
"Kamu gak takut saya culik? " Kata reyhan saat di dalam mobil.
"Ha?... Kalau om berani culik riri, patah batang leher om nanti " Kata riri dengan berani.
Dokter reyhan tersenyum sambil mengacak acak rambut riri.
Riri berdesir seketika marasa tangan itu menyentuh kepalanya. Membayangkan papinya yang melakukan itu padanya... Pasti akan sangat nyaman. Riri menggerakkan bibirnya ke kiri ke kanan, saat rasa sesak di dadanya menerjang mengingat perlakukan pipinya.
Riri adalah anaknya kuat dan pemberani, dia bisa menyembunyikan ekspresi yang akan timbul, berbicara dengan orang lain seperti orang sudah kenal lama, padahal baru sekali bertemu. Batin reyhan.
"Ehemm.... Kamu tidak ingat dengan saya? "
"Em... Siapa ya... Riri gak ingat, bener. "
"Dokter reyhan, kenal? "
"Dokter reyhan?... Siapa sih "
"Ck... Saya dokter yang merawat kamu saat operasi dua bulan lalu. "
"Ooohhh... "
"Ingat? "
"Enggak hehehe" Tukasnya sambil menggaruk kepalanya. "Udah lama soalnya om.. Eh dokter, jadi riri udah lupa kayaknya. "
"Ya sudah lah... Saya cuma mau bilang, kenapa setelah pulang dari rumah sakit itu kamu tidak ke rumah sakit lagi.? "
"Emang harus ke sana lagi ya om eh dok. Tapi dokter kok ingat saya gak ke sana lagi? "
"Saya selalu memantau pasien saya. "
"Sampai rela nyari dan nunggu berjam jam gini? " Riri curiga.
Reyhan terdiam. Dia juga bingung, kenapa dia harus mencari dan rela menunggu berjam jam tadi, apakah dia seniat itu.
"Maksud saya bukan begitu, saya hanya peduli tentang kesehatan kamu, dengan cek up dan minum obat dengan rutin itu perlu, agar kamu dapat beraktivitas seperti sebelumnya. "
"Tapi riri baik baik aja kok, gak ada sakit"
"Karena masih di awal, beberapa bulan ke depan, bisa saja kamu drop"
"Kalau drop langsung mati gak dok? " Pertanyaan aneh muncul.
"Apa?" Dokter reyhan kaget.
"Ck... Riri nanya, kalau riri drop, langsung mati atau sekarat dulu. Bagusan sih langsung mati aja ya, kalau sekarat nanti malah ngerepotin orang hehehe.. "
__ADS_1
"Huss... Jangan bicara sembarangan. " Dia heran kenapa riri begitu santai membahas kematian.
"Di rumah kamu dengan siapa? "
"Banyak.papi... Nadia... Ibu... Nenek... Tante. "
"Cuma segitu? Katanya banyak. "
"Oh.. Maksud riri sama pelayan pelayan juga. "
"Pelayan? Berarti kamu orang kaya dong. tapi kenapa harus kerja? "
"Gak... Riri gak kayak, cuma papi, nadia, nenek, sama tante aja yang kaya."
"Kenapa begitu? " Dokter reyhan heran.
"Hemm...papi itu suka sama anak yang mandiri sama yang gak nyusahin, jadi riri gak mau ngerepotin papi, makanya kerja cari uang sendiri. Riri hebat kan. " Riri menyombongkan dirinya.
Kenapa gak sekalian tinggal sendirian aja, percuma punya orang itu kaya, tapi anak harus cari uang sendiri. Batin reyhan.
Tapi demi menyemangati riri, dia hanya tersenyum dan menepuk kepala riri pelan. "Iya.riri memang paling hebat"
"Hem...kamu bilang tadi ibu, maksudnya ibu kamu? "
Riri menggeleng. " Gak, kata ibu, riri masih punya mami, tapi gak rumah, orang tua riri cuma papi aja. "
"Ooh... Nadia itu anak tante nya riri, tapi manggil papi juga sama papinya riri, karena Nadia gak punya papa. Makanya papi lebih sayang sama Nadia. "
. Berusaha agar papinya tidak di jelekkan orang lain, walaupun dia menceritakan semuanya. Tapi riri berbicara pada orang dewasa, dia tau kalau perlakuan papinya riri itu salah.
"Papi nya riri berarti gak terlalu sayang dong sama riri"
"Siapa bilang, kata ibu,gak ada orang tua yang gak sayang sama anaknya, cuma cara orang tua menunjukkan kasih sayang pada anaknya itu berbeda beda."
"Besok datang untuk cek up ke rumah sakit ya. " Dokter reyhan mencari topik baru.
"Gak mau ahk, mahal om, aku punya temen yang ayahnya setiap minggu juga ke rumah sakit, lima bulan kemudian ayahnya bangkrut om, nanti uang papinya riri abis lagi, kan sama aja nyusahin papi.riri gak mau"
"Saya yang biayai, mau? "
"Hem... Mending om kasi riri uang aja deh, buat beli kado ulang tahun untuk papi, soalnya seminggu lagi papi ulang tahun, uang riri belum cukup, kado untuk papi harus mahal katanya, kalau murah papi gak mau nerima. Kado riri selalu di tolak karena murah." Dia seketika sedih, menyenderkan kepalanya ke sandaran. " Om mau gak minjemin riri uang buat beli kado papi, nanti riri nabung untuk bayarnya deh. Janji. Gimana om"
Dokter reyhan diam. Entah kenapa jadi merasa dendam dengan papinya riri.
"Saya mau ngasi kamu uang, asalkan kamu mau rutin cek up ke rumah sakit. Gimana? "
"Maksudnya.... Om kasi riri uang buat beli kado untuk papinya riri, berarti yang bayar uang cek up ,riri dong, gak mungkin om yang bayar semuanya kan. "
__ADS_1
"Gak... Saya yang akan bayar semuanya, uang cek up, beli apapun itu, atau biaya hidup kamu juga bisa saya, uang saya banyak. "
"Wiih... Om kayak Sultan yang gak tau mau ngabisin uangnya gimana lagi ya, tapi bagus sih, berbagi sama orang miskin ya kan om. Kalau gitu riri mau deh, benerkan om, om yang bayar. "
"Iya"
"Yes... Kali ini, papi harus mau pakai pemberian riri xixixi, ya walaupun gak pakai uang riri. "
"Sesenang itu kamu."
"Seneng banget om, makasih ya om. "
"Iya sama sama... Bagaimana sih papi kamu itu, sampai kamu sangat sayang sama dia. "
"Jangan di tanya lagi om, papi nya riri itu yang terbaik, udah ganteng, baik sama Nadia, nenek, dan tante... Terus kaya lagi, untung jadi papinya riri ya heheh. "
Reyhan merenungi kalimat barusan, seperti ada yang janggal. Oh iya, riri tidak menyebutkan dirinya sendiri pada orang orang yang di sayang oleh ayahnya
Akankah sebenarnya ayahnya riri itu gak sayang dengan dia? Apa riri sebenarnya hanya anak yang tidak di anggap? Tapi kenapa... Kenapa riri bisa seceria itu menceritakan semuanya, padahal begitu banyak beban yang di tanggung nya. Batin dokter reyhan.
"Om kok lama ya, rumah riri gak sejauh ini loh"
"Iya bentar lagi sampai. " Dokter reyhan lupa, kalau dia sengaja mengelilingi daerah yang sama, agar mereka lebih leluasa berbicara.
"Sudah sampai" Kata dokter reyhan.
"Oke... Makasih om bay!! " Langsung pergi.
"Tunggu!! " Riri berbalik.
"Jangan lupa ke rumah sakit. "
Riri mengacungkan jempolnya. Lalu masuk
Flashback of
******
"Riri pulang ya om, permisi" Kata riri sambil mencium punggung tangan dokter reyhan. Berpura-pura bersikap dingin, dan mendatar kan raut wajahnya. Membuat dokter reyhan tersenyum lucu.
"Saya antar ya.. " Tawarnya
"Gak perlu, riri mau langsung kerja, udah hampir dua hari libur, nanti gaji riri di potong" Katanya masih cuek.
"Baru keluar dari rumah sakit, masa langsung kerja"
"Om... Om itu jangan menghalangi rezeki riri ya, utang riri sama om aja udah banyak, riri mau kerja, kebutuhan riri banyak. Bay om" Dia langsung keluar.
__ADS_1