Ich Liebe Dich, Leo!

Ich Liebe Dich, Leo!
Episode 10 Rasa sakit pertama setelah 20 tahun


__ADS_3

"apa yang kau inginkan dariku malam-malam begini?" doc melotot tak percaya ketika Friederich mengetuk pintu ruang kerja nya. "seharusnya kau bersenang-senang di kamarmu, bukan nya mengganggu pekerjaanku." kini


dokter berkacamata itu mengomel dengan gaya nya yang khas.


"doc, aku merasakan sakit.." Friederich mengabaikan segala omelan doc dan langsung mengutarakan keluhan nya.


"apa? Akhirnya? Setelah 20 tahun??" doc keheranan. "ayo kita


lakukan beberapa pemeriksaan dengan tubuhmu."


Doc membawa Friederich ke ruang pemeriksaan, memasukkan nya ke sebuah tabung yang kemudian diisi oleh cairan serupa jelli yang berwarna biru terang. Dari atap tabung turunlah sulur-sulur kabel yang bergerak sesuai perintah mesin pengendali, yang menempel di berbagai bagian tubuh Friederich. Sebelum seluruh tubuh Friederich tertutup cairan biru, selang udara turun dari atap tabung dan menutup kedua lubang hidung nya.


"kau siap sobat? Akan segera kulakukan pemeriksaan nya." Friederich mengangkat jempol nya dari dalam tabung sebagai tanda siap.


Selama pemeriksaan dilakukan doc mengamati setiap perimeter yang tertera di monitor, mengamati pola hormon yang dilepaskan oleh neuron yang tereksitasi dan mencatat semuanya di dalam blacksheet. Sementara itu Friederich nyaris tak bisa menghilangkan bayangan kesedihan Elle dari kepalanya. Rasa sakit di dadanya semakin kuat, membuatnya ingin berteriak dan mengamuk.


Setelah pemeriksaan  selama berjam-jam, doc mengeluarkan Friederich dari tabung. Ia memberikan nya selembar handuk untuk mengeringkan diri.


"ini aneh.. Aku tidak bisa mengerti sama sekali.. Aku mencatat perubahan gelombang otak yang tidak stabil selama


pemeriksaan, juga peningkatan heart rate dan tekanan darah yang konstan, aku bahkan menemukan peningkatan beberapa hormon penting dalam darahmu. Tapi aku tidak berhasil menemukan rasa nyeri nya."


"apa maksudmu?" tanya Friederich heran.


"saraf nyeri mu masih rusak Friederich, seluruh saraf nyeri di dalam tubuhmu mengalami kerusakan yang permanen. Kesimpulan nya, nyeri yang kau rasakan bukanlah nyeri fisik, melainkan nyeri  psikologis."


Friederich hanya bisa terdiam dan keheranan. Saat ia merasakan kembali rasa nyeri yang menusuk di dadanya, ia hanya bisa menahan napas dan memejamkan mata.


"Friederich, apa sesuatu telah terjadi diantara kalian berdua?"


Friederich hanya diam dan membuang muka. Seketika doc langsung mengerti, ia menyadarkan punggungnya ke kursi kerja nya dan menghela napas panjang.


"kau benar-benar bodoh.. Kau sudah menyianyiakan seluruh bantuanku. Seharusnya kalian bersenang-senang sekarang, bukan nya muram seperti ini."


"apa maksudmu bersenang-senang? Kau tidak liat betapa stres nya aku dengan semua ini!" Friederich nyaris meledak sekarang.


Doc diam. Masih tanpa ekspresi apapun kecuali ekspresi penuh selidik, ia diam. Ia biarkan Friederich mengamuk di ruang kerja nya, membanting berbagai barang sampai pria itu tenang dengan sendirinya. Setelah puas mengamuk Friederich duduk di kursi dan menundukkan kepalanya.


"apa kau sudah tenang sekarang?" tanya doc dingin. Friederich mengangguk dengan terengah-engah.


"kau seharusnya lebih jujur pada dirimu sendiri. Kau seharusnya mengambil semua peluang dan mewujudkan impianmu selama ini. Bukankah gadis itu adalah satu-satunya impianmu?"


"tapi aku tidak bisa.." nada suaranya terdengar sangat pahit.


"kenapa?"


"karena aku tidak cukup baik untuknya!"


"jadi siapa yang cukup baik? Viktor? Atau para aristokrat di Prague?"


"tidak.. Viktor, tentu saja tidak."


"paling tidak.. Ia bisa memilih pria seusia nya yang memiliki latar belakang pendidikan dan pekerjaan yang baik. Pria dari dunia nya.."


Doc menghela napas panjang, ia terlihat jenuh.


"hilang sudah kesempatan mu yang terakhir.."


"apa maksudmu doc?"


"kau akan mengetahuinya besok.." doc tersenyum penuh arti.


                                                                                *****


Elle terbangun dari tidurnya dengan mata yang nyaris sembab. Ia tidak ingat berapa lama ia menahan tangis hingga akhirnya tertidur karena kelelahan. Ia merasa bodoh karena sudah mengatakan hal itu pada Friederich, dan merasa lebih bodoh lagi setelah mengetahui reaksi Friederich setelahnya. Bukan hanya tak mampu bicara apa-apa kecuali secuil terimakasih yang terdengar jauh dan dingin, tapi pria itu juga pergi meninggalkan nya dengan kebingungan yang terlihat jelas.


Friederich pasti sangat kebingungan. Paling tidak, setelah ini semuanya menjadi jelas. Friederich jelas-jelas tidak bisa menerimaku lebih dari seorang gadis kecil, dia sudah menolak ku. Dan aku... Aku harus bertahan sedikit lebih lama. Cepat atau lambat lukaku akan sembuh. Cepat atau lambat aku akan melupakan cinta yang tak diinginkan ini dan menemukan seseorang yang tepat untukku. Meski demikian, aku ragu apakah akan ada seseorang yang bisa sama berartinya dengan Friederich bagiku.


Elle membenamkan kepalanya ke dalam air di bathtube. Ia sedang menata perasaan nya kembali. Ia tidak ingin terlihat menyedihkan saat Friederich kembali. Paling tidak, ia harus berpura-pura seolah tidak terjadi sesuatu diantara mereka.


Suara ketukan di pintu membuat Elle tersentak kaget. Dengan terburu-buru ia mengakhiri sesi mandi nya, memakai kembali kimono handuknya dan langsung berlari ke pintu. Wajahnya terlihat tegang, tapi ketika pintu terbuka ia merasa lebih lega karena bukan Friederich yang muncul, melainkan doc.


"boleh aku masuk milácěk?" doc tersenyum ramah. Elle mengangguk, ia membiarkan doc memasuki kamarnya dan duduk di sofa.


"aku kemari untuk memberitahukan mu jadwal kita hari ini. Kau akan menghadiri perjamuan makan tiga jam lagi, bersama para kepala departemen dan walikota Nuremberg."


"aku kira aku akan dijadwalkan untuk generalcheck up.. "


"tidak milácěk. Sayangnya aku tidak bisa memasukkan general check up di jadwalmu yang padat.”  "perjamuan ini sangat penting, karena itu kau harus berdandan secantik mungkin. Karena kita memiliki tamu istimewa.


"Siapa??


"kau akan mengetahuinya nanti.. "


Doc mendatangkan seorang perias dari kediaman walikota Nuremberg untuk menjadikan Elle secantik mungkin, diluar dugaan, perias yang berjenis kelamin laki-laki itu tidak terlihat gemulai sama sekali. Meski demikian, perias yang bernama Franzeska ini bekerja dengan sangat baik, ia merias Elle dengan sempurna, membuatnya berkilau seperti seperti berlian diantara bebatuan hitam.


Setelah hampir 3 jam menunggu, Viktor akhirnya merasa lega ketika akhirnya pintu kamar terbuka. Franzeska


keluar lebih dulu, melirik genit pada Viktor yang berjengit, lalu Elle keluar


kemudian.


 "Ell..Ell..Elleonora??" Viktor terperangah tak percaya, wajahnya memerah dan mulutnya menganga.


Elle tersenyum mengiyakan. Sudah kukira, pasti terlihat aneh.

__ADS_1


"Elleonora.. Aku tidak boleh merayumu, tapi aku harus mengakui bahwa kau sangat cantik.. " Viktor tersenyum.


"Siapa yang melarangmu untuk merayuku?"


"pria immature yang sangat bodoh... sudahlah, itu tidak penting." jawab Viktor sambil terkekeh. "ayo Elleonora, aku


akan mengantarmu sampai ke lift. Disana doc sudah menunggumu."


Elle mengikuti Viktor melewati beberapa ruangan hingga akhirnya mencapai pintu lift. Disana doc sudah menunggunya. Tidak seperti Viktor yang mengenakan seragam putih, doc mengenakan jas yang sangat keren.


" milácěk, kau sangat cantik. Kau akan membuat para pria merasa sangat malang karena menginginkanmu. "


doc tersenyum, tidak seperti Viktor, reaksi doc sangat tenang, seperti biasa.


Wajah Elle merona. "kau berlebihan doc.."


"aku mungkin akan menginginkanmu juga.." doc menggoda nya.


"Thanks doc, itu tidak lucu.."


Doc memasuki lift bersama Elle, Elle merasa canggung karena harus mengenakan gaun berbahu terbuka yang seksi dan sepatu tali yang cukup tinggi. Ia bertanya-tanya apakah Friederich juga akan menyukai gaun nya..


"ah..Friederich?" dimana Friederich? Kenapa dia tidak juga muncul?


"oh.. Dia akan menemuimu di ruang pertemuan. Friederich baru selesai dengan sesi pemeriksaan kesehatan nya."


"sesi pemeriksaan kesehatan? Apa Friederich sakit?" Elle tidak pernah melihat Friederich sakit sekalipun sebelumnya.


"tidak juga..” doc tidak bisa bilang kalau Friederich sedang menjalani konsultasi psikologis bersama seorang psikolog.


”Well, sama sepertimu milácěk, Friederich juga salah satu aset berharga kami. Karena dia tidak bisa lagi


merasakan nyeri apapun kami harus melakukan pemeriksaan menyeluruh secara berkala, untuk memastikan seluruh tubuhnya dalam kondisi yang baik."


"seperti yang kau ketahui, nyeri adalah alarm tubuh. Sensasi nyeri akan membuat kita merespon gangguan tersebut dengan segera." doc menambahkan ketika ia melihat Elle yang terlihat bingung."kalau alarm itu tidak ada, kalau alarm itu berhenti berbunyi, maka kita tak akan pernah tahu kalau sesuatu telah terjadi dalam tubuhnya, sampai semuanya terlambat."


"apakah sesuatu yang buruk pernah terjadi?" Elle tak pernah menyadari adanya bahaya dibalik ketidakmampuan Friederich merasakan rangsang nyeri.


"tentu saja. Si bodoh itu sering bertindak ceroboh dan nekat, tentu sesuatu yang buruk sering terjadi. Kupikir seiring


dengan bertambahnya umur dia akan menjadi lebih dewasa dan bijaksana, tapi sepertinya ia masih sama ceroboh dan nekat nya seperti 20 tahun yang lalu." doc mendengus.


"ah lift akan segera berhenti. Bersiap-siaplah milácěk."


Ketika lift berhenti, pintu lift segera terbuka. Apa yang berada di luar lift sangatlah berbeda dengan ruangan yang pernah Elle lihat sebelumnya. Sebuah aula yang dipenuhi dengan bunga dan ornamen emas, dengan meja-meja antik yang disepuh emas, dan buket-buket buah. Ruangan itu terlihat berkilau dengan pencahayaan yang sempurna.


Jantung Elle berdebar-debar, semua kemewahan ini membuatnya grogi. Tapi ia menguatkan dirinya, sambil mengepalkan kedua tangan nya ia memberanikan dirinya. Tanpa ragu Elle melangkah keluar lift, sesuai instruksi yang dikatakan Franzeska selama merias dirinya, ia melangkah seanggun yang ia bisa, tanpa menginjak ujung gaun nya yang menjuntai. Kepalanya menatap lurus kedepan, dengan dagu sedikit dinaikkan.


Elle bisa merasakan tatapan yang menatapnya tanpa kedip, bahkan desah napas yang tertahan. Apa aku semenakjubkan itu??


Setelah beberapa langkah ia berhenti dan menatap semua orang yang ada di ruangan itu, walikota Nuremberg, para pemimpin departemen yang memakai setelan jas, para pelayan yang membawa nampan, doc, dan Friederich.


lengkap, rambut yang tersisir rapi, ia bahkan mencukur habis jenggot nya yang berantakan.


Friederich.. Aku pasti terlihat menyedihkan dimatamu..


Dengan canggung ia menundukkan kepalanya, menghindari tatapan mata Friederich yang memandang nya tanpa berkedip, kemudian melanjutkan langkahnya ke tengah-tengah aula.


Friederich tak bisa mengalihkan pandangan nya sedikitpun dari nya, hanya bisa memandangi nya tanpa bisa melangkah lebih jauh. Saat gadis itu keluar dari lift ia tampak lebih bercahaya dari yang pernah ia lihat. Warna kulitnya yang indah, bahunya yang terbuka, gaun peach bertabur kristal yang berkilauan, bibir yang basah berwarna merah muda, dengan rambut gelap ikal yang dibiarkan tergerai indah, semua itu membuat Friederich tak bisa


bernapas. Jantungnya serasa berhenti berdetak, untuk kemudian menderu kuat, seperti mesin diesel tua.


Wajah Friederich memerah, terpesona oleh kecantikan yang begitu membius nya. Tapi ia tak bisa bergerak


sedikitpun untuk menghampiri nya, sekedar untuk tersenyum dan mencium jemarinya. Ia terperangkap dalam tugas dan jabatan nya. Tidak hanya itu, ia juga terperangkap dalam perasaan nya sendiri.


Doc menemani Elle sampai gadis itu sampai di tengah aula, disana Elle segera dihampiri oleh walikota dan para kepala departemen yang tampak berlomba-lomba ingin mencari perhatian nya. Diam-diam Friederich mendekat, tidak cukup dekat,  hanya untuk melayangkan pandangan mengintimidasi pada para kepala departemen yang


mengelilingi Elle seperti lalat.


"mundurlah Friederich.. Disini bukan wewenangmu." doc mengingatkan nya dengan setengah berbisik. Ia meninggalkan Elle dan berdiri di samping Friederich. Pria itu lebih membutuhkan penjagaan nya sekarang, daripada Elle.


Friederich terdiam, tak ada yang bisa ia lakukan selain memandang nya dari kejauhan.


"perhatikan Friederich.. Mulai sekarang kau akan menyesali segala keputusan bodohmu itu.." doc kembali berbisik.


"hei! Apa maksudmu?"


"diam dan lihat saja.."


Di sebuah sudut ruangan, ada sebuah sekat yang dihiasi oleh bebungaan dan ornamen emas yang indah. Elle tak bisa tidak menoleh untuk mengagumi ornamen itu, yang kanan dan kiri nya dijaga oleh beberapa pria berjas hitam. Tapi kemudian seseorang mendorong sekat itu hingga terbuka, dan seorang pria melangkah keluar dengan langkah-langkah yang tenang. Seorang pria sangat tampan berwajah innocent, rambut hitam, mata hitam, memakai pakaian resmi yang ditenun dengan indah, tersenyum mempesona padanya. Saat ia melangkah, para pria berjas hitam berjalan dalam barisan di kanan-dan kiri belakang nya, mengawalnya dengan ketat.


"tidak mungkin!!" Friederich terlihat syock.


"inilah dia.. Tamu kita dari Prague.." bisik doc dengan nada puas.


"senang bertemu denganmu, Lady Elleonora.. Jsi krásná.. Kau terlihat jauh lebih cantik dari yang kukira." pria itu meraih tangan Elle dan menciumnya lembut.


Seketika wajah Elle memerah tanpa bisa ia kendalikan. Pria itu telah membuat jantungnya berdebar liar.


"perkenalkan.. Aku pangeran Heinrich Vladislav X, Putra mahkota dari kerajaan Bohemia, Czech."


Friederich menelan ludahnya, seluruh ototnya terasa tegang, begitu juga ekspresi wajahnya. Ia mengepalkan kedua tangan nya dengan kuat, sementara doc tersenyum penuh arti.


"apa yang dilakukan aristokrat itu jauh-jauh dari Prague kemari?"

__ADS_1


"dia datang untuk mengklaim gadismu.."


Friederich terkejut, ia menoleh pada doc dan memasang wajah yang paling kejam.


"kau sudah tahu sebelumnya?!!" geram Friederich.


"kau yang menyianyiakan seluruh bantuanku.."ia meng iramakan jawaban nya dengan riang, seolah tatapan


membunuh Friederich hanyalah hiburan baginya.


"sudah kubilang kau akan menyesali keputusanmu.."


                                                                                        *****


Tidak banyak yang Elle bicarakan dengan sang pangeran yang tampan, pria mempesona itu lebih sering memandangi nya dengan tatapan lembut yang membuatnya salah tingkah. Dalam acara perjamuan makan nya


pun ia diposisikan tepat di sebelah sang pangeran, mengingat bagaimana tertata nya cara makan sang pangeran, Elle jadi merasa dirinya jauh dari kesan anggun apalagi ningrat.


Kepala Elle tertunduk layu. Tadinya ia berharap makeover nya yang luar biasa itu akan membuat Friederich berubah pikiran, ia berharap Friederich terpesona padanya. Mungkin saja, Friederich akan jatuh cinta padanya. Tapi ternyata ia salah. Pria itu bahkan terlihat sangat dingin.. Ia hanya berdiri di kejauhan seperti patung dan membiarkan aku menghadapi walikota Nuremberg, para kepala departemen dan pangeran sendirian. Mungkin setelah perjamuan selesai aku bisa menemui Friederich, dan kami bisa bicara.. Paling tidak, aku ingin hubungan kami berdua menjadi normal kembali, seperti sebelum aku mengucapkan hal yang tidak perlu itu. Aku hanya ingin.. Aku hanya ingin dia menyebutku cantik.. Itu saja.


Elle merasa benar-benar lega ketika akhirnya perjamuan itu berakhir. Sang pangeran bersikeras untuk mengantar Elle ke kamarnya, dengan diiringi oleh para pengawalnya, serta Viktor dan doc yang berada di barisan belakang. Elle ingin sekali menolaknya, tapi sepertinya ia tak bisa banyak berkutik, pria itu selalu mendominasi pembicaraan dan tak memberinya kesempatan untuk berbicara.


Sesaat setelah pintu kamar tertutup, dan ia kembali terpisahkan dari pangeran dan rombongan pengawalnya, Elle segera menghela napas lega. Ia melemparkan sepatu nya, meletakkan seluruh perhiasan mahal yang dipinjam kan padanya di meja rias, melepaskan seluruh pakaian nya dan meletakkan nya begitu saja di lantai karpet, dan segera pergi ke kamar mandi untuk mencuci wajahnya dan  berendam air hangat. Setelah itu dengan lelah ia menyeret dirinya ke tempat tidur, menaikkan selimut dan tertidur dengan cepat.


Hanya beberapa jam kemudian Friederich kembali ke kamar. Ia membereskan sepatu, perhiasan juga pakaian pesta yang tadi dikenakan Elle, kemudian duduk di tepian tempat tidur. Ia terlihat berantakan dan lelah.


Selama beberapa lama pria itu hanya diam dan memandangi Elle yang tertidur. Kegalauan nya sirna, digantikan oleh senyuman yang melegakan. Dengan hati-hati ia membelai rambut Elle, menyibak rambut yang menutupi pelipis dan bekas lukanya.


"maaf ya, kau pasti terluka.. bitte verzeih mir Leo.." bisiknya. Dengan lembut ia mencium pelipis Elle. Setelah itu selama beberapa lama ia hanya diam dan memandangi Elle yang tertidur sambil tersenyum, sampai akhirnya ia menaikkan selimut Elle dan duduk di sofa.


Selama berjam-jam Friederich duduk di sofa, tidak melakukan apapun selain melamun dan menghela napas panjang. Ia meletakan handgun otomatis nya di meja, dan berharap seseorang akan menerobos masuk sambil menodongkan senjata, jadi dia punya kesempatan untuk melapiaskan kekesalan dengan meluluh lantakkan mereka semua. Diam-diam ia membayangkan pangeran muda itu menerobos masuk bersama dengan para pengawalnya, kemudian ia akan memberondong mereka semua dengan handgun otomatisnya, dan berpura-pura innocent kemudian. Ia akan berkilah mengira mereka semua sebagai gagak hitam.


"akan kuhapus senyum aristokrat itu dari wajahmu..." gumamnya sambil menyeringai senang.


 Elle sangat terkejut ketika ia menemukan Friederich di kamarnya ketika ia bangun tidur.  Pria itu tersenyum seperti biasanya, seolah tidak pernah terjadi apa-apa, seolah kemarin hanyalah mimpi buruk.


"tidurmu sangat nyenyak, pasti kemarin melelahkan bagimu.."


"kau sudah lama menunggu?" Elle menyeret kedua kakinya ke sofa, duduk di sofa yang berhadapan dengan Friederich.


"belum begitu lama.. Aku membawakan mu sarapan pagi. Sebaiknya kau cepat sarapan dan mandi Leo, sebentar lagi beauty assistance mu akan kemari." Friederich mengambil atasan seragam nya dan mengancingkan kancing magnet nya.


Ha..? Franzeska lagi? Itu artinya aku harus berdandan seperti putri dan bermanis-manis di depan pangeran dan para kepala departemen lagi..?


Elle mendengus. "apa lagi sih yang mereka ingin aku lakukan..?" keluhnya.


Friederich berdiri dan berkaca di meja rias, ia merapikan dirinya sendiri, merapikan rambut dan seragam nya. Elle mendekat dengan ragu. Ia ingin sekali memandangi pria itu dengan lebih dekat, membantunya memasangkan kancing atas seragam nya dan memastikan seragamnya benar-benar rapi. Tapi.. Mungkin Friederich malah akan lari lagi bila ia melakukan hal itu.


"kau.. Mencukur jenggot.." Elle harus mengakui, Friederich terlihat lebih tampan sekarang, dengan rambut yang rapi


dan tanpa jenggot. Ia jadi terlihat lebih muda.


"ya, apa boleh buat, kemarin khan acara resmi.." Friederich terkekeh.


Dengan langkah yang panjang Friederich melangkah ke arah pintu. Ia menekan tombol pintu terbuka.


Tiba-tiba Elle memanggilnya.


"Friederich tunggu!"


Ini dia.. Mungkin ini tidak akan merubah apapun, tapi paling tidak, aku merasa harus mengatakan nya.


"soal kemarin.." Elle menelan ludahnya. Wajahnya memerah.


"bisakah.. Kau lupakan saja? Ang-anggap saja aku tidak pernah mengatakan nya.." Elle menundukkan kepalanya. Ia tak mampu menatap wajah tampan itu tanpa merasa malu dan bodoh.


Friederich membisu, lalu dengan perlahan ia menghampiri Elle. Tidak seperti sebelumnya, ketika ia selalu terlihat ragu dan bingung, kali ini ia terlihat mantap. Sebuah keputusan besar mungkin telah diambilnya semalam. Kedua tangan nya merengkuh wajah Elle, dan mengangkatnya. Sementara ia menempelkan dahi mereka berdua, membuat Elle terkejut dan berdebar-debar.


"tidak apa-apa. Aku bisa mengerti.." bisiknya.


Maksudnya???


Sebelum Elle bisa menggerakkan lidahnya yang kelu, Friederich melepaskan kedua tangan nya, mundur selangkah, lalu mengelus kepala Elle dengan perlahan. Pria itu tersenyum dengan senyuman yang mempesona,


membuat Elle semakin kebingungan.


Elle menelan ludahnya, entah kenapa, sekali ini usapan tangan nya terasa sangat mendebarkan. Membuatnya menginginkan nya lagi dan lagi.


Sesaat sebelum friederich melangkah keluar dari kamar, ia menahan langkahnya. Sepertinya ada hal lain yang lupa ia sampaikan. Wajahnya agak memerah


"oh, kemarin kau kelihatan sangat cantik, Leo.."


Apa....??!!


Wajah Elle memerah padam, rasanya ia bisa merasakan uap panas yang mendesis keluar dari pori-pori kepalanya. Sebelum Elle bisa bereaksi lebih histeris dari sekedar berubah menjadi seekor udang rebus, Friederich pergi dan pintu tertutup di punggung nya.


 


 


 


 


Bitte verzeih mir = please forgive me (ger)

__ADS_1


Jsi krásná = you’re beautiful (czech)


Milácěk = sweetheart (czech)


__ADS_2