I LOVE YOU (Papi)

I LOVE YOU (Papi)
19


__ADS_3

"Gimana kar? Kok lama? oleh gak? " Tanya mila.


Zuri bersandar di dinding dekat pintu kantor. Menghela nafas, lalu menggeleng, kemudian menunduk.


"Gue gak tau lagi mil. " Jawabnya miris.


Mila merasa kasihan. "Tapi lo masih bisa masuk kan. "


"Gak tau mil, gue gak tau lagi," Jawabnya sedikit kesal. " Maaf gue malah kesal sama lo" Kata zuri lagi.


"Iya gak papa kar... Gue ngerti kok. " Menepuk bahu zuri.


*****


Zuri memasuki rumah dengan lesu sambil melamun.


"Riri... Kamu udah pulang? Kok cepat banget?" Tanya Nara.


"Eh... Mami.... Em... Itu... Karena hari pertama, jadi cepat pulang nya. "


"Ooh.... Sekolah baik baik ya, kamu harus banggain dan jangan mengecewakan mami sama papi ya. " Nasihat Nara sambil mengelus kepala zuri lembut.


Dia mengangguk semangat.


"Udah sana ganti baju dulu ya, langsung ke sini lagi, mami mau cerita sama riri. "


Lagi lagi zuri mengangguk semangat.


Cepat cepat zuri mengganti bajunya, lalu kembali ke ruang keluarga, di lihatnya Nara duduk di sana, dia mendekat, lalu duduk di samping maminya.


Nara menoleh melihat zuri, laku menepuk pahanya.


Zuri mengerti, tapi dia ragu, tak kunjung menuruti maksud Nara.


"Riri gak mau baring di sini? "


Eh


"Boleh mi? "


"Ya boleh dong... Sini"


Dengan semangat zuri berbaring di sofa, dengan paha Nara sebagai bantalnya.


Dalam hati dia berdoa, agar papinya tidak datang.


"Mami mau cerita apa? "


"Em... Mami mau tanya, kenapa riri gak sekolah di tempat yang sama dengan nadia? Kan di sana lebih bagus sayang. " Nara bertanya dengan nada selembut mungkin.


Zuri memutar otaknya mencari alasan.

__ADS_1


"Em... Itu... Di sana mahal banget mi, riri gak mau nyusahin papi hehehe.. "


"Selama mami gak ada, papi baik kan sama kamu? perhatian sama kamu kan?."


"Ya jelas lah mi... Papi itu sayaaaang banget sama riri, papi juga perhatian. riri beruntung banget punya papi, apa lagi udah ada mami, riri makin beruntung, makanya riri gak mau ngerepotin papi


sekolah di sana juga bagus kok, biar papi gak keluar uang terlalu banyak. "


Zuri bercerita seakan tidak punya masalah apapun, seakan tidak punya beban, berbicara seyakin mungkin tentang papinya yang sangat menyayanginya, agar Nara tidak curiga.


Keduanya dalam mode diam, sama sama tidak tau cari topik pembicaraan, sampai zuri merasa sangat mengantuk karena elusan Nara yang begitu nyaman dan menenangkan.


"Mi... Riri ngantuk banget. " Katanya setelah itu menguap lebar sambil menutup mulutnya.


"Yaudah... Kamu tidur aja ya ke kamar"


"Tapi... "


"Kenapa sayang? "


"... Tapi riri mau tidur kayak tadi, sambil elus kepala riri, boleh? "


Nara tersenyum. "Boleh dong.... Yuk"


***"*


Dalam pangkuan Nara, zuri sudah tertidur dengan nyenyak, bahkan saat Nara memindahkan kepala zuri ke bantal, dia tidak terganggu sedikit pun.


Ruangan tampak luas karena tidak ada banyak barang di sini, bahkan meja rias atau keperluan wanita semacamnya tidak ada.


Nara berjalan ke arah lemari zuri yang berukuran sedang.


Dia membukanya.


Betapa herannya dia melihat isi di dalamnya, bahkan lemari tidak terisi sampai setengahnya oleh baju baju riri. Dia juga melihat jumlah baju kaos yang bisa di hitung dengan jari, nanya ada sepuluh baju kaos, dan juga mempunyai sepuluh celana harian.


Pakaian dalam yang sudah usang, satu buah tas selempang murah, dan sepatu pansus tipis, baju sekolah Smp di atas tempat tidur juga ada tas sekolah riri, di belakang pintu ada sepatu riri yang telapaknya sudah tipis . Oh iya, juga ada tiga buah kemeja dan satu buah celana jeans di lemarinya.


Melihat ini, Nara semakin heran, apakah rega benar benar memperhatikan zuri selama ini? Seperti yang di katakan zuri tadi saat di ruang keluarga.


Kemudian Nara memasuki kamar mandi, yang isi berbeda jauh dengan miliknya yang mempunyai segala macam peralatan dan perawatan tubuh, tapi dia hanya melihat, satu sikat gigi, pasta gigi merk pepsodent, sabun mandi berbentuk petak warna merah yang sudah mau habis, juga melihat alat sikat berus baju dan sabun colek merk ekonomi.


Jika di hitung keseluruhan harga seluruh barang barang riri, mungkin tidak sampai dua juta.


Dia juga tidak melihat parfum atau pelembab wajah di sana.


Apa apaan ini? sedangkan nadia, satu barang saja jauh di atas satu juta.


Sungguh perbedaan yang begitu terlihat, dan begitu jauh, jni pasti tidak adil bagi riri.


......******......

__ADS_1


Satu minggu zuri tetap masuk sekolah, sudah memiliki teman dua orang perempuan, saat bersama teman di sering tertawa keras seakan tidak ada beban, tapi tidak ada yang tau, dia sedang degdegan sekarang. Akan di panggil ke ruang majelis guru hampir setiap hari, karena menagih uang pendaftaran ulang, yang selalu dia beri alasan 'besok'.


Wali kelas sudah mungkin sudah malas dengannya.


Seminggu masih masa perkenalan, dan mulai senin depan sudah mulai belajar efektif.


Saat jadwal matematika, yang gurunya adalah tak lain wali kelas mereka. Jantung nya berdetak cepat, pasti yang di bahas, uang pendaftaran ulang lagi.


"Karina maju ke depan. " Kata guru matematika yang adalah wali kelas mereka yang sedang memberikan bimbingan.


Zuri maju sambil membawa kursi nya atas perintah guru, lalu duduk di hadapan guru itu, dia langsung menunduk. Sudah tau apa yang akan di bahas.


Sedangkan teman sekelasnya asik dengan pembicaraan mereka, selagi guru nya sibuk berbicara dengan karina, gibah adalah hal yang paling menyenangkan. Pikir mereka.


"Ibu sudah berkali mengingatkan tentang janji kamu, kamu selalu bilang besok, sekolah ini bukan main main nak, jangan mempermainkan kan guru di sini. Ibu tidak ada hak lagi mengingatkan kamu, sekarang adalah tugas guru BK, kamu boleh bercerita kenapa dan apa alasannya, agar guru BK memberitahu ke kesiswaan untuk memberikan kamu waktu membayarnya. Sekarang ke ruang BK ya. "


.


"Loh... Mau ke mana kar? " Tanya teman yang duduk nya tepat di samping nya.


Zuri hanya menggeleng, beberapa yang dekat dengan nya heran, tidak biasanya karina murung dan tidak bersemangat.


Tapi mereka mengerti, mungkin ada masalah, jadi diam saja lah.


****


setelah ibu guru BK itu menjelaskan, bahwa guru BK tugasnya bukan hanya untuk murid yang nakal dan susah di atur saja, tapi juga bisa tempat kita mencurahkan isi hati kita tentang sekolah ini, contoh, jika kita tidak nyaman dengan cara mengajar seorang guru, ketua kelas bisa bercerita ke guru BK , dan akan mengganti gurunya, dan juga, jika punya masalah biaya, bisa di ceritakan ke guru bk, agar guru menyampaikan ke atasan, dan memberikan keringanan. Artinya guru BK itu guru yang paling bisa di andalkan sepertinya.


Walaupun begitu, zuri tetap tidak menceritakan masalahnya, dia belum siap orang mengetahui masalahnya. Apalagi soal uang yang masih di rekening bi dean itu. Takut guru itu menganggapnya main main, apa lagi alasan yang tidak pernah di dengar orang.


Dia pasrah, dan mengatakan "baik buk, sepertinya saya tidak akan masuk lagi, saya juga tidak tau akan membayar kapan, maaf sudah menyusahkan ibu"


"Nak... Pikirkan lagi, coba ceritakan masalah kamu, agar ibu memberitahu ke kesiswaan, dan kesiswaan menyampaikan ke kepala sekolah, memberikan kamu keringanan atau kompensasi waktu untuk membayar nya Ya... Pikirkan baik baik, demi masa depan kamu, kami juga tidak mau ada anak yang putus sekolah hanya karena masalah biaya, uang bisa di cari kok, walaupun perlu waktu, dan guru juga pasti mengerti keadaan kamu. " Kata guru itu lembut.


"Iya buk. "


Guru itu tersenyum. "Baik, mamu bisa masuk ke kelas kamu, semoga kita masih berjumpa senin ya.. "


"Iya buk, Terima kasih. " Zuri tersenyum.


Zuri masuk ke dalam kelas dengan raut wajah yang sulit di artikan.duduk di kursi nya sambil menghela nafas.


"Kar... Lo nyeremin ih... Jangan diam napa"


Zuri tersentak, mencari sumber suara barusan, ternyata dino, ketua kelas mereka yang memandang nya dengan horor.


Zuri terkekeh hampir murid di kelasnya akrap dengannya, melihat zuri dengan aneh.


"Kenapa sih... Kok pandangan kalian gitu banget sih... Gue serem jadinya.. "


Oke fiks, karina sudah normal. Seluruh kelas bernafas normal

__ADS_1


Lebayyy.... Batin zuri.


__ADS_2