I LOVE YOU (Papi)

I LOVE YOU (Papi)
18


__ADS_3

*****


Dengan masih memakai seragam putih biru nya dia bersiap ke sekolah. Seluruh seragam harus berasal dari sekolah, jadi ngapain beli baju putih abu abu, rugi.


Zuri berangkat jam setengah tujuh. Bahkan penghuni rumah itu belum turun. Tapi dia bangun jam empat pagi untuk menyiapkan sarapan mereka semua.


Berjalan sampai ke jalan raya, menaiki angkot sampai ke sekolah.


Dia begitu gugup memasuki tempat baru nya menimba ilmu. Mungkin.


Huuf... Meneguhkan hatinya agar tidak gugup. Melihat para murid baru yang juga masih menggunakan seragam SMP nya, dia juga melihat murid yang dulu satu sekolah dengannya di SMP, tapi tidak dekat.


"Kar!!! "


Zuri mencari sumber suara yang memanggilnya.


Seorang perempuan mendekatinya, ternyata mila, teman sekelasnya, walaupun bukan teman saat berkumpul atau ke kantin bersama. Tapi mereka cukup akrap.


"Lo sekolah di sini juga? Wih... Gua udah mau nangis karena gak ketemu orang yang gua kenal, untung ada lo. "

__ADS_1


Sama. Zuri juga begitu. Dia lega bertemu orang yang dia kenal. Setidaknya punya teman sebelum nanti dia akrap dengan teman sekelasnya.


"Mil, lo udah bayar yang masuk belom? " Tanya zuri.


"Masih luma ratus ribu kayaknya, tunggu bapakku ada uang lagi baru nyicil lagi. Kenapa? "


"Kalau misalnya bayar beberapa bulan lagi kira kira boleh gak ya... Soalnya pin ATM ibu ku aku gak tau. Uang nya di situ. "


"Lah, tapi ibu tau kan pin nya, ya tanya aja. " Kata mila yang belum tau kebenarannya.


"Em... Ibu ku meninggal dua minggu lalu, jadi gak tau. "


"Lebih baik kita tanya aja sama pak Wisnu aja, guru yang kata pak kepsek ,kita bayar uang baju ke bapak itu, kita tanya sekarang aja ya. "


Mereka langsung menuju ruang majelis guru.


*****


"Kamu harus membayar minimal lima ratus ribu, dan itu masih dapat satu baju, setelahnya kamu bisa menyicil, sebenarnya tidak terlalu di paksakan, tapi uang di awal sebagai pendaftaran ulang itu menjamin bahwa kamu benar benar dan serius bersekolah di sini. " Jelas guru itu. Di bawah meja, zuri memilin kuku nya dengan gugup.

__ADS_1


"Tapi saya benar benar serius kok pak, tapi uang pendaftaran ulang nya nanti"


Guru itu tersenyum melihat zuri, membuat zuri menunduk.


"Saya tau kamu serius, semua murid juga serius bersekolah di sini, jika mereka tidak serius, mereka tidak akan membayar uang pendaftaran sekarang. Tapi, setiap sekolah punya peraturan masing masing, punya cara menganggap bahwa kamu benar benar murid di sekolah ini, jika tidak membayar pendaftaran ulang itu, selama itu juga kamu belum menjadi murid di sekolah ini, kami juga tidak berhak mengajar dan membimbing kamu. Mengerti? "


Zuri mengangguk. "Saya mengerti pak. "


"Permisi pak... " Suara laki laki di belakang zuri yang sepertinya ingin berbicara dengan pak Wisnu. Tapi pak Wisnu mengangguk, dan mengangkat tangannya, bermaksud agar murid itu sabar.


"Kamu boleh pikirkan lagi nak, tunjukkan keseriusan kamu, semangat turus ya."


"Iya.permisi pak. "


"Hem.." Balas pak Wisnu. "Kenapa reza? "


Zuri berbalik melihat reza, abang dari sahabat nya itu tepat di belakangnya. Zuri sedang frustasi sekarang, jadi dia pura pura tidak kenal saja. Reza pun memandang zuri yang dia kenal sebagai karina dengan heran. Kok tidak menyapa?.


Lanjut reza mengatakan maksudnya bertemu pak Wisnu.

__ADS_1


__ADS_2