
Seluruh tubuhnya gemetar karena tegang dan takut, tapi alih-alih berteriak, ia diam, mencengkeram setir nya kuat-kuat dan mengatur napasnya yang terengah pendek-pendek. Dengan panik ia melihat spion, ia yakin mobilnya tanpa sengaja telah menabrak mereka, ia harus memastikan mereka masih hidup lalu menelpon polisi dan ambulans, tapi mereka tak tampak dari kaca spion. Elle meraih handphone nya, memasukkan nya dengan panik ke
dalam saku, lalu memaksa pintu mobilnya yang pengok untuk membuka.
Sisi pengendara dari mobilnya telah menabrak dinding jembatan yang terbuat dari beton kokoh, beton nya hanya retak, sebaliknya sebelah sisi mobilnya rusak parah. Kap mesin nya bahkan membentuk huruf V terbalik, dan dari baliknya ia melihat asap putih yang mendesis. Elle menahan napasnya, ia terlalu tegang untuk ini. Ayah dan Ibu nya tak akan memarahinya, ia tahu itu, justru karena itulah ia jadi merasa sangat bersalah sekarang.
Ia meninggalkan mobilnya yang rusak parah dan berjalan dengan kedua kaki yang gemetaran, mencari para pria yang tanpa sengaja ditabraknya. Tapi ia tak menemukan siapapun, hanya bercak darah yang masih basah. Elle bergidik ngeri saat melihat bercak itu, ia berusaha tidak membayangkan bagaimana parahnya luka korban-korban nya.
"Maaf aku tidak sengaja, jalanan berkabut, dan aku terlambat menginjak rem. Apa kalian baik-baik saja?" Elle berusaha mencari jejak mereka ditengah kabut yang makin tebal. Tapi tempat itu masih saja sesunyi sebelumnya, yang bisa ia dengar hanya suara desis mesin mobilnya dan suara air sungai yang mengalir cukup deras
dibawah jembatan.
Elle terus berjalan melewati kabut kelabu yang anehnya terasa semakin familiar. Seharian tadi ia terus berharap bisa membuka "Bias" yang akan membuka jalan menuju dunia paralel, tapi ketika kabut kelabu yang mengelilinginya kini mengingatkan nya sekali lagi pada kabut yang sama yang telah ia lewati empat belas tahun silam, ia benar-benar berharap perkiraan nya salah. Ia benar-benar berharap kabut ini hanyalah kabut biasa dan "Bias" tidak membuka kan jalan bagi jembatan yang sesungguhnya untuk menuju ke dunia nya.
Elle berhenti melangkah, ia menatap ke dua arah dengan bimbang. Ia tak tahu lagi kemana harus melangkah, ia bahkan tak tahu lagi dari arah mana ia mengemudikan mobilnya tadi. Situasi ini benar-benar membuatnya ketakutan.
Mungkin sebaiknya aku diam ditempat sampai kabut ini menghilang..
Elle baru saja memutuskan untuk diam ditempat dan menunggu, ketika dari kejauhan ia mendengar suara derap sepatu yang sangat dikenalnya. Seketika ketakutan merayapinya seperti ular piton raksasa, membelitnya hingga kedua kakinya terlalu kaku untuk berlari dan napasnya terasa sangat sesak hingga ia harus terengah.
Tidak mungkin.. Itu mereka... Itu derap kaki mereka.. "Bias" sudah membuka! Dan aku berada ditengah-tengah, tepat di jembatan yang dibuka oleh "Bias"!
Suara derap terdengar semakin keras, mereka sudah semakin dekat.
"Tenang..tenanglah Eleonora. Kau harus tenang, kau harus berani, kau harus kuat..." Elle mengepalkan kedua tanganya yang gemetar, berusaha mengumpulkan secuil keberanian dan menenangkan napasnya yang terengah.
"Kuatkan lah dirimu Leo..Sekuat batu karang..."
Elle berjalan secepat mungkin ke tepian jembatan, mungkin bila kabut bisa menyamarkan keberadaan nya, ia bisa meloloskan diri. Merasa tidak cukup aman, ia memilih untuk memanjat dinding jembatan dan bertahan disana sambil berpegangan pada besi-besi dan kabel jembatan. Ketika derap kaki terdengar semakin dekat ia
menahan napasnya, tak salah lagi, itu mereka. Meski ia tak bisa melihat keberadaan mereka, ia bisa mendengar suara mereka yang berbicara dalam bahasa asing yang dikenalnya.
Mereka terdengar kebingungan. Mereka pasti kebingungan mencari Elle ditengah kabut kelabu yang tebal. Mereka
tidak tahu kalau Elle bersembunyi di tempat yang tidak mudah ditebak, lagipula bergelantungan di pinggir jembatan adalah hal yang sangat berbahaya. Tidak seperti Black River yang ada di dunia nyata, Black River yang ada dalam dunia paralel benar-benar Black River yang sesungguhnya. Airnya benar-benar hitam, korosif, beracun dan tidak bisa dilewati, baik dengan perahu sekalipun. Siapapun akan mati bila tercebur kedalam nya.
Elle berencana untuk pergi dari kabut ini, ia harus pergi ke salah satu sisi, dunia nya atau dunia paralel tempat
pria itu hidup. Seringkali ia begitu yakin ingin hidup di dunia itu bersama dengan pria itu, menjalani kehidupan yang penuh petualangan, tapi saat ia benar-benar harus memilih, ia tak yakin lagi bila pilihan itu terdengar tepat.
Tak perduli bagaimana ia merindukan pria itu, bayangan kedua orang tuanya terus saja membayangi pikiran nya. Ia tidak ingin membuat mereka sedih dengan pilihan yang tidak tepat. Mereka sudah banyak berkorban untuk membesarkan nya sampai saat ini, rasanya tidak adil bila ia harus meninggalkan nya begitu saja, bahkan
tanpa ucapan selamat tinggal.
__ADS_1
Aku harus kembali, aku harus mencari jalan untuk kembali..
Sedikit demi sedikit Elle berusaha melangkah meniti dinding jembatan dengan berpegang ke kabel-kabel jembatan. Ia memilih untuk melangkah dengan arah yang berkebalikan dari arah munculnya orang-orang berdialek aneh. Ia yakin mereka berlari dari dunia paralel, karena itu ia yakin ia kini berada di arah yang benar.
Tapi tiba-tiba saja terdengar suara keributan, dari balik kabut ia tebal ia mendengar suara-suara teriakan, suara jatuhnya benda-benda berat, juga suara tembakan. Dan arah dari suara itu adalah tepat diarah yang ia tuju saat ini. Praktis langkah Elle terhenti, ia harus menunggu sampai situasi nya tenang bila tidak ingin kena peluru nyasar.
Ketika kabut berangsur-angsur menghilang Elle mulai dilanda kepanikan. Tanpa kabut yang menutupi keberadaan nya ia akan jadi sasaran empuk yang tidak berdaya. Terlebih lagi tidak ada tempat yang bisa ia jadikan tempat berlindung. Elle mencoba mencari celah untuk berlindung di bawah jembatan, biasanya selalu ada koridor sempit di setiap sisi bawah jembatan, yang ditujukan bagi para teknisi yang melakukan pemeriksaan rutin. Jembatan Black River adalah salah satu jembatan tua yang sering diperbaiki, karena itu sejak lebih dari enam tahun lalu mereka
memasang koridor khusus tepat dibawahnya. Setidaknya, seingatnya dulu begitulah isi artikel tentang renovasi jembatan Black River yang ia baca.
Dengan berpegangan pada kabel jembatan ia merunduk, berusaha untuk mengintip ke bawah jembatan dengan sehati-hati mungkin. Ia bisa melihat koridor sempit itu dari kejauhan, dibangun dari dua baris besi-besi yang memanjang, jaraknya tidak terlalu jauh, hanya beberapa meter dari tempatnya berdiri, tapi terletak tepat di
bawah jembatan. Itu artinya ia harus bergelantungan seperti atlit panjat tebing, tanpa tali pengaman, dan hanya mengandalkan kedua tangan nya yang gemetaran. Bila genggaman nya terlepas sedikit saja, ia pasti tewas.
Elle menahan napasnya, memikirkan pilihan yang harus diambilnya : berdiam diri disini dan menunggu para pasukan menangkapnya, berlari ke arah dunia paralel yang menantinya, atau mencoba meraih koridor
khusus untuk para teknisi jembatan dan berusaha untuk pulang. Saat ia mengingat wajah kedua orang tua angkatnya, niatnya untuk pulang kembali kuat. Ia menarik napas panjang untuk mengumpulkan keberanian, kemudian mulai mengulurkan sebelah kakinya kebalik tembok jembatan.
Ia bisa mendengar suara rentetan peluru yang semakin keras saat bergelantungan di kedua kabel jembatan sementara sebelah kakinya berusaha mencari pijakan. Ia harus mencapai besi melintang yang terletak di bawah kanan nya, sebelum ia bisa merangkak turun melalui susunan besi-besi jembatan dan mencapai koridor sempit tersebut. Masalahnya jarak yang terlihat pendek terasa dua kali lipat lebih jauh ketika ia benar-benar
melakukan nya, dan kedua tangan nya benar-benar terasa kebas sekarang.
Elle nyaris berteriak ketika satu-satunya pijakan kaki yang ia punya terlepas dan kedua kakinya terombang ambing belasan meter diatas sungai yang hitam. Dengan panik kedua kakinya berusaha mencari pijakan, tapi kedua tangan nya seolah mulai tak bisa diajak kompromi. Ia tak yakin bisa menahan tubuhnya lebih dari satu atau dua menit, keringat memperburuk pegangan nya yang mulai mengendor. Saat ia menengok ke atas ia melihat seorang pria menatapnya dengan kaget.
"Hei gadis itu ada disini!" dengan panik ia segera memanggil yang lain.
Elle berusaha semakin keras untuk mendapatkan pijakan, hanya sedikit sekali kesempatan yang ia punya untuk kabur. Setelah berkali-kali mengayunkan sebelah kakinya sejauh mungkin, akhirnya ia berhasil mencapai palang tersebut. Bila ia bisa menjejakkan kedua kakinya di palang itu, dan mengunci kedua kakinya disitu, ia bisa melepaskan peganganya pada kedua kabel ini dan mulai merambat menuruni susunan besi hingga mencapai bagian bawah jembatan. Ketika ia akan mengayunkan kaki kedua nya, tiba-tiba saja sebuah tali terayun dari atas jembatan, dan melilit kuat seperti seekor ular di tubuhnya.
Elle yang terkejut tanpa sadar melepaskan kedua pegangan nya, sontak tubuhnya terayun pasrah, ia pasti sudah jatuh bila tali itu tidak menahan nya. Ia benar-benar tak berdaya ketika tali itu membawanya kembali keatas jembatan. Sesampainya keatas jembatan, tali yang melilitnya terlepas begitu saja dan berubah menjadi tali biasa yang terlihat tengah digulung kembali ke dalam sebuah alat yang terlihat seperti pengering rambut berbentuk kuboid dengan kumparan untuk menggulung tali di bagian bawahnya. Teknologi di dunia paralel ini memang selalu bisa membuatnya terkagum-kagum..
Elle menjerit ketika pria yang yang berdiri dihadapan nya, yang tengah menggulung tali, tertembak tepat di kepalanya. Isi kepalanya terburai dan Elle reflek melompat sejauh satu langkah. Sebelum ia bisa mencerna apa yang sebenarnya ia lihat dan merasakan ketakutan hebat yang merayapi kulitnya, salah seorang pasukan segera menarik nya pergi menjauh, menuju ujung jembatan dimana dunia paralel berada.
Baku tembak yang tadi sempat agak mereda kini semakin menjadi-jadi. Dalam kepanikan dan ketakutan nya ia melihat di kejauhan, bagaimana bisa sepasukan musuh berseragam hitam-hitam, disudutkan oleh seorang
pria muda yang.. Berpakaian cosplay??
Elle jadi teringat pada percakapan nya dengan Ross di telepon, tentang seorang pria berpakaian cosplay yang mencarinya di kampus. Bagus... Mereka mengirim seorang cosplayer untuk melindungiku. Tiba-tiba Elle ingin sekali tertawa, meski ia tidak merasa ini lucu.
Sementara diujung jembatan, di dunia paralel, sebuah pesawat telah menunggu mereka. Sebuah gambar elang hitam terpampang jelas di salah satu sisi nya, menunjukkan lambang negara musuh. Bila Elletidak berhasil melepaskan diri, maka ia akan dibawa oleh pesawat itu menuju negara musuh yang terletak ribuan mill jauhnya. Setelah itu kemungkinan nya untuk melarikan diri nyaris mustahil. Karena itulah kemudian ia memikirkan sebuah cara untuk melarikan diri. Tidak cemerlang, apalagi briliant, tapi cukup efektif dan menyakitkan. Saat prajurit itu tengah menariknya dengan paksa, sembari terus menembakkan senjata nya ke depan, Elle meronta dengan kuat.
"Jangan meronta! Kalau tidak aku akan memukulmu!"
Elle hanya perlu menyita perhatian nya sebentar saja. "Itu! Itu disana! Disana!!" dengan memasang wajah ketakutan Elle menunjuk ke belakang, ke satu titik asal di belakang punggung prajurit itu.
__ADS_1
Saat prajurit itu menoleh ke belakang untuk melihat apa yang Elle maksudkan, Elle mengangkat lutut nya dengan
cepat dan menghantamkan nya sekuat mungkin ke ************ nya. Sesuai perkiraan, prajurit itu mengerang kesakitan dan melorot sembari memegangi ************ dengan kedua tangan nya. Mata nya nyaris melotot, entah karena menahan nyeri, atau karena begitu marah pada Elle, atau kedua nya, saat Elle berlari melarikan diri dari cengkeraman nya.
Elle tersenyum lega, meski seluruh tubuhnya tegang dan gemetaran. Ia benar-benar tak percaya bagaimana kedua kaki nya yang gemetar hebat ini bisa menghantam titik itu dengan demikian kuat. Tapi itu tak akan bisa menahan pria itu selamanya, tak lama lagi ia pasti akan mengejarnya lagi. Karena itu ia harus berlari, terus berlari dan tidak menengok ke belakang sampai tiba di ujung jembatan. Ada begitu banyak semak belukar dan ada deretan
pepohonan rapat di sisi kanan sungai, bila ia bisa mencapai tempat itu maka mungkin saja ia bisa lolos.
Atletik adalah satu-satunya bidang olah raga yang ia kuasai, meski demikian prestasinya tidak pernah terlalu cemerlang. Ia hanya pernah menjuarai pertandingan atletik antar sekolah, dan gagal dalam kwalifikasi
pertandingan nasional. Meski demikian ia selalu berlatih dan berlatih, karena ia tahu, hanya hal inilah yang bisa ia lakukan bila hal yang sama terulang kembali.
Berlarilah Elle, berlarilah secepat mungkin, dan jangan pernah melihat kebelakang! Jangan mau dikuasai oleh
ketakutan mu Elle, tidak saat ini, tidak ditempat ini.. Ini bukan pertandingan, ini adalah perjuangan untuk tetap hidup!
Entah kenapa jembatan itu terasa begitu panjang dan tanpa akhir, Elle telah berlari hingga kedua paru-parunya
terasa mengempis, tapi ujung jembatan masih saja terlihat bermeter-meter di depan. Ia bisa mendengar suara-suara tembakan yang terdengar semakin jauh, tapi ia juga mendengar suara derap kaki yang mengejarnya hanya beberapa meter di belakang. Elle menahan diri untuk tidak menengok ke belakang, prajurit lain sudah mengejarnya.
Elle mempercepat larinya ketika adrenalin berhasil memompa kekuatan ekstra pada seluruh otot-otot kaki nya, dan melompat menuju rumpun semak-semak setinggi orang dewasa yang terletak tepat di tepi kanan ujung jembatan. Prajurit itu melompat mengikuti nya, mengejarnya diantara rumpun semak-semak tinggi dengan medan yang curam menurun. Elle masih belum mau menyerah, dengan kedua tanganya ia membuka semak-semak tinggi yang menghalangi pandangan nya, berkali-kali hampir terjatuh karena tersandung, dan terus berlari secepat mungkin masuk lebih dalam menuju pepohonan berdaun gelap yang membentengi tepian sungai.
Asalkan aku bisa memasuki hutan "Black Forrest", maka aku akan aman.. Dulu pria itu pernah memberitahu nya, bagaimana cara berlindung di dalam hutan "Black Forrest", hutan berdaun gelap yang membentengi seluruh sisi sungai. Hutan itu sangat gelap karena sedikit sekali sinar matahari yang bisa menembus kanopi hutan nya.
Elle berlari menembus barisan semak yang terakhir dan menyeruak masuk ke dalam hutan black forrest. Tidak banyak yang berubah dalam lebih dari 14 tahun ini, hanya saja tempat ini jauh lebih rapat dan gelap dari sebelumnya.
Hanya sedikit lagi, hanya beberapa meter lagi lebih dalam dan aku bisa bersembunyi di cerukan akar pohon raksasa.
Sebelum gadis itu menghilang lebih dalam kedalam hutan yang gelap prajurit itu mengangkat senapan dan menembak nya. Elle tersentak oleh rasa sakit di punggung yang membuatnya menahan napas. Sebelum ia bisa menyadari apa yang telah terjadi tiba-tiba saja kedua kaki atletiknya kehilangan kekuatan nya, melemah tanpa bisa kendalikan, begitu juga seluruh tubuhnya. Dalam sepersekian detik kesadaran nya mulai mengabur.
Sebelum tubuh itu terjatuh dengan keras ke atas tanah lembut yang berlumut seorang pria bertubuh besar tiba-tiba muncul begitu saja dari kegelapan hutan dan menangkap tubuhnya. Hanya siluet-siluet tidak jelas yang bisa Elle tangkap dari sisa kesadaran nya yang memudar tanpa bisa ia kendalikan. Tapi indra penciuman nya telah menghidu sebuah aroma yang tidak asing, aroma yang sudah lama sekali tidak ia hirup. Aroma hutan dan mint yang membuatnya rindu.
Samar-samar suara tembakan yang terdengar begitu jauh memenuhi telinga nya, diikuti dengan suara pekik kesakitan dan suara sesuatu benda berat yang terjatuh keatas tumpukan daun lembab. Kemudian samar-samar ia mendengar suara seorang pria, sangat familiar, tapi agak berat.
"Kau hebat Leo... Gadis pintar.."
__ADS_1