
Jumat, jam 06.45
Bi dean menghembuskan nafas terakhirnya.
Wanita itu pergi menyusul anak dan suami uang telah mendahuluinya. Meninggalkan gadis malang belum 17 tahun umurnya.
Wanita yang selama ini di anggap ibu kandung tempat perlindungan gadis itu, sudah tidak ada lagi.
Tidak ada lagi yang memberinya semangat, tempat sandarannya, tempat berkeluh kesahnya.
Dari seluruh orang yang datang melayat, serta tuan rumah. Hanya zuri yang paling menangis histeris. Tidak ada yang memeluknya saat itu.
Dia sendirian.
Tiba saat jenazah akan di bawa ke pemakaman. Zuri yang tadi sudah tenang, hanya memandangi jenazah di depannya sambil memeluk foto bi dean, kembali histeris.
"Gak!! Jangan bawa ibu!! Nanti riri sama siapa!! Jangan bawa!! Gak boleh huuuu!! " Menangis sambil memeluk jenazah bi dean.
Sampai seorang ahli agama menasehatinya, barulah zuri sadar, dan mulai tenang.
Sampai proses pemakaman selesai, hanya zuri tinggal sendirian, masih memeluk foto bi dean.
Air mata nya terus mengalir, masih sesegukan.
Tiba tiba dia merasakan sebuah sentuhan di bahunya. Zuri menoleh.
"Ayo pulang" Kata Nara lembut.
Menggeleng. "Riri masih mau di sini" Lirihnya
__ADS_1
Nara hanya tersenyum. "Teman kamu datang, dia minta maaf karena terlambat,mami titipin kamu sama mereka, kamu pulang sama mereka ya, jangan pulang sendiri. " Nara sambil mengelus kepala zuri.
Zuri mengerti para pekerja di rumah sedang berduka, tidak ingin merepotkan mereka.
Gea yang di temani abangnya, reza. Memilih tidak menemui zuri atas usul Nara, membiarkan zuri sendiri agar puas, dan tidak merasa sedih lagi.
Setelah setengah jam....
Dari kejauhan, gea melihat zuri berjalan keluar area pemakaman, sesekali menyeka pipinya. Sambil memeluk sesuatu, mungkin sebuah bingkai foto ibu nya. Pikir gea.
****
"Bang, mampir di warung sate yang itu ya.. " Kata gea pada reza.
"Eh... Kalian sering ke sini? " Tanya reza, saat melihat lokasi warung sate itu.
"Apa gak takut kena razia? " Kata reza. Pasalnya jualan kok di trotoar.
"Udh sering... Hahaha" Zuri tersenyum saat mendengar jawaban temannya.
"Kamu memang gak pernah jera ya kalau belum kena tangkep. "
"Ih, Ya enggak lh, kami kan tinggal lari aja, trus masuk ke sekolah, pasti gak di kejar lagi haha"
"Jangan ke sini deh, kita kan bawa mobil, susah nanti kaburnya. "
"Tapi karina suka nya di sini.. " Gea memeluk sahabatnya yang sedari tadi diam.
Reza menurut, dia mencari posisi yang tepat untuk memarkirkan mobilnya.
__ADS_1
"Kak!... Kabur kabur!!! Mampus kita!! " Seru gea.
Reza pun langsung tancap gas saat dia juga melihat satpol PP menuju ke warung itu, padahal mobilnya baru saja berhenti.
Mereka akhirnya berhenti di parkiran sebuah restoran. Saat kabur dari jangkauan satpol PP tadi, gea melihat karina sedikit tersenyum. Dia ingin menghibur sahabatnya itu.
Yang membuat gea tersenyum geli, dia melihat karina beberapa kali menatap abangnya yang tampan itu tanpa berkedip.bahkan udah ngebayangin karina jadi kakak ipar nya hihihi. Hus.. Hahaha
****
Seminggu berlalu....atas permintaan Nara, zuri pindah ke kamar bawah, yang lebih nyaman dan besar.
Rega dengan terpaksa menerima permintaan istrinya.
Setelah itu, zuri mendapat banyak peringatan dari rega, membuatnya harus semakin berhati hati menjalankan tugasnya sebagai pengganti bi dan, tanpa sepengetahuan Nara.
Zuri jadi bingung sendiri, berarti dia harus bekerja saat semua orang sudah tidur, membayangkan lelahnya saja membuat zuri sakit kepala.
Sebentar lagi masuk ajaran baru, dia akan menjadi murid baru. Tapi....
"Uang pendaftaran belum di bayar, bisa masuk gak ya.. " Gumamnya, dia masih merenungi nasibnya. Memeluk lututnya di atas tempat tidur yang baginya paling ternyaman di dunia.
Huh... Dia tidak tau Pin rekening bi dean, memang bi dean mewasiatkan seluruh tabungannya di bank untuk zuri, tapi tidak sempat memberitahu pin nya, bi dean sudah pergi lebih dulu, karena yg di berikan pada riri hari kartu ATM, bukan bukunya sekaligus.
Zuri menarik nafas kala rasa sesak kesedihan menghampirinya lagi.
Senin besok, zuri bertekad akan masuk dulu, bisakah uang masuknya di bayar beberapa bulan lagi, sampai zuri mendapat uangnya. Itu yang akan dia tanyakan pada guru besok.
Jika tidak bisa, huf... Apa boleh buat terpaksa sampai sini saja pendidikannya, ringgal menyiapkan alasan atau mengatur strategi agar tidak mengetahui kalau dia tidak sekolah jika maminya bertanya, biarlah buruk di hadapan maminya, asalkan papinya tidak mengusirnya dari sini.
__ADS_1