Ich Liebe Dich, Leo!

Ich Liebe Dich, Leo!
Episode 4 Perjalanan ke Markas 3 Stuttgart


__ADS_3

Elle nyaris tersentak kaget ketika mendengar suara Viktor memanggilnya dari belakang.


"Ayo kita berangkat, kau sudah siap kan, Elleonora?" Ia membawa sebuah ransel besar di punggungnya. Elle tersenyum mengiyakan.


Viktor memberi tanda pada Elle untuk mengikuti nya, melalui beberapa kompartemen baru yang belum pernah dilaluinya, dan masuk kedalam lift yang terletak di ujung bungker. Lift ini akan membawa mereka berdua masuk ke dalam tanah sejauh 100m.


"Apa yang terjadi dengan lift sebelumnya?" Elle berusaha memecah keheningan diantara mereka berdua.


"Gempa besar yang terjadi beberapa tahun lalu membuat jalurnya rusak berat. Kami membangun jalur yang baru di tanah yang sudah distabilkan." Viktor menyandarkan punggungnya di dinding lift, sembari mengawasi monitor yang menunjukkan kedalaman lift saat ini. Elle menyandarkan punggungnya juga. Perjalanan ini akan memakan waktu


hampir sepuluh menit.


"Friederich selalu membicarakan mu." Ucap Viktor kemudian.


Wajah Elle memerah, ia berusaha untuk tidak mencolok dengan memasang ekspresi tidak percaya.


"Yang benar saja.." Tapi sejujurnya ia merasa sangat senang.


"Kau lebih cantik dari foto yang kulihat di kamarnya."


Elle bisa merasakan wajahnya yang panas dan makin memerah. Friederich menyimpan fotoku di kamarnya??


Elle merasa tenggorokan nya mengering sementara dadanya berdebar tak karuan.


"Kau bahkan terlihat lebih manis saat tersipu malu.."


Ahh... Kau berusaha merayuku ternyata.. Elle tersenyum kecut, rayuan para pria hidung belang selalu membuatnya sebal.


"Aku tidak sedang merayumu.."


Elle cuma tersenyum, lalu mengacuhkan nya. Tiba-tiba ia merasa tak yakin lagi apa ucapan nya tentang foto dirinya di kamar Friederich itu benar atau hanya karangan nya saja.


"Kau tentara juga, Viktor?" Elle harus mengalihkan pembicaraan. Lebih banyak rayuan hanya akan membuat pandangan nya terhadap Viktor memburuk.


"Ya. Di negeri ini setiap anak laki-laki akan secara otomatis didaftarkan sebagai tentara di usia mereka yang ke sepuluh."


"Jadi perang masih berlangsung?" Elle segera memotong ucapan nya. Ia kira perang antara negara Czech dan negara Magna Germania yang sudah berlangsung selama hampir 1 abad telah mereda, mengingat adanya resolusi damai yang sempat terjadi empat belas tahun yang lalu.


"Semakin parah.." Jawab Viktor singkat. Ada getir dalam nada suaranya. Elle rasanya bisa memahami kegetiran bocah itu, Viktor masih sangat muda, dan harus kehilangan masa mudanya akibat perang yang berkepanjangan.


"Jangan takut, kami pasti bisa menjagamu dengan baik.." Ekspresinya segera kembali ceria, ia tak ingin membuat Elle khawatir dengan peperangan yang masih berlangsung.


"Aku tidak takut kok.." Elle tersenyum mengiyakan. Untuk sesaat rasanya ia bisa merasakan kemiripan ayah dan anak yang lebih dari sekedar fisik biasa. Friederich, dulu selalu mengatakan hal yang sama padanya. Itu karena sewaktu kecil ia sangat penakut.


"Boleh aku bertanya sesuatu?"


"Tentu. Apa saja"


"Kenapa...Maksudku pakaian mu yang aneh kemarin.. Kenapa kamu memakai nya?"


"Bukan kah itu pakaian yang biasa dipakai anak muda di bumi?"


Elle melongo selama beberapa saat lamanya, ia bertanya tanya dalam hati, darimana Viktor mendapatkan informasi semacam itu.


Lima menit kemudian lift berhenti di titik 100m. Ketika pintu lift terbuka Elle langsung memasuki pintu capsulle, Viktor berjalan dibelakang nya, menutup pintu capsulle, menyegelnya dan meyakinkan kalau capsulle sudah


tertutup dengan sempurna. Capsulle adalah sebuah kendaraan bawah tanah, menurut Elle ini bisa dibilang sejenis kereta listrik bawah tanah, berbentuk kapsul dan hanya memiliki 3 kompartemen, yaitu ruang operator, ruang tunggu dan kamar kecil. Melalui jalur ini mereka bisa mencapai tempat yang jauh dengan waktu yang singkat.


Tidak banyak yang berubah dari capsulle ini, kecuali desain interior yang lebih modern dengan lebih banyak


tombol yang Elle tidak ingin tahu fungsinya.


Elle melewati ruang tunggu yang dipenuhi oleh sofa-sofa nyaman yang bisa ditiduri menuju ruang operator. Ia hanya ingin memastikan Friederich berada di dalam capsulle ini, bersama nya. Friederich duduk di kursi kemudi, memastikan mesin capsulle ini berfungsi dengan baik, ia juga memeriksa tenaga pendorong, pengaturan tekanan dan pengaturan suhu. Tanpa pengaturan suhu mereka semua akan kedinginan, dan tanpa pengaturan tekanan, capsulle ini sudah tentu hancur seperti kertas yang diremas. Setelah itu ia menghubungi operator untuk  memastikan keberangkatan mereka.


"Duduklah Leo, aku sedang meminta perizinan dari pusat untuk berangkat." Dengan satu anggukan kepala ia memberi kode pada Elle untuk duduk di kursi kopilot. Tanpa bersuara Elle  duduk di kursi kopilot dan mengamati banyak parameter yang terpampang di panel-panel ruang kemudi.

__ADS_1


"Kapten Friederich Kuts meminta ijin untuk meluncur. Keberangkatan : Bungker Black Forrest. Destinasi : Markas 3 Stuttgart. Kami membawa Elleonora Seiger. Mohon diberikan prioritas segera." Friederich menunggu sesaat.


"Kapten Friederich Kuts mendapatkan ijin untuk berangkat. Jalur sudah disiapkan. Mohon konfirmasi keberangkatan" Operator pria itu menjawab dengan suara yang berat.


"Kemana kau akan membawaku pergi?" Tanya Elle penasaran.


"Markas 3 Stuttgart, kita pernah kesana dua kali, kau ingat?"


"Umm... Yang ada kakak genit nya?" Elle ingat pernah transit ke markas 3 Stuttgart, markas itu terletak 10 meter dibawah tanah, diisi oleh perwira-perwira militer, dan hanya sedikit perwira perempuan yang ditugaskan disana. Salah seorangnya adalah kakak genit berambut pirang yang seksi, primadona markas 3.


"Heidi.. Tapi dia sudah lama sekali dipindahkan dari markas 3. Tempat itu sudah banyak sekali berubah Leo, kau akan terkejut nanti."


Senyuman Friederich yang penuh arti membuat Elle penasaran seperti apa markas itu sekarang.


"Apa kau akan membawaku ke Prague lagi?" Sesuatu tentang Prague membuat nya merasa tidak tenang. Ia ingat dengan berbagai pemeriksaan yang menyakitkan dan berbagai ledakan yang sangat menakutkan. Saat mengingatnya ia merasakan trauma yang membuatnya harus menahan gemetar ketakutan dengan mengepalkan kedua tangan nya kuat-kuat.


"Leo kau tidak perlu takut lagi. Prague sudah berubah, semuanya sudah berubah." Friederich meraih kedua tangan Elle yang tergenggam kuat dan meremasnya lembut.


"Lagipula.. Aku akan selalu disampingmu, melindungi mu. Jadi kau tidak usah takut lagi."


Dengan tidak yakin Elle mengangguk. Ia masih terlihat khawatir, tapi sentuhan tangan Friederich yang hangat, juga senyuman nya yang selalu penuh semangat, membuatnya merasa jauh lebih baik.


"Kau yakin aku tidak akan ketakutan lagi di sana?"


"Aku janji.. Lihat saja nanti, kau akan terkejut.."


"Umm... Friederich, apa sesuatu telah terjadi lagi di sini, sampai aku harus kembali lagi ke dunia ini?"


"Bukan nya aku tidak suka berada di sini.. " Elle cepat-cepat menambahkan. Tentu saja aku sangat senang bisa bertemu lagi dengan mu, meski keadaan nya berbeda dengan yang kuinginkan. Aku hanya penasaran alasan apa lagi yang memaksa mereka membawaku lagi ke dunia ini.


"Sama seperti dulu kami membutuhkan mu, sekarang pun kami masih membutuhkanmu Leo..  Kami membutuhkan mu untuk bisa bertahan hidup lebih lama, bila memungkinkan, mungkin saja kami bisa mengakhiri perang ini


dengan bantuan mu.“


Bagaimana denganmu? Apakah kau membutuhkan ku juga?


"Ayo tekan tombol "GO" nya Leo. Aku sengaja menunggu mu." Friederich memecahkan keheningan diantara mereka.


Wajah Elle merona, ia ingat, dulu setiap kali mereka melakukan perjalanan dengan mengendara capsulle, Friederich selalu memaksa siapapun operator nya saat itu, untuk mengijinkan nya menekan tombol "GO". Pria ini memang selalu membuat masalah bagi orang lain, dan semua itu ia lakukan hanya demi seorang anak berumur lima tahun. Bagaimana Elle bisa tidak jatuh cinta padanya...?


Cengiran Friederich membuatnya semakin tak sabar untuk menekan tombol itu. Setelah menghitung mundur dalam


hati, Elle menekan tombol  tanpa ragu. Seketika capsulle pun bergerak.


"Disini kapten Friederich Kutch mengkonfirmasi ulang keberangkatan kami. Kami akan sampai dalam 4 jam."


Friederich sekali lagi melaporkan keberangkatan nya, sesuai perintah operator.


Capsulle bergerak dengan perlahan pada awalnya tapi kemudian menjadi semakin cepat hingga Elle tersentak di kursinya, dan pada batas kecepatan nya capsulle mempertahankan kecepatan nya.


"Rasanya dulu tidak secepat ini kecepatan nya.." Setelah capsulle berada dalam kecepatan konstan, barulah Elle bisa kembali duduk dengan nyaman. Ia benar-benar kaget..


"Teknologi maju dengan sangat cepat dalam 14 tahun ini Leo.. Kau akan sangat terkejut setelah melihat lebih banyak lagi." Friederich berkata sambil terkekeh.


Setelah Friederich memasang mode auto operator, ia bangkit dari kursi nya dan membawa Elle ke ruang tunggu yang nyaman. Ia melempar tubuhnya keatas sofa panjang yang nyaman, sementara Elle duduk di sofa yang berseberangan. Sejak tadi Viktor mengelap senjata nya dengan bosan di sofa lain, tapi ketika Elle kembali ia terlihat sedikit bersemangat.


"Kau bisa bersantai dulu sampai kita sampai kita tiba. Aku mau tiduran sebentar." Friederich menguap lebar. Sebelum Elle bisa mengatakan apapun pria itu langsung terlelap dalam tidurnya.


“Cobalah untuk beristirahat Elleonora, perjalanan ini akan memakan waktu cukup lama.” Viktor menambahkan, sambil berdiri dari duduknya dan berjalan menuju ruang operator. Harus ada yang tetap berjaga di ruang operator untuk mengawasi perjalanan mereka.


Elle ragu apa ia bisa tidur semudah Friederich terlelap. Untuk mengusir rasa bosan ia menyibukkan diri dengan


bermain game di handphonenya. Tapi ketika suara dengkuran Friederich mulai terlalu keras untuk diabaikan, Elle mulai merasa terganggu.


"Keras sekali dia mendengkur.." Elle merengut. Dulu setiap kali dengkuran nya mulai mengganggu, Elle akan memukul hidungnya hingga ia berhenti mendengkur. Kini ia menahan diri untuk tidak melakukan hal yang sama.

__ADS_1


"Hahaha.. Dia pasti kelelahan. Friederich mengintai jembatan Black River selama satu minggu ini, memastikan semua berjalan sesuai rencana." Viktor menjawabnya dengan malas. Ia berdiri di pintu ruang operator, memandangi ayahnya yang tertidur seperti singa laut yang malas.


"Sudah berapa lama kalian tahu kedatangan ku?" Elle agak terkejut dengan jawaban Viktor, tapi rasanya bukan hal yang aneh bagi seorang tentara.


"Friederich sudah mengetahuinya sejak beberapa bulan sebelumnya. Itu sebabnya sejak dua bulan sebelumnya ia datang ke bungker dan mempersiapkan segalanya."


"Friederich mempersiapkan segalanya? Maksudmu dia mempersiapkan bungker ini?" tanya Elle tak percaya, "Pakaian-pakaian nya juga?”


"Tentu saja. Bungker ini tidak pernah dipakai selama empat belas tahun, justru gawat kalau dia tidak datang lebih dulu dan menyiapkan segalanya dengan matang."


Aneh, kenapa tidak pernah ada yang memakainya selama itu? Apa "Bias" tidak pernah membuka jembatan lagi selama itu? Dan bagaimana Friederich bisa menebak ukuran baju ku dengan tepat??


"Yang lucu, Friederich terlihat sangat tegang selama beberapa hari terakhir ini.." Viktor menambahkan.


Apa dia tegang karena aku akan datang? Elle tak bisa menahan diri untuk berandai-andai. Ia membayangkan Friederich yang berwajah tegang, dengan seluruh otot yang kaku, berjalan mondar mandir hutan-jembatan-hutan-bunker.


"Tapi setelah melihat wajahmu yang cantik, matamu yang indah, juga rambut ikal mu yang manis,.. Rasanya aku


juga pasti akan merasa tegang.."


Ketika Viktor mulai merayu nya lagi dengan senyuman nya, Elle langsung merasa malas. Ia hanya tersenyum sedikit lalu kembali menyibukkan diri dengan handphone nya


 


Elle tidak ingat kapan ia tertidur, tahu-tahu ia sudah terbaring di sofa dengan berselimutkan jaket milik Friederich. Suhu di capsulle memang terasa lebih dingin dari sebelumnya, sampai ia bisa melihat uap napasnya sendiri. Sofa yang tadi ditiduri Friederich sudah kosong, pria itu pasti pergi ke ruang operator. Saat ia menoleh, Viktor sudah tertidur di sofa nya sendiri. Hal terakhir yang ia ingat sebelum tertidur, adalah ketika Viktor yang kebosanan memutuskan untuk kembalike ruang operator.


Elle bangkit dari sofa, memakai jaket Friederich diatas jaketnya sendiri, kemudian pergi ke ruang operator.


"Ah kau sudah bangun.. Duduklah.." Friederich memutar kursi kopilot untuknya.


"Terimakasih untuk jaketnya." Elle melirik pada jaket yang dikenakan nya sekarang. Jaket itu dipenuhi dengan aroma hutan dan mint yang sangat kental.


"Harusnya kau memakai jaket yang tebal. Apa kau lupa kalau kadang berada di capsulle bisa terasa sangat dingin?" Friederich membetulkan posisi jaket yang dikenakan Elle dan memasangkan kancing metalnya.


Elle hanya tersenyum. Ia tidak lupa, hanya saja ia begitu terbiasa dengan Friederich yang selalu menyiapkan segala sesuatu untuknya, dan kini, ketika ia terlalu dewasa untuk bisa diperlakukan seperti anak kecil, ia lupa bahwa sudah sepatutnya ia mulai bersikap mandiri. Tapi ia senang pria itu menyelimutinya dengan jaket yang dipakainya, membetulkan posisi jaketnya, bahkan mengancingkan nya.


Ketika Friederich ingat bahwa gadis di hadapan nya bukan lagi anak umur 5 tahun yang sangat bergantung padanya, sontak ia menarik kedua tangan nya. Kini kedua tangan itu tersembunyi dibalik mantelnya. Seharusnya pria itu bisa mencermati wajah Elle yang terlihat kecewa. Dengan perlahan ia menuntaskan apa yang tidak Friederich tuntaskan, mengancingkan sisa kancing jaketnya.


"Kau tidak kedinginan?" Tanya Elle.


"Aku memakai mantel yang kusediakan di lemari penyimpanan capsulle." Jawabnya.


Aneh.. Kau menyimpan sebuah mantel, tapi kau malah memberikan jaketmu untuk kupakai, bukan nya memberikan mantel yang sudah kau siapkan.


"Bagaimana kau bisa tahu aku akan kembali ke dunia paralel? Viktor bilang kau sudah mengetahuinya sejak beberapa bulan yang lalu."


Friederich menghela napas panjang sebelum mulai bercerita. "Intelejen kami mendapatkan informasi penting, bahwa para Gagak Hitam akan menculikmu lagi."


Gagak hitam? Ahh.. Aku ingat, Gagak Hitam adalah kode untuk para prajurit musuh, prajurit negeri Magna Germania. "Jadi kau kemari untuk mencegah mereka menculik ku lagi?"


Friederich tersenyum mengiyakan, tapi disaat yang sama ia menyembunyikan sesuatu.


Elle terdiam mengingat semua percobaan penculikan yang terjadi berkali-kali empat belas tahun yang lalu. Meski Friederich selalu berhasil menggagalkan upaya tersebut, rasa ketakutan dan teror yang ia rasakan melekat erat di dalam kepalanya. Tidak bisakah aku datang ke dunia ini tanpa ancaman-ancaman penculikan? Tidak bisakah aku bersenang-senang dan bersantai di dunia paralel ini layaknya seorang turis?


Tiba-tiba saja Friederich menggenggam jemari Elle dengan erat, membuyarkan bayangan-bayangan kelam yang berputar-putar di kepalanya. Sepertinya pria itu tak tahan untuk memecah kesuraman yang terlihat jelas di wajah elle.


"Aku janji, aku akan menjagamu dengan baik." "Dan aku janji, aku akan menjaga keselamatan mu dengan


nyawaku." Friederich menambahkan janjinya.


Kedua pipi Elle merona merah, meski ia tahu Friederich pasti akan menjaganya, saat janji itu diucapkan dengan sungguh-sungguh, hatinya terasa bergetar. Ia tak pernah menyangka akan mendengar janji-janji itu dari mulut


friederich. Rasanya ia bisa merasakan pertahanan dirinya runtuh sedikit demi sedikit. Disaat yang sama ia berusaha meyakinkan dirinya bahwa semua akan baik-baik saja, bahwa ia akan bertahan dan tidak akan terjerumus lebih dalam, dalam cinta nya yang bertepuk sebelah tangan.


"Ya, aku tahu kau akan menjagaku dengan baik.."

__ADS_1


 


 


__ADS_2