Ich Liebe Dich, Leo!

Ich Liebe Dich, Leo!
Episode 5 Terjebak dalam Medan Pertempuran


__ADS_3

Sebuah sirine alarm kecil mengagetkan Elle. Alarm itu memperingatkan Friederich bahwa pusat pemberhentian mereka sudah dekat. Friederich memutar kursinya, mematikan alarm dan menghubungi operator di Markas 3 Stuttgart untuk mengkonfirmasi ulang kedatangan mereka. Mereka akan segera tiba dalam kurang dari 15 menit.


Elle baru saja bangkit dari kursi kopilot, ketika tiba-tiba saja Friederich menahan lengan nya.


"Leo, selama di Markas 3 kau tidak boleh pergi dari sisiku sedikitpun."


Ha? Elle menyilangkan lengan di perutnya. "Apa aku tidak bisa dapat kebebasan sedikit?" Memangnya apa yang bisa terjadi di markas yang dihuni oleh sekelompok tentara dan petugas kesehatan? Lagipula, siapatahu saja ia bisa menemukan beberapa pria tampan yang bisa mengalihkan perhatian nya.


"Leo, aku serius.." Kali ini Friederich benar-benar terlihat serius.


Elle mendesah panjang, ia tahu Friederich tidak bisa dibantah. Sia-sia saja bernegosiasi dengan nya. Tanpa bicara apa-apa Elle meninggalkan Friederich dan terkejut kala menemukan Viktor berdiri tak jauh dari pintu ruang operator, sambil tersenyum seolah baru saja mengawasi mereka diam-diam. Tanpa bicara apa-apa ia melangkah masuk


ke dalam ruang operator dan membiarkan Elle menunggu dengan tenang di sofa ruang tunggu.


Saat capsulle akhirnya berhenti Viktor keluar lebih dulu dari ruang operator, membuka segel capsulle dan keluar menuju lift. Dengan ragu Elle berdiri, ia baru benar-benar berdiri setelah Friederich keluar dari ruang operator dan


memberinya tanda untuk keluar dari capsulle. Elle berjalan tepat dibelakang Friederich, mengikutinya memasuki lift yang akan membawa mereka naik ke markas.


"Ingat Leo, kau harus selalu berada di sisiku." Friederich mengingatkan nya lagi. Ia membuka mantelnya ketika suhu di lift sudah menghangat. Dibalik itu ia mengenakan seragam militernya yang lain, masih dipenuhi sobekan, tapi tanpa bekas darah. Ketika Elle menghirup napas dalam-dalam ia bisa mencium bau hutan dan mint yang lebih segar. Elle melakukan hal yang sama, ia mengembalikan jaket nya pada Friederich. Pria itu menggantungkan jaket


dan mantelnya di lengan nya.


Sebentar kemudian lift berhenti. Elle tertegun kala menyadari singkatnya perjalanan lift mereka kali ini. "Markas 3 direlokasi, 20 meter lebih dalam dari sebelumnya." Friederich menjawab keingintahuan Elle, bahkan sebelum


gadis itu bertanya. Itu artinya Markas 3 berada di kedalaman 30 meter di bawah tanah sekarang.


"Kenapa?"


"Kau akan segera mengetahuinya.."


Saat lift terbuka Elle segera dikejutkan oleh bunyi ledakan, dan sebelum ia sempat melompat kaget, Friederich meraih pinggang nya, menariknya bersembunyi kebelakang tubuhnya. Sebelum Elle bisa menyadari apa yang terjadi, ratusan, atau bahkan ribuan confetti berjatuhan dari atap ruangan dan menghujani mereka berdua.


Confetti???


Elle memandangi seluruh tubuhnya, yang kini bertaburan confetti warna warni. Friederich lebih parah, ia seperti timbunan raksasa confetti sekarang. Apa ada pesta??


Friederich merasa bodoh ketika apa yang dikiranya ancaman hanyalah sebuah balon confetti yang dipecahkan oleh pengatur waktu. Beruntung handgun otomatis yang dengan cepat dikeluarkan nya tidak sampai ia tembakkan. Ia jelas-jelas terlihat sebal.


Suasana sejenak hening, Elle bisa melihat wajah-wajah yang tegang dari balik tubuh Friederich yang melindungi nya. Mereka beruntung, Friederich tidak menembak mereka semua hanya karena kesal. Setelah Friederich meletakkan senjata nya ke dalam sarungnya di pinggang nya, seketika terdengarlah sorak sorai.


Saat Elle melangkah keluar dari balik tubuh Friederich ia melihat sekitar seratusan prajurit pria bersorak gembira.


"Selamat datang!!"


"Selamat datang di Markas 3!"


Satu demi satu mereka menghampiri nya, menyalaminya dengan kelewat ramah, menggiring nya perlahan menjauhi Friederich yang masih sibuk menyingkirkan confetti yang menimbun nya.


"Tunggu..Tunggu... " Elle berusaha untuk menahan langkahnya, bukankah Friederich berpesan untuk selalu disamping nya?  Ia berharap mereka mau berhenti mendorong dan menggiring nya dengan senyum-senyum yang kelewat ramah.


"Tidak apa-apa.. Memang nya ada bahaya di dalam sini? Friederich akan menyusulmu nanti.." Kata seorang prajurit yang paling manis. Elle harus mengakui, pria itu punya senyum yang lumayan menawan.


"Tapi..Friederich.." Saat Elle menoleh ke belakang, pria itu sudah menghilang. Kemana Friederich?


"Komandan kami pasti telah memanggilnya, tenang saja cantik.. Ia akan segera menyusulmu di dalam."


Dengan setengah hati Elle membiarkan mereka menggiringnya pergi, memberikan segelas wine yang harum dan mengelilingi nya seperti sekelompok laron yang mengelilingi bola lampu yang menyala di malam hari. Mereka membawa Elle kesebuah ruangan rekreasi yang sangat nyaman, ada meja panjang yang diisi oleh berbagai nampan makanan dan minuman, televisi layar datar yang lebar, dan sofa-sofa empuk, mirip dengan sofa yang ada di ruang tunggu capsulle. Elle didudukkan di sofa yang paling bagus, ditengah-tengah ruangan, sementara para prajurit itu sibuk menawari nya berbagai macam makanan.


"Jadi kaulah Elleonora, gadis yang ditunggu-tunggu itu." Pria menawan yang telah meyakinkan nya untuk pergi meninggalkan Friederich itu duduk di samping nya. Elle baru memperhatikan kalau pria itu memiliki rambut pirang yang indah. Lagi-lagi ia membawa nampan makanan, sama seperti sepuluh pria yang menghampirinya sebelumnya.


Apa para prajurit disini juga dibekali keterampilan sebagai pelayan? Elle hanya tersenyum, ia tak yakin harus bereaksi apa.

__ADS_1


"Namaku Bastian .. Sersan dua Bastian Clauss. Mau meringue?" ia menyodorkan nampan berisi cemilan putih yang berbahan dasar kocokan putih telur yang diberi gula.


Elle lapar, tapi keramahan yang berlebihan membuatnya tak nyaman. "Tidak terimakasih, aku belum lapar." Untuk mengalihkan rasa laparnya ia meneguk wine nya, sedikit, dan terkejut dengan rasanya yang enak.


"Enak wine nya?" Tanya Bastian. Elle mengangguk cepat.


"Ya, ini.. Sangat enak." Elle tak bisa untuk tidak meneguk nya sedikit lagi, dan lagi.


"Wine terbaik yang bisa kita dapatkan di tengah medan peperangan.." Bastian menenggak wine nya sendiri.


"Apa? Kita ditengah peperangan?"


"Ya milácěk, kita tepat berada dibawah medan pertempuran." Seorang pria manis berambut ikal tiba-tiba duduk di samping kiri Elle.


Kini gadis itu diapit dua pria muda yang berwajah manis. Elle tidak memperhatikan wajah Bastian yang seketika kehilangan senyuman nya.


"Tapi aku tidak dengar suara ledakan atau senjata... Dan aku tidak merasakan ada getaran sama sekali.. Dan kalian bahkan tidak merasa tegang!"  Kenapa malah aku yang merasa tegang? Mereka saja terlihat sangat santai.


"Tidak usah dipikirkan Elle.. Oh boleh aku memanggilmu Elle? Atau Nora saja?"


"Elle saja." Jawab nya cepat. Kini Elle mulai merasakan ketegangan di kedua pundaknya.


"Aku Paul.. Prajurit satu. Hei kamu mau berkeliling? Aku bisa membawamu berkeliling.. Tempat ini sangat tidak membosankan, meski diatas sana cukup membosankan." Paul menunjuk atap ruangan, yang ia maksudkan adalah medan peperangan diatas sana.


Elle bergidik ngeri membayangkan pertempuran yang tengah terjadi diatas kepalanya sendiri.


"Prajurit satu Paul Chenkov.. Berani nya kau menggoda gadis ku.." Suara Bastian yang tadi merdu tiba-tiba saja terdengar menggeram.


Saat Elle menoleh ia berjengit, wajah Bastian yang kesal terlihat menakutkan. Dan kata "gadis ku" membuatnya


ingin segera kabur dari tempat ini..


Oke, aku harus kabur sekarang..


Sementara kedua pria itu berdiri dan saling berhadapan dalam pose yang hendak menyerang satu sama lain, Elle menarik kedua kakinya dan berdiri di sofa. Saat kedua pria itu melompat dan saling bergulat sambil berteriak-teriak penuh semangat dan kemarahan Elle melompat ke belakang sofa.  Matanya berputar mencari jalan keluar, tapi pintu yang dilewatinya bersama Bastian itu kini tertutup oleh kerumunan prajurit. Segera setelah Bastian dan Paul bergulat di lantai yang dingin, kerumunan itu menjadi semakin padat, mereka membentuk lingkaran besar dan


menonton perkelahian mereka sembari bersorak.  Elle tidak mungkin bisa menerobos kerumunan itu, mereka terlalu padat untuk bisa diterobos oleh gadis bertubuh kecil sepertinya.


Alih-alih menerobos kerumunan, atau berjalan memutar ruangan demi mencapai pintu yang tadi dimasukinya, Elle memilih untuk pergi menuju pintu yang lain. Dari beberapa pintu yang ada di ruangan itu, ia memilih pintu yang paling dekat dengan dirinya. Saat ia menekan tombol berbentuk segitiga merah, pintu otomatis terbuka, dan Elle segera berlari mengikuti kemana lorong itu membawanya pergi, sebelum para pria itu menemukan nya.


Lima belas menit kemudian Elle menyesali keputusan nya untuk pergi, kini ia tersesat di lorong yang kosong.


Friederich benar, Markas 3 sudah berubah. Dulu markas ini sangat simpel. Rasanya lorong-lorong dengan banyak


cabang yang tampak tak berujung ini tidak ada sebelumnya. Kemana aku harus pergi sekarang?


Dengan putus asa Elle menyadarkan tubuhnya ke sebuah pintu ganda otomatis. Ia melihat segel kunci menyala, itu artinya pintu itu tidak akan bisa dibuka kecuali segel nya dibuka oleh seseorang. Apapun yang ada dibalik


pintu itu pastilah sesuatu yang penting, mengingat kondisinya yang terkunci. Tiba-tiba saja segel kunci itu terbuka, seketika pintu ganda itu terbuka dan Elle terjerembab masuk ke dalam nya. Sesaat kemudian pintu segera menutup kembali dan segel kunci menyala otomatis.  Saat Elle melihat ke sekeliling, ia baru menyadari kalau ia berada dalam sebuah lift yang berdinding putih.


Apa yang terjadi? Kenapa aku bisa didalam? Bukan kah tadi pintu nya terkunci??


Dengan panik Elle berusaha menekan tombol pintu terbuka, tapi sia-sia, pintu telah disegel dengan otomatis. Kenapa aku tidak bisa keluar? Kenapa pintunya disegel?


Elle makin terkejut ketika tiba-tiba lift itu bergerak naik dengan cepat. Elle yang semakin panik berusaha untuk menekan tombol interphone, seharusnya ia bisa menghubungi operator dengan interphone ini. Tapi sia-sia, tidak ada jawaban dari operator. Hanya nada angkat yang sunyi. Operator jelas-jelas sudah mengangkat interphone nya, tapi mereka tak menanggapinya sama sekali, seolah-olah mereka tidak bisa mendengar suaranya sama sekali.


"Friederich.. Tolong aku!! Aku terjebak di lift!!"


"Siapa saja kumohon hentikan lift nya!!"


Sia-sia, Elle bisa saja berteriak selama satu jam penuh, tapi tetap saja tak ada reaksi. Dengan putus asa Elle bersandar di dinding lift, saat ia melihat monitor yang menunjukkan ketinggian lift yang terus bergerak naik, Elle merasakan ketakutan yang mencekam. Dadanya bergemuruh dengan cepat karena tegang, begitu juga dengan napasnya yang terhembus pendek-pendek. Kedua telapaknya menggeggam dengan erat hingga terasa kebas.

__ADS_1


Lift ini tidak akan membawaku kedunia luar kan? Mereka bilang diluar adalah medan pertempuran. Aku tidak akan terlempar ke tengah-tengah medan pertempuran kan??


Saat angka di monitor ketinggian lift menunjukkan angka 10 meter, sedikit demi sedikit atap lift terbuka. Ketika ketinggian mencapai 5 meter, dinding lift berhenti bergerak, tapi lantai lift bergerak dengan kecepatan tetap, seolah hanya lantai nya saja yang bergerak naik. Elle semakin ketakutan, ia bisa mendengar suara ledakan demi ledakan diatas kepalanya sekarang.


Elle terlempar keatas padang pasir yang panas ketika lift yang naik dengan kencang tiba-tiba saja berhenti. Tubuhnya terguling ke sebuah cekungan landai dan terjerembab di pasir yang panas.  Elle terbatuk, pasir memenuhi wajah dan mulutnya sekarang.  Saat ia menengadah sebuah roket melayang hanya beberapa ratus meter diatas kepalanya, melayang dengan sangat cepat melewati cekungan landai dan meledak di kejauhan.


Apa itu? Itu roket? Itu roket! Itu roket!! Aku benar-benar berada dimedan pertempuran!


Belum sempat Elle menyadari betul situasi buruk yang menimpa nya, ledakan demi ledakan terjadi semakin kuat dan dekat. Dengan panik Elle mencari-cari jejak lift yang melemparnya ketempat ini, tapi lift itu sudah hilang, padang pasir telah menutup jejaknya. Belum pernah Elle begitu merasa ketakutan, seluruh tubuhnya gemetaran hebat. Ia ingin merunduk saja dicekungan tempatnya berada saat ini, tapi adrenalin dan naluri dasarnya untuk tetap hidup memaksanya untuk berlari. Sambil berlari tak tentu arah ia mengawasi pergerakan roket yang melesat dalam berbagai arah di langit seperti titik-titik putih yang melesat cepat.


Di kejauhan ledakan demi ledakan terjadi bersahutan, memekakkan telinga, menghasilkan bola-bola api besar yang menyilaukan, dengan frekwensi yang semakin intens setiap detiknya. Rasanya setiap kali roket itu meledak jaraknya semakin dekat dan suara ledakan nya semakin kuat. Tapi ajaibnya, alih-alih terpental dan terluka, semua


ledakan yang terjadi itu seolah tak mempengaruhi nya. Ia masih bisa berlari dengan kedua kakinya untuk


menjauh. Seharusnya panasnya energi ledakan membuat kulitnya melepuh, tapi semua itu tidak terjadi. Ia hanya terdorong seolah ada angin besar meniupnya menjauh, dan ia hanya merasakan sedikit hawa panas yang menyengat. Ia juga tidak menemukan satupun prajurit diatas sini, hanya ada corong-corong rocket launcher yang keluar dari balik tumpukan pasir, menembakkan roket demi roket dalam frekwensi yang singkat.


Saat Elle menengadah untuk mencari arah roket, ia melihat empat buah roket melesat kearahnya dalam berbagai arah. Elle tak tahu harus menghindar kemana, kedua kakinya terlalu gemetar untuk memilih arah yang mungkin bisa menyelamatkan nya.


Aku pasti mati.. Aku pasti mati.. Aku pasti mati..


"Friederich... Tolong aku..!!" Teriaknya putus asa.


Elle memejamkan matanya dengan ketakutan, sementara kedua kakinya kehilangan kekuatan nya dan merosot lemas keatas pasir yang panas. Seluruh tubuhnya gemetar hebat dalam posisi meringkuk yang kaku.


Hanya lima meter dari tempat Elle berada sebuah lift terbuka dan seorang pria berlari seolah hanya dengan berlari ia bisa tetap bernapas, seolah hanya dengan berlari ia bisa tetap hidup, dan seolah hanya dengan berlari ia bisa menyelamatkan seseorang yang sama berharganya dengan kehidupan itu sendiri. Dalam waktu yang sama dari kejauhan meriam anti rocket menembakkan beberapa rudal yang akan menghentikan keempat roket itu untuk menghantam Elleonora. Sebelum rudal-rudal anti roket itu menghentikan keempat roket di udara, Friederich menangkap tubuh Elle yang meringkuk ketakutan, menyelubungi gadis itu dengan jubah besar yang dipakai nya dan membawanya pergi secepat mungkin, menuju pintu lift yang sudah menunggu mereka.


Keempat rudal meledak hebat di udara, hanya beberapa ratus meter dari atas kepala mereka berdua. Kuatnya energi ledakan membuat pasir-pasir terhempas dalam pola lingkaran separuh yang menghadap ke atas. Keduanya terhempas dengan sangat kuat, tapi meski demikian Friederich tak sedikitpun melepaskan Elle dari rengkuhan nya. Panasnya uap ledakan membuat seluruh kulit Elle terasa diuapi diatas kuali berisi air yang mendidih, memaksa gadis itu untuk berteriak kesakitan dan meronta dengan histeris. Ia tak perduli dengan sepasang tangan yang besar


dan kuat yang menggendongnya sambil berlari tanpa mengindahkan rasa panas yang membakar kulitnya sendiri, menuju pintu lift yang terbuka.


Ketika lift menutup dan turun dalam kecepatan yang sangat cepat, pria itu melepaskan pelindung kepala nya yang mengepulkan asap panas dan jubah anti panas nya yang kini menghitam karena legam secepat mungkin yang ia bisa. Kemudian dia memeluk Elle dengan erat, sangat erat hingga gadis itu tak bisa lagi meronta.


"Leo ini aku! Tenanglah Leo! Tenanglah!" Suara pria itu menyadarkan nya, membangunkan nya dari histeria.


Seketika gadis itu terdiam, napasnya yang terengah mulai sedikit teratur. Kedua tangan nya yang sejak tadi mengepal kuat kini terulur, mencengkeram baju Friederich dengan kuat. Pria itu masih memeluknya, masih sama kuat, masih sama protektif. Perlahan-lahan ia membuka kedua matanya, ia melihat tubuh Friederich yang mengepulkan uap panas, memeluknya dengan kuat.


Saat ia melihat wajah Friederich yang cemas, mengkhawatirkan dirinya, seketika Elle terisak dan menangis.


"Tenanglah Leo.. Aku disini.. Aku disini.." Ucap pria itu lembut.


Ketika lift terbuka di ketiga sisi, sekelompok orang langsung menyiram mereka berdua dengan cairan dingin yang terasa sejuk di kulit. Setelah itu beberapa orang berpakaian putih segera memisahkan mereka berdua. Sekali itu Friederich tidak meronta, sebaliknya ia tumbang dan dipapah oleh beberapa orang sekaligus.


"Tidak! Friederich! Friederich!"


"Lepaskan aku! Friederich!" Elle meronta kuat saat ia melihat pria pujaan nya rubuh karena melindungi nya. Ia berusaha untuk menggapai pria itu, tapi sia-sia, pria-pria berpakaian putih itu memeganginya demikian kuat.


Tiba-tiba ia merasakan nyeri menusuk di lehernya, seseorang baru saja menyuntikkan sesuatu di lehernya. Sebelum Elle bisa memikirkan apapun lagi tiba-tiba saja pandangan nya berbayang dan pikiran nya mengabur. Setelah itu semua terlihat gelap.


 


 


 


 


 


 


Milácěk = sweetheart (Czech)

__ADS_1


__ADS_2