupun yang lainnya memang benar. Tapi saya tau kamu sangat membutuhkan pekerjaan ini. "
Mata riri langsung berkaca kaca, tapi langsung mengedipkan matanya berkali kali agar air matanya tidak jatuh.
"Sebenarnya saya juga berbohong tentang orang tua saya, orang tua saya bukan pemulung. Sebenarnya... "
"Sudahlah, itu privasi kamu, tidak perlu di ceritakan... Kamu bisa bekerja sekarang. "
"Ba-baik pak, Terima kasih, Terima kasih pak, saya akan bekerja dengan baik, saya akan selalu ingat kebaikan bapak. " Riri memasukkan uang itu ke dalam tas nya, lalu menuju dapur, melaksanakan tugasnya dengan baik.
...****...
"Kalau di sini,gak perlu bawa bekal dek, kita bebas makan makanan di sini, asalkan masih wajar" Kata rekan cuci piring riri yang bekerja di sini. Mita.
"Iya kak, besok riri gak bawa bekal deh, soalnya makanan di sini enak enak heheh" Riri berbicara sambil mengunyah makanan. Berbicara seakan mereka sudah kenal lama, dia segan tapi sopan.
"Umur kamu berapa dek" Kata dion. Juga rekan cuci piring nya.
"Emm...mau tujuhbelas."
"Kenapa kerja, gak sekolah? "
"Mau nya sih sekolah, tapi... Emm... Ngomong ngomong, abang sama kakak tau cara ambil uang di atm gk? Tapi pin nya gak tau. "
"Kamu maling ATM? "
"tapi kakak gak tau, punya ATM juga enggak. "
"Sama, aku juga. boro boro mau nabung, makan aja susah. " Kata bang Rio, sedari tadi diam.
"Yaudah deh... "
Sesaat kemudian dia merasakan HP nya bergetar.
Melihat nama yang tercantum... Dia langsung panik.
"Pak dokter ganteng"
Mampus!!
"Em... Riri ke toilet dulu.. Permisi. "
Riri mengangkat telfon saat sampai toilet
Sebelum mengakatan 'halo' di seberang telfon sudah berbicara duluan.
"Kamu kemana riri? kenapa belum datang?jangan lupa jadwal kamu hari ini cuci darah, ingat kesehatan kamu. "
"Riri kerja.. " Dia langsung menepuk bibirnya, bisa bisa nya keceplosan sangking paniknya.
"Apa?... Kerja?... Riri!! Ingat kesehatan kamu, kalau si rega itu suru kamu kerja berat, lawan aja, dia buat kamu begini. "
__ADS_1
"Eh eh eh...bukan papi yang suru kok dokter, riri kerja buat jajan tambahan,riri juga mau nabung. "
"Sudah berapa kali saya bilang, kalau kebutuhan kamu minta sama saya, saya tidak mau tau, kamu ke rumah sakit sekarang. "
"Ih... Memang nya dokter itu siapa atur atur riri" Kata nya sok.
"Saya calon suami kamu, cepat datang sekarang. "
"Ih... Riri masih anak anak loh dokter, riri juga mau kerja, besok aja gimana. "
"Gak... Pokoknya gak boleh di tunda, di mana kamu kerja, biar saya yang izinkan, cepat kasih tau. "
"Gak, riri gak mau kasi tau, bay dokter. "
Telfon langsung di matikan sepihak oleh riri. Jam makan siang sudah habis, riri melanjutkan pekerjaannya. Jam makan siang restoran ramai, sekarang cucian menumpuk.
...****...
Sudah hampir tiga jam berdiri mencuci piring, riri tiba tiba di panggil ke ruangan bos mereka.
"Perasaan gue gak enak ni, ngapain pak bos tiba tiba manggil. "
Dia mengetuk pintu, setelah ada sahutan dari dalam baru dia masuk.
Dia langsung panik saat melihat seseorang yang di dalamnya..
Mampus.. Pura pura gak kenal aja lah.
Batinnya...
"Ada apa ya pak? " Tanya nya.
"Kenapa kamu tidak izin sama saya untuk melakukan pengobatan, dokter kamu ini jadi menyalah kan saya."
"Maaf Pak, saya kan baru kerja hari ini, masa udah izin. "
"Untuk apa kamu kerja kalau kamu tidak sehat"
"Rencananya saya mau izin besok"
"Teman saya menunda cuci darah, besoknya meninggal. " Katanya menakut nakuti riri
"Ih.. Pak, jangan nakut nakuti saya, saya belum mau mati. "
"Sudah bisa saya bawa kan pak, ni anak memang bandel. "
" Gak... Riri gak mau, apaan sih pak dokter. "
"Pergi atau saya pecat. "
"Ck... Iya deh.. Tapi nanti malam riri masuk lagi, masa kerja cuma setengah hari. "
"Gak, kamu harus istirahat. "
"Kamu bisa masuk saat sudah selesai, dan di perbolehkan pulang. "
"Tapi saya gak di pecat kan pak, besok saya bisa masuk lagi? "
__ADS_1
"Tentu."
"Terima kasih pak, permisi, saya ambil tas dulu. "