Ich Liebe Dich, Leo!

Ich Liebe Dich, Leo!
Episode 1 14 Tahun yang Lalu


__ADS_3

Ketika "bias" pada akhirnya membuka jalan bagi jembatan yang sesungguhnya untuk menghubungkan kedua dunia paralel, maka berakhirlah sudah tugasnya untuk melindungi gadis kecil itu. Kedua jembatan yang sama membentang di hadapan mereka berdua, meski demikian hanya satu jembatan yang sesungguhnya, yang akan membawa gadis kecil itu kembali ke dunianya, meninggalkan dunia paralel yang penuh kekisruhan ini.


Hanya dia yang telah membuka "bias", yang bisa menebak jembatan yang tepat.


"Nah, Leo. Kau bisa pulang sekarang," kata pria muda yang telah membuka "bias" untuknya, terengah. Noda darah dan jelaga di sekujur tubuhnya terlihat sangat mencolok. Seharusnya ia sudah rubuh dengan luka separah ini. Tapi faktanya, ia masih berdiri dengan kokoh, seperti batu karang melindungi sebatang bunga kecil yang ketakutan.


"Kau hanya harus berlari melalui jembatan itu, tidak boleh berhenti. Kau harus terus berlari sampai ke seberang," ia menunjuk salah satu jembatan, jembatan yang sesungguhnya.


"Kita akan pergi bersama?" tanya gadis kecil itu ragu. Meski seluruh tubuhnya gemetaran, seperti pria itu, ia pun berdiri dengan kokoh, dengan kedua tangan yang terkepal.


"Ha ha ... Tidak Leo. Kau yang pergi, aku akan menjaga jembatan ini sampai kau sampai di seberang," pria itu


mengusap-usap rambut gadis kecil itu dengan tangannya yang berdarah, menyisakan gumpalan darah kental yang menempel erat di helaian rambutnya. Ia terlihat sedih. Saat ia mengamati luka sobek berdarah yang melintang di pelipis gadis itu, ia terlihat menyesal. Luka itu akan berbekas, pikirnya. Tidak seharusnya seorang gadis memiliki bekas luka yang begitu mencolok.


Gadis itu tampak ragu, seolah dalam hati ia tak ingin pergi meninggalkan pria yang telah menjaganya dengan nyawanya selama ia berada di dunia paralel ini.


"Tidak kah kau mencemaskan Ayahmu? Ia pasti sudah menunggumu di seberang jembatan."


Suara derap kaki di kejauhan membuatnya sedikit gelisah. Mereka adalah pasukan musuh yang hendak mencegah gadis itu pergi.  Gadis itu menatapnya lekat-lekat,seolah kedua mata yang berbinar biru itu ingin menyimpan semua kenangan  terakhir mereka dalam pikirannya selamanya. Air matanya yang telah mengering kembali menetes, membasahi pipi bulatnya yang kotor oleh debu kelabu. Saat jemari kecilnya meraih jemari pria itu dan menggenggamnya, air matanya semakin menjadi.


"Kau tidak perlu mengasihaniku, Leo. Aku akan hidup, tenang saja. Yang terpenting adalah kau harus bertahan hidup, tentu saja. Ayo pergilah, cepat!"


Saat suara derap kaki terdengar semakin kuat, dengan terjangan peluru yang menyertainya, dengan sangat cepat pria itu mengambil senjatanya dan balas menembak. Dengan tubuhnya, ia melindungi gadis itu dari terjangan peluru. Hanya itu yang bisa ia lakukan saat ini.


"Cepatlah pergi, Leo. Aku akan melindungimu."


Gadis itu mengagguk ketakutan. Ia tahu, ia harus segera pergi. Keegoisannya untuk selalu bisa bersamanya hanya akan membuat pria itu semakin kesulitan. Karena itulah, dengan berat hati ia melepaskan genggamannya dan berlari melewati jembatan tanpa menengok ke belakang sedikitpun. Karena ia tahu, sekali saja ia menengok ke belakang, ia tak akan tega meninggalkan pria itu sendirian disana. Pada akhirnya ia hanya bisa berlari hingga kabut menelannya, menyamarkan suara tembakan demi tembakan yang terdengar seolah tanpa henti. Dan ketika kabut menghilang, ia melihat Ayahnya di ujung jembatan, menunggunya.


 


14 tahun kemudian...


Elleonora memandangi dirinya di cermin, bekas luka sepanjang lima senti yang membujur di pelipis kirinya telah menyita seluruh perhatiannya. Setiap hari ia menghabiskan waktu lebih dari tiga puluh menit hanya untuk menutupnya dengan bedak dan foundation, ia bahkan mengatur rambut gelapnya sedemikian rupa hingga menutupi bekas luka itu dengan sempurna. Hari ini pun ia melakukan rutinitas yang sama, beruntung, hari ini kuliah pagi dibatalkan, jadi ia tidak harus melakukannya dengan terburu-buru.


Dengan perlahan ia meraba bekas lukanya, ada kerinduan dalam kedua mata biru nya. Kedua orang tua angkatnya sudah lama memintanya untuk melakukan operasi plastik untuk menghapus bekas luka itu, tapi kemudian menyerah karena ia tak pernah mendengarkan keinginan mereka.


Tentu saja aku tidak akan menghapus bekas luka ini. Karena hanya inilah hal yang bisa menghubungkan kami berdua. Aku... dan pria itu.


Dalam kepalanya berkelebat bayangan seorang pria muda, tersenyum penuh semangat di antara rentetan peluru dan asap mesiu. Mengherankan, mengingat ia sama sekali tidak terlihat kesakitan dengan berbagai luka tembak di tubuhnya, dan malah tersenyum dengan penuh semangat. Senyuman penuh semangat itu selalu membuatnya terpesona.


Aku ingin tahu apa ia baik-baik saja? Apa ia masih tempramental seperti dulu? Apa ia masih saja selalu menghadapi terjangan peluru dengan senyuman lebar yang penuh semangat?


Elleonora tidak bisa menahan senyuman gelinya. Hanya dengan mengingat itu semua ia bisa merasakan kehangatan dalam hatinya, juga kerinduan yang terasa menggelembung dalam dadanya. Sayangnya semua perasaan itu harus berakhir sia-sia, karena tentu saja, mereka tak akan bertemu kembali.


Sebuah ketukan di pintu memecah lamunannya, seorang wanita paruh baya tersenyum sayang padanya, "Sarapan mu sudah siap Elle. Ayo kita sarapan bersama, Ayahmu sudah menunggu di bawah".


"Sebentar lagi, Mam," Elle tersenyum mengiyakan. Ibu angkatnya adalah Iterbaik yang pernah ia miliki, Ibu


satu-satunya yang pernah ia miliki. Ia tak pernah tahu siapa Ibunya yang sesungguhnya, ia tidak lagi merasa itu penting.


Elle meraih tasnya, juga beberapa buku dan sebuah telepon genggam, menjejalkannya tanpa ampun pada tas yang nyaris tak bisa menahan beban sebanyak itu dalam satu waktu. Tepat sebelum ia membuka pintu, langkahnya terhenti. Ia selalu terhenti meski untuk sesaat, untuk memandangi foto Ayah kandungnya yang tewas hanya dua tahun setelah ia kembali dari dunia paralel.


Sebuah kepedihan selalu terasa menyayat hatinya,tapi ia sudah terbiasa untuk mengabaikannya, seperti ia selalu mengabaikan penyebab kematian Ayahnya yang misterius. Polisi bilang para perampoklah yang telah membunuhnya. Tapi ia tahu, merekalah penyebabnya, mereka yang telah berusaha menculiknya 14 tahun lalu. Yang ia tidak mengerti, kenapa mereka hanya membunuh Ayahnya, tapi tidak berusaha menculiknya lagi.


Ketika Ibunya memanggil sekali lagi dari lantai bawah, Elle tidak punya pilihan lain selain mengabaikan lagi perasaan ini dan turun dengan memasang wajah yang ceria. Di meja makan Ayah angkatnya telah menunggunya, dengan sepiring pancake dan segelas susu. Sedangkan Ibu nya, sedang membuat lebih banyak pancake di dapur. Ayah angkatnya, seorang Dokter di rumah sakit pemerintah, menyodorkan sepiring pancake dengan madu. Ia enggan mengakuinya, tapi bahkan Ayah angkatnya memanjakannya lebih dari Ayah kandungnya sendiri.


"Aku bisa ambil sendiri, Yah," di usianya yang kesembilan belas, rasanya malah lebih pantas bila ia yang

__ADS_1


menyodorkan piring itu padanya.


"Aku sangat sibuk, setidaknya aku masih bisa melihatmu di meja makan."


"Kau kuliah pagi? Kau harus buru-buru kalau tidak ingin terlambat," Mama bergabung di meja makan dengan lebih banyak pancake madu.


"Kuliah paginya dibatalkan. Aku ikut kuliah yang setelahnya. Mungkin aku akan pulang sore karena harus mencari bahan untuk tugasku."


"Oh, Elle kau harus berhati-hati saat melewati jembatan Black River, itu jembatan yang selalu kau lewati setiap kali kau pergi ke kampus kan? Kemaren pasienku menceritakan berbagai hal aneh yang akhir-akhir ini sering terjadi di jembatan itu. Kurasa itu cuma gosip, tapi aku tetap ingin kau berhati-hati, Nak."


Jantung Elle berdetak lebih kuat dan cepat. Rasanya ia tak pernah mendengar berita aneh tentang jembatan itu, sampai saat ini.


"Memangnya apa yang pasien itu bilang, Yah?" Elle berusaha bersikap senormal mungkin, meski sebenarnya ia tegang.


"Entahlah, tidak begitu jelas.. Sepertinya kabut yang sering naik dari sungai Black River membuat orang-orang


berhalusinasi. Ia bilang mereka melihat beberapa orang pria bersenjata disana. Ada juga yang melihat berbagai pemandangan aneh di sisi sungai yang seharusnya tidak ada."


"Menakutkan.." komentarnya terdengar sangat kaku, bagi orang lain ia mungkin akan terlihat seperti sangat ketakutan.


"Kau tidak perlu takut sayang, itu cuma cerita bohong.."


"Aku tidak apa-apa Mam.. Aku akan hati-hati.. Pasti.."


                                                                                     *****


Elle merasa lebih lega ketika akhirnya ia bisa masuk ke dalam mobil nya dan melaju meninggalkan rumah. Percakapan tentang jembatan Black River itu telah mengganggunya. Ia ingat pasti bahwa jembatan Black River adalah jembatan yang menjadi portal antara dunia ini dan dunia paralel yang pernah dikunjunginya empat belas tahun lalu. Melalui jembatan itulah para penculik itu membawa nya pergi, dan melalui jembatan itu pula ia kembali. Bila kemudian muncul laporan kemunculan orang-orang aneh bersenjata di jembatan itu, itu artinya "bias" telah dibuka, dan kedua dunia berhasil terhubung kembali. "Bias" adalah pintu dari dunia paralel, pintu itu hanya bisa dibuka dari sisi dunia paralel. Dan jembatan Black River adalah lokasi portalnya.


Elle tidak mengingkari ketakutan nya karena mungkin saja mereka akan berusaha menculiknya lagi, tapi ia juga ia berdebar-debar dan bersemangat.


Tanpa pikir panjang Elle melajukan mobilnya sedikit lebih kencang, ia hanya ingin segera sampai di jembatan itu, berharap pria itu berdiri disana, menunggu nya dengan seringaian nya yang khas. Sayangnya semua itu hanya khayalan nya saja. Ketika ia sampai di jembatan itu, yang bisa ia temukan hanyalah mobil-mobil yang berlalu lalang, dan pejalan kaki yang berjalan di koridor tersendiri.


Pria itu seorang prajurit, seandainya ia berada disini dalam suatu misi, tentu ia tidak akan berdiri di jembatan ini dengan pose yang santai. Paling tidak ia akan bersembunyi sampai gelap. Karena itu, Elle memutuskan untuk bolos dari semua kuliah nya dan menunggu di pinggir mulut jembatan. Ia terlalu bersemangat dan terlalu berharap banyak untuk bisa mengabaikan hal ini begitu saja.


Kira-kira apa yang telah terjadi disana? Apa yang telah terjadi sampai mereka membuka "bias" dan membuat kedua dunia terhubung kembali?


Ia membayangkan sepasukan pasukan musuh yang berderap melalui jembatan, senjata mereka yang berwarna sehitam malam terarah ke depan, mengancam siapa saja yang ada di hadapan nya. Dulu sepasukan pasukan


yang sama telah muncul dari jembatan ini dan berusaha menculiknya, tapi pria itu telah menyelamatkan nya.


Mungkinkah sesuatu telah terjadi lagi? Peperangan baru? Apa mereka datang untuk mencariku lagi??


Elle bergidik memikirkan kemungkinan itu, tapi disaat yang sama hal itu membuatnya semakin bersemangat dan berdebar-debar. Karena itu artinya kemungkinan besar pria itu akan datang dan menyelamatkan nya


lagi. Kalau ada dia aku tidak akan takut.., ia meyakinkan dirinya sendiri.


Dengan sabar Elle menunggu dan menunggu... Dan menunggu..


Elle tidak pernah merasa sebosan ini sebelumnya, ia sudah menunggu sejak pagi sampai senja, ia sudah mengamati ribuan mobil yang berlalu lalang melewati jembatan ini, juga mengawasi ratusan pejalan kaki yang


berjalan di koridor khusus, tapi tidak ada sedikitpun petunjuk yang ia temukan. Tidak ada penampakan manusia berpakaian aneh dengan senjata, tidak ada penampakan pemandangan asing di sisi jembatan, semuanya benar-benar normal.. Elle mendesah kecewa. Ia sudah lelah dan lapar, rasanya ia harus menyerah.


Mungkin sebaiknya aku pulang dan mencobanya kembali besok.


Setibanya di rumah ia memang menemukan Ibunya duduk di ruang depan, mengamati halaman rumahnya dengan cemas. Hanya setengah jam saja lebih lama, maka ia pasti sudah menelpon teman-teman kuliah putrinya, dan membuat Elle ketahuan membolos.


"Aku keasikan di perpustakaan sampai lupa waktu Mam.. Jangan cemas begitu." protesnya.

__ADS_1


"Mandi dulu Elle, lalu kita makan malam. Aku sudah menyiapkan kaserol ayam dan kentang tumbuk. Apa kamu mau lebih banyak tomat di salad mu, Sayang?" Mama beranjak ke dapur, yang menyatu dengan ruang makan.


"Enggak Mam, aku mau lebih banyak lettuce saja." Elle meninggalkan Ibunya dan naik ke kamar.


Rumah mereka tidak besar, meski demikian rumah ini sangat nyaman dan hangat, rumah ternyaman yang pernah ia tinggali. Rumah yang dulu ia tinggali bersama ayah kandungnya jauh lebih besar, tapi begitu hampa dan dingin.


Dulu ayah kandungku selalu sibuk dengan proyek-proyek penelitian nya, dan sering meninggalkanku di rumah sendirian. Ketika ayah meninggal pihak universitas segera menyita seluruh peralatan penelitian yang dibelinya dengan dana universitas, dan pihak bank segera melelang rumah tersebut. Beruntung, sepasang pasangan suami istri yang bekerja di rumah sakit tempat aku pernah dirawat menawarkan diri untuk mengadopsiku.


Mama dulu seorang perawat, tapi sejak tiga tahun lalu ia berhenti dari pekerjaan nya, penyakit radang sendimembuat pekerjaan nya jadi terasa lebih berat. Sebagai pengisi waktu sekarang Mama menjalankan sebuah situs konsultasi kesehatan online di internet. Seharusnya dengan pendapatan yang diterima Mama dari iklan-iklan yang memenuhi situsnya, juga dari pendapatan Ayah sebagai seorang Dokter, kami bisa memperbesar rumah, atau paling tidak seharusnya kamar mandiku diperbesar..  Tapi Ayahku terobsesi dengan rumah pertanian di pinggir kota di daerah Whales, ia mencicil sebuah lahan luas lengkap dengan rumah tua abad 18 dan kandang domba dan kuda. Kami mungkin akan menjadi petani setelah Ayah pensiun nanti.


Elle tidak bisa membayangkan seperti apa jadinya lahan pertanian garapan nya nanti, mengingat bagaimana ia selalu lupa menyiram bunga di halaman. Pada akhirnya bebungaan itu diganti dengan berbagai tanaman yang tidak perlu memerlukan perawatan dan penyiraman yang teratur.


Elle  membongkar tas yang belum sempat disentuhnya sejak tadi. Paling tidak ia harus mengambil handphone nya, menelpon beberapa teman karibnya untuk menanyakan materi kuliah yang terlewatkan, dan mempelajarinya sendirian. Setelah mempertahankan grade nya di peringkat tiga terbaik selama empat semester, beban nya menjadi semakin berat. Ia harus belajar lebih keras agar bisa mempertahankan grade nya dan mendapatkan rekomendasi untuk pekerjaan yang menanti nya kelak.


Tiga panggilan tak terjawab??, ia pasti lupa tidak mengganti mode silent yang dipasangnya sebelum tidur semalam.


Elle menyentuh tombol kunci di layarnya dan membuka catatan panggilan yang tak terjawab, ketiga nya berasal dari salah satu teman kuliahnya, Rosy.


Elle menekan panel telepon di layar handphone nya, nada dering terdengar beberapa saat sampai akhirnya digantikan dengan suara


"Hai Ros ini Elleonora. Umm... Maaf aku tidak mendengar telepon mu tadi sore.."


"Syukurlah Elle.. Sebaiknya kau cepat ke kampus, ada seorang pria aneh mencarimu."


"Apa?? Pria aneh??" dada nya berdebar dengan kuat, memikirkan kemungkinan yang ia harapkan.


"Seperti apa dia?" tanya Elle tidak sabar. Ia mulai tegang, sekaligus berdebar dan sangat bersemangat.


"Tinggi, kekar, rambut coklat gelap. Ia memakai pakaian yang aneh, pakaian nya terlihat seperti cosplayer. Sebaiknya kau segera datang Elle, petugas kampus sudah menahan nya di kantor."


Deskripsi itu agak membuatnya ragu. Seingatnya pakaian militer mereka didominasi oleh warna kelabu dan biru. Seharusnya warna itu tidak akan menarik perhatian.


"Oke, aku akan segera ke kampus.."


Elle segera mengganti pakaian tidurnya dan berlari turun ke bawah. Pikiran nya tidak karuan, ia benar-benar penasaran nya akan pria aneh yang mencarinya dikampus.


"Mam, aku harus pergi ke kampus.. umm... aku lupa telah meninggalkan buku penting di perpustakaan. Aku membutuhkan buku itu untuk ujian besok.” Elle tak ingin berbohong, tapi ia tak punya pilihan lain.


"Pergilah Sayang, hati-hati dijalan dan jangan pulang terlalu malam."


Rasanya Elle tidak pernah ngebut sekencang ini sebelumnya. Berkali-kali ia menyalip kendaraan dengan ceroboh dan nyaris menabrak satu atau dua mobil di depan nya. Ia harus berkali-kali mengingatkan dirinya bahwa, bila ia tidak menyetir dengan lebih berhati-hati, mungkin ia akan berbaring di tempat tidur pasien, di rumah sakit tempat Ayahnya bekerja malam ini.


Ia harus melihat pria aneh itu, hanya untuk memastikan apakah ia mengenalnya. Tapi rasanya ia tak yakin bila pria yang dulu dikenalnya itu mau melakukan hal yang konyol dengan berpakaian seperti cosplayer.


Ya, itu pasti bukan dia.. Kalau dia, pasti akan muncul tepat dihadapan nya depan nya, dengan kostum militer dan senjata yang berat di tangan nya. Dan ia pasti akan tersenyum padanya dengan penuh semangat, seperti biasa. Senyum itu akan dengan cepat berubah menjadi sebuah seringaian lapar bila kemudian ia menemukan musuh menghadangnya.


Elle tersenyum. Setiap kali ia mengingatnya, ia selalu tersenyum, bahkan disaat yang berat sekalipun. Hanya kenangan itulah yang selalu membuatnya kuat menghadapi semua masalah yang menimpa nya, bahkan saat


Ayah kandungnya tewas sekalipun.


Apa yang akan aku lakukan bila kami bisa bertemu kembali?, ia bertanya-tanya dalam hati. Pikiran nya menerawang sementara kedua matanya terpatri ke jalan raya. Hanya beberapa meter lagi ia akan memasuki


jembatan Black River, yang kini mulai sepi dan dipenuhi oleh kabut.  Yang pasti aku akan memeluknya.. Dengan cara yang biasa aku lakukan padanya.


Saat ia memasuki jembatan Black River, seketika pandangan nya dikaburkan oleh kabut kelabu. Elle memelankan mobilnya, dan menyalakan lampu kabut. Jalan ini selalu berkabut, terutama di bulan November dan Desember. Satu atau dua mobil melewatinya, tapi setelah itu semua nya berubah sunyi dan gelap. Elle mulai merasakan rasa keterasingan yang aneh, kabut ini mengingatkan nya akan sesuatu.


Sebelum ia bisa memikirkan sesuatu untuk mengenyahkan rasa keterasingan yang membuat  bulu kuduknya merinding, tiba-tiba saja beberapa orang pria melompat tepat ke depan mobilnya. Elle yang terkejut seketika menginjak rem nya, tapi jalanan yang licin membuat mobil berputar tak terkendali. Ia menjerit saat mobil yang gagal dikendalikan nya menabrak ketiga pria itu hingga terlempar,  dan berakhir dengan sebuah benturan keras saat mobil nya menabrak dinding jembatan.

__ADS_1


__ADS_2