
Butuh lebih dari 30 menit bagi mereka berempat untuk berjalan meninggalkan shelter menuju akhir dari jalur evakuasi. Jalur itu berakhir tepat dibawah main square kota Plzen, ini adalah jalur terdekat yang mereka miliki menuju gudang penyimpanan peralatan militer. Saat Franka membuka pintu evakuasi yang disamarkan dengan pintu saluran air, Viktor sudah menunggu mereka diluar, terlihat bersemangat dengan tubuh yang kotor oleh debu dan remah bangunan.
"ayo cepat, sebelum ada ledakan-ledakan lagi!"
Viktor memandu mereka melewati puing-puing yang memenuhi jalan, memberi mereka rute yang paling aman. Di tangan nya ia memegang blacksheet yang menunjukkan gambar radar yang tersambung dengan satelit, untuk
mendeteksi keberadaan rudal dari jarak ratusan kilometer sebelumnya. Ketika radar itu menunjukkan sebuah titik yang berpendar putih blacksheet segera memberinya peringatan.
Viktor membaca dengan baik setiap detail yang ditunjukkan oleh blacksheet, jarak, kecepatan, bahkan perkiraan tempat jatuhnya roket tersebut. Setelah ia selesai mencermatinya Viktor segera mencari rute baru untuk mereka lalui, dan membawa mereka berlindung dibalik sebuah bangunan apartemen berdesain kuno yang indah, sayang
sebagian dari bangunan itu telah telah hancur oleh serangan rudal.
"kukira mereka telah mengerahkan roket anti misil di seluruh Czech untuk menghalau roket menghancurkan Plzen lebih jauh lagi." doc berlindung dibalik dinding apartemen. Dari kejauhan mereka bisa mendengar suara ledakan rudal yang menteror Plzen sejak 30 menit yang lalu.
"mereka memang mengerahkan nya, setengah jam yang lalu jumlah roket maupun rudal yang menghantam Plzen mencapai 10 buah hanya dalam beberapa menit saja. Padahal kota ini dikelilingi oleh meriam anti roket, jadi
bayangkan saja berapa banyak rudal dan roket yang Magna Germania kirimkan kemari." Viktor mengamati langit dengan seksama, memastikan letak jatuhnya rudal berikutnya.
"oh itu dia.."
"siap-siap" ia menambahkan.
"siap-siap apa?" tanya Elle masih keheranan.
Tiba-tiba saja Elle dikejutkan dengan suara sirine yang terdengar di seantero kota, diikuti dengan peringatan yang diperdengarkan ke seluruh kota, yang menghimbau seluruh warga yang masih berada di kota Plzen untuk segera menyelamatkan diri ke dalam jalur evakuasi yang telah disediakan oleh pihak militer.
“Friederich, apa yang terjadi? Siap-siap apa sebenarnya?” Elle mulai panik.
"ledakan.." Friederich tersenyum santai. Ia memeluk Elle dan menutupi kedua telinga gadis itu dengan tangan nya. "peluk aku dengan kuat Leo." bisiknya sebelum ia menutup kedua telinga Elle.
Apa?Ledakan?!!
"akhirnya, Plzen battle mode." doc nyengir. Ia mengintip daribalik tembok apartemen, sementara Viktor disampingnya, ikut mengintip.
Jalan raya dan taman-taman seketika terbelah, dan dari dalam tanah muncullah meriam-meriam anti roket, dalam
berbagai ukuran dan fungsi, yang menembakkan setidaknya 10 roket dalam waktu yang bersamaan. Sepuluh roket itu melesat cepat menuju rudal yang terpecah diatas langit kota Plzen dan menghantamnya setiap pecahan nya dengan kuat, meminimalisir efek ledakan yang ditimbulkan oleh reaksi fusi yang terjadi. Dalam sekejap bola-bola api meledak di udara, mengguncangkan area itu sejauh radius beberapa kilometer.
Elle memejamkan kedua matanya dengan kuat, sementara kedua tangan nya mencengkeram tubuh Friederich dengan sama kuatnya. Ia menjerit ketakutan, tapi suara jeritanya sendiri teredam oleh kuatnya suara ledakan. Suara ledakan itu membuat dinding apartemen yang mereka jadikan tempat berlindung bergetar. Beruntung posisi mereka saat ini cukup jauh dari radius ledakan, sedikit saja lebih dekat, Elle akan merasakan dampak yang lebih kuat dari ledakan nya. Rasanya Elle ingin menangis, ledakan itu benar-benar membuatnya ketakutan hingga seluruh tubuhnya terasa gemetaran. Sementara Viktor, malah terlihat lebih bersemangat dari sebelumnya.
__ADS_1
"Pertama kalinya kau melihat Plzen battle mode nak?" doc terkekeh, sambil membersihkan debu yang mengotori kacamata nya. Viktor terkekeh mengiyakan.
"sudah berapa tahun ya Plzen tidak pernah mengaktifkan battle mode nya?"
"10 tahun." jawab Friederich. Ia merasa bersalah saat melihat Elle yang terlihat sangat ketakutan, meringkuk dengan tubuh yang gemetaran di pelukan nya.
"pertempuran terakhir di Plzen 10 tahun yang lalu berlangsung dengan sangat menegangkan. Ada lebih banyak rudal dan roket di langit Plzen, lebih banyak korban dan kekacauan. Kau tidak di Plzen saat itu doc, kau.. Entah ditugaskan dimana.. Kau..sedang mengacau di fasilitas mungkin?" Friederich terkekeh, sambil membersihkan debu yang mengotori kepala Elle.
"ya.. Aku sedang mengepalai pembangunan fasilitas di Nuremberg." doc nyengir.
”setelah pertempuran itu Plzen mempersenjatai diri dengan lebih banyak lagi meriam anti rudal, juga lebih banyak senjata lain. Sayangnya mereka tidak menaburkan pasir yang dapat menyerap energi ledakan, mereka pikir Plzen sudah pasti aman dengan persenjataan sebanyak ini. Seandainya mereka menaburkan nya, kehancuran dan korban jiwa akibat serangan-serangan rudal pasti bisa diminimalisir.” ucap Friederich.
"ayo, kita harus menuju gudang penyimpanan kendaraan militer dan mengambil motor trail." Friederich segera berdiri sambil menggendong Elle yang masih meringkuk ketakutan.
”Viktor, apa kau sudah mencari rute yang tercepat untuk menuju ketempat tujuan kita?” ia menambahkan. Doc membuka blacksheetnya, mengamati peta kota Plzen.
“ya, kita bisa melalui blok 24, melewati barisan apartemen yang nyaris hancur.”
”atau kita bisa menggunakan trem.” Doc cepat-cepat memotong. “Hanya beberapa seratus meter dari tempat kita berlindung. Trem itu memiliki jalur yang sama dengan tujuan kita. Trem itu menuju markas Plzen. Disanalah gudang penyimpanan kendaraan militer berada.”Ia menambahkan
Sesuai dengan aba-aba Friederich, Viktor segera berlari mendahului mereka, memastikan jalur yang aman, sementara doc berlari disampingnya. Setelah Viktor dan doc memastikan jalur tersebut aman, barulah Friederich
berlari, dengan menggendong Elle, mengikuti mereka. Sedangkan Franka berlari di barisan paling belakang, ia
Setelah berlari sejauh seratus meter akhirnya mereka menemukan trem yang mereka cari, teronggok begitu saja di rel nya, ditinggalkan oleh pengemudinya. Friederich segera melompat memasuki trem tersebut setelah sebelumnya doc masuk lebih dulu dan memastikan trim itu steril untuk mereka masuki. Ia berjalan ke salah satu sisi trem dan menurunkan Elle di lantai trem yang dingin. Ia sendiri duduk kemudian, bersandar ke dinding trem. Setelah itu Viktor dan Franka menyusul masuk ke dalam trem, mengawasi pergerakan diluar dengan senapan-senapan mereka yang siap menembak.
Doc menyalakan mesin trem, dan membiarkan trem itu melaju diatas rel nya dengan tujuan markas Plzen. Setelah itu ia duduk di lantai trim, bergabung dengan Friederich dan Elle. Sementara Viktor dan Franka mengawasi keadaan di sekitar trim.
"kenapa kita tidak melalui jalur bawah tanah saja?“ tanya Elle dengan suara yang bergetar ketakutan. Kenapa kita tidak masuk kembali ke dalam fasilitas dan masuk ke dalam markas Plzen melalui jalur bawah tanah? Kenapa kita harus melalui jalan darat yang mengerikan? “seharusnya kita lewat bawah tanah saja.." ia menambahkan.
Kedua tangan nya terkepal kuat, sementara tangan Friederich yang hangat berusaha membuatnya rileks dengan mencengkeram kedua kepalan tangan itu dengan lembut.
“terlalu beresiko bila kami membawamu melalui jalur bawah tanah.“
"jalur menuju markas pasti dipenuhi oleh para tentara, kita tidak akan bisa membedakan gagak hitam diantara para pasukan” Friederich menjelaskan, sementara doc membuka blacksheetnya. "paling tidak dengan berada diatas tanah, kita jadi bisa melihat jelas musuh kita yang sesungguhnya." Ia menambahkan.
"Franka, Viktor, mobilisasi di arah jam 3 dan jam 9 !" doc memperingatkan, ketika ia melihat pergerakan didalam radar blacksheetnya.
Seketika Franka dan Viktor segera bersembunyi di balik dinding trim yang terbuat dari campuran besi dan baja, menunggu mereka benar-benar muncul. Friederich menjauh dari dinding trim, ia mendorong Elle menjauh dari dinding dan menyuruhnya berlindung dibalik bangku trim.
__ADS_1
"bersiap-siaplah, mereka datang.." doc memperingatkan sekali lagi. Ia menutup blacksheetnya dan mengambil senapan nya. Ia membuka kunci nya dengan sistem fingerprint dan memeriksa pelurunya.
"Leo merunduklah, dan jangan bangun sebelum aku perintahkan." Friederich mendorong tubuh Elle merapat ke lantai trim. Setelah ia memastikan Elle berada dalam posisi yang aman ia mengambil kedua handgun nya dan membuka kuncinya.
Di kejauhan empat orang pria berpakaian tentara muncul dari balik lorong dan menembak trim dengan senapan serbu. Elle yang ketakutan segera menutup kedua telinga nya, sambil masih merunduk di lantai trim. Friederich dan doc segera mengarahkan senjata nya melalui jendela trim dan balas menembak. Viktor dan Franka melakukan hal yang sama, mereka menembak dari kisi-kisi jendela.
Dengan keterampilan dan keahlian nya sebagai seorang sniper doc berhasil menembak satu musuh, tepat di lehernya, dan satu lagi, di lengan dan kaki nya. Viktor dan Franka berhasil menjatuhkan satu orang. Friederich lah yang mengeksekusi sisanya, tepat saat mereka berlari mengejar trim yang melaju mengikuti rel nya.
"siap-siap.. Rudal akan segera memasuki Plzen!" Viktor memperingatkan mereka semua.
"dimana perkiraan titik jatuhnya?" tanya Friederich. Ia bisa mendengar suara sirine dan suara peringatan yang diumumkan oleh pengeras suara ke santero kota.
"umm... Beberapa ratus meter dari posisi kita sekarang.. Mungkin.." Viktor menggaruk kepalanya dengan kebingungan.
Friederich melihat keatas, ia melihat satu titik terang yang menukik dengan cepat kebawah. Tapi pada satu ketinggian, dari keempat arah yang berbeda roket anti rudal melesat cepat dari arah bawah dan menghantamnya dengan kuat. Ledakan kuat pun terjadi hanya beberapa ratus meter dari permukaan tanah, menghembuskan angin
panas yang membuat mereka harus berlindung dibalik trim yang masih melaju di relnya.
Elle memekik ketakutan ketika trim bergoyang terkena hembusan angin ledakan, tapi dengan cepat Friederich menariknya dan memeluknya.
"tenang.. Jangan takut Leo.. Sebentar lagi kita mencapai gudang peralatan militer."
Setelah mengendarai trem dalam ketegangan, 15 menit kemudian mereka tiba di kompleks militer markas Plzen. Dari permukaan komplek militer itu hanyalah bangunan-bangunan putih berbentuk persegi yang unik, dengan gerbang besar yang terbuat dari jeruji baja yang terlihat kuat. Sementara doc mematikan mesin trem. Viktor dan Franka turun terlebih dulu, memastikan tempat itu steril, baru kemudian doc turun, diikuti oleh Friederich yang menggendong Elle.
"ini markas? Sepi sekali.." Elle melihat ke sekeliling. Hanya ada reruntuhan dan puing-puing, tak ada satupun
tanda kehidupan.
"kesibukan ada dibawah milácěk.. Evakuasi, serangan balik, strategi pertahanan.. Hanya orang gila yang mau berkeliaran di permukaan Plzen, dibawah hujan rudal seperti ini." doc tersenyum padanya, sambil membuka panel angka yang menyegel gerbang markas.
Dan kita lah orang gila itu... Elle menarik napas panjang, terlalu tegang untuk bisa menarik napas dengan normal. Seharusnya aku aman di Plzen, seharusnya aku menyempatkan diri untuk melihat kota yang indah ini sebelum dihancurkan oleh hujan rudal. Sekarang yang bisa aku lihat hanyalah puing-puing dan kehancuran.
__ADS_1