
Penjaga gerbang sedikit berlari ke arah dapur...
"Non! Non riri !!! ini ada kiriman, katanya untuk anak tuan rega, pasti untuk Non riri" Kata penjaga itu.
"Wah Beneran? " Zuri menerima dengan gembira.
"Ayo kita buka Non" Seru bi dean. Makanan sudah tersaji di atas meja.
Sedangkan mobil rega baru memasuki gerbang rumah.
"Pak, tadi ada kiriman dari butik, sudah di kasi ke nadia? " Tanya rega.
Eh
"Maksudnya tuan?, tapi katanya untuk anak tuan rega, ja-jadi saya kasi ke Non riri.. "
"Apa!? Bodoh! " Rega murka langsung memasuki rumah.
Mampus, batin penjaga itu.
*****
"Gaunnya kebesaran ya bu, em.. Mungkin karena papi gak tau ukuran riri, tapi gak papa, riri tetap suka.. "
"Karena Itu bukan untuk kamu bodoh!! Lancang sekali kamu!!".. Brukk!!
" Tuan! " Pekik bu dean.
"Berani sekali kamu pakai baju punya nadia! "
Akibat dorongan rega yang keras, membuat zuri tersungkur sampai keningnya terbentur sudut meja keramik. Begitu sakit.
__ADS_1
"Jangan bergerak! " Sentak rega saat bi dean ingin menyeka darah yang mengalir dari kening zuri dengan tisu.
"Siapa yang suru kamu pakai baju nadia?! " Dengan pandangan mengintimidasi dan mematikan bagi zuri.
"Ta-tadi pak penjaga bilang ada kiriman untuk anak tuan rega, berarti kan untuk riri, salah riri di mana? " Zuri menundukkan kepalanya saat darah mengalir hampir ke alisnya, membuat darah itu menetes dua kali ke lantai. Dia pun tidak berani menyeka darah yang keluar.
"Siapa bilang kamu anak saya? Kamu bukan anak saya, camkan itu! "
"Papi pasti bohong kan. " Sangkal nya dengan suara bergetar.
"Sudah ratusan kali saya bilang kalau kamu bukan anak saya, kamu--"
"Tuan, saya mohon. " Bi dean mengiba agar rega tidak melanjutkan kalimatnya yang akan mengungkapkan kebenarannya. Dia tidak mau zuri semakin bersedih.
"Kalau bukan karena bi dean yang sudah berjasa di rumah ini, sudah saya buang kamu dari dulu. " Rega langsung pergi.
Sedetik kemudian bi dean langsung menutup kening zuri dengan tisu, menghentikan darah yang terus menetes.
"Bu... Gaun nya kena darah, masih sempat di cuci gak ya, kan mau di pakai besok. "
Bi dean semakin menangis saat zuri malah mementingkan gaun itu dari pada dirinya sendiri.
"Gak usah Non, tuan pasti bakal beli lagi, dekarang kita ke klinik aja ya, biar dekat, ayo.."
*****
Penjaga itu sedih dan sangat merasa bersalah, karena kelalaiannya membuat anak malang itu terluka. Zuri.
"Non, bapak minta maaf, non jadi begini"
Zuri tersenyum. " Hehe.. Gak papa pak, gak sakit kok, tenang aja" Mereka baru pulang dari klinik dengan kepala zuri di perban.
__ADS_1
Penjaga itu diam
******
Seminggu berlalu...
Satu hari setelah pernikahan Nara dan rega, bi dean kembali drop, dan hampir seminggu di rawat di rumah sakit, tidak ada perkembangan dengan kondisinya. Membuat perasaan zuri tidak enak dan.... Takut.
"Riri sayang!! Sini bentar. " Panggil Nara.
Menghentikan aktifitasnya menyusun meja makan, menghampiri maminya di ruang tamu.
Maminya duduk di sofa, dan papinya tiduran dengan paha maminya sebagai bantal, membuat zuri segan.
"Iya mi? "
"Maafin mami gak bisa bantu ya, papi kamu lagi manja, gak papa kan gak mami bantu? "
"Eh..mami gak papa kok, lagian udh mau selesai."
"Yaudah...kamu tunggu ya meja makan, nanti mami sama papi nyusul. "
Zuri mengangguk dan pergi.
"Ayo, kasian riri nunggu" Ajak Nara pada rega.
"Bentar lagi sayang, mama, Ranti sama nadia belum turun. " Rega masih betah dengan game nya.
"Ck aku juga di diemin dari tadi, kenapa gak game itu aja jadi istri kamu. "
Rega memandang istrinya yang cemburu pada game, langsung menarik leher Nara dengan satu tangan, lalu mengecup bibir istrinya sekilas. Walau pun usia semakin bertambah, tapi tidak melunturkan gairah dan ketampanan rega.
__ADS_1
"Sebentar lagi istriku... "