
"Kau tidak bersama Elleonora hari ini?"
Dokter berkacamata itu memasangkan alat penyambung tulang di seluruh punggung dan dada Friederich. Alat itu akan menghantarkan gelombang yang akan memicu pertumbuhan tulang baru.Setelah itu ia mengunci tubuh Friederich untuk meminimalisasi mobilisasi tubuh yang akan membuat proses penyambungan ulang berjalan tidak sempurna.
"Dia bersama Viktor. Viktor akan menemaninya selama aku terapi."
"Jadi, bagaimana hubungan kalian sekarang?"
"Aku tidak tahu apa maksudmu Doc, tapi sejauh ini kami baik-baik saja." Friederich menjawabnya cepat-cepat.
"Tidak kah sebaiknya kau mulai jadi dirimu sendiri?"
Doc mulai menyalakan mesin nya, kemudian ia duduk santai di kursi kerja nya, mengamati perkembangan penyambungan tulang dari monitor di dinding ruangan.
"Kami semua tahu bagaimana kuat nya hubungan kalian berdua, bahkan setelah 14 tahun berlalu, kalian masih terlihat terikat satu sama lain."
"Tidakkah sebaiknya kau mulai memperlakukan nya seperti seorang wanita? Lalu kau bisa mengikuti kata hatimu dan... Menjadikan nya seseorang yang kau inginkan.."
Friederich mendengus, tapi wajah nya terlihat memerah.
"Apa kau tahu, ada Gagak Hitam di markas ini.." Friederich mengalihkan pembicaraan. Ia tak bisa meneruskan topik sensitif itu lebih jauh.
"Jangan mengalihkan pembicaraan.. Topik ini tidak terlalu sensitif kok.." Doc tersenyum jahil. Friederich menggeram kesal, tapi wajahnya masih memerah malu.
"Ayolah, bilang saja kau menyukai nya, gadis itu juga menyukaimu, aku yakin dia akan menerimamu."
Friederich menggeram kesal, seandainya ia tidak dalam terikat, ia pasti sudah memukul sobat baiknya itu. Seluruh wajah sampai ke batas bahu nya memerah padam.
"Sialan kau...!"
Dokter berkacamata itu tertawa.
"Aku tidak akan berhenti.. Hanya inilah cara satu-satunya bagiku untuk bersenang-senang."
"Tapi kau benar, di markas ini tidak hanya ada pengkhianat, tapi juga mata-mata. Mengherankan bagaimana markas ini masih bisa bertahan dengan banyaknya agen ganda yang berkeliaran."
"Mereka berusaha untuk membunuh Leo.." Friederich terlihat kesal saat mengatakan hal tersebut.
"Tentu saja, bukankah itu memang tujuan mereka kali ini..?"
*****
Elle menyendok sereal nya dengan malas. Seharusnya Frienderich menemaninya sarapan pagi ini, tapi tiba-tiba saja jadwal terapi nya dipercepat dua jam lebih awal dari semula. Sebagai pengganti Frienderich mengutus Viktor untuk menemani Elle sarapan di kantin, tempat dimana para prajurit menghabiskan waktu makan pagi mereka.
Elle menguap untuk ketiga kalinya. Ia masih terlalu mengantuk untuk makan apapun, sementara Viktor melahap dua piring telur orak arik dan dua piring pancake. Semalaman Elle tidak bisa tidur, setelah ia mendengar pengakuan Friederich, rasanya ada lonceng bergema di kepalanya, lagi dan lagi. Lonceng itu seolah mengingatkan nya bahwa "Friederich tidak menikah!", "Friederich lajang!"
Itu artinya aku punya kesempatan untuk bersama Frienderich...
Pikiran liar itu membuat wajahnya memerah padam. Sebelum Viktor yang duduk tepat di hadapan nya sempat menyadari perubahan mencolok pada warna kulit wajah Elle yang kini memerah malu, ia segera bangkit dari kursi nya dan membalikkan tubuhnya, sembari membawa mangkuk berisi sereal yang belum habis itu menuju washing cupboard, rak khusus yang akan membersihkan sendiri setiap peralatan makan yang kotor. Setelah ia merasa
yakin rona merah yang mencolok di wajahnya telah menghilang, barulah ia kembali ke tempat duduknya, bersama Viktor yang baru saja selesai menghabiskan telur orak arik nya yang ketiga.
"Leo ayo, waktunya kau check up sekarang." Suara Friederich yang memanggilnya dari pintu kantin mengangetkannya.
"Ya..!" Elle segera berdiri dari duduknya. Wajahnya terlihat gembira saat ia melihat Friderich yang tersenyum
penuh semangat.
"Sampai nanti Viktor..!" Elle melambaikan tangan nya sambil berlari kecil mengikuti Friederich ke sebuah pintu.
"Bagaimana terapi penyambungan tulangmu?"
"Baik.. Doc bilang aku tidak perlu terapi tambahan. Hanya perlu check up satu minggu lagi di Prague." Friederich
memelankan langkahnya hanya agar Elle bisa berjalan disampingnya tanpa terburu-buru.
Elle menghela napas lega, ia sempat cemas seandainya terapi nya berakhir buruk.
“Apa kau siap untuk pemeriksaan terakhir?”
Elle mengangguk mengiyakan.
"Sekarang ayo kita turun ke lower ground."
"Apa itu? Aku tidak diperiksa di ruang pemeriksaan yang biasa?"
"Tidak.. Doc sudah menyiapkan pemeriksaan khusus untuk mu dibawah. Di lower ground."
Mereka berdua memasuki lift yang terletak dibelakang ruangan periksa. Saat Friederich menekan tombol tutup pintu lift, lift seketika turun dengan cepat. Dan ketika lift masuk semakin dalam kebawah tanah suhu di lift terasa semakin dingin, Friederich pun melepas atasan seragam kapten nya dan memakaikan nya pada Elle. Wajah gadis itu memerah, ia sangat merasa senang.
__ADS_1
Frienderich mulai terlihat tak tenang ketika monitor menunjukkan angka 20 meter dibawah markas, dan lift belum juga terlihat akan berhenti. Sesuatu dalam insting pejuang nya mengatakan bahwa sesuatu mungkin telah terjadi.
"Apa kita masih jauh?" Elle mulai merasakan rasa dingin yang menusuk ke balik seragam Frienderich yang dipakainya.
“Seharusnya tidak sejauh ini...” Gumam Frienderich tak tenang.
"Umm.. Seharusnya memang tidak perlu sampai sejauh ini..." Tiba-tiba saja suara Doc bergema di dalam lift. Rupanya doc mengaktifkan interphone, ia menghubungi lift dari ruang periksa di lower ground.
"Doc?" Mata Friederich berputar liar mencari arah kamera. "Apa maksudmu?" Tanya friederich, masih belum menemukan letak kamera.
"Ada masalah Friederich.. Mata-mata Gagak Hitam meledakkan bom di ruang pemeriksaan, aku terpaksa meneruskan lift ini tanpa persetujuan mu."
"Apa??!! Brengsek!! Mereka benar-benar nekat!" Friederich menggeram kesal.
"Viktor!! Aku perlu menghubungi Viktor!" Ia merogoh saku celana nya.
"Tenang, Viktor sudah aku hubungi. Ia menuju capsulle sekarang."
"Lift ini akan berakhir di gudang penyimpanan. Kalian harus melalui jalur yang rumit menuju terminal capsulle. Jalur itu akan berakhir di sisi lain dari terminal capsulle. Aku akan mengirim blue print nya ke "blacksheet" mu."
"oke. Thanks Doc." Friederich mengeluarkan sebuah benda hitam dari sakunya, berbentuk seperti papan seukuran sepertiga telapak tangan yang terbuat dari plastik yang mengkilat.
"Oke, sudah kukirim. Aku akan menunggumu di capsulle, bersama Viktor."
Itu adalah kalimat terakhir Doc sebelum akhirnya lift menjadi sunyi senyap. Elle mulai ketakutan saat Friederich mulai terlihat tegang. Dengan menahan dingin ia mengamati Friederich membuka papan hitam kecil itu seperti layaknya handphone flip yang sangat tipis. Ia menduga itulah blacksheet yang Doc maksudkan.
Saat Friederich membuka nya, papan itu otomatis menyala dengan garis-garis biru terang memenuhi permukaan nya.
"Leo, konfirmasi dimana posisi kita sekarang!"
Aku??
"Posisi saat ini adalah lower ground level 3" Benda kecil itu mengeluarkan suara seorang wanita.
"*B*lacksheet terbaru mengeluarkan suara wanita, seri sebelumnya hanya mengeluarkan suara pria.." Friederich menjelaskan sedikit saat ia melihat bagaimana Elle keheranan saat ia menyebut namanya pada benda kecil hitam tersebut.
"Terimakasih Friederich, itu sangat informatif." Dengan tubuh yang mulai gemetaran Elle melipat kedua tangan
nya, matanya memandangi Friederich dengan tatapan protes.
"Bukan itu yang ingin aku ketahui."
"Leo, tampilkan denah menuju terminal capsulle."
Blacksheet memantulkan sebuah hologram peta dari lower ground. Friederich tidak memerlukan banyak waktu untuk memahami peta itu, hanya dengan sedikit melakukan zoom dan rotate ia bisa menemukan rute jalur dari gudang penyimpanan menuju terminal capsulle.
"Leo, tutup denah nya dan hubungkan aku dengan Viktor!" Friederich melipat blacksheet itu dan menggantungkan nya tepat di tepian kerah kaos nya. Sambil menunggu hubungan tersambung Friederich mengeluarkan handgun otomatisnya, ia menyimpan sepasang, terpasang di sabuk celana nya. Ia melepaskan mode pengaman nya dengan sistem fingerprint dan memeriksa peluru nya.
"Leo, berdiri dibelakangku! Lift ini akan segera berhenti."
Dengan ketakutan Elle merunduk dibelakang tubuh Friederich sementara pria itu mengangkat senjata nya tepat kearah pintu lift.
"Apa musuh sudah mencapai tempat ini?" Elle berbisik. Suaranya sendiri nyaris terdengar gemetaran.
Friederich nyaris tersentak ketika ia merasakan dingin nya jemari Elle yang menyentuh punggung nya. Tidak seperti dirinya, juga seluruh orang di negeri ini yang terbiasa dengan dingin nya suhu bangunan di bawah tanah, Elle berbeda. Ia terbiasa hidup dibawah sinar matahari yang hangat.
"Belum, tapi kita tetap harus waspada." Saat lift berhenti dan pintu lift membuka Friederich berjalan perlahan
mendahului Elle, ia memeriksa segala kemungkinan. Setelah ia memastikan keadaan nya aman, ia segera menarik Elle keluar dari lift dan berlari menuju lorong-lorong yang dingin.
"Viktor,tersambung.." blacksheet itu bersuara lagi.
"Friederich, kau dimana sekarang?!" Suara Viktor terdengar panik.
"Aku dan Leo berada di gudang penyimpanan. Bagaimana situasi disitu?" Friederich berjalan dengan waspada, sambil berharap musuh belum mengetahui posisi mereka sekarang.
"Buruk. Markas 3 diserang dari luar dan dalam. Di luar roket menghantam kami nyaris tanpa henti, sementara di dalam mereka meledakkan tiga buah bom sekaligus, di ruang kesehatan, di barak prajurit, di kamarmu, tepatnya, dan di ruang rawat Elleonora."
"Mereka benar-benar tidak setengah-setengah.." Gumam Friederich geram.
"Sebaiknya kau cepat Friederich, bila keadaan memburuk, mereka akan mengosongkan markas ini dan meledakan nya. Keadaan bisa jadi lebih buruk."
"Ya tenang saja. Kami akan segera menyusul, tunggu saja." Friederich tersenyum puas saat ia menemukan lorong yang tepat di persimpangan lorong di depan mereka.
"Hentikan komunikasi" Friederich memerintahkan blacksheet untuk menghentikan panggilan.
Elle tersentak ketika dia merasakan dingin nya lorong itu, terasa lebih dingin dari lorong utama nya. Friederich tidak mengira lorong itu memiliki aliran udara yang cukup kuat dan suhu yang lebih dingin. Berkali-kali ia memandangi Elle dengan cemas. Tapi Elle hanya tersenyum, sambil menahan kedinginan dan ketakutan.
"Bertahanlah Leo, ini tidak akan jauh.."
"Aku tidak apa-apa, ayo kita jalan Friederich.."
__ADS_1
Selama hampir 10 menit mereka berdua berjalan dengan langkah-langkah yang cepat, Friederich berkali-kali melihat denah, hanya untuk memastikan mereka telah berada di jalur yang benar.
"Seberapa jauh lagi Friederich?"
"Sedikit lagi, lorong ini akan membawa kita menuju ke terminal capsulle. Dari situ kita akan menaiki capsulle.
Viktor sudah menunggu kita disana."
"Panggilan dari Viktor.." Tiba-tiba blacksheet berbunyi.
"Sambungkan!"
"Friderich sampai dimana kau? Gagak Hitam telah mencapai terminal capsulle, aku dan Doc sedang menahan
mereka. Sebaiknya kau cepat!" Suara tembakan terdengar jelas, melatarbelakangi suara Viktor yang terdengar tegang.
"Apa yang terjadi?" Ketakutan terdengar jelas dari suara Elle yang gemetar.
"Tidak apa-apa. Hanya sedikit gangguan di terminal capsulle, jangan takut Leo.."
Hanya beberapa lama kemudian tiba-tiba saja Friederich memberi tanda pada Elle untuk berhenti saat ia mendengar suara tembakan yang besahutan di balik ujung lorong yang telah menanti mereka di depan.
"Leo, hubungkan aku dengan Viktor!"
"Viktor sudah terhubung.." blacksheet itu bersuara.
Elle merasa konyol, ia hampir saja mengira Friederich memanggilnya.. Ternyata panggilan itu ia tujukan pada blacksheet nya. Kenapa blacksheet itu harus diberi nama seperti namaku?? Memangnya tidak ada nama lain..
"Viktor aku berada di sisi kanan terminal capsulle. Kami akan segera keluar, lindungi kami!" Segera setelah itu Friederich menghentikan komunikasi. Ia memberi tanda pada Elle untuk bersiap-siap.
"Saat aku bilang "keluar", kau harus segera keluar dari situ. Setelah itu kau harus merunduk dibalik punggungku." Elle mengangguk kaku. Ia terlalu takut dan tegang untuk bertanya apapun.
Dalam hitungan ketiga Friederich berlari keluar dari lorong.
"Leo, ayo cepat keluar!" Friederich meneriakkan kalimat itu sembari membidik dan menembak para Gagak Hitam yang menghalangi jalan nya. Satu tumbang dengan luka tembak di lehernya.
"Viktor lindungi aku!"
Viktor mengangguk dari balik pintu capsulle. Ia memegang sebuah senapan serbu otomatis yang canggih, dan menembakkan nya tanpa ragu. Dari sisi pintu yang lain Doc mengarahkan senapan sniper nya dengan ketepatan yang akurat. Sembari terus menembakkan handgun otomatis di kedua tangan nya Friederich berlari menyebrangi ruangan, sementara Elle berlari dengan merunduk di belakang tubuhnya.
Saat Elle hampir mencapai pintu capsulle, Friederich meraih pinggang nya dan mengangkat tubuhnya, kemudian dengan cepat ia melompat ke dalam capsulle dengan membawa Elle serta. Elle meringkuk di lantai capsulle, kesakitan, sementara Friederich berguling dengan mulus. Ia terlempar dengan keras ke dalam capsulle, pendaratan nya gagal total. Sebelum ia sempat berdiri dengan sendi-sendi yang nyeri, Friederich menggendongnya dan membaringkan nya keatas sofa di ruang tunggu capsulle.
"Viktor nyalakan capsulle nya, kita harus segera pergi dari sini!"
Viktor mengangguk lalu segera berlari ke ruang operator, sementara Doc masih menembak seperti seorang sniper. Elle bisa mendengar pekik kesakitan di luar sana.
"Leo tunggu disini, aku akan meminta ijin pemberangkatan kita" Tanpa menunggu Elle menjawab Friederich berlari ke ruang operator dan meraih tombol radio.
"Disini Kapten Friederich Kuts meminta ijin untuk meluncur. Kode : Red Alert, saya ulangi, Kode : Red Alert. Keberangkatan : Markas 3 Stutgart. Destinasi : Markas Utama ke 3, Nuremberg. Kami membawa Elleonora Seiger, Prajurit Satu Viktor Kuts, dan Kepala Departemen Pengembangan Teknologi Analisis Kesehatan, Kapten Dokter Norman Dekker. Mohon diberikan prioritas segera." Friederich menunggu sesaat.
"Kapten Friederich Kuts mendapatkan ijin untuk berangkat. Jalur sudah disiapkan. Silahkan berangkat. " Operator pria itu menjawab dengan suara yang berat.
Friederich menekan tombol "GO" dengan tak sabar, dan capsulle pun melaju dengan cepat.
"Viktor beritahu pusat situasi yang terjadi, aku akan menemani Leo!"
Tanpa menunggu jawaban Viktor ia berlari kembali ke ruang tunggu penumpang capsulle dan kembali ke samping Elle.
Gadis itu tersentak kaget ketika tiba-tiba capsulle mulai bergerak maju. Seiring dengan itu Doc menutup pintu capsulle dan menyegel nya. Elle masih bisa mendengar suara benturan yang melengking ketika peluru-peluru para Gagak Hitam terpantul dari permukaan capsulle yang sangat kuat, sampai akhirnya capsulle ini mencapai jarak yang terlalu jauh untuk bisa dicapai oleh tembakan-tembakan mereka.
Setelah menyegel pintu capsulle, Doc menghampiri Elle dan memeriksa keadaan nya. Seperti biasa, wajah tenang tapi sinis nya tak terbantahkan.
"Lain kali angkat dia dengan lebih lembut Friederich, kau bisa membuatnya lebam-lebam.. Dia tidak apa-apa, hanya sedikit hipotermia. Pakaikan saja dia selimut atau mantel yang hangat, dan berikan dia minuman yang hangat, coklat hangat."
"Capsulle ini memiliki kabin penumpang, biarkan ia beristirahat disana." Doc menambahkan.
Sekali lagi Friederich menggendong Elle keluar dari ruang tunggu penumpang, ke sebuah kabin yang diisi oleh enam buah tempat tidur susun yang kecil. Di salah satu tempat tidur ia membaringkan Elle dengan hati-hati.
"Capsulle ini memang lebih lebar, karena didesain juga sebagai alat evakuasi." Friederich menjawab keingin
tahuan Elle saat ia memandangi kabin itu dengan keheranan.
"Leo tunggu disini, aku akan mengambilkan selimut untukmu"
__ADS_1