Ich Liebe Dich, Leo!

Ich Liebe Dich, Leo!
Episode 6 Doc yang Menawan


__ADS_3

Elle terbangun dari tidurnya setelah tertidur selama seharian penuh. Saat terbangun ia melihat Viktor yang terlihat cemas, tersenyum lega padanya. Ia memakai seragam tentara biasa, bukan nya kostum cosplay yang mencolok.


"Friederich?! Bagaimana Friederich??!"  Tanya Elle cemas.


"Ia baik-baik saja. Kau tidak perlu khawatir.." Viktor tersenyum makin lebar. Ia terlihat sama sekali tidak mengkhawatirkan ayahnya.


"Sepanjang malam kau terus saja menggigau, memanggil namanya.. Apa Friederich begitu penting untukmu?"


"Apa kau tidak mengkhawatirkan nya?" Elle masih saja merasa sangat cemas.


"Aku tidak khawatir. Seharusnya kau juga tidak perlu mengkhawatirkan nya." Senyuman Viktor terlalu tenang.


Saat ia melihat wajah Elle yang terlihat tak percaya dengan perkataan nya, ia menambahkan, "Bagaimanapun, hal ini adalah satu-satunya impian nya. Mati pun, ia akan gembira.."


"Aku sama sekali tidak mengerti ucapan mu.. Kau putranya, paling tidak seharusnya kau khawatir.." Tanpa mengindahkan Viktor ia turun dari tempat tidurnya dan berlari keluar.


Elle sama sekali tidak mengerti kenapa Viktor terlihat begitu tidak perduli, apa hubungan ayah dan anak itu begitu buruk?? Bagaimana bisa seorang anak tidak perduli dengan keselamatan ayahnya, sementara dirinya, yang hanya seorang anak kecil di mata ayahnya, begitu mencemaskan nya?


Hanya dengan mengenakan kimono putih dan kaki telanjang ia berlari menjelajahi bangsal rawat. Ketika ia menemukan seorang perawat pria, Elle segera mencengkeram nya dengan kuat. "Bawa aku ketempat Friederich berada! Kumohon!!"


"Jadi pengobatan ku sudah selesai?" Friederich keluar dari sebuah bak besar yang berisi cairan bening yang


dingin, ia tidak memakai apapun di tubuhnya, dan seluruh tubuhnya dipenuhi bekas luka bakar yang hampir sembuh. Seorang perawat pria memberikan sehelai handuk untuknya. Friederich segera meraihnya dan menghanduki tubuhnya.


Seorang dokter duduk di kursi kerja nya, terlihat tidak puas. Pria itu tidak tampak muda, tapi masih terlihat tampan dan menawan, dengan kacamata yang hampir selalu bertengger di pangkal hidung nya.


"Sekali-kali aku berharap kau akan berteriak-teriak kesakitan.." Ucapnya dengan sebal. Friederich nyengir. "Paling tidak seharusnya kau meringis kesakitan, bukan nya menjalani seluruh sesi terapi sambil menonton siaran


televisi." Ia menambahkan.


Friederich terkekeh senang.


"Jangan senang dulu.. Pengobatan mu belum selesai, kau masih harus menjalani sesi terapi penyambungan kembali tulang rusuk mu yang patah. Sebagai informasi, hampir seluruh tulang rusukmu mengalami keretakan. Seharusnya kau terbaring di tempat tidur dan merintih kesakitan, bukan nya nyengir seperti ini!!" Dokter berkacamata itu berakhir emosi. Anomali yang terjadi pada tubuh Friederich membuat keasyikan nya hilang.


"Akan kulakukan terapiku di Prague setelah misi ku selesai, bagaimana?"


"Kau gila!!!"


"Friederich!!" Pintu otomatis tiba-tiba saja terbuka, dan Elle menghambur begitu saja ke dalam ruang terapi luka bakar.


"Leo..??"


"Friederich..syukurlah kau tidak apa-apa.."


Elle harus menahan diri untuk tidak berlari dan memeluk tubuh pria itu kuat-kuat. Meski itulah yang paling ia inginkan saat ini. Elle merasa sangat lega ketika Friederich memandanginya dengan keheranan, sampai ketika ia menyadari bahwa pria itu hanya mengenakan sehelai handuk yang dilingkarkan di pinggangnya. Seketika wajah Elle memerah dan ia berteriak. Friederich dan dokter berkacamata itu terlihat syock dengan teriakan Elle yang melengking.


"Kau mesum!!!" Elle serta merta membalikkan tubuhnya.


"Memangnya apa yang salah?"  Sebelum Friederich selesai bicara Elle membalikkan tubuhnya dan menampar pipinya. Ia terlihat sangat malu.  Friederich memandangi dokter itu dengan bingung, tapi tamparan itu membuat nya sedikit senang. Dokter berkacamata itu cuma bisa memandangi Friederich dengan sebal dan menghela napas panjang.


Friederich memakai mantel mandi yang tergeletak di kursi. Bajunya entah berada dimana, setelah ia roboh para perawat melepaskan seluruh pakaian nya dan memasukan nya ke dalam bak berisi cairan dingin untuk mengobati luka bakar yang ada di tubuh nya.


"Leo, kemari.." Friederich memanggilnya dengan lembut.


Gadis itu, dengan malu-malu membalikkan badan nya. Wajahnya tidak semerah sebelumnya. Elle harus mengakui pria itu memiliki tubuh yang keren, rasanya 14 tahun lalu tubuhnya bahkan tidak sekekar ini.


 "Apa yang kau lakukan disini?" tanya Friederich, dengan tangan nya ia menyuruh Elle duduk di kursi, di depan meja dokter. "Seharusnya kau berada di kamarmu, beristirahat." Friederich menambahkan sebelum Elle bisa menjawab.


"Ya milácěk, harusnya kau tidak kemari.." Dokter itu memandangi nya dengan senyuman yang ramah. Wajah sebalnya hilang seketika. "Ini adalah ruang terapi luka bakar, orang awam seharusnya tidak kemari. Siapa perawat yang memberitahumu tempat ini?"


"Umm...Dia.." Dengan ragu Elle menunjuk ke pintu.


Sepertinya wajah dokter ini familiar.. sepertinya aku pernah bertemu dengan nya dulu, empat belas tahun yang lalu di Prague.


"Hmm... Rasanya aku tahu siapa.." Wajahnya sekilas berubah bengis, tapi saat ia memandang Elle, wajahnya berubah ramah lagi. "Untuk kali ini aku akan memaafkan mu milácěk, mau bagaimana lagi, kau perempuan pertama yang mendatangi markas ini selama sepuluh tahun terakhir, tentu saja para pria yang kehausan diluar sana akan melakukan apa saja yang kau minta."


Maksud dokter ini apa? Siapa perempuan pertama yang mendatangi markas ini setelah sepuluh tahun? Aku?? Dia bercanda khan??


"Jangankan mereka yang berotak, si bodoh ini sekalipun.." Dokter itu menunjuk Friederich. "Akan dengan senang hati memberikan nyawa nya untuk mu."

__ADS_1


Elle melihat wajah Friederich merona, dan ia terlihat kikuk. "Dokter apa Friederich baik-baik saja?"


"Kau tidak perlu cemas, milácěk.. Si bodoh ini baik-baik saja. Luka bakar nya sudah hampir sembuh, tinggal  beberapa sesi terapi lagi, dia akan sembuh total."


"Aku tidak punya waktu untuk sesi terapi lagi, aku sudah bilang tadi.." Friederich membantah.


"Kau harus punya waktu.. Aku sudah tidak bisa menghitung lagi berapa sering rusuk-rusukmu patah, kau harus mendapat terapi yang sedikit berbeda."


"Doc, kita harus segera meninggalkan markas ini. Akan kuteruskan terapi ku di Prague."


"Friederich kau harus meneruskan terapimu sampai tuntas" Elle menambahkan.


"Tidak usah Leo, aku sudah sembuh.", Ia menambahkan, "Ayolah Doc, berikan saja aku surat pengantar."


"Friederich ikuti saja apa kata dokternya." Elle mulai gemas.


"Elleonora benar, ikuti saja nasihatnya. Sebelum gadis itu marah.." Dokter itu menambahkan.


"Tidak Leo, kita harus segera pergi ke Prague."


"Doc, diam!" Friederich menambahkan.


"Ah..Ya ampun, kau masih saja bersikeras. Milácěk, marahi saja dia.."


"Fiederich..!" Gadis itu melotot padanya dengan intensitas kemarahan yang mengerikan. Sejenak Friederich menelan ludah nya dan menyerah.


"Oke.. Kau menang Leo.. Akan kuselesaikan terapiku." Ia mendesah tak berdaya.


"Oke, Friederich besok kau akan menjalani terapi penyambungan tulang. Dan Milácěk, kau harus melakukan


checkup terakhir." Dokter itu menghela napas panjang. "Sekarang istirahatlah."


"Kau tidak apa-apa?" Tanya Friederich tiba-tiba saat mereka berdua berjalan perlahan keluar dari lorong bangsal perawatan.


"Aku tidak apa-apa."


"Doc benar, kulitmu tidak melepuh. Aku sempat cemas kulitmu akan melepuh akibat panas dari ledakan. Aku benar-benar lega kulitmu tidak melepuh. Doc bilang hanya memerah karena panas saja, dan segera hilang setelah diobati dengan segera."


Friederich tersenyum, memandangi gadis itu dengan tatapan yang lembut. Sesaat ia berpikir untuk memeluknya, tapi saat ia ingat bahwa Leo bukanlah gadis kecil lagi, ia mengurungkan nya. Pada akhirnya yang bisa ia lakukan hanyalah mengusap-usap kepalanya saja.


"Kau mau kekamarku dulu? Ada beberapa barang yang harus kuambil." Friederich menunjuk kearah sebuah lorong


yang menuju barak prajurit.


Elle mengangguk patuh. Ia terlalu senang dengan usapan tangan Friederich di kepalanya. Langkah mereka terhenti ketika Friederich berbelok di sebuah lorong, dan berhenti di depan sebuah pintu kamar, satu-satunya kamar di lorong pendek itu. Kamar Friederich tidak besar, hanya satu sofa kecil dengan meja kopi, satu tempat tidur dan kamar mandi. Tapi semuanya tertata rapi, seperti tidak pernah ditinggali.


Friederich membuka lemari yang tertanam di dinding kamarnya, mengambil pakaian yang akan ia pakai lalu menutup nya kembali. Kemudian ia pergi ke kamar mandi untuk memakai seluruh pakaiannya, sementara Elle memilih untuk duduk di tempat tidur dan bergelung nyaman diatasnya.


"Friederich.." Panggil Elle.


Friederich duduk di ujung tempat tidur, menanti nya.Ia sudah berpakaian lengkap sekarang, celana militer dengan kaus putih polos yang bersih.


"Ada banyak hal yang ingin kutanyakan.." Ucap Elle.


"Aku juga.." Friederich menghela napas.


"Baiklah.. Apa yang mau kau tanyakan?"


"Pertama, kenapa markas ini direlokasi. Kedua, kenapa keadaan diatas sana berbeda dengan empat belas tahun yang lalu. Dan ketiga, kenapa ledakan itu tidak sampai membunuh kita berdua?"


"Alasan utamanya adalah, karena tempat ini sekarang menjadi garis depan penyerangan kami. Tempat ini mendapat gempuran paling kuat. Karena itu mereka memindahkan markas 20 m lebih dalam. Banyak yang


terjadi dalam empat belastahun terakhir ini Leo, peperangan jadi semakin parah dan luas. Pakta perdamaian dilanggar hanya satu tahun setelah disetujui, dan setelah itu yang ada hanyalah peperangan yang tanpa akhir.


Dulu kita pernah bermain diatas markas, kau pasti ingat. Dulu ada hutan dan danau kecil. Semua itu musnah dalam empat tahun pertama setelah kau pulang ke duniamu, digantikan oleh padang pasir tandus yang panas."


Elle merasa ngeri membayangkan semua itu terjadi.


"Dan pasir diatas sana, itu bukan pasir biasa. Enam tahun yang lalu kami berhasil mengembangkan pasir yang dapat menyerap energi ledakan dan menyerap energi panas. Pasir itu menyerap semua energi yang dilepaskan oleh ledakan roket, itu sebabnya kita berdua masih hidup."

__ADS_1


"Kita harus berterimakasih pada mereka yang menciptakan pasir itu.. Aku merasa seperti sebuah keajaiban, melihat kita berdua masih hidup setelah ledakan sekuat itu."


"Salah.. Kamilah yang seharusnya berterimakasih padamu Leo. Semua ini hanyalah sebagian kecil dari misteri yang bisa kami pecahkan dari ilmu pengetahuan yang tersimpan dalam tubuhmu."


Elle tertegun, ia tak pernah tahu betapa ilmu pengetahuan yang tersimpan dalam tubuhnya bisa begitu berharga. Dulu, empat belas tahun lalu ia nyaris diculik oleh para gagak hitam karena mereka menginginkan pengetahuan itu, tapi Friederich menyelamatkan nya. Dan kini mereka menginginkan nya lagi.


"Apa yang terjadi setelah aku melewati jembatan itu, empat belas  tahun yang lalu..? Apakah mereka menangkap dan menyiksamu lagi?" Elle ragu, ia merasa tersiksa saat harus membayangkan hal itu terjadi. Selama ini Elle selalu bertanya-tanya, apakah Friederich berhasil menyelamatkan diri? Ataukah mereka berhasil menangkapnya?


Friederich tersenyum melihat ekspresi sedih Elle. Gadis itu pasti sangat mengkhawatirkan nya.


"Aku tertembak beberapa kali, tapi aku berhasil menyelamatkan diri ke hutan Black Forrest dan bersembunyi di bugnker. Kau tidak perlu khawatir." Friederich mengusap kepala Elle dengan lembut, membuat nya merasa sangat nyaman.


"Tanyalah apa saja pada ku Frienderich.." Elle mengubah posisi tiduran nya sekarang, ia berbaring menyamping sekarang, rambut gelap ikalnya tergerai di bantal.


Friederich tersenyum, diam-diam ia mengagumi Elle yang cantik. "Apa kau bahagia?  Setelah kau kembali ke dunia mu, apa kau bahagia?"


Elle terdiam, tentu ada masa-masa dimana ia merasa sangat sedih dan kesepian tanpa Friederich. "Apa kau sendiri bahagia?" Tanya Elle.


Friederich terdiam. Pertanyaan itu mungkin terasa pribadi dan sensitif untuknya.


"Tentu saja aku bahagia.. Meski ayah kandungku meninggal, tapi aku mendapatkan keluarga baru yang sangat baik."Jawab Elle, memahami kebungkaman Frienderich.


"Itu sangat melegakan.." Friederich menimpali. "Aku hanya akan bertanya sekali lagi. Setelah itu aku akan mengantarmu ke kamar."


Elle mendengus, ia berharap bisa tinggal lebih lama.


"Bagaimana kau bisa keluar dari markas? Bagaimana kau bisa sampai terlempar ke medan perang?"


Elle menelan ludah nya, ia yakin Friederich telah menyimpan pertanyaan ini sejak tadi. Dengan agak ketakutan ia menceritakan kembali semua peristiwa yang terjadi padanya, yang membuatnya terdampar di tengah medan


pertempuran dan nyaris mati terpanggang. Friederich mendengarkan dengan seksama, ia terlihat tegang dan serius.


"Sekarang kau tahu kan kenapa aku bilang kau harus selalu disampingku?" Friederich mengingatkan nya lagi.  "Tempat ini bukan hanya dihuni oleh pria-pria yang haus wanita, tapi juga disusupi oleh orang-orang yang berbahaya."


"Sekarang aku akan mengantarmu ke kamar. Kau harus tidur Leo.”


"Tunggu! satu pertanyaan saja, setelah itu aku akan tidur.."


Frienderich terdiam menunggu.


"Kapan.. Kapan tepatnya kau menikah? Siapa gadis yang beruntung itu?" Rasanya ini adalah pertanyaan terberat yang pernah ditanyakan nya. Kepalanya terasa sangat sakit ketika ia harus menahan rasa patah hati nya dan berpura-pura tersenyum ketika sebenarnya ia ingin sekali menangis.


"Ha..?? Aku tidak pernah menikah Leo.."


Apa?? "Tapi... Viktor???" Elle makin tak mengerti.


Freiderich menghela napas panjang. Rasanya agak berat baginya untuk menceritakan hal ini, karena kemudian ekspresinya berubah jadi tak terbaca.


"Kalian..tidak menikah?? Apa sesuatu terjadi pada kalian berdua?" Elle makin berdebar-debar. Ia membayangkan Friederich terlibat dalam konflik percintaan yang rumit dan menyedihkan.


"Tidak." Friederich nyengir. "Nyaris tidak mungkin bagiku, juga bagi sebagian besar pria di negeri ini untuk menikah. Kau tidak tahu betapa jarang dan berharga nya wanita di negeri ini, sampai hanya kalangan tertentu yang berhak


untuk menikah dan memiliki keturunan dengan normal."


Itu kedengaran tidak masuk akal. "Tidak mungkin..!" Sementara jumlah wanita di bumi semakin meningkat dan akan segera melewati jumlah total pria. Elle melongo, ia benar-benar tak bisa mempercayainya


"Yah.. Itulah yang terjadi disini.. Itu sebabnya para pria dimarkas ini begitu menginginkan mu."


Friederich menghela napas, lalu kepalanya tertunduk lemas. "Setelah kau pergi aku merasa sangat kesepian.. Lalu aku memutuskan untuk memiliki seorang anak perempuan, sepertimu. Aku mendatangi pusat reproduksi di Prague dan menjalani berbagai proses untuk memiliki seorang anak. Mereka bilang, peluang untuk memiliki anak


perempuan dari inseminasi buatan hanyalah satu banding seratus, tapi aku tidak perduli. Ketika proses itu selesai, ternyata anak itu laki-laki.."


Elle terlihat syock. "Ibunya...?"


"Viktor tidak punya ibu. Inseminasi buatan, reproduksi buatan, mereka menggunakan rahim buatan, dengan sel telur yang didapatkan dari bank donor."


Tidak mungkin....


 

__ADS_1


Milácěk = sweetheart


__ADS_2