
Elle terbangun di ruangan yang pernah dikenal nya. Ruangan bernuansa putih dan kuning muda yang ceria, dengan satu tempat tidur yang nyaman, sebuah sofa dan satu meja kecil. Ia pernah berada di kamar ini sebelumnya, dulu, empat belas tahun lalu.
Kamar ini masih sama seperti dulu, apa tidak pernah digunakan lagi selama empat belas tahun terakhir ini?
Jaket berkerah bulu favoritnya tersampir di sofa, ada lubang kecil dan sedikit bercak darah di bagian punggung nya. Elle langsung teringat dengan rasa nyeri menusuk yang tadi dirasakan nya di hutan, tapi saat ini nyeri itu sudah hilang. Ketika ia meraba kulit punggungnya dari balik kaus biru nya, tidak ada nyeri, juga tidak ada bekas luka. Apapun yang ditembakkan ke punggungnya tadi, sudah sembuh sempurna. Mengingat bagaimana ia bisa kehilangan seluruh kekuatan dan kesadaran nya, ia menebak, pastilah semacam peluru bius.
Elle bengkit dari tempat tidurnya, rasanya terlalu dini untuk merasa rileks, mengingat ia tak tahu siapa yang telah membawanya ketempat ini dan mengapa ia harus terseret kembali ke tempat ini. Dulu ia memang mengenal banyak orang-orang dunia paralel, dan berinteraksi dengan mereka. Tapi dari semua orang yang pernah ditemuinya dulu, hanya satu orang yang benar-benar ia kenal dengan baik.
Tunggu...Bukankah sebelum aku benar-benar pingsan aku melihat sesuatu? Siluet sesuatu?? Rasanya aku juga mencium sesuatu yang sangat familiar... Bau hutan dan.... Apa ya?? Rasanya aku juga mendengar sesuatu....Suara tembakan lalu suara benda yang jatuh..... Sepertinya aku mendengar suara seseorang.. Dia bilang "...Leo, anak pintar.."
Elle tersentak kaget. Dengan dada yang berdebar-debar ia berlari untuk menekan tombol pintu terbuka. Ia menekan tombol itu berkali-kali, dengan kuat. Ia masih ingat, dulu pintu ini sempat macet hingga pria itu harus menjebolnya dengan bazooka. Setelah dibetulkan pun masih saja sering macet.
Hanya dia yang memanggilku Leo.. Hanya dia... Tak ada yang pernah memanggilku Leo selain dia..
Elle mengetuk-ngetukkan kakinya dengan gelisah ketika akhirnya pintu terbuka kesamping dengan perlahan. Dadanya seperti mau meledak ketika ia melihat seorang pria muda berdiri hanya beberapa meter di depan nya, kedua mata nya yang tajam menatapnya dengan terkejut, kedua alis matanya yang tebal seolah membentuk huruf V yang landai, dan rambut coklat tebal nya agak berantakan. Senyum Elle mengembang sempurna, kedua matanya berbinar bahagia. Impian nya selama ini hanyalah untuk bisa kembali bersama pria pelindungnya dulu..
"Friederich..!!" Elle nyaris memekik.
Ia hampir saja melompat untuk memeluknya ketika ia menyadari poin penting yang tidak mungkin akan ia temui pada pria yang pernah hidup di masa lalunya itu. Pria di hadapan nya itu memakai pakaian cosplay yang mencolok, atasan abu yang terlihat seperti kemeja dengan kerah yang sangat lebar dengan bagian lengan yang dirobek dengan paksa, dan dikerahnya terpasang sebuah dasi dengan warna biru elektrik yang mencolok. Seolah belum cukup aneh, ia juga memakai berbagai aksesoris yang tidak serasi.
Elle membeku ditempatnya, terperangah tak percaya. Dia pasti pria aneh yang Ross ceritakan, Ross benar, pria aneh itu memang mengenakan pakaian cosplay yang mencolok.. Elle mundur selangkah, kini ia berjengit ngeri.
"Kau bukan Friederich..." suaranya terdengar ketakutan.
Elle ingin segera pulang sekarang. Elle ingin segera terbangun seandainya ini hanya sebuah mimpi. Ia tidak ingin berada di dunia paralel bila tanpa Friederich, Friederich yang sesungguhnya, Friederich yang liar dan pembuat onar, Friederich yang ia sukai.
"Viktor apa Leo sudah bangun?"
Elle hampir saja melompat kaget ketika tiba-tiba saja ia mendengar suara tersebut dari balik sebuah pintu yang terbuka dengan cepat. Suara itu familiar, tapi nadanya lebih berat.
Seorang pria bermata tajam, dengan kedua alis mata tebal yang membentuk huruf V yang landai muncul dari balik pintu di ujung lorong. Rambut coklat nya tebal dan acak-acakan, jenggot nya mencuat berantakan disepanjang garis rahang nya. Elle sekali lagi terkejut, memandangi kedua pria itu dengan bergantian selama beberapa kali dengan tatapan tak percaya. Kedua pria itu sangat mirip satu sama lain.
Tidak mungkin ada dua Frederich. Yang mana? Yang mana Frederich yang asli?
Sekali lagi Elle mengamati mereka berdua, yang kini tersenyum melihat reaksi Elle yang menghibur. Mereka berdua sangat mirip, hal yang membedakan mereka berdua adalah salah satu Friederich memiliki wajah yang terlihat lebih tua dan berjenggot, sementara yang lain terlihat sangat muda. Satu hal yang pasti berbeda, pakaian mereka. Friederich berjenggot mengenakan seragam tentara berwarna abu dan biru, dengan sobekan kecil disana sini, dan noda darah kering di beberapa tempat. Sementara Friederich muda memakai kostum cosplay yang mencolok. Ini nyaris tidak mungkin, tapi elle tidak punya pilihan selain mempercayainya.
"Friederich??" tanya Elle tak percaya. Dengan ragu ia berjalan mendekati pria berjanggut tersebut. Saat pria itu menyeringai senang Elle segera tahu kalau ia telah menebak pria yang tepat.
Kenapa Friederich bisa terlihat seperti ini? Kumal dan berantakan. Dan kenapa bisa ada dua Friederich? Tidak mungkin ia mengklon dirinya sendiri khan?? Rasanya Elle kehilangan kata-kata nya. Pertemuan yang penuh emosional yang dibayangkan nya hangus sudah. Ia bahkan tidak tahu harus mengatakan apa, atau bahkan bersikap bagaimana. Situasi seperti ini tidak ada dalam skenario nya. Kedua mata birunya menatap pria itu dengan lekat, menuntut jawaban.
Friederich berjalan menghampiri pria cosplayer yang sangat mirip dengan dirinya. Ketika keduanya berdiri berdampingan, barulah Elle bisa menyadari lebih banyak perbedaan dari keduanya. Friederich lebih tinggi dan lebih kekar, dengan senyuman yang lebih liar sekaligus penuh semangat. Senyuman yang sangat dirindukan nya.
Sementara pria cosplayer yang sangat mirip Friederich, terlihat lebih santun dan terkendali, meski dengan dandanan yang sangat mencolok.
"Kalian..??" Elle mulai mengendalikan keterkejutan nya. Jelas Friederich nya lebih tampan dan terlihat dewasa dari tiruan nya, yang berdiri tepat disampingnya.
__ADS_1
"Errr.... Kami ayah dan anak. Kenalkan Leo, ini putraku, Viktor.."
Apa??!
Elle bisa merasakan ekspresi nya yang membeku, juga seluruh tubuhnya yang mendingin dan mematung. Sebuah analogi sederhana berjalan di otak nya : Friederich + .... = Viktor. Friederich + (menikah dengan)........ = Viktor (anak). Jadi Friederich menikah?? Tidak mungkin!!!
Elle merasa seperti terjatuh dari tebing tinggi, sesaat tadi tubuhnya benar-benar terasa limbung. Sebelum ia bisa mempermalukan diri dengan terlihat lebih tolol lagi, atau bahkan menangis, Elle berlari kembali ke kamarnya. Ia merasa sangat lega ketika akhirnya pintu yang macet itu menutup dan memisahkan dirinya dalam ruangan itu
sendirian. Dengan pikiran yang kalut ia masuk ke dalam kamar mandi, menekan tombol pengaturan air hangat dan sabun di tepian bathtube, kemudian mencuci tangan nya dengan gelisah di wastafel.
"Bodoh..kau benar-benar bodoh Elleonora.." gumamnya sambil memandangi dirinya sendiri di cermin. Ia enggan mengakui kalau kedua matanya terasa sangat panas sekarang, rasanya ia bisa menangis kapan saja.
Tentu saja banyak hal bisa terjadi dalam empat belas tahun.. Hanya saja aku tidak berpikir kalau Friederich bisa menikah dan memiliki anak. Tentu saja ia bisa.. kau memang bodoh Elle...
Elle menceburkan dirinya ke dalam bathtub tanpa melepaskan seluruh pakaian nya. Ia berharap air hangat dan aroma wangi busa aromaterapi strawbery bisa menenangkan perasaan nya yang berantakan.
Ini salahku, tidak seharusnya aku memikirkan hal tersebut. Tidak seharusnya aku menginginkan Friederich lebih dari yang seharusnya. Seharusnya aku sadar empat belas tahun adalah waktu yang cukup lama, cukup lama untuk melakukan banyak sekali hal, termasuk menemukan seseorang yang ia cintai dan menikahinya.
Saat ia membayangkan Friederich bersama seorang wanita, menikah, dan memiliki seorang anak darinya, Elle tidak bisa tidak merasa sedih dan terluka. Elle ingin sekali menangis, tapi ia tidak ingin melakukan nya. Bukankah seharusnya ia gembira, bukankah itu artinya Friederich telah menjalani kehidupan nya dengan bahagia? Jadi kenapa ia harus bersedih dan menangisi nya? Seharusnya ia ikut gembira, paling tidak seharusnya ia bisa segera melupakan rasa patah hati ini dan bersikap senormal mungkin.
Seandainya saja aku tidak merasa begitu terikat padanya, maka hal ini tidak akan terjadi. Seandainya saja aku tidak terlalu menyukainya, maka aku tidak akan merasa sebodoh ini.. Seandainya aku tidak terlalu berharap dengan pertemuan ini maka aku mungkin tidak akan merasa sesedih dan sesakit hati ini. Seandainya saja selama empat belas tahun ini aku bisa melupakan kesan nya yang begitu mendalam di hatiku, mungkin aku tidak akan merasa patah hati seperti ini..
Sementara ia sibuk menyalahkan dirinya, kekecewaan nya sendiri terasa pahit. Sekarang yang bisa ia lakukan hanyalah menata ulang perasaan nya dan berusaha bersikap senormal mungkin.
Aku bisa melalui ini.. Aku bisa melalui ini..Kau bisa melalui ini Elleonora..
"Leo, aku masuk ya.." ia bisa mendengar suara Friederich dari kamar mandi.
Dadanya berdebar kuat saat samar-samar ia mendengar suara pintu kamar yang terbuka dengan perlahan, diikuti dengan suara langkah yang berat memasukinya. Friederich melangkah dengan ragu, seolah ia tahu dimana Elle berada, ia berjalan menuju kamar mandi dan berhenti hanya selangkah darinya.
"Kenapa kau lari dan bersembunyi dari ku Leo? Apa kau takut padaku?” ekspresinya terlihat melembut, kedua mata
liarnya bahkan tertunduk layu. Dari nada suaranya ia terdengar seperti seseorang yang merasa bersalah. Apapun yang ia sembunyikan dibalik ekspresi itu, bukanlah sesuatu yang akan diketahui Elle dengan mudah.
Friederich menghela napasnya, ia terlihat bingung. Empat belas tahun yang lalu ia hanya perlu membuka pintu nya dengan paksa dan memeluk gadis itu dengan erat setiap kali ia ketakutan, tapi kini, ia bahkan tidak tahu harus bagaimana.
Elle menarik napas dalam-dalam dan menahan nya, kemudian dengan kedua tangan terkepal ia melompat keluar dari bathtub dan membuka pintu.
"Aku tidak takut!!"
Friederich sempat terkejut saat ia mendapati Elle basah kuyup dari ujung kepala sampai ujung kaki. Tapi kemudian ia tersenyum. Empat belas tahun sudah berlalu, tapi senyuman itu tetap saja membuat Elle terpesona. Tidak ingin Friederich melihat wajahnya yang merona malu, Elle segera memalingkan wajahnya.
Friederich mengambil sebuah handuk besar dari lemari kamar mandi. "Kau sekarang bisa mengeringkan badan mu sendiri kan?" senyuman nya berubah jadi cengiran saat ia melingkarkan handuk itu di tubuh Elle. Wajah elle seketika berubah merah padam.
"Tentu saja!!" sebelum Elle mulai marah Friederich segera berjalan cepat-cepat keluar dari kamar dengan terkekeh.
__ADS_1
"Kau bisa memilih pakaian di lemari. Oh, sebaiknya kau cepat Leo, capsulle sudah menunggu kita di bawah."
Setelah memastikan pintu kamar benar-benar menutup, Elle melepaskan seluruh pakaian nya dan memasukkan
nya ke dalam laundry cupboard yang akan secara otomatis mencuci dan mengeringkan nya tanpa cela. Ia harus
menyimpan pakaian itu bila ia pulang kelak. Baru setelah itu ia mengeringkan seluruh tubuhnya dengan handuk yang diberikan oleh Friederich. Sambil menunggu seluruh tubuhnya kering ia membuka lemari yang tertanam di salah satu permukaan dinding ruangan itu dan menemukan beberapa pasang pakaian dengan ukuran yang sesuai, dalam warna-warna yang feminim.
Siapa yang menyiapkan ini semua? Apa mereka memang sudah mengetahui kedatanganku jauh-jauh hari sebelumnya?
Elle memilih celana jeans dan kaus pink muda dengan hoody yang berbahan lembut. Setelah mengeringkan rambut nya ia memakai sepatu boot pendek, memasukkan handphone nya ke dalam saku celana dan meraih jaket kesayangan nya. Jaket itu ternoda darah sedikit, tapi karena warna nya gelap, warna darahnya sedikit tersamar. Elle mengeluarkan handphone nya sekali lagi, memeriksa nya. Ia berharap bisa mendapatkan sedikit saja sinyal, jadi ia bisa menghubungi kedua orang tuanya dan meminta mereka untuk tidak mengkhawatirkan dirinya. Tapi harapan nya harus terhempas sia-sia, sama sekali tak ada sinyal. Dengan putus asa ia memasukkan handphone
nya ke saku jaketnya. Setelah memastikan penampilan nya terlihat asyik,ia menekan tombol pintu terbuka berkali-kali dan menunggu pintu yang macet itu untuk terbuka dengan sabar.
Elle mencelos ketika ia melihat kedua pria itu duduk dalam sofa yang sama, menantinya. Dua Friederich itu benar-benar mirip, hanya saja yang satu terlihat sangat muda, sementara yang lain terlihat sangat berantakan dengan jenggotnya. Kedua gaya pakaian mereka jelas membuat mereka terlihat bagaikan bumi dan langit.
"Apa aku sudah terlihat asyik?" Elle memaksakan bibirnya untuk tersenyum dengan manis. Sebenarnya ia lebih suka t-shirt biasa, yang ini warna nya agak kelewat lembut, dan modelnya terlalu manis, sayangnya inilah yang terbaik yang bisa ia pilih saat ini.
"Seperti yang kukira, kau terlihat sangat manis." Viktor nyengir, mengiyakan pendapat Friederich.
Diluar dugaan, senyuman Friederich yang mempesona membuat pertahanan diri yang dibangun nya dengan
beton-beton yang rapuh, rontok sedikit demi sedikit. Elle bisa merasakan kedua pipinya memanas. Benarkah dirinya terlihat semanis itu? Dengan wajah yang bersemu Elle memalingkan wajah nya, diam-diam ia gembira karena pria itu memujinya.
"Ayo Leo, kita berangkat sebentar lagi. Aku akan menyiapkan capsulle dan menghubungi markas. Viktor akan
menemanimu ke bawah sebentar lagi, ia akan menyiapkan beberapa peralatan yang harus dibawanya." Friederich bangkit lebih dulu dari sofa dan berjalan menuju pintu kompartemen. Semenit kemudian Viktor bangkit dan berjalan menuju pintu yang berbeda dengan enggan.
"Tidak usah ditemani. Aku bisa pergi sendiri." Entah apa ia bisa mulai terbiasa dengan keberadaan Viktor, pria itu terlalu mirip dengan Friederich.
"Leo, jalan menuju capsulle yang dulu biasa kau lalui sudah runtuh. Kami membangun jalan baru tahun lalu. Jadi.. Biarkan Viktor menemanimu oke?" Tanpa mengijinkan Elle membantah lagi pria itu pergi meninggalkan nya.
Selagi menunggu Viktor selesai menyiapkan keperluan nya ia mengelilingi ruangan itu sambil mengingat setiap kenangan yang pernah ada di dalam nya. Ruangan itu belum berubah sedikitpun, ruangan segienam besar, dengan tiga kompartemen. Ruangan ini adalah bungker, yang terletak 20 meter di bawah hutan Black Forrest. Pintu masuk bunker ini terletak hanya beberapa puluh meter dari titik dimana pasukan musuh menembaknya kemarin, tersembunyi diantara lumut-lumut dan dedaunan jatuh yang lembab.
Dulu aku menghabiskan waktu selama beberapa minggu di bunker ini hanya berdua dengan Friederich. Masa-masa itu sangat menyenangkan.. Dan sekarang... Entah apakah semua bisa terasa sama menyenangkan nya..
Elle meraba gambar bendera tiga warna yang tergambar dengan pena di dinding bungker, kemudian ia tersenyum.
Ini adalah gambarku, gambar kami berdua. Aku dan Friederich menggambar bendera negeri tempat aku berada saat ini, Czech. Aku ingat Friederich menggendongku karena aku ingin menggambar di tempat yang tinggi, dia yang membuat sketsa kasarnya, dan aku yang memberinya warna, biru, putih dan merah. Ya, aku berada di Czech sekarang, Czech versi dunia paralel yang sangat berbeda dengan Czech yang ada di dunia ku.
__ADS_1