Ich Liebe Dich, Leo!

Ich Liebe Dich, Leo!
Episode 9 Pengakuan Cinta


__ADS_3

Perjalanan dari Markas Stuttgart menuju Markas Nuremberg memakan waktu lebih lama daripada perjalanan mereka dari bunker Black Forest menuju Markas Stuttgart. Friederich memberi Elle waktu untuk tidur selama beberapa jam sebelum akhirnya ia membangunkan nya karena mereka telah hampir tiba di Markas Nuremberg. Dengan malas Elle mengikuti Friederich dan menunggu di sofa ruang tunggu, tempat Doc bersantai dengan blacksheet nya.


"Tunggulah disini, aku akan ke ruang operator. Kita akan segera sampai di Nuremberg." Friederich meninggalkan Elle di ruang itu bersama Doc, sementara ia bergabung bersama Viktor di ruang operator.


"Kau kelihatan sehat, sweetheart.." Doc menghampiri Elle dan memeriksa panel di pergelangan tangan Elle.


"Sungguh melegakan, si bodoh itu sudah merawatmu dengan baik.." Doc tersenyum puas. Ia melirik Friederich dan menemukan pria itu mencibirnya dengan wajah yang memerah.


Ia melepaskan panel itu dari pergelangan Elle dan memasukkan nya ke dalam saku baju nya, kemudian duduk di sofa yang berseberangan dan mencatat di blacksheet nya dengan pena kecil yang bisa dilipat.


Tak lama kemudian capsulle memelan dan berhenti. Viktor keluar dari ruang operator,  membuka segel pintu  capsulle dan membuka nya. Tidak seperti di Markas 3, ketika pintu capsulle terbuka, empat orang prajurit


bersenjata lengkap telah menjaga jalan keluar menuju lift. Saat Friederich berjalan keluar dari capsulle, diikuti oleh Elle dan Doc, para prajurit itu memberi mereka salam hormat yang kaku.  Friederich berjalan lebih dahulu, memasuki lift yang telah menunggunya, sementara Viktor sudah berada di dalam, menunggu mereka. Doc di belakang mereka, memberi instruksi pada para prajurit.


 "Prajurit, bawa mayat gagak hitam itu ke ruang otopsi, secepatnya!"


Para prajurit itu mengangguk bersamaan, lalu berlari ke dalam capsulle.


Saat Doc memasuki lift, pintu segera menutup dengan otomatis, dan lift segera naik. Ketika monitor menunjukkan angka 40 meter lift berhenti dan pintu lift otomatis terbuka. Enam orang tentara bersenjata lengkap telah menunggu mereka di depan pintu lift. Ketika Friederich melewati pintu lift, mereka semua serentak memberi hormat dengan kaku. Setelah berjalan melalui lorong yang berliku dan dijaga oleh tentara di setiap persimpangan nya, akhirnya mereka sampai di sebuah lift yang akan membawa mereka ke terminal capsulle yang lain, bukan terminal capsulle yang sama ketika mereka tiba di Markas Utama ke Tiga Nuremberg, melainkan capsulle khusus yang akan membawa mereka memasuki kota Nuremberg. Setelah memasuki capsulle dan menyegel pintu nya Doc segera pergi ke ruang operator,  diikuti oleh Viktor, sementara Elle dan Friederich duduk di sofa ruang tunggu.


"Disini Kepala Departemen Pengembangan Teknologi Analisis Kesehatan, Kapten Norman Dekker, memohon izin untuk meluncur. Destinasi : Fasilitas Pengembangan Teknologi Kesehatan dan Militer Cabang Nuremberg." Sebelum operator menjawab nya ia berjalan kembali ke ruang tunggu capsulle dan membiarkan Viktor menyelesaikan sisanya.


Elle sempat tertegun menyadari betapa singkatnya perjalanan dari Markas Nuremberg menuju kota Nuremberg, tidak sampai 30 menit. Dan ketika capsulle terhenti, mereka segera berjalan meninggalkan capsulle menuju lift yang telah menunggu mereka. Kali itu pintu lift tidak terbuka dengan otomatis, Friederich memberi Doc ruang untuk membuka lift itu untuk mereka. Saat Doc memasukkan kode di panel angka di dinding lift, sebuah layar kecil berbentuk persegi panjang setinggi kepala langsung mengeluarkan sinar biru yang memindai wajah dan kepala Doc.


"Selamat datang kembali Kapten dokter Norman Dekker dari Departemen Pengembangan Teknologi Analisis Kesehatan. Authorisasi telah diberikan." Lift itu mengeluarkan suara perempuan. Seketika pintu lift terbuka dan mereka semua melangkah ke dalam nya.


Elle belum pernah ke kota Nuremberg sebelumnya, ini akan jadi kunjungan nya yang pertama. Sistem keamanan yang berlapis di pintu lift membuat Elle kagum. Bahkan ketika mereka memasuki Markas Utama Ketiga pun tidak terdapat pengamanan seperti ini.


Ketika lift berhenti dan pintu lift terbuka, sebuah pintu menghalangi mereka. Doc lagi-lagi maju lebih dulu, sekali lagi ia memasukkan kode rahasia di panel angka. Tidak hanya itu, pintu itu juga memerlukan kesesuaian sidik jari,


pengenalan suara dan deteksi retina. Setelah semua sesuai, barulah pintu tersebut terbuka.


"Selamat datang di Fasilitas Pengembangan Teknologi Kesehatan dan Militer cabang Nuremberg." Doc terlihat nyaman kembali ke tempat yang sangat familiar baginya.


"Tempat ini memiliki fasilitas keamanan yang bagus, nyaris mendekati paranoid.. Jadi, kau bisa merasa aman milácěk."


"Kamera keamanan di berbagai sudut, authorisasi yang ketat di berbagai pintu, semua ini sempurna untuk Elleonora. Ia akan aman berada di tempat ini." Doc menambahkan.


"ia akan lebih aman bila berada di Prague." Friederich menyergah.


"Tentu saja. Jangan samakan fasilitas laboratorium nanggung ini dengan Prague. Paling tidak, sampai dengan saat


ini, tempat ini adalah tempat paling aman di Nuremberg."


"Aku akan membawa kau dan gadismu ke kamar perawatan khusus." Doc melirik ke arah Friederich."Dan Viktor, aku terpaksa harus memberimu kamar di asrama pegawai."


Gadismu? Apa aku terlihat seperti gadisnya Friederich??


Pipi elle merona merah dan memanas hingga ia harus menutupinya dengan kedua tangan nya.


Doc tersenyum puas, lalu saat ia menatap Friederich, senyuman nya berubah penuh arti. Friederich menatapnya dengan tatapan "Jangan bertindak macam-macam denganku.." , tapi Doc terlalu kebal dan terlalu dingin untuk bisa di  intimidasi. Alih-alih ketakutan ia malah terkekeh dan merasa puas.


Setelah melewati lorong-lorong yang rumit dan berliku, dan melewati pintu-pintu berkeamanan berlapis yang terasa


mengintimidasi, akhirnya mereka tiba di ruang kerja Doc. Dari ruangan itu mereka bisa melihat ruang kerja departemen teknologi analisis kesehatan yang terletak lima meter dibawah mereka, laboratorium-laboratorium berdinding baja, meja-meja kerja yang dipenuhi oleh berkas rumus-rumus, lalu lalang peneliti berjas putih, juga ruangan pemeriksaan yang terletak terpisah.


"Tempat ini benar-benar rumit." Keluh Friederich.


"Tempat ini memang didesain untuk menyesatkan para penyusup. Sudah kubilang khan, sistem keamanan di tempat ini nyaris mencapai tingkatan paranoid. Siapapun pembuat sistem keamanan nya, dia pastilah seorang paranoid gila." Doc tersenyum, dengan gaya nya yang tenang dan dingin. Ia duduk di kursi kerja nya yang empuk, sementara Friederich, Elle dan Viktor memandang kebawah dengan terkagum-kagum.

__ADS_1


Doc menekan tombol interphone di meja nya. "Franka, ini aku. Panggil Moritz dan Thomas ke ruanganku, segera."  Tak lama kemudian dua orang pria berseragam putih muncul dari balik pintu otomatis dan memberi hormat.


"Thomas, antar Kapten Friederich dan Lady Elleonora ke ruangan yang telah disiapkan."


"Friederich aku akan menemuimu nanti, ada urusan yang harus aku urus terlebih dahulu. Thomas akan membawa kalian berdua ke ruang istirahat." Doc menoleh pada Friederich yang mengangguk setuju. Sesaat sebelum Friederich membawa Elle pergi meninggalkan ruangan, ia menatap Doc dengan penuh arti. Seolah telah saling mengerti, Doc mengedip pelan.


Doc menunggu sampai Friederich, Elle dan Thomas benar-benar pergi, baru ia mulai bicara kembali.


"Viktor, aku yakin Friederich telah menjelaskan padamu apa yang harus kau lakukan disini." Doc memandangnya dengan tatapan tajam, dan Viktor mengangguk mengiyakan.


"Moritz, berikan Viktor seragam yang sama dengan yang kau pakai, beri dia identitas baru, juga tempat tinggal. Perkenalkan dia sebagai pegawai baru, dan beri dia akses menuju setiap pintu di seluruh fasilitas ini." Sesaat Moritz terlihat kaget, tapi kemudian ia mengangguk dengan patuh.


"Moritz, hal ini tidak boleh diketahui oleh siapapun. Kau harus merahasiakan nya. Bila kau sampai membocorkan nya, aku sendiri yang akan memburu kepalamu.."


                                                                                           *****


Thomas membawa mereka berdua menuruni lift, melewati ruangan pemeriksaan yang terletak terpisah dari berbagai laboratorium dan meja kerja, menuju sebuah ruang isolasi yang disulap menjadi ruang rawat yang mewah. Tepat di sebelahnya adalah ruangan untuk Friederich. Berbeda dengan ruangan yang telah dipersiapkan untuk Friederich, Doc terlihat sudah menyiapkan tempat ini dengan baik, ruang rawat itu besar, dengan satu set sofa dan meja yang sangat nyaman, karpet bulu yang lembut, satu tempat tidur besar, dan kamar mandi yang luas. Elle berlari kecil di dalam ruang rawat itu, ia dilanda euforia setelah beberapa hari ini selalu tidur di tempat tidur biasa yang tidak menarik.


Setelah Elle mencoba sofa berbahan lembut, ia berjalan dengan langkah-langkah yang pendek di dalam batas karpet, kemudian ia melompat ke tempat tidur dan membenamkan kepalanya ke tumpukan bantal besar.


"Tempat ini benar-benar sempurna...!!"


Friederich menghela napas panjang. Ia mengusir Thomas, lalu menutup pintu ruang rawat.


"Kau suka?" Tanya nya.


"Ya, aku sangat suka!!"


Friederich tersenyum. Saat melihat senyuman yang mempesona itu lagi, Elle serasa membeku. Kapan pria itu akan berhenti membuatnya terpesona?


"Leo sebaiknya kau mandi sekarang. Atau kau mau makan sesuatu sebelum tidur? Aku akan membawakan mu makan malam"


"Ya sekarang sudah malam Leo. Dulu kau juga selalu kebingungan dengan waktu." Friederich terkekeh saat mengingat masa-masa itu.


"Ahh.. Aku ingat. Dulu aku selalu tidur saat aku ingin dan main saat aku ingin, seolah semua waktu adalah milikku."


Friederich tertawa, setiap kali mengingat masa-masa yang dilaluinya bersama Elle, ia selalu terlihat bahagia.


"Kau pasti sangat kerepotan.."


Friederich terkekeh mengiyakan.


Elle melepas mantel nya. Ia ingin sekali mandi dan makan, tapi diatas semua itu, yang paling ia inginkan hanyalah Friederich. Friederich yang bercerita, Friederich yang tersenyum, Friederich yang tertawa. Berada berdua di kamar yang indah ini membuatnya merasa berdebar-debar.


"Tapi sedikitpun kau tidak memarahiku, juga tidak mengabaikan ku..  Ketika semua orang merasa menjaga anak nakal berumur lima tahun sangat merepotkan, kau malah tetap bertahan." Semakin Elle memikirkan nya


kembali, semakin ia merasa Friederich adalah sosok yang mengagumkan, penyelamatnya, sahabatnya, cinta nya..


"Terimakasih banyak..Friederich. Terimakasih untuk semuanya.. "


Friederich tertegun, wajah nya memerah, dan untuk sesaat ia seolah tak tahu harus berkata apa. Tapi kemudian ia tersenyum, dengan langkahnya yang mantap ia menghampiri Elle dan mengusap-usap kepalanya.


"Masa-masa itu.. Adalah masa-masa terbaik ku. Seharusnya aku yang berterimakasih padamu.."


Seketika wajah Elle memerah, dan tiba-tiba saja ia jadi merasa ingin sekali menangis.


Benarkah? Jadi.. Apa aku juga berharga bagimu seperti kau bagiku?


Sebelum Elle bisa menanyakan hal itu, Friederich cepat-cepat membuang wajah nya, dan melangkah dengan canggung keluar kamar. Sayang Elle tidak sempat melihat wajahnya yang memerah padam.

__ADS_1


Apakah aku yang sekarang masih sama berartinya? Apakah aku ini dimatanya saat ini? Leo kecil yang berumur lima tahun, atau Leo yang telah tumbuh jadi wanita dewasa?


 


"Leo aku membawakan mu makanan." Setelah mengetuk dua kali Friederich membuka kunci pada pintu kamar dan pintu pun terbuka. Saat ia melangkah masuk pintu itu tertutup dengan otomatis. Sebelum ia melangkah lebih jauh terlebih dahulu ia mengunci pintu itu dari dalam. Ia harus memastikan tidak ada siapapun bisa memasuki kamar ini dari luar.


"Makanan apa yang kau bawa?" Dengan kelewat ceria Elle berlari kecil dari tempat tidur, menghampiri Friederich


dan melirik nampan makanan yang dibawanya.


"Bagus, aku tidak sabar untuk makan!" Ia mencubit potongan muffin blueberry dari nampan lalu melempar dirinya ke sofa yang empuk. Dengan gerakan tangan ia meminta Friederich untuk cepat-cepat meletakan nampan makanan itu di meja.


Friederich ingin sekali tertawa melihat Elle yang terlihat begitu ceria, tapi pada akhirnya ia hanya tersenyum dan meletakkan nampan itu di meja. Dengan tenang ia memandangi Elle yang dengan lahap memakan habis dua muffin blueberry dan sepiring salmon panggang.


"Terimakasih untuk makanan nya, aku kenyang sekarang.." Elle memegangi perutnya, ia benar-benar kekenyangan.


Elle  menyandarkan kepalanya ke kedua lutut yang dipeluknya. Rambut gelap ikal nya tergerai ke samping, menyibakkan leher jenjang dan bahu mungil yang membuat friederich merasa sangat beruntung bisa berada di tempat ini saat ini.


"Boleh aku tanya sesuatu?" Tanya Friederich. Elle menjawab dengan senyuman nya yang manis.


"Kenapa.. Kenapa kau tidak menghapus bekas luka di pelipismu?"


Senyuman Elle menghilang dengan perlahan. Seketika bayangan 14 tahun yang lalu berkelebat di kepalanya, di sebuah pertempuran yang menegangkan di atas bungker Blackforrest. Saat itu Friederich akan mengantar Elle


kembali ke jembatan Black River, tapi sepasukan Gagak Hitam telah menghadang mereka diluar hutan Blackforrest, mereka ingin mempertaruhkan kesempatan terakhir mereka untuk menculik Elle. Saat itu keadaan sangat kacau, para tentara yang menemani mereka berdua menuju jembatan Black River terbunuh tanpa bisa banyak berbuat banyak.


Pertempuran itu sangat menakutkan, peluru demi peluru menghadang jalan mereka, tapi Friederich tidak pernah mundur. Dengan berani ia maju dan menerjang mereka semua, sambil melindungi Elle di punggungnya. Elle masih ingat jelas, wajah Gagak Hitam yang mengarahkan moncong senapan nya tepat ke kepala Friederich, ingin membunuhnya dengan satu tembakan yang fatal. Tanpa pikir panjang Elle mencekik leher Friederich dengan kedua lenganya, hanya agar membuat pria itu terjatuh dan selamat dari tembakan fatal kepala nya. Ajaibnya, Friederich memang selamat, ia terjatuh ke rerumputan yang tandus, tapi Elle terjatuh dengan lebih keras. Kepalanya terantuk batu tajam dan pelipisnya sobek. Itulah cerita dibalik bekas luka di pelipis Elle, bekas luka yang tak pernah ingin ia hapus.


Dengan kepala yang tertunduk dan wajah yang memerah ia menjawab.


"Karena bekas luka ini berharga bagiku.. Saat aku melihat diriku di cermin, memandangi luka ini, aku melihatmu..  Saat aku merabanya, aku merabamu.. "


”Karena.... Kau sangat berharga bagiku..”  Elle tak mampu mengangkat wajahnya. Ia tak mampu memandang wajah Friederich yang terkejut. Wajah pria itu terlihat memerah, seolah Elle baru saja menyatakan cinta kepadanya.


Friederich mengepalkan kedua tangan nya, segala yang ingin ia katakan, semua yang ingin ia lakukan, ia menahan semua itu dengan kebungkaman nya. Alih-alih menjawab pengakuan cinta yang tidak langsung itu, ia malah diam dan menggigit lidahnya. Wajah terkejutnya, berubah menjadi wajah penuh kebingungan yang membebaninya. Aneh, kenapa ia terlihat menderita dengan pengakuan itu. Kebisuan terasa mencekik keduanya, dan waktu terasa seperti terhenti.


Tidak ada... Tidak adakah yang ingin kau katakan...?


Dada nya terasa sakit, dan kedua mata nya juga terasa sangat panas hingga rasanya seperti akan meleleh. Entah kenapa ia merasa sangat malu dan  sedih hingga ingin melarikan diri.


"Aku.. " Elle menelan ludahnya. Suaranya terdengar sangat lirih di awal.


"Aku mau tidur dulu.."  Tanpa mengangkat wajahnya Elle  berlari ke tempat tidur. Suaranya terdengar bergetar, seperti sedang menahan tangis.


Friederich menelan ludahnya yang amis oleh darah. Saat ia mendengar suara Elle yang bergetar, dadanya sendiri terasa sakit. Ini adalah rasa sakit yang pertama kali dirasakan nya dalam 20 tahun terakhir sejak ia kehilangan seluruh sense nyeri nya akibat penyiksaan oleh para Gagak Hitam. Dengan perlahan ia bangkit dari kursinya, menghampiri Elle yang menyelubungi seluruh tubuhnya dengan selimut, berpura-pura tidur. Ia terlihat sedih, juga bingung.


Ia mengabaikan keinginan nya sendiri untuk memeluk gadis itu dan menenangkan nya, alih-alih hanya mengelus kepala gadis itu dari balik selimut yang menutupi seluruh tubuhnya, dan berbisik.


"Terimakasih.."


Elle memejamkan matanya kuat-kuat, menahan air mata mengalir dari kedua kelopaknya. Ucapan terimakasih yang tulus dan dibisikkan dengan lembut itu terdengar tajam seperti pisau, dan menyakitkan. Ini adalah penolakan yang


pertama. Ini adalah patah hatinya yang kedua.


Diam-diam ia mendengar langkah kaki Friederich menjauh, melewati pintu dan menghilang. Pria itu tak mampu menghadapi pengakuan nya, dan melarikan diri.


Kau bodoh Elle... Kau bodoh..


 

__ADS_1


 


__ADS_2