
”Friederich..!” Elle mencengkeram punggung baju Friederich dengan kuat.
Tidak.. kumohon jangan tembak.. Elle mulai terisak.
”Apapun yang terjadi, aku akan melindungimu Leo.. aku sudah berjanji padamu. Dan aku akan menepatinya..” Friederich mengangkat kedua handgun nya. Ia tahu Ridnik tidak akan ragu, ia tahu Ridnik akan benar-benar
melakukan apa yang dikatakannya. Ia tahu Ridnik akan benar-benar melakukan ancaman nya.
”Bila aku harus mati, tak akan kubiarkan aku mati sendiri. Aku akan membunuhmu juga Ridnik..” Friederich tersenyum, apapun yang ia rencanakan ia terlihat sangat mantap dan yakin. Ia menggenggam handgun nya dengan kuat, ia siap menembaknya, seperti juga Ridnik siap menembakkan senapan serbu nya.
Tidak .... Friederich jangan... kumohon... “Kau tidak harus berkorban untukku Friederich..”, bisiknya, begitu putus asa dan ketakutan.
“Kau keras kepala dan bodoh.. seperti biasa...” Ridnik menyeringai. Sama seperti Friederich, ia pun mantap dan yakin dengan keputusan nya. Sama seperti Friederich, pria ini pun tidak sedikitpun takut dengan kematian.
”Hum... disitulah keistimewaanku.” Friederich menyeringai.
Sebelum Elle bisa menarik napas nya dan membujuk Friederich untuk tidak berkorban untuknya tiba-tiba saja keduanya menembak dengan bersamaan. Peluru demi peluru ditembakkan dalam waktu yang bersamaan,
dua handgun yang dipegang Friederich dengan kedua tangan nya, yang ia tekan pelatuk nya lagi dan lagi, dan senapan serbu yang dipegang oleh Ridnik, yang memuntahkan lebih banyak peluru dalam setiap menitnya.
Peluru-peluru mereka saling menerjang tanpa ampun, beberapa meleset, tapi lebih banyak lagi yang tepat.
”Friederich...!! Tidaaak...!! Kumohon Friederich..!!”
Elle menangis, ia berteriak dan menjerit. Ia meringkuk dibalik tubuh Friederich yang menjulang dengan kokoh
melindungi nya. Ia bisa merasakan, kekakuan pada seluruh otot Friederich. Ia bisa merasakan bagaimana tubuh itu menahan diri untuk tetap berdiri dengan seluruh peluru yang melubangi tubuhnya. Satu-satu nya hal yang
masih membuat Friederich hidup dan berdiri sampai detik ini dibawah teror peluru adalah Elle, dan baju serat baja
yang digunakan nya. Tapi baju itu tak akan bisa menahan semua terjangan peluru.
Suara tembakan yang terdengar nyaris tanpa henti membuat Elle merasa putus asa. Suara peluru yang menembus tubuh Friederich membuatnya ingin menjerit dan menangis sekuatnya. Suara erangan Friederich yang lamat-lamat serasa mencakar jiwanya, melukainya lebih dari apapun. Dan yang bisa ia lakukan hanyalah mencengkeram punggung baju Friederich. Yang bisa ia lakukan hanyalah berdoa dan memohon pada Tuhan. Di dalam salah satu ruangan di gereja tua yang nyaris hancur itu ia memohon dan berdoa, agar tuhan membiarkan Friederich hidup.. agar Tuhan membiarkan mereka berdua hidup.
Tuhan... kumohon... selamatkan lah Friederich.. selamatkan lah kami berdua..
Suara tembakan yang beruntun, juga teriakan dan jeritan Elle di kejauhan membuat Doc maupun Viktor terkejut setengah mati. Tanpa mengindahkan musuh yang masih bersembunyi dan menembak mereka, Doc berlari menaiki bukit dimana gereja tua itu berdiri. Wajahnya terlihat sangat cemas. Ia tak pernah mengira Gagak Hitam itu akan menyembunyikan diri nya di dalam gereja tua. Ia tak pernah mengira akan mendengar suara tembakan yang begitu dahsyat dan beruntun. Dan ia tak pernah mengira akan mendengar suara jeritan Elle yang begitu pilu dan sedih. Tapi saat Doc muncul di balik pintu gereja yang melengkung semua sudah terlambat.
Friederich menahan napasnya. Tidak, ia memang sudah kehabisan napasnya. Ini adalah napasnya yang terakhir. Saat Ridnik melompat kebalik patung Bunda Maria besar dan berlindung di baliknya Friederich kehilangan kesempatan untuk membunuhnya.
Tidak ada gunanya ia terus menembak seperti ini, Ridnik selalu bisa menghindar ke balik patung Bunda Maria besar yang melindungi nya, sementara dirinya, nyaris defensless. Tak ada yang bisa Friederich lakukan selain
menjadi tameng hidup bagi Elle, tak ada yang bisa Friederich lakukan selain bertahan untuk tetap hidup dan berdiri sampai Doc datang, atau sampai peluang tercipta dalam sebuah keajaiban.
Selama sesaat yang sangat singkat itu Friederich tiba-tiba saja menyadari, alasan besar dibalik tragedi buruk yang
dialami nya 20 tahun yang lalu, yang membuat dirinya kehilangan seluruh sensasi nyeri dalam tubuhnya. Dan
alasan besar itu adalah Elle.
Takdir telah membuatnya kehilangan seluruh sensasi nyeri nya, dan takdir juga lah yang telah mempertemukan nya
dengan Elle. Siapa yang pernah menyangka bahwa alasan kenapa Tuhan mencabut seluruh sensasi nyeri nya adalah ini...Semata-mata hanya untuk saat ini. Untuk melindungi Elle, wanita paling berharga dalam hidupnya, cinta nya yang sejati.
Friederich ingin sekali tersenyum, menyadari bahwa dirinya memang tercipta untuk melindungi Elle, hanya untuknya. Ia benar-benar bersyukur. Mengorbankan dirinya untuk Elle adalah hal yang paling ingin ia lakukan seumur hidupnya, meski ia tahu itu akan membuat Elle menderita dan sedih.
__ADS_1
Ia akan menahan semua peluru itu demi Elle, ia akan menahan semua nya, meski semua peluru itu melemahkan nya, menghancurkan tubuhnya, dan membunuhnya perlahan-lahan.
”Friederich!!”
Suara teriakan Doc dari ambang pintu membuat Friederich, Elle, maupun Ridnik terkejut.
Reflek, dengan gerakan yang sangat cepat Doc mengangkat senapan nya dan menembak Ridnik. Ridnik terjatuh
dengan satu kakinya, ketika Doc dengan tepat membidik persendian kaki nya, dan menghancurkan sendi nya. Tepat disaat Ridnik terjatuh dan perhatian nya teralih oleh kedatangan Doc, Friederich menggeser sedikit sudut handgun nya dan menembakkan peluru nya tepat ke kepala Ridnik. Pria berambut merah itu menghantam lantai gereja dengan kuat, terkulai tak berdaya dengan kepala yang berlubang.
Friederich menghela napasnya, suara napasnya terdengar sangat keras dan kasar, seolah ia tidak lagi menghembuskan napas dengan kedua lubang hidungnya. Kedua handgun nya terjatuh ke lantai batu yang dingin, handgun itu berwarna merah darah sekarang.
Friederich menarik napasnya sekali lagi, suaranya terdengar sangat parau dan kasar, seolah ia sedang tersedak.
Hanya sesaat setelah itu Friederich kehilangan keseimbangan nya dan tumbang.
”Friederich...!” pekik Elle, tak kuasa menahan tubuh Friederich yang tumbang.
Doc berlari dan menangkap tubuh Friederich sebelum tubuh berlumur darah itu benar-benar menghantam lantai batu, wajahnya terlihat pucat dan frustasi. Doc membaringkan tubuh Friederich di lantai batu sementara ia membongkar ransel nya dengan panik, mencari sesuatu untuk menolong Friederich.
”Friederich...” isak Elle. Ia menggenggam jemari Friederich yang gemetar, sementara jemarinya sendiri gemetaran begitu kuat.
Elle tak bisa lagi membendung tangis nya. Tubuh itu benar-benar dilumuri oleh darah, peluru-peluru yang dimuntahkan oleh senapan Ridnik benar-benar melubangi seluruh tubuhnya. Darah menelisip keluar melalui lubang-lubang yang menganga, membentuk sungai kecil yang tak bisa dihentikan. Melihat Friederich yang terkapar
tak berdaya membuat Elle benar-benar terluka. Rasanya ia tak tega untuk melihat bagaimana luka-luka yang Friederich alami. Rasanya ia bahkan tak tega untuk melihat betapa banyak darah yang telah tertumpah di lantai batu gereja.
Kumohon.. Bertahanlah Friederich... Doc akan menyelamatkanmu. Doc akan menyembuhkanmu..
Friederich memandangi Elle dengan tatapan yang lembut. Ia berusaha untuk tersenyum lega, meski ia tidak bisa lagi merasakan gerakan bibirnya. Ia benar-benar merasa lega karena gadis itu tak terluka sedikitpun. Mungkin satu-satunya hal yang terluka adalah hatinya..
“Ayah..!!“
Viktor kehilangan seluruh tenaga nya saat ia melihat ayahnya, berlumur darah dan terluka demikian parah. Ia terjatuh dengan kedua lututnya, merangkak dengan tertatih menuju ayahnya yang berbaring diantara Elle dan Doc. Air mata menggenangi kedua matanya dengan perlahan, dan membasahi kedua pipinya seperti aliran air sungai
yang kecil.
Ini adalah pertama kalinya aku mendengar Viktor memanggilnya Ayah.. Aku.. Aku merasa sangat bersalah. Aku telah membuat Friederich terluka.. Aku telah membuat Doc ketakutan.. Dan aku telah membuat Viktor sangat bersedih..
”Viktor jangan cengeng! Ayo bantu aku menghentikan perdarahannya!!” Doc meneriaki Viktor yang terlihat sangat syok. Doc mengoyak baju Friederich, dan seketika wajahnya memucat seperti mayat.
”Sial...! Sial...! Sial..!” ia menggelengkan kepalanya, dengan keputus asaan yang tergambar jelas di wajahnya. ”Terkutuk kau Ridnik..!!”
Dengan frustasi ia menempelkan patch antikoagulan di seluruh dada dan perut Friederich, tapi dengan cepat patch itu digumpali oleh darah yang kental. Patch itu tak mampu menahan perdarahan yang menggila dari berbagai pecahan organ perut Friederich.
”Tahan perdarahan nya! Aku akan coba memasangkan selang di bahu nya! Mudah-mudahan pembuluh darahnya belum kolaps..”
Friederich ingin sekali menyentuh wajah Elle, menyapu air mata yang membasahi kedua pipinya seperti sebuah jeram. Tapi ia tak bisa.. Tak satupun bagian tubuhnya bisa ia gerakkan, tidak juga satupun otot tubuhnya. Seluruh tubuhnya terasa berat tapi ringan disaat yang sama, seolah seluruh tubuhnya telah kehilangan seluruh kekuatan nya dan menyerah pada kekuatan yang lebih tinggi.
Mungkin kah ini akhir dari hidup ku? Friederich bertanya-tanya dalam kebisuan.
Jangan menangis Leo.. Kau harus kuat, kau harus tegar... Seperti batu karang. Mengenalmu, adalah hal terindah dalam hidupku.. Bersamamu, adalah masa-masa paling membahagiakan dalam hidupku.. Dan kau, adalah mahluk tercantik, paling mempesona, paling indah, luar biasa dan tak ada duanya yang pernah singgah di hatiku. Mencintaimu adalah sebuah anugerah yang tak akan bisa tergantikan oleh apapun. Mencintaimu akan menjadi hal terakhir yang akan selalu kuingat di akhir kehidupanku.
Ich liebe dich Leo... Ich liebe dich mit ganzen herzen...
Perlahan-lahan bayangan Elle di kedua matanya mengabur, tapi sebuah bayangan lain muncul kemudian
__ADS_1
dalam otaknya. Gadis kecil yang amat manis, berambut gelap dan ikal tersenyum padanya, berlari dengan riang di padang bunga yang indah. Sebuah danau kecil menanti mereka diujung padang bunga, berkilau dengan ramah dibawah sinar matahari Stuttgart.
”Leo... *M*ein schatz..” panggilnya. Betapa ia merindukan masa-masa indah itu..
Gadis itu berhenti, menunggunya dengan tangan yang terulur. ”Friederich schatz.. Ayo cepat kita pergi..”
”Kau janji mengajakku berenang di danau..” ia menambahkan.
Friederich tersenyum, sangat bahagia. Tanpa ragu ia melangkah, menembus padang bunga yang indah dan meraih gadis kecil itu dalam pelukan nya. Tubuh kecilnya bergelung lucu di dalam pelukan nya, seperti kucing kecil yang manja.
”Ya... Ayo kita pergi.. Leo, mein schatz..”
Dengan langkah-langkah yang lebar ia menembus padang bunga dan berjalan menuju danau di ujung padang bunga.”Kita akan berenang bersama.. Setelah itu aku akan menangkapkan berang-berang untukmu..”
”Berang-berang yang paling besar! Yang giginya paling besar!” pekik gadis kecil itu girang.
”Tentu saja Leo.., yang paling besar dan galak..” Friederich tertawa, terlihat sangat bahagia.
”Apapun.. Untukmu...”
”Bertahanlah Friederich.. Kumohon.. Aku tahu kau sangat kuat..” bisik Elle di dekat telinga Friederich. Entah apa Friederich masih bisa mendengarnya. Pria itu hanya terdiam, dengan masih hanya memandangi Elle dengan kedua matanya yang mulai meredup. Ia tak bersuara sedikitpun, tak bergerak sedikitpun, hanya dada nya, yang bergerak sesekali dengan perlahan. Sampai akhirnya kedua mata Friederich kehilangan sinarnya dan napasnya yang satu-satu dan tersengal terhenti sama sekali.
”Tidak...Friederich tidak...!! Jangan tinggalkan aku...” isak Elle, begitu putus asa dan kehilangan.
”Ayaah....!!” pekik Viktor.
”Cardiac arrest ! Cardiac arrest !” dengan panik Doc mengambil tube obat dari kotak obat kegawat daruratan dari ransel nya dan menyuntikkan nya ke dada Friederich.
Jangan mati Friederich.. Kumohon jangan mati… Aku belum sempat mengatakan bahwa aku mencintaimu.. Aku belum sempat mengatakan betapa berartinya dirimu untukku. Aku belum sempat mengatakan betapa bahagia nya hari-hariku bersamamu.
Kumohon Friederich... Jangan mati.. Hidupku.. Tak akan pernah berarti tanpamu..
Elle mencium jemari itu dengan lembut seolah pria itu masih sehidup sebelumnya. Ia membelai jemari itu dengan lembut seolah pria itu masih bersamanya, bernapas bersamanya.
Ia menempelkan jemari yang mulai mendingin itu dengan penuh cinta di pipinya, seolah ia berharap jemari itu akan
bergerak dan balas membelai nya seperti yang biasa dilakukan nya. Dengan pandangan nya yang kosong dan buram oleh air mata ia memandangi Doc, yang dengan frustasi berusaha memompa kembali jantung Friederich, dan Viktor yang dengan frustasi berusaha menekan perdarahan yang mengalir bagai sungai dari lubang-lubang peluru di perut dan dada Friederich.
”Ayo bangun Friederich!! Ayo bangun bodoh!! Aku tak pernah mengijinkanmu mati!!!!”
Ich liebe dich mit ganzen herzen = i love you with all my heart
Mein schatz = my sweetheart
__ADS_1