
Semalaman Friederich memikirkan setiap perkataan doc dengan baik. Apakah ia siap melepaskan Elle dan merelakan nya memilih pria yang diinginkan nya? Setelah semua yang terjadi selama beberapa hari terakhir ini? Tidak..
Friederich menggeleng.
"Tidak saat ini, tidak di dunia paralel ini." bisiknya pada diri sendiri.
Elle terbangun pagi-pagi sekali, dan menemukan Friederich tertidur sambil duduk di samping tempat tidurnya. Surpisingly, dia tidak mengorok kali ini. Hanya tidur dengan damai dan lelap, seperti orang yang kelelahan.
Aku merasa sedikit bersalah karena sudah membentaknya. Friederich terlihat kaget.. Tentu saja, aku tidak pernah semarah ini sebelumnya. Dan tidak pernah se kacau ini sebelumnya. Aku melupakan satu hal yang penting, bahwa keselamatan ku berada di tangan Friederich sekarang. Wajar bila ia ingin memastikan keselamatan ku dengan
selalu berada di sisiku. Aku telah mengalami banyak percobaan pembunuhan, dan hanya berkat Friederich lah aku selalu lolos dari semua percobaan pembunuhan itu. Seharusnya aku berterimakasih padanya, bukan membentaknya dan mengusirnya..
Tapi bagaimana dengan diriku sendiri? Sampai kapan Friederich akan mempermainkan perasaanku seperti ini? Sampai kapan ia akan bersikap seenaknya, memberiku harapan, kemudian menghempaskan nya begitu saja? Seandainya saja kita bisa bicara jujur, dari hati ke hati. Seandainya saja kau berani mengambil resiko untuk mengatakan apapun perasaan mu yang sebenarnya, dan bukan nya membuatku terkatung-katung dalam kesimpulan yang tidak jelas.
Saat Elle berusaha untuk duduk di tempat tidurnya, tiba-tiba saja Friederich terbangun.
"ya ampun.. Aku ketiduran.." Friederich menggosok kedua matanya, merasa sangat ***** karena tertidur saat
menjagai Elle. "syukurlah kau sudah bangun Leo.."
"kau sudah merasa baikan hari ini..?" Friederich membantu Elle duduk.
Elle mengangguk. Sejujurnya ia merasa agak segar hari ini. Tidak hanya merasa sebagian kekuatan nya telah pulih, Elle juga tidak lagi merasakan kekakuan di punggung dan lehernya, yang berhari-hari ini membuatnya kesulitan duduk dan bergerak.
"Sepertinya panasmu turun.. Benar-benar melegakan.." Friederich terlihat lega saat memeriksa parameter yang dipasang doc di pergelangan tangan Elle.
"mau makan sesuatu? Aku bisa memanggil Viktor untuk mengambilkan roti hangat dan susu coklat hangat untukmu."
Elle menggeleng.
Sepertinya kau memang sungguh-sungguh tidak akan pergi dari sisiku meski hanya sebentar. Mungkin seharusnya kita luruskan saja masalah ini sekarang, sebelum semua jadi semakin memburuk. Itu.. Bila kau cukup berani
untuk melakukan nya.. Paling tidak, saat ini yang pertama kali harus kulakukan adalah meminta maaf.
"umm.. Friederich.."
"ya?"
"Friederich, aku ingin minta maaf tentang semalam."
"maaf sudah membentakmu. Aku..aku tidak bisa mengendalikan emosiku, meledak begitu saja.." Elle menundukkan kepalanya, merasa malu dengan sikapnya sendiri.
"tidak.. Aku memang pantas mendapatkan nya.. " Friederich menatapnya dengan penuh penyesalan.
"seharusnya aku memang memikirkan perasaanmu.. Tapi aku tak bisa.." Friederich menggeleng, kepalanya tertunduk sekarang.
"aku tidak bisa meninggalkanmu, Leo.. Aku tidak bisa melepaskanmu, tidak saat ini, tidak di dunia paralel ini." Kedua mata coklat itu memandangi Elle dengan keteguhan hati yang tidak terbantahkan.
"aku mengerti..Kau tidak punya pilihan lain, hanya inilah satu-satunya cara agar kau bisa selalu melindungiku. Begitu kan maksudmu?"
"tidak.. Tidak hanya itu.." Friederich menggeleng lagi. Jemarinya meraih wajah Elle dan membelai nya lembut.
"aku begitu gembira, aku tidak bisa tidur berhari-hari lamanya, ketika mereka memberitahuku bahwa mereka akan membawamu kembali ke dunia ini.." Friederich tersenyum, wajahnya sedikit memerah sekarang.
"aku terus saja berpikir, membuat rencana, membuat skenario, semua yang ingin aku lakukan bersamamu, apa yang akan kulakukan untukmu, meski pada akhirnya tak satupun dari semua itu bisa kuwujudkan. Karena.. Saat melihatmu, tiba-tiba saja hidupku terasa lengkap hingga aku tak lagi membutuhkan apapun. Semua rencana di kepalaku.. Hilang.. Hingga aku tak tahu lagi apa yang harus kulakukan, selain melaksanakan skenario dalam
misi ini, membawamu pergi ke Prague."
Wajah Friederich semakin memerah sekarang. Tapi ia tersenyum lebar seolah ia sedang menceritakan kisah yang lucu. Wajah Elle pun memerah dan memanas, tapi lidahnya tercekat, seolah ia memang tak ingin mengatakan apapun selain hanya mendengarkan pria itu bicara hingga ia selesai.
"Tapi kemudian berbagai hal terjadi, dan aku sadar semua tidak lagi sesimpel itu. Kau bukan lagi gadis kecil yang selalu bergantung padaku, kau bukan lagi gadis kecil nakal yang selalu bisa ku peluk dan kumanja semauku."
"kau gadis dewasa sekarang.. Kau memiliki pemikiran yang kompleks.. Kau memiliki perasaan yang sensitif.. Dan kau.. Sangat istimewa.."
Benarkah..? Apakah di matamu aku istimewa? Kenapa aku tidak bisa membaca itu semua sejak awal? Aku pasti bodoh, karena tidak bisa merasakan itu semua.. Atau kau yang terlalu pintar dalam menyembunyikan
perasaanmu..
"kau sangat istimewa.. Hingga tanpa sadar aku tersesat dalam pikiranku sendiri. Tanpa sadar aku menginginkan apa yang tidak boleh aku miliki."
__ADS_1
"menyayangimu selama 14 tahun terakhir ini adalah berkah bagiku, tapi kemudian aku merasakan cinta yang
begitu tidak bisa aku kendalikan. Dan itu adalah sebuah masalah."
Apa...? Kau.. Mencintaiku..?
“Ya, aku mencintaimu Leo, sangat mencintaimu.”
Lantas kenapa itu menjadi masalah..?
Wajah Elle memerah, seharusnya ia merasa bahagia dengan pengakuan itu, tapi entah kenapa ia bisa merasakan kesuraman dan kesedihan dalam wajah dan nada suara Friederich. Tanpa sadar Elle merasakan kedua matanya memanas, seolah ada lava bergejolak di dalam kedua rongga nya.
"tanpa bisa kukendalikan, aku menyakitimu.. Aku melukai perasaanmu. Aku membuatmu menangis. Tidak hanya sekali, berkali-kali.." Friederich terlihat menyesal.
”jadi apa yang kau katakan padaku di apartemen itu... bohong?” Elle bisa merasakan suaranya yang tercekat.
”ya, semua itu bohong.. Maafkan aku Leo.” dengan lembut ia mencium jemari Elle, menghantarkan kehangatan yang membuat seluruh bulu kuduk Elle meremang. Membuat gadis itu berdebar-debar kuat dengan wajah yang memerah.
"Aku begitu mencintaimu, tapi pada saat yang sama aku tersiksa oleh keinginanku sendiri untuk melihatmu hidup
dengan pria yang terbaik, pria yang jauh lebih muda dariku, jauh lebih tampan dan jauh lebih baik. Aku begitu mencintaimu hingga merasa diriku sendiri tidak cukup baik bagimu."
Apa..? Tidak ada pria yang lebih baik bagiku selain kau..
"itu menggelikan.." Elle bisa merasakan rasa panas yang menguasai kedua matanya, rasa panas yang tak lagi bisa ia tahan. Hanya sedetik kemudian air mata Elle meleleh seolah ia tak mampu lagi membendungnya. Tiba-tiba saja ia tak yakin, apakah harus merasa bahagia atau sebaliknya.
Friederich tertawa kecil, masih dengan menciumi jemari Elle yang kuku nya dicat warna peach yang cantik.
"memang.."
"kau adalah pria yang terbaik bagiku.. Kau adalah..seseorang yang sangat berarti bagiku. Kau adalah..cinta pertamaku, cinta sekarangku..dan seseorang yang kuinginkan untuk masa depanku." Elle mulai terisak. Tiba-tiba saja ia merasa harus berjuang untuk medapatkan cinta Friederich. Pria itu seolah akan menghempaskan nya
sekali lagi.
"kau tidak boleh mencintaiku schatz.. " Friederich mengecup lembut pergelangan tangan bagian dalam Elle, membuat gadis itu bergidik.
"karena kau terlalu berharga.. Terlalu istimewa untuk seorang pria seperti ku. Aku..selamanya hanya pantas memandangimu dari kejauhan, mencintaimu dalam angan-anganku sendiri, dan mengharapkan yang terbaik untukmu."
"jadi.. Sampai setelah kau mengakui perasaanmu sekalipun, kau tidak mengijinkan aku untuk mencintaimu? Sampai titik ini pun kau masih tidak mau kita jadi sepasang kekasih?" Elle masih terisak.
Friederich mengangguk. Baginya ini bahkan lebih berat.
"kau benar-benar egois.."
"ya... Maafkan aku leo.."
Aku tidak tahu.. Aku tidak tahu lagi harus berpikir apa. Pikiranku blank.. Aku menangis sejadinya, sampai membuat doc dan Viktor menghambur masuk ke kamar dengan wajah-wajah yang cemas. Mereka hanya bisa membeku, melihatku dan melihat Friederich dengan bergantian. Mereka terlihat mengerti, karena kemudian mereka menepuk kepalaku dengan perlahan dan memberiku saputangan.
Seharusnya aku merasa malu.. Tapi sejujurnya aku terlalu bingung untuk itu saat ini. Semua ini terlalu cepat, terlalu mengejutkan, terlalu tiba-tiba. Sampai rasanya aku tidak bisa berpikir apa-apa lagi. Satu hal yang tidak aku mengerti, adalah sikap Friederich kemudian. Saat aku kira ia akan menjaga jarak dariku, saat aku kira ia akan memberiku space untuk berpikir, atau merealisasikan keinginan nya, untuk memaksaku agar tidak mencintainya.. Ia malah bersikap sebaliknya.
Setelah tangisanku berhenti ia memelukku, menciumi kepalaku, dan menggendongku ke atas, keluar dari bunker. Ia terlihat seperti seseorang yang baru saja kehilangan beban nya, terlihat lepas dan bahagia. Ia pasti merasa lega karena sudah mengatakan itu semua.
"danau ini indah kan..?" Friederich memutuskan untuk membawa Elle ke tepi danau, tepat diatas bunker yang mereka tempati saat ini.
Doc menyusul di belakang mereka, membawa roti hangat dan kopi panas, disusul oleh Viktor, yang membawa selimut dan coklat hangat. Kali ini mereka benar-benar mengadakan piknik bersama.
Elle memandangi pantulan dirinya di permukaan danau yang tenang. Wajahnya terlihat sembab dan lembab.
Aku terlihat sangat berantakan..
"kau cantik Leo.. Kau tidak terlihat berantakan"
Wajah Elle memerah, ia menoleh pada Friederich yang memegangi tangan nya. Dengan gamang Elle memandanginya, membiarkan pria itu memandangi dirinya dengan intens.
Ya, berantakan memang tidak.. Tapi menyedihkan, tentu saja..
"ini adalah Certovo Jezero, atau disebut juga devil's lake. Salah satu danau terindah yang bisa kau temukan di Czech.." Freiderich menenggak kopi panasnya. Tidak seperti biasanya, kali ini ia tidak terkekeh, hanya tersenyum dan membiarkan uap menelisip dari mulutnya.
Sepertinya Friederich pun merasa gamang, ia tidak terlihat seperti dirinya. Kau pun, pasti merasa sedih.
__ADS_1
"tunggulah disini Leo. Aku akan membawakan lebih banyak selimut dari dalam untukmu." Friederich berdiri dan
meninggalkan Elle di atas hamparan selimut, bersama doc. Sementara Viktor duduk diatas batu besar tak jauh dari mereka, mengagumi danau sambil sesekali melemparkan remah roti untuk para ikan.
"makanlah sesuatu milácěk.. Kondisimu memang sudah membaik, tapi itu bukan alasan untuk tidak memakan
sarapanmu."
"apapun permasalahan antara kalian berdua, seharusnya itu tidak jadi alasan untuk tidak memakan sarapanmu."
doc mengingatkan nya sekali lagi.
Elle mengangguk dengan enggan. Entah kenapa, roti hangat yang ia makan sekali itu terasa pahit.
"aku lega akhirnya si bodoh itu menetapkan keputusan nya. Itu lebih baik, daripada membuat perasaan mu terkatung-katung seperti sebelumnya." doc menyecap kopi hangatnya.
"kau tahu..?" sebanyak apa yang Friederich katakan padanya? Sebanyak apa doc tahu tentang hubungan kami
berdua?
Doc tersenyum mengiyakan.
" milácěk.. Dia memang terlalu bodoh untuk gadis secantik dirimu. Dia bodoh, keras kepala, dan pembuat onar.. Aku yakin seantero Czech tidak bisa memahami satupun alasan kenapa kau memilih si bodoh itu daripada ribuan pria tampan dari jutaan pria di negeri ini." doc terkekeh. Elle tersenyum.
"aku yakin pangeran Heinrich akan menangis dengan pilihan mu.. Membayangkan pria yang paling diinginkan
oleh seluruh wanita di Czech, dikalahkan oleh si bodoh berotak udang itu.." doc menambahkan.
Saat Elle menahan tawa nya Doc terlihat lega. Gadis itu sedikit demi sedikit mulai kembali bersinar seperti matahari. Dari kejauhan, Friederich yang bersembunyi di balik batang pohon pinus raksasa, pun terlihat lega. Ia akan berterimakasih pada doc setelah ini, karena telah membantunya mengembalikan suasana hati Elle.
"Friederich tidak seburuk itu.." Elle tersenyum, tapi ia harus mengakui bahwa semua deskripsi doc tentang Friederich, ada benarnya.
"cinta membuat semuanya jadi indah.. Dan menyakitkan di saat-saat tertentu." doc mengucapkan nya dengan kesinisan yang jelas dan tebal, membuat Elle bergidik ngeri.
"apakah.. keputusan Friederich itu ada hubungan nya dengan cerita bahwa hanya kalangan tertentu yang bisa memiliki pasangan dan menikah?"
"tidak juga. Sejak awal si bodoh itu memang tidak berniat untuk melepaskan mu pada pria manapun, setidaknya tidak di negeri ini."
"kurasa, si bodoh itu hanya belumbisa benar-benar memahami apa yang sebenarnya ia inginkan.." doc
menambahkan.
Pembicaraan mereka terhenti ketika Friederich kembali, dengan membawa selembar selimut untuk Elle. Setelah itu pria itu duduk di samping Elle dan kembali meminum kopi nya. Entah kenapa ia terlihat lebih lega, seolah ia telah menguping seluruh pembicaraan mereka berdua.
Aku pun.. Merasa lebih lega. Pembicaraanku dengan doc, meski sangat singkat, cukup untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang tak terjawab dalam kepalaku. Kemudian aku berpikir, sambil memandangi pantulan
langit di permukaan danau yang indah, apa yang bisa aku lakukan agar Friederich tidak melepaskan ku selamanya?
Sebuah ide gila berputar di kepalaku, seperti sirine. Bagaimana jika.. Bagaimana kalau aku tidak usah kembali ke bumi? Bagaimana kalau aku memutuskan untuk menetap di Czech? Dengan begitu aku yakin Friederich akan selalu disampingku. Tapi bagaimana dengan Papa? Mama? Kuliahku? Teman-teman dan sahabatku? Masa
depanku? Bisakah aku meninggalkan mereka semua demi Friederich?
Elle menelan potongan roti yang dikunyahnya dengan perlahan. Ia terpaksa menelan ide itu bersama dengan potongan roti nya. Rupanya ia pun tidak bisa memutuskan apa-apa. Entah apa ia bisa melepaskan semua itu
demi Friederich, yang memintanya untuk tidak mencintainya.
"apa yang kau pikirkan schatz..?" bisik Friederich.
Dada Elle berdebar-debar saat bisikan merdu itu menelisip masuk ke dalam telinga nya, membawa getar
kehangatan yang membuatnya merasa hangat dan bahagia. Wajah Elle memerah, ini kedua kalinya Friederich memanggilnya schatz, yang artinya sweetheart, dalam bahasa Jerman. Mengherankan bagaimana kata
yang sama, saat diucapkan oleh seseorang yang dicintai, akan terasa sangat berbeda. Doc selalu memanggilnya sweetheart, dalam bahasa Czech, tapi tak sedikitpun ia merasakan getaran dalam hatinya, yang membuatnya ingin mendengar panggilan itu lagi dan lagi.
"tidak ada.." Elle menggeleng. Ia menundukkan kepalanya, ia terlalu malu untuk menunjukkan wajahnya yang merona malu.
"danau ini sangat indah, dan sangat besar. Seandainya aku bisa tidak sakit.." Elle berusaha mengalihkan pembicaraan.
"kau ingin berenang? Kalau situasi di Czech sudah lebih aman, mungkin aku akan mengajakmu ke danau ini. Kau bisaberenang di musim panas." Friederich tersenyum, sambil memakan roti hangat nya yang kelima.
__ADS_1