
Friederich memeriksa korban-korban nya, memastikan mereka tewas. Ia menyempatkan diri untuk menembak leher pria yang terluka karena ledakan pada lambung motor trailnya karena pria itu masih bernapas.
"aku berhasil mengeksekusi dua gagak hitam. Bagaimana denganmu doc?" Friederich menghubungi doc melalui badge bintang merah nya.
"membosankan.. Kau selalu terlalu mudah dengan musuh-musuhmu. Aku sedang menikmati penantian yang
manis.."
"kalau kau melihat ledakan di kejauhan itu artinya gagak-gagak hitam itu sudah terpanggang dengan matang."
doc terkekeh. Friederich ikut terkekeh.
"ingat bersihkan sisa ranjau yang tidak terpakai, aku tidak mau ada orang bodoh yang kehilangan kaki hanya
karena ratusan ranjau yang kau tebar dengan paranoid dalam radius 3 km."
Terdengar suara doc yang tertawa terbahak-bahak.
Setelah menghubungi doc, Friederich menghubungi Viktor melalui blacksheetnya.
"kau baik-baik saja?"tanya Friederich.
"tentu saja.. Jangan khawatirkan aku." suara Viktor terdengar terengah.
"aku masih mendengar suara tembakan di belakangmu.."
"aku sedang mengatasinya..cerewet.. Tinggal satu lagi."
"jangan bohong, aku mendengar 2 macam suara tembakan, bukan termasuk suara tembakanmu."
"ugh.. Ya ampun.." geram viktor.
"biar kuberi saran, lempar saja granat waktu ke tempat persembunyian mereka. Dan saat mereka berpencar
ketakutan, tembak saja satu persatu."
Viktor tidak menjawab, hanya menggeram.
Friederich terkekeh. Sesekali menggoda putra nya adalah sebuah hiburan yang menyenangkan.
"oke, lakukan saja seperti yang kau inginkan. Aku akan menunggu di Certovo Jezero.”ucapnya sebelum mengakhiri
panggilan.
Saat Friederich berjalan kembali ke pohon pinus raksasa, dari kejauhan tiba-tiba ia mendengar suara ledakan yang
beruntun. Lokasi ledakan nya tidak terlalu dekat, tapi suara ledakan yang ia dengar cukup keras. Itu artinya lagi-lagi doc menggunakan bom yang berkekuatan terlalu besar. Ia bahkan bisa melihat kepulan asap hitam yang besar menggulung ke udara. Friederich yakin paranoid gila itu menggunakan bom yang berkekuatan besar yang biasa
di gunakan untuk menghancurkan sebuah markas, untuk menghabisi beberapa begundal kecil yang tidak berarti.
”dasar paranoid gila...” gumam nya.
Friederich baru saja akan kembali ke tempat ia mengamankan Elle ketika di kejauhan ia melihat seseorang memanjat pohon pinus raksasa tempat Elle berada. Saat ia memandang dengan mata binokulernya ia melihat sosok yang pernah ia lihat sebelumnya. Ia ingat pasti pria itu berada di kamar Elle tepat sebelum insiden penyerangan para gagak hitam terhadap Elle dan pangeran Heinrich
__ADS_1
”hei! Berhenti!” Friederich berteriak sekuatnya, bukan hanya untuk menghentikan pria itu memanjat pohon pinus tempat Elle berada dengan tali, tapi juga untuk mengejutkan pria itu dan memberi Friederich peluang untuk menembak. Pria itu terkejut, ia menoleh. Saat itulah Friederich menembak nya.
Friederich menggeram kesal ketika tembakan nya sedikit meleset. Tembakan itu hanya berhasil melukai bahu nya,
tapi tidak berhasil menjatuhkan nya seperti rencana semula. Ketika pria yang bahunya terluka itu mulai menapaki dahan-dahan kuat untuk mencapai tenda dimana Elle berada, Friederich segera menembak lagi, dengan kedua handgun otomatisnyasembari berlari sekuat mungkin.
*****
Elle memandangi ruangan sempit yang ditempatinya. Ia berusaha mengalihkan perhatian dan ketakutan nya dari
suara-suara tembakan yang ia dengar dengan cukup jelas. Ia hanya berharap Friederich tidak mengalami kesulitan dalam mengatasi gagak-gagak hitam itu dan kembali dengan selamat.
Tempat ini seperti tenda yang terbuat dari terpal keras, atau mungkin memang memiliki rangka yang kuat, sehingga memiliki bentuk yang kokoh. Meski bagian luarnya ditutupi oleh terpal kamuflase, bagian dalam nya sangat sederhana. Hanya ada lampu emergensi, alat tulis, binokular usang dan beberapa lembar selimut yang tertata rapi. Ruangan itu juga cukup kecil, hanya sebesar separuh kamar Friederich di markas stuttgart, dan memiliki
beberapa jendela kecil yang penutupnya bisa digulung.
Elle nyaris berteriak kaget ketika tiba-tiba saja ia mendengar suara ledakan di kejauhan. Dan hanya sesaat kemudian ia mendengar suara Friederich di kejauhan berteriak.
Apa itu? Apa yang Friederich teriakkan? Apakah sesuatu yang buruk terjadi padanya? Apa gagak hitam berhasil menemukan tempat ini?
Jantung Elle berdebar kuat. Kecemasan dan ketakutan mulai menghantuinya. Kemudian ia mendengar suara tembakan, beberapa kali, terdengar sangat dekat. Saat ia mendengar langkah-langkah kaki menapaki dahan yang kuat, Elle mulai merasakan kengerian. Langkah itu terlalu ringan untuk tubuh Friederich yang besar dan berotot, siapapun yang berlari kearah nya sekarang, bukanlah Friederich.
Elle berusaha untuk bangun, ia memaksa adrenalin nya untuk mengangkat tubuhnya sendiri dan bersandar ke
dinding terpal. Seluruh tubuh nya tersentak kaget ketika ia mendengar suara-suara tembakan lagi, sangat dekat, seolah semua tembakan itu terjadi di luar pintu tenda. Dengan menahan gemetar ia menyeret tubuhnya ke pojok tenda yang terjauh, matanya berputar liar, mencari sesuatu yang bisa ia gunakan untuk mempertahankan diri.
Saat ia memasukkan tangan nya ke dalam saku jaket nya ia meraba sesuatu yang dingin dan keras. Sedingin dan sekeras metal.
Elle menarik benda itu dengan perlahan, kedua matanya membelalak kaget.
Handgun...? Benda yang ada di tangan nya adalah sebuah handgun kecil, hanya sebesar telapak tangan nya, dan berwarna metal hitam.
Kenapa? Siapa? Bagaimana benda ini bisa ada di saku jaketku? Apa doc? Apa doc yang memasukkan nya tanpa aku ketahui?
Elle menggenggam benda itu, berusaha menyesuaikan diri dengan handgun kecil yang ada di pegang nya. Benda itu agak berat, tapi cukup kecil, pas di genggaman nya.
Kunci? Dimana kuncinya? Bukankah setiap senjata selalu dalam keadaan terkunci?
Elle tersentak kaget ketika ia melihat tangan meraih zipper pintu dan berusaha memperlebar pintu nya. Itu bukan tangan Friederich.. Tangan itu terlalu kecil dan terlalu lembut untuk Friederich.
Cepat ! Cepat Elle cari kunci nya!
Dengan panik Elle mencari-cari tombol kunci yang terletak di salah satu sisi handgun, saking paniknya ia bahkan berkali-kali membuka dan mengunci nya kembali, dan merasa sangat bodoh ketika menyadari hal tersebut.
Elle diam membeku, ia memegang handgun di tangan nya dengan sangat kuat, tapi seluruh tubuhnya gemetar di saat yang sama. Kalaupun ia berhasil menembakkan nya, ia tak yakin sasaran nya akan tepat. Matanya masih mengamati tangan yang berusaha meraih zipper pintu, tangan itu terhenti, dan tertarik kembali.
Apakah Friederich berhasil membunuhnya? Friederich berhasil khan? Ia tak pernah gagal... Ia tak mungkin
gagal.
Elle nyaris berteriak kaget ketika tiba-tiba saja seseorang merobek lapisan terpal dengan pisau yang bergerigi. Napasnya nyaris terhenti ketika ia melihat pria yang memegang pisau bergerigi itu melompat masuk ke dalam tenda melalui sobekan yang dibuatnya.
Elle lebih syock lagi ketika melihat pria itu sekarang, terluka sangat parah, berdarah-darah, tapi masih berusaha untuk berdiri dengan gontai. Dari balik rambutnya yang berantakan Elle masih bisa mengenali wajahnya, wajah familier yang telah menemani nya selama dua hari terakhir sebelum ia meninggalkan Nuremberg..
__ADS_1
"Franzeska??" Elle menahan napas nya, terlalu kaget. Itu Franzeska, si perias yang telah membuatnya cantik dan berkilau selama di Nuremberg.
Pria itu tersenyum, bukanlah senyuman lembut dan menyenangkan yang ia lihat di kamarnya, juga bukan senyuman bersahabat yang ia tunjukkan sembari mengatur rambutnya agar terlihat indah, melainkan senyuman
kejam yang dingin. Pria itu berjalan mendekat, sambil mengangkat pisau bergerigi nya, seolah hendak membelah tubuh Elle dengan sekali ayunan.
”kenapa...? kenapa Franzeska...?! ” kedua mata Elle terasa panas, meski enggan ia mengangkat handgun nya ke depan, tepat mengarah pada pria yang tak ia kenali lagi.
Di kejauhan Elle mendengar suara langkah-langkah kaki yang berat dan terburu-buru, mendekat dengan sangat cepat.
”kau tak akan berani.” desis Franzeska.
Franzeska mungkin benar, aku mungkin tak akan berani menembakan nya. Kedua tangan ku bahkan bergetar hebat.
”matilah kau.. Elleonora..!” Pria itu mengayunkan pisau bergerigi nya
Tapi aku tidak mau mati.. aku masih ingin hidup!
Friederich tersentak kaget saat ia mendengar suara tembakan dari dalam tenda. Bayangan Elle yang terluka dalam
kepalanya membuatnya kalut dan panik. Dengan sekuat tenaga ia melompati dua dahan sekaligus dan menerjang masuk ke dalam tenda dengan handgun yang siap menembak. Tapi kemudian apa yang dilihatnya membuatnya mengurungkan diri untuk menembak.
Ia melihat Elle, terlalu syok untuk melakukan apapun hingga hanya bisa membeku di tempatnya dalam pose yang kaku. Kedua tangan nya memegang handgun yang masih terarah ke depan, sangat kaku. Kedua matanya membelalak dan basah, memandang kosong pada satu titik yang tadinya adalah tempat sasaran nya berada. Di dekat kaki Elle yang terulur, gagak hitam itu terbaring tak bernyawa, kepalanya mengeluarkan darah yang sangat banyak
”leo...” panggil Friederich lembut.
Ia berjalan perlahan ke samping tubuh gadis itu, kemudian dengan sangat perlahan meraih kedua tangan Elle yang memegang handgun dan mengambil handgun itu. Setelah itu ia menurunkan kedua tangan Elle yang kaku dan memeluknya.
”semua sudah berakhir Leo... tenang lah.. semua sudah berakhir..” bisik nya lembut.
Perlahan-lahan, seluruh tubuh Elle yang menegang mulai merileks, digantikan oleh tremor halus yang terjadi
di sekujur tubuhnya. Napas nya yang terengah-engah, pendek-pendek, kini mulai tenang. Pelukan Friederich yang erat tapi lembut memberi Elle ketenangan yang tak bisa tergantikan oleh apapun. Ia biarkan air mata nya
meleleh dan membasahi dada Friederich. Ia biarkan suara isakan menelisip keluar dari geligi nya yang terkatup kuat. Tak ada ketakutan yang bisa ia ledakkan, tak ada histeria yang bisa ia ekspresikan, ia terlalu syock,
terlalu lemah untuk itu. Elle bisa merasakan kedua matanya yang mengatup dengan perlahan.
__ADS_1