
...like dulu biar jangan lupaš¤...
Rega menoyor kepala zuri sampai terbentur pintu mobil. "Bosan saya dengar maaf dari kamu, selalu saja membuat kesalahan,memang dari lahir kamu selalu menyusahkan orang, gak berguna kamu, kamu mati pun saya gak peduli, turun! saya sudah terlambat karena kamu. "
Ternyata sudah sampai sekolah.
Zuri mendorong pintu mobil, tapi tidak bisa di buka, mencoba lagi tapi tidak bisa juga. Dia tidak tau membuka, ini pertama kalinya dia naik mobil.
"Gak bisa di buka.. " Lirih nya.
Dengan cepat rega membantu, pintu terbuka.
Zuri mengambil kesempatan. Dengan cepat mengambil tangan tega, lalu mencium punggung tangan rega dengan cepat.
"Makasih papi, makasih om. " Berterima kasih pada rega dan asistennya, sambil keluar. Berlari menuju kelas nya. Sebelum itu dia melepas kucing jalanan itu.
...****...
Saat makan malam, zuri tidak sengaja mendengar pembicaraan di meja makan.
Nadia mendapat nilai bagus di sekolahnya, rega memberikan hadiah sepeda baru, nenek nya memberikan kalung emas, mama nya akan membawanya ke taman hiburan akhir pekan.
Nadia di hujani banyak cinta di mana mana, zuri hanya pajangan yang tidak di anggap.
Saat di sekolah tadi, dia di ejek teman temannya karena mendapat nilai paling buruk di kelas, dia di katakan bodoh, dia bahkan hampir menangis karena di ejek.
"Non tadi dapat nilai berapa, kalau tinggi bibi kasi hadiah mau? "
Zuri diam, tidak senang sama sekali, karena memang nilai nya tidak bagus.
__ADS_1
Dia menggeleng.
"Kenapa? bibi tau non itu pintar, ayo, tunjukin sama bibi nilainya. "
****
"Gak papa non, nangan sedih, itu wajar hari pertama, nanti les sama bibi mau? " Bi dan menghibur riri.
Zuri menggeleng. "Riri gak punya uang. "
"Sama bibi mah gratis non, gak perlu bayar, oke. "
Zuri mengangguk semangat.
****
"Eh tuan... "
"Mau ke mana bi"
"Em... Ma-mau ke pasar tuan. " Bu dean gugup.
Rega mengerutkan keningnya, memandang bi dean dari atas sampai bawah. Rapi.
"Jangan bohong" Dingin.
"Em... Sebenarnya... Saya....di sekolah non riri ada perlombaan melukis, non Riri ikut, saya mau menyemangati tuan, maaf. "
Mendengar itu rega langsung masuk, dia pulang karena merasa tidak enak badan.
__ADS_1
Bi dean langsung buru buru pergi.
*****
Zuri memegang tangan bi dean , berjalan pulang ke rumahnya dengan riang.
"Non, nanti tunjukin sama tuan ya, pasti tuan senang non dapet juara dua."
Zuri mengangguk semangat.
*****
"Papi!.. Papi!.... " Zuri berlari, saat melihat rega sedang menonton di ruang keluarga.
"Papi!... Liat papi!.... Riri dapat juara dua melukis di sekolah! liat papi! bagus kan, papi senang kan?" Berkata penuh harap.
Tega memandang sinis.
"Senang apa, cuma juara melukis, orang yang tidak sekolah juga bisa melukis, jadi apa gunanya kamu sekolah kalau tidak juara dalam pelajaran lain, lagian cuma lomba abal abal, gak ada yang perlu di banggakan, pergi sana! kamu ganggu saya. "
"Oke, nanti kalau riri juara kelas, papi harus peluk sama cium riri ya.. "
Rega tertegun.
"Hem... Sana sana" Rega memejamkan matanya bersandar di sofa.
"Makasih papi.. " Sambil memeluk kaki rega... Tapi langsung di hempaskan.
zuri masuk ke kamarnya untuk mengerjakan PR, belajar dengan giat, membanggakan papinya, ingin mendapatkan kasih sayang nya.
__ADS_1