
Saat Elle sibuk menghangatkan dirinya sebuah lemari tanam yang terletak di ujung kabin penumpang tiba-tiba saja terbuka. Seseorang keluar dengan hati-hati, dan dengan langkah sehalus kucing ia mengendap-endap menghampiri Elle. Di sebelah tangan nya ia menggeggam handgun otomatis yang siap menembak.
"Paul? Kau disini juga?" Elle sempat agak terkejut ketika ia membalikkan badan nya dan menemukan Paul Chenkov di berdiri di samping tempat tidurnya.
"Ya, aku tadi ketakutan, jadi bersembunyi disini." Paul menyembunyikan tangan yang memegang handgun di balik punggungnya.
"Sweety, kau kelihatan tidak sehat.." Dengan tersenyum lembut ia membelai rambut dan wajah Elle, tapi sebelah tangan nya bergerak dengan perlahan, luput dari pengelihatan gadis itu.
"Lepaskan gadis itu!"
Elle dikejutkan oleh suara Friederich yang terdengar dingin dan berat. Saat ia menoleh ia menemukan pria itu, mengacungkan handgun otomatis itu kearahnya.
"Friederich..? Ada ap..." Sebelum Elle memahami apa yang terjadi tiba-tiba tangan Paul melingkari lehernya dengan kasar.
"Paul..??! Apa yang..." Pekikan Elle terhenti seketika saat ia melihat ujung moncong handgun Paul yang menempel di pelipisnya. Seketika itu juga seluruh tubuh Elle mendingin lebih dari sebelumnya, dan memucat, ketakutan.
"Lepaskan dia.." Friederich mengancamnya sekali lagi. Ia terlihat sangat fokus, ia bahkan mengabaikan tatapan ketakutan Elle yang terpaku hanya padanya.
"Tidak akan. Gadis ini sudah pasti tidak akan selamat dengan luka tembak kepala dari jarak sedekat ini. Kalian akan segera tamat...Kucing Putih.." Sekali itu suara Paul terdengar dingin dan licik. Elle tak pernah mengira wajah yang manis itu bisa menyembunyikan kelicikan dan kejahatan.
"Hidup Magna Germania....!!!!"
Teriakan Paul yang memekak membuat Elle benar-benar ketakutan, terlalu takut untuk melakukan apapun, bahkan untuk bersuara pun ia sudah tak berani lagi. Ia hanya bisa menatap Friederich dengan tatapan yang memohon untuk diselamatkan. Itu pun kalau ia masih punya kesempatan untuk selamat..
Saat Elle mematung dan merasa sangat yakin ia pasti akan mati ditangan Paul, tiba-tiba terdengar suara tembakan. Friederich menembak lutut Paul dengan tangan nya yang lain, dan saat Paul masih terkejut, ia menembak Paul tepat di kepalanya. Pria itu terjatuh seketika.
Elle mematung di tempatnya, terlalu takut untuk bergerak, terlalu syock untuk bergerak. Seluruh tubuhnya dingin seperti mayat, tapi gemetaran dengan kuat seperti mesin diesel tua. Di telinga nya masih terngiang teriakan Paul yang terakhir, suara tembakan yang terdengar dua kali, dan suara kepala yang tertembus peluru. Di wajah dan rambutnya ia bisa merasakan hangatnya darah Paul, membuatnya merasa jijik dan ngeri.
Dan yang dilihat oleh kedua matanya yang membelalak dan dipenuhi oleh air mata, adalah Friederich. Tatapan nya yang tadi dingin dan tegang, yang kemudian berubah cemas.
Setelah memasukkan kembali kedua handgun otomatisnya kedalam sarung di sabuknya, dengan perlahan Friederich menghampiri elle. Gadis itu terlihat sangat ketakutan, dengan tubuh yang gemetar kuat, dan napas yang terengah pendek-pendek. Ia terlihat seperti akan berubah histeris kapan saja.
"Leo..semua sudah berakhir.. Tenanglah.." Friederich terlihat sangat cemas sekaligus sedih. Ia membuka kedua lengan nya lebar-lebar, seolah siap menangkap gadis itu kapan saja.
Ketika Viktor dan Doc muncul dari balik pintu kabin dan menemukan Paul yang tewas di lantai, Elle yang syock dan Friederich yang cemas, kedua nya langsung memucat. Saat keduanya hendak memasuki kabin, dengan tangan nya Friederich memberi tanda agar mereka menahan diri.
Seolah teror itu masih mengancam jiwa nya, tiba-tiba saja Elle berteriak dengan histeris. Ia berlari dan ditangkap dengan kuat oleh Friederich. Di dalam pelukan Friederich ia meronta dan berteriak histeris.
"Tenanglah Leo! Tenang! Semua sudah berakhir! Semua sudah berakhir!!"
Seolah semua kata-kata itu tak lagi bisa didengar, Elle terus saja meronta, berusaha pergi dari pelukan Friederich, berteriak dan menangis dengan tak terkendali.
"Kumohon tenanglah Leo!!"
Tanpa menunggu Doc berlari dan membuka ransel besar yang dibawanya. Dari ransel itu ia mengambil tranquilizer dalam tube yang memiliki jarum kecil di ujungnya. Setelah itu ia berlari ke dalam kabin dan menusukkan nya ke leher Elle. Gadis itu tersentak kaget, tapi sebelum ia bisa meronta dan melawan, tiba-tiba saja seluruh kekuatan nya menghilang. Ia terjatuh dalam pelukan Friederich tanpa bisa melawan lagi.
"Tenang sobat, itu bukan salahmu.." Seolah memahami pikiran Friederich, Doc menepuk bahu Friederich pelan. "Serahkan ini padaku.."
"Viktor, bersihkan sampah ini, sebelum tuan putri kita terbangun!" Sambil memandang dingin pada Paul yang telah menjadi mayat, ia memanggil Viktor.
Tanpa berkata sepatah kata pun Friederich menggendong Elle dan membaringkan nya di tempat tidur. Ia duduk di tepi tempat tidur, tak mampu untuk beranjak sedikitpun darinya. Ia terlihat tegang dan stres.
__ADS_1
Kedua matanya hanya memandangi Elle yang tertidur, tak memperdulikan Viktor yang masuk kedalam kabin.
"Hei, ayo cepat kerjakan!" Doc mengomel.
Tanpa protes, meski kesal, Viktor menyeret tubuh Paul keluar dari kabin, ia membawa nya ke dalam salah satu kamar mandi, dan mengunci nya dari luar. Kemudian ia menggunakan selimut untuk membersihkan noda darah yang mengotori kabin itu. Setelah itu semua ia pergi tanpa mengatakan apa-apa lagi.
Dengan stetoskop lipat yang ia ambil dari saku seragam putih nya Doc memeriksa keadaan Elle dengan cermat. Ia juga memasangkan panel pemeriksa nadi, suhu dan tekanan darah di pergelangan tangan Elle.
"Dia baik-baik saja, hanya saja suhu tubuhnya masih dibawah normal. Kau hanya perlu menghangatkan tubuhnya saja, jaga agar suhu tubuhnya tidak turun lebih dari titik ini."
"Apa yang harus aku lakukan untuk membuat tubuhnya hangat?" Tanya Friederich, tampak bingung dan panik.
"Pakai apa saja yang ada, kain termal, selimut, mantel, atau kau peluk saja kalau perlu, aku tak perduli. Panel ini akan berbunyi bila batas perimeter yang telah kupasang terlewati. Bila hal itu sampai terjadi, kau dan aku akan berada dalam masalah besar.."
Setelah Doc pergi meninggalkan mereka berdua, Friederich menyelimuti Elle dengan beberapa selimut sekaligus, ia bahkan menambahkan mantel diatasnya. Ia duduk di sisi tempat tidur, mengamati wajah Elle yang tertidur. Wajah itu terlihat pucat dan lembab oleh air mata, ia bahkan melihat noda darah kering di wajah dan rambutnya.
Dengan sapu tangan yang dibasahi air hangat ia membersihkan wajah dan rambut Elle dari noda darah. Setelah itu ia menggosok kedua telapak tangan nya hingga panas, lalu menempelkan nya ke kedua pipi Elle hingga pipinya terasa hangat. Ia melakukan hal itu berulangkali, di wajah, tangan dan kedua kaki Elle. Ia tak berhenti melakukan itu sampai panel menunjukkan bahwa suhu tubuh Elle telah kembali normal.
Saat Elle membuka mata, yang pertama kali dilihatnya adalah wajah Friederich yang tersenyum. Pria itu terlihat cemas. Ketika Elle ingat semua yang terjadi sebelum ia mulai histeris, seketika ia lompat dari tempat tidurnya dan memeluk Friederich dengan sangat kuat. Seluruh ketakutan nya, kepanikan nya, itu semua nyata, dan kembali menghantui dirinya.
"Tenanglah Leo.. Semua sudah berakhir.. Semua sudah berakhir.. Kau masih hidup.. Kau benar-benar masih hidup.." Friederich meremas tubuh mungil itu dengan lembut. Ia bisa merasakan tubuh mungil itu gemetaran dalam pelukan nya.
Elle mengatur napasnya, juga mengatur ketakutan dan kepanikan nya. Ia berkali-kali meyakinkan dirinya bahwa semua sudah berakhir.
"Paul.. Kenapa Paul melakukan itu? Ia terlihat baik sebelumnya.." Masih berat baginya untuk menerima kenyataan bahwa Paul hendak membunuhnya.
"Paul adalah seorang mata-mata Gagak Hitam. Sejujurnya aku merasa sangat bersalah karena membawamu ke markas Stuttgart. Aku tidak mengira tempat itu dipenuhi oleh Gagak Hitam"
Elle menggeleng, "Itu bukan salahmu.."
”Dulu... Dulu mereka tidak bertindak sejauh ini. Friederich, dulu mereka tidak sampai meledakkan markas, juga tidak sampai menodongkan senapan di kepalaku. Apa sebenarnya yang telah terjadi? Apa yang sebenarnya mereka inginkan dariku?” Elle merasa harus tahu yang sebenarnya, karena apa yang telah dialaminya tadi jauh lebih menakutkan dari apa yang pernah dialaminya dulu.
”Mereka hanya ingin melukaimu, tidak lebih...” Friederich menghela napasnya, ia memutuskan untuk membohongi Elle, karena ia merasa hal itu jauh lebih baik daripada melihatnya ketakutan.
Tidak... itu pasti bohong. Bila mereka hanya ingin melukaiku, Paul tidak akan menempelkan ujung senjatanya di kepalaku dan mereka juga tidak akan meledakkan tempat dimana seharusnya aku melakukan pemeriksaan.
Mereka... ingin membunuhku..? Kenapa...? Kenapa lagi kali ini..?
Elle memeluk dirinya sendiri, merasa menggigil dalam ketakutan nya sendiri. Tapi kemudian Friederich memeluknya, dengan sangat erat, seolah ia mengetahui ketakutan Elle yang tak terkatakan.
”Jangan takut... Jangan takut Leo.. Aku, pasti akan menjagamu. Aku tidak akan membiarkan mereka melukaimu..”
Elle mengangguk, ia tahu Friederich akan menjaga nya, seperti dulu. Perlahan-lahan seluruh ketakutan nya menguap, digantikan oleh rasa aman yang sangat menyenangkan dan menenangkan.
Friederich melepaskan pelukan nya dan menyandarkan Elle di kepala tempat tidur, diatas bantal bantal empuk yang telah disusun nya rapi.
“Kau merasa lebih baik sekarang?” Friederich menyapukan jemarinya ke tepian wajah Elle, menyingkirkan rambut nakal yang teruntai berantakan. Elle mengangguk dengan senang.
"Apa tujuan kita berikutnya juga sama menakutkan nya?"
"Nuremberg? Kota itu cukup jauh lini dari depan peperangan, tapi minimal sekali dalam dalam sehari, kota itu pasti
__ADS_1
mengalami serangan rudal dan roket."
Membayangkan rudal dan roket berseliweran diatas kepala mereka membuat Elle merasa terteror.
"Jangan takut, tempat itu cukup aman. Aku tinggal cukup lama di Nuremberg. Disana kau bisa menghirup udara
bebas pada jam-jam tertentu."
"Kau pernah tinggal disana?"
"Ya, aku ditugaskan selama beberapa tahun terakhir disana. Aku membesarkan Viktor disana."
"Aku mau main ke rumahmu Friederich!" Aku ingin mengetahui apa saja yang telah terjadi pada kehidupanmu dalam 14 tahun terakhir. Rasanya aku baru bisa mengetahui semuanya setelah aku melihat sendiri tempat dimana kau tinggal selama ini, bersama Viktor, putramu.
"Tidak, jangan..!" Friederich tiba-tiba terlihat panik. "...Rumahku berantakan dan jelek.." Ia cepat-cepat menambahkan saat Elle memandanginya dengan tatapan protes dan curiga.
"Apa..kau menyembunyikan sesuatu??" Elle memandanginya dengan tajam sekarang.
"Tidak..! Hanya saja.. Ummm.... Rasanya kita tidak akan punya kesempatan untuk mengunjunginya.." Friederich terlihat makin panik.
Kau menyembunyikan sesuatu.. Aku yakin itu..
"Apa kau menyembunyikan perempuan disana?" Pertanyaan itu terlontar tanpa bisa Elle kendalikan. Ia segera merasa malu dan menyesalinya setelah itu. Wajahnya memerah dan terlihat lucu. Ya ampun.. Aku benar-benar terlihat seperti seorang pacar yang cemburuan..
“Ya ampun Leo.. Aku sudah bilang kan, perempuan adalah mahluk langka di negri ini. Mana mungkin aku bisa menyembunyikan mereka di rumahku?" Friederich mentertawakan Elle sekarang. "Sebelum mereka jadi mahluk langka pun, aku bukan salah satu tipe favorit mereka.." Kelakarnya.
Tapi kau tipe favoritku! Elle memandanginya dengan tatapan protes.
"Kenapa para wanita di Czech begitu langka?" Tanya Elle.
"Lain kali akan kujelaskan kenapa.." Raut wajah Friederich tiba-tiba saja berubah, sepertinya ada kesedihan yang ingin tak ingin ia ungkit. Elle tak tega untuk memaksanya menjawab pertanyaan ini.
"Oh, kau belum menjawab pertanyaan ku.." Elle berusaha untuk mengalihkan perhatian.
"Yang mana?"
"Yang .." Leo, konfirmasi dimana posisi kita sekarang!"..." Elle
mengingatkan nya.
"Ooh..." Friederich nyengir.
"Umm.. Aku memang menamai blacksheet ku Leo, seperti namamu. Selama ini blacksheet selalu bersuara laki-laki, ketika pihak perusahaan mengeluarkan seri suara wanita, ternyata mereka laku keras."
"Rasanya pertanyaan ku belum terjawab.." Elle protes.
"Aku tidak punya ide lain untuk memberi nya nama selain "Leo".." Friederich menggaruk kepalanya, terlihat kikuk dan malu-malu.
Jadi..Dia menamai nya seperti namaku, karena hanya namaku yang bisa ia pikirkan...??
Wajah Elle merona merah.
__ADS_1