Ich Liebe Dich, Leo!

Ich Liebe Dich, Leo!
Episode 13 Apartemen Friederich


__ADS_3

Saat mereka berbelok di sebuah lorong tiba-tiba saja peluru demi peluru menerjang ke arah mereka. Viktor harus mendorong Elle kembali ke lorong sebelumnya, sambil balas menembak.


"sial! Mereka telah mengetahui rencana kita untuk melarikan diri melalui jalur evakuasi rahasia."


Sebuah luka kecil membentang di lengan Viktor, peluru telah berhasil menyerempetnya.


"kita terpaksa mengambil jalur lain.." Viktor menarik Elle masuk ke lorong yang lain. Ia menyuruh Elle untuk berlari hingga ujung lorong sementara ia akan menjatuhkan penembak misterius itu.


Sebelum Elle mulai berlari tiba-tiba saja sebuah terdengar suara sebuah ledakan besar, yang diikuti dengan guncangan yang membuat lorong itu bergetar. Setelah itu terdengarlah suara sirine di seantero lorong.


"apa itu?!!"


"rudal, roket, entahlah, semacamnya. Kita harus cepat, lorong ini tidak aman!"


Tanpa menunggu aba-aba yang kedua Elle berlari menuju ujung lorong yang berjarak hampir 100 meter, yang berbelok dengan jalur yang menurun. Di ujung lorong ia melihat sebuah lift, disanalah ia harus menunggu Viktor.


Sebelum Elle mencapai ujung lorong tiba-tiba saja ia terjatuh, kakinya terkilir, dan gaun nya sobek. Elle merintih


kesakitan, pergelangan kaki kiri nya benar-benar sakit. Di kejauhan suara tembakan telah terhenti, yang terdengar hanyalah derap kaki yang berlari menuju kearahnya.


Elle benar-benar ketakutan.  Dengan sekuat tenaga ia menyeret tubuhnya sendiri, tidak memperdulikan gaun nya yang sobek parah.


"Elleonora, apa yang terjadi?!"


Elle benar-benar lega ketika mendengar suara viktor. Ia membiarkan pria itu mengangkatnya dan memapahnya masuk ke dalam lift. "aku jatuh, terkilir." bodoh sekali, bisa terkilir di situasi seperti ini..


"bagus.. Friederich pasti akan membunuhku.." Viktor mendesah lelah.


Elle duduk di lantai lift, mengatur napas sembari memegangi kakinya yang terkilir. Sementara Viktor duduk disampingnya, kelelahan.


"apa kau berhasil menjatuhkan nya?" Elle menanyakan penembak yang telah menghalangi jalur evakuasi mereka.


"ya, tapi kita tetap tidak bisa melalui jalur evakuasi itu. Dia sudah merusak lift nya."


"jadi kita akan kemana?"


"apartemen kami." Viktor tersenyum penuh arti.


"aku tidak tahu ada berapa banyak gagak hitam diluar sana, dan aku juga tidak tahu berapa jalur evakuasi yang telah mereka rusak. Daripada aku membahayakan mu dengan mencoba memasuki jalur evakuasi, akan lebih aman membawamu ketempat yang tidak akan mereka pikirkan."


Wajah Elle memerah saat ia membayangkan Friederich beraktivitas di dalam apartemen nya yang sederhana, dengan Viktor di dalam nya.


Tiba-tiba terdengar lagi ledakan yang lebih besar, membuat lift ikut terguncang.


"apa itu Viktor?!"


"itu adalah salah satu alasan kenapa kita harus segera meninggalkan lorong-lorong dan lift ini."


"semoga saja roket-roket itu tidak menghancurkan apartemen kami."


"aku kira roket tidak mencapai kota Nuremberg." sergah Elle.


"salah besar.." Viktor terkekeh.


Ketika lift terbuka Viktor segera memapah Elle keluar, lalu mereka berjalan menuju sebuah jalur yang bertuliskan "apartemen 11"


"gagak  hitam, mereka memiliki roket-roket dan rudal-rudal yang memiliki jangkauan yang jauh, dengan daya ledak yang kuat. Selain stuttgart ada kota-kota lain yang menjadi target roket-roket mereka, salah satunya adalah Nurenberg. Para prajurit kita di markas Nurenberg akan menghalau seluruh serangan roket yang menuju ke kota Nurenberg, kecuali pada jam-jam yang sudah ditetapkan, jam penyerangan"


"dan pada jam yang sudah ditetapkan, markas Nurenberg akan membiarkan seluruh roket dari Magna Germania


masuk ke kota."


"kenapa?"


"karena mereka harus menjaga suhu di atas permukaan pasir diatas markas. Kau tahu kan pasir itu akan menyerap energi ledakan dan menyimpan panas. Ketika pasir itu jenuh dengan energi ledakan, energi panas yang berlebihan akan merusak kemampuan pasir tersebut, juga akan menaikkan suhu dalam tanah. Oleh karena itu mereka harus memberi pasir itu waktu untuk mendinginkan suhu mereka."


"bagaimana dengan kota ini? Aku lihat apartemen-apartemen dipermukaan tanah. Bagaimana dengan mereka??"


"kota ini memiliki sistem evakuasi yang menarik. Pada jam penyerangan sirine akan dinyalakan dan seluruh bangunan di permukaan tanah akan dimasukkan sejauh 50 meter ke dalam tanah. Kalau kau kepermukaan sekarang, kau hanya akan melihat pasir dan permukaan kota yang datar. Semua bangunan menghilang dari permukaan kota."


"seharusnya jam penyerangan memang baru dimulai 20 menit lagi, itu artinya sesuatu yang buruk telah terjadi di markas Nurenberg."


"apa yang kira-kira terjadi disana?" sekali lagi bunyi ledakan membuat Elle takut.


"tidak susah kok untuk ditebak.." Viktor terkekeh.


Viktor membawa Elle masuk ke dalam sebuah pintu, di balik pintu Elle melihat sebuah pintu ganda bertuliskan "apartemen 11". Lorong pendek yang mereka lalui menuju pintu apartemen 11 berbentuk persegi besar yang sangat kokoh, diperkuat dengan pelat-pelat baja diatasnya. Elle sama sekali tidak mengerti bagaimana mereka bisa begitu saja tiba di pintu apartemen 11.


"Friederich sebentar lagi datang. Sebaiknya kau cepat masuk sebelum ia menarikmu pergi." Viktor terkekeh. Ia membawa Elle sampai ke depan pintu kamar apartemen mereka. Ia membuka pintu nya dengan identifikasi retina kemudian menarik Elle masuk.  Lampu di ruangan itu menyala seketika mereka memasuki nya.

__ADS_1


"selamat datang di rumah kami. Silahkan melihat-lihat sesukamu, sebelum Friederich tiba." Viktor nyengir. Ia melemparkan dirinya ke sofa sementara Elle berjalan mengelilingi ruangan.


Elle tak pernah mengira apartemen Friederich akan sehangat ini, dengan banyak ornamen kayu, dan bingkai-bingkai foto. Foto yang pertama diambilnya adalah foto yang dibingkai dengan bingkai perak, foto Friederich


muda, dan dirinya.  Elle tersenyum, ia ingat dengan foto itu, diambil di Prague, di sela-sela jadwal pemeriksaan nya.


"itu foto favorit Friederich. Foto yang paling sering dia lihat dan yang paling sering dia bersihkan."  Viktor


memberitahu nya. Ia berdiri dan berdiri disamping Elle, menemaninya melihat foto demi foto yang terpajang diruangan itu.  Seandainya aku memiliki foto ini, foto ini akan menjadi foto favoritku juga..


Ada foto-foto lain disana, terpampang di atas rak dan di dinding bercat kuning muda, foto Friederich bersama dengan rekan seperjuangan nya, juga foto-foto Friederich bersama Viktor kecil. Elle mengambil foto Friederich bersama Viktor yang baru berumur satu tahun, ia terlihat sangat bahagia.


Tidak pernah terpikirkan olehku, bagaimana Friederich bisa membesarkan anak seorang diri.. Meski terlihat tidak mungkin, saat aku melihat bagaimana Viktor telah tumbuh menjadi remaja yang sangat bisa diandalkan, itu membuktikan bagaimana kesungguhan Friederich. Aku.. Benar-benar ikut merasa bangga..


"akan kuperlihatkan bagian paling menarik dari apartemen ini.”  “bersiap-siaplah milácěk...” ia melanjutkan perkataan nya, sambil membalikkan badan nya dan memandu Elle.


Viktor membawa Elle menuju sebuah ruangan, sebuah kamar. Kamar Friederich. Saat Viktor membuka nya, seketika lampu kamar itu menyala, dan Elle tak bisa menyembunyikan keterkejutan nya.


Elle melihat begitu banyak foto, foto dirinya, terpampang di tembok, dipajang diatas rak dan meja, bahkan digantung dengan senar-senar bercahaya biru. Foto-foto itu diambil diam-diam, beberapa adalah foto yang ia upload ke jejaring sosialnya. Friederich mungkin sudah mencuri foto itu dari jejaring sosialnya.


"foto-foto ini...?" Elle tak tahu harus berkomentar apa. Ini sangat aneh, terlalu aneh.


Kenapa Friederich mengumpulkan foto-fotoku? Apa dia terus mengawasiku diam-diam? Friederich tidak hanya memiliki foto saat kami masih bersama, tapi ia juga bahkan memiliki foto-foto ulang tahunku, foto kelulusan smu ku, bahkan foto hari pertama di sekolah pertama ku..


"Friederich sangat terobsesi dengan mu.. Hanya itu yang bisa kukatakan padamu. Selebihnya, harus kau tanyakan sediri padanya." ”meski aku ragu dia akan menjawabnya..” Viktor menambahkan.


Wajah Elle seketika memerah, ia memandangi Viktor dengan tatapan tidak percaya.


Friederich..? Terobsesi denganku..? Tidak mungkin..


Viktor tersenyum, mengiyakan apapun yang Elle pikirkan. Kemudian ia menyandarkan tubuhnya ke tembok, sembari memandang ke arah pintu. Sepertinya ia menunggu seseorang. Tiba-tiba terdengar suara pintu apartemen yang terbuka, diikuti oleh suara derap kaki yang terburu-buru dan suara Friederich yang terdengar panik.


"Viktor aku terima pesanmu! Bagaimana luka Leo, apa parah!?"


Friederich membeku di depan pintu kamar nya, ia tidak hanya menemukan Elle yang tidak terluka, tapi juga melihat


gadis itu di dalam kamar nya. Lalu ia melihat Viktor yang tersenyum puas.


"Friederich..?" Panggil Elle.


Seketika wajah Friederich memerah padam, sebelum Elle bisa bertanya, ia pergi dengan terburu-buru.


"Friederich tunggu..!!" Elle berlari mengejar Friederich yang berjalan ke pintu keluar bahkan tanpa memandang wajah nya.  "Friederich kumohon tunggu..!!" ada banyak hal yang ingin kutanyakan.. Kumohon jangan pergi..


"Friederich kumohon.. Jangan pergi.." Elle menggedor pintu apartemen dengan kedua tangan nya, ia berharap Friederich tidak lari lagi darinya. "jangan pergi.. Jangan lari dariku.." Elle bisa merasakan nya, ia bisa merasakan tubuh Friederich yang bersandar di balik pintu yang memisahkan mereka. Ia bisa mendengar napasnya yang terengah dari balik pintu.


"Friederich.. Please.." beri aku.. Beri aku jawaban.. Katakan lah sesuatu..kumohon..


Butuh beberapa saat bagi Friederich untuk menenangkan dirinya, sebelum akhirnya ia menyerah dan membuka pintu itu dari balik punggungnya.


"Friederich.." bisik Elle lembut.


Dengan perlahan Elle menyelisipkan ke dua tangan nya,melalui kedua sisi tubuh Friederich, dan memeluk pinggang nya dengan erat. Saat ia menyandarkan


tubuhnya ke punggung Friederich, ia bisa merasakan ketegangan di


sekujur tubuh Friederich.


Elle tak pernah bermimpi akan bisa memeluk tubuh Friederich seperti ini sebelumnya, dengan emosional dan kuat. Tak pernah ia


mengira tubuh kekar itu akan terasa begitu panas dan kuat, tapi sekaligus


nyaman dan menenangkan. Dari balik punggungnya ia bisa merasakan


napasnya yang mendesah, juga jantungnya yang berdegup kencang. Jantungnya


sendiri berdegup kencang dan kuat, sangat kuat hingga rasanya ia yakin Friederich akan dapat merasakan nya juga.


Friederich mendesah, beberapa kali, seolah ia tak bisa bernapas dengan baik. Wajahnya memerah padam, juga terasa sangat panas, hingga ia hanya bisa menunduk malu. Ia tak berani membalikkan badan nya dan menatap Elle dengan kedua matanya, ia bahkan tak berani menghadapi Elle yang kini memeluknya dengan erat.


Ia menahan dirinya sendiri untuk berlari dan meninggalkan Elle, karena itu hanya akan membuat Elle terluka. Disaat yang sama ia juga menahan dirinya sendiri untuk memeluk nya. Pada akhirnya yang bisa ia lakukan hanyalah tetap diam dan bungkam. Meski demikian, dengan ragu ia mengangkat kedua tangan nya yang tergantung kaku


dikedua sisi tubuhnya, dan menyentuhkan jemarinya dengan jemari Elle yang terkait erat di pinggang nya. Dengan perlahan ia menyusurkan jemarinya, membelai lembut jemari Elle dengan jemarinya sendiri, berulang-ulang kali, hingga hatinya terasa tenang.


Sepertinya Friederich sudah terlihat lebih tenang sekarang. Elle bisa merasakan napas Friederich yang teratur,


juga debar jantung nya yang mereda. Ia juga bisa merasakan otot-otot Friederich yang merileks dibalik kostum hitam-hitam nya.


"Friederich, kau tertembak?"

__ADS_1


Elle tersentak saat ia melihat noda darah yang menempel di atasan gaun nya. Saat Elle melepaskan pelukan nya, Friederich menggenggam salah satu jemarinya, seolah diam-diam ia tak ingin gadis itu melepaskan pelukan nya. Darah itu merembes dari kostum Friederich yang hitam, ke gaun nya sendiri


"Viktor! Friederich terluka! Cepat lakukan sesuatu!" Elle mulai panik sekarang. Meski ia tahu Friederich tidak merasakan sedikitpun rasa sakit, ia takut tembakan itu mengenai bagian vital dari tubuhnya.


Dengan enggan Friederich membiarkan Elle menariknya masuk ke dalam rumah, mendudukkan nya di kursi dapur, dan membiarkan Viktor merawatnya. Saat Friederich membuka kostum hitam nya, Elle melihat dua buah luka tembak. Satu di bahu, sudah terpasang perban tapi masih meneteskan darah dengan liar. Satu lagi di lengan atas nya, luka tembak baru yang ia dapatkan dari konfrontasinya bersama para pengawal pangeran. Viktor mengambil kotak medikasi darurat dari atas lemari, dan mengeluarkan beberapa benda yang ia butuhkan.


"Leo, maukah menunggu di sofa ruang keluarga? Aku tidak ingin kau ketakutan dengan memaksakan diri menemaniku disini selama Viktor membersihkan dan merawat lukaku." Friederich dengan halus mengusirnya pergi,


ada beberapa hal yang ingin ia selesaikan dengan Viktor. Viktor sendiri terlihat memucat. Senyuman


puas nya telah menghilang jauh sejak tadi. "lagipula kau perlu membersihkan dirimu.  Semua orang akan panik melihatmu berlumuran darah seperti ini." ia menambahkan.


Dengan enggan Elle meninggalkan Friederich, tapi alih-alih menunggu di sofa ruang keluarga, ia  pergi ke kamar Frienderich. Ia memandangi setiap foto dirinya yang tertempel di dinding dengan takjub. Semua itu adalah fotonya, foto dirinya. Friederich menghabiskan malam-malam nya dengan memandangi foto-foto ini, ia menghabiskan 14 tahun nya dengan memuja nya dengan hanya melalui foto-foto ini. Wajah Elle memerah. Membayangkan semua itu membuat Elle merasa malu, juga sangat bahagia.


Apa ini artinya Friederich mencintaiku? Kalau begitu, kenapa ia bersikap dingin, bahkan pergi ketika aku mengucapkan hal itu? Kenapa dia bersikap aneh? Apa yang sebenarnya dia pikirkan..?


Seolah tahu Elle tidak akan diam begitu saja menunggu di sofa ruang keluarga, setelah selesai merawat lukanya Friederich berjalan ke pintu kamarnya, dan menemukan Elle disana, masih terkesima dengan pikirannya sendiri. Noda darah yang sempat mengotori baju nya kini  mulai pudar, gadis itu pasti telah berusaha membasuhnya dengan air, meski tidak berakhir sukses. Dengan ragu Friederich masuk ke kamar nya, ia hampir-hampir tak mampu menatap Elle secara langsung. Ia duduk di tepi tempat tidurnya, hanya berani memandangi jemari kaki elle yang kukunya di cat dengan warna peach yang cantik. Ia tahu Elle akan meminta penjelasan darinya, dan itu membuatnya semakin gugup.


"lukamu, apa sudah baikan?"  ada begitu banyak pertanyaan, hanya saja Elle tak tahu harus memulainya dari mana. Mungkin memulai dari membicarakan luka akan membuat suasana tegang dan grogi ini sedikit mencair.


"Viktor sudah memasangkan patch antikoagulan, perdarahan nya sudah berhenti. Tapi aku masih harus menemui


doc untuk menutup luka nya."


"tidak sakit sama sekali?" Elle menyentuh bahu kekar itu dengan jari nya. Lengan, dada dan bahunya sudah bersih dari noda darah, dan menyisakan dua stiker perban kecil.


"tidak.. " Friederich menggeleng.


"apa ada yang ingin kau katakan padaku?"


Friederich tersentak kaget, ia menelan ludahnya dan tak mampu bicara apa-apa. Lidahnya kelu dan tenggorokan nya terasa sangat kering. Ia menunduk dengan kaku, tak bisa menjawab apapun.


Kenapa..? Kenapa reaksimu begitu negatif? Apa sedikitpun kau tidak bisa mengatakan alasan nya? Apa begitu sulit untuk berterus terang?  Kenapa kau selalu membuatku bingung?


"aku sangat lega. Ternyata kau tidak menyimpan perempuan di rumahmu.." Elle menambahkan.


"apa? Konyol sekali.." Friederich terkekeh.


"tapi kau menyimpan sesuatu yang lain..kau menyimpan foto-foto ku."


Friederich menelan ludah nya, saat ia memberanikan diri untuk menatap wajah Elle, gadis itu tersenyum padanya. Ia tahu gadis itu mengharapkan jawaban.


"itu.." Friederich berpikir keras, ia harus mengatakan sesuatu untuk memuaskan Elle tanpa harus membiarkan gadis itu mengetahui jawaban yang sebenarnya.


"karena aku menyayangimu seperti seorang ayah....” Friederich menelan ludahnya sekali lagi, dengan sangat pahit. Kebohongan nya kali ini terlihat sangat mutlak.


"apa..?" Elle terlihat syock. Tidak mungkin.. Friederich tidak serius khan?


"kau.. Tidak mungkin hanya menganggapku sebagai anak..kan??"


Katakan kalau kau cuma bercanda.. Katakan kalau ini cuma lelucon.. Please.. Jangan buat aku patah hati lagi..


Friederich mengangguk pelan, mengiyakan. Seketika Elle merasa hancur, merasa seperti sedang terjatuh dari tebing yang tinggi, ke jurang yang tidak berdasar. Dari semua hal buruk yang pernah terpikir di kepalanya, apa yang Friderich baru saja katakan bukan salah satunya. Elle tak percaya ia telah salah mengartikan seluruh perhatian Friederich padanya. Elle tak percaya pria itu telah mempermainkan nya seperti mainan, mempermainkan perasaan nya tanpa ampun dan kemudian menghancurkan nya.


"oh.. Jadi begitu?"  suara Elle serasa tercekat di tenggorokan nya.


Sudah cukup.. Aku sudah merasa cukup dengan kekonyolan ini.. Aku tidak ingin menjatuhkan harga diriku lebih jauh lagi.


"begitulah.." Friederich memaksakan diri untuk terkekeh, tapi wajahnya terlihat kaku.


Tiba-tiba saja tawa Friederich yang terkekeh tidak lagi terasa lucu, sebaliknya, pahit dan menyakitkan.


Kau tidak boleh menangis Elle.. Kau tidak boleh menangis.. Menangis hanya akan membuatmu terlihat lebih menyedihkan. Aku bisa melalui ini.. Ya, aku pasti akan bisa melalui ini..


Elle terdiam, seluruh ekspresi wajahnya menghilang, digantikan oleh tatapan sedih yang kosong. Friederich hanya bisa menyesali kata-kata nya saat ia melihat perubahan wajah Elle. Seketika dadanya sekali lagi terasa sakit..


Elle berjalan dengan perlahan menuju pintu kamar, meninggalkan Friederich dengan hati yang hampa. Ini adalah patah hati nya yang ketiga.. dan ia merasa lebih kacau dari sebelumnya. Ia mengernyit ketika tiba-tiba saja ia merasakan kepalanya seperti ditembus oleh benda yang tajam, membuatnya sedikit limbung. Elle harus merentangkan sebelah tangan nya di dinding, hanya agar bisa tetap berdiri tegak dan bertahan dari sakit hati


dan sakit kepala nya.


Dari sudut matanya ia melihat friederich berdiri, terlihat sangat bersalah dan khawatir. Pria itu mungkin memperhatikan tubuhnya yang agak limbung, karena itu dia terlihat khawatir. Sebelum ia bisa berjalan menghampiri nya, elle segera memanggil viktor dengan suara yang parau.


"viktor, bisakah kita kembali? Kepalaku sakit sekali.."


Viktor yang berdiri di balik dinding terlihat muram, di wajahnya ada lebam baru yang akan segera hilang. Saat elle memanggilnya, ia menoleh pada friederich dengan tatapan yang menyalahkan, kemudian menghampiri elle dan memapahnya keluar dari apartemen itu tanpa menunggu friederich.


”maafkan aku elle... seharusnya tidak berakhir begini...” viktor terlihat menyesal, disaat yang sama ia terlihat kesal.


”tidak.. ini bukan salahmu..” bisik elle. Rasanya ia tak mampu berkata lebih banyak lagi. Tidak ketika ia harus menahan diri untuk tidak menangis dan meraung seperti seorang anak kecil.

__ADS_1


 


milácěk = sweetheart


__ADS_2