
Dalam hitungan ketiga mereka bertiga berpencar. Friederich mengambil jalur yang paling dekat karena ia harus membawa Elle secepatnya ke dalam bunker. Hanya disanalah Elle bisa benar-benar aman. Ia berlari sambil
menggendong Elle, dalam langkah-langkah lebar yang cepat. Sesekali ia akan melompati akar pohon raksasa yang menghalangi jalan nya, atau mengubah arah ketika akar pohon yang melintang dihadapanya terlalu besar untuk bisa dilompati, dan terlalu membuang waktu untuk dilewati. Sesekali mata nya berputar liar mencari jejak musuh dengan mata binokulernya.
"Leo, aktifkan gps! Petakan keberadaan musuh dalam radius 5 km!" Friederich memberi perintah pada blacksheet yang ia simpan di saku bajunya.
"terdeteksi dua musuh, mereka berada dalam radius 4 km dan semakin mendekat." blacksheet itu menjawabnya setelah beberapa saat.
Friederich melayangkan pandangan nya ke sekitar nya, ia seolah mencari sesuatu di hutan itu. Ia berbelok beberapa kali, sesaat terlihat seperti sedang tersesat.
"Friederich.. Kemana kita?" Elle semakin cemas sekarang.
"aku sedang mencari sesuatu.." Friederich masih sibuk mencari, matanya berputar liar keatas dahan-dahan
yang tinggi.
"apa yang kau cari?!" kepanikan mulai membuat Elle makin gugup.
"tenanglah Leo. Tempat ini adalah tempat latihan ku dulu, aku sangat mengenali tempat ini. Aku hanya sedang mencari tanda nya."
Friederich mendesis lega saat ia menemukan tanda yang ia cari. Matanya terpusat pada sebuah titik 10 meter di depan mereka, dibatang atas sebuah pohon pinus raksasa yang dirambati dengan banyak benalu berbunga
putih. Ia berlari menuju pohon itu, kemudian menurunkan Elle diatas sebuah akar pohon raksasa, dan mengeluarkan sesuatu dari ranselnya. Ia mengeluarkan pelontar tali dari tas nya, berbentuk seperti harpoon yang
memiliki tali dan kumparan. Ada sebuah katrol mekanik kecil di bagian belakang harpoon, mengaitkan tali itu
dengan alat pelontar dan kumparan.
Kau mau memanjat pohon besar ini sambil menggendongku? Itu tidak mungkin...
"ya Leo, kita akan memanjatnya." Friederich menyeringai senang.
Friederich menembakkan harpoon nya, dan selembar tali kuat berwarna hitam legam melesat bersama nya, menghilang diantara rindangnya dedaunan. Tak lama kemudian dari kejauhan terdengar suara harpoon
yang menancap ke dalam batang besar. Friederich menarik tali itu selama beberapa kali untuk memeriksa kekuatan tali nya, memastikan harpoon tersebut sudah tertancap dengan kuat di batang yang tepat. Setelah itu ia menarik tali itu hingga terlepas dari pelontar dan kumparan yang tadi telah menggulungnya, dan menyimpan nya ke dalam ransel nya. Dengan cekatan ia membuat simpul kecil berbentuk seperti tali gantungan di ujung tali dan mengaitkan sebelah kakinya ke dalam simpul tersebut. Setelah itu dengan satu tangan ia menggendong Elle, sementara tangan nya yang lain mencengkeram tali dengan kuat.
"berpegangan yang erat padaku Leo, sekuat yang kau bisa. Kita akan memanjat."
__ADS_1
Tanpa menunggu Elle segera melingkarkan kedua tangan nya di leher dan melingkarkan kedua kakinya di pinggang Friederich. Setelah memastikan Elle telah memeluknya dengan cukup kuat ia menarik tali itu kuat-kuat sekali
lagi, dan seketika tali itu tertarik keatas oleh sistem katrol.
Dalam waktu yang singkat tali itu telah membawa mereka ke ketinggian yang cukup untuk membuat Elle pingsan karena ketakutan. Mereka berada di ketinggian nyaris 10 m sekarang. Dan sebelum tali itu menarik mereka ke titik yang lebih tinggi dari yang seharusnya, Friederich mengayunkan tubuhnya dan berpijak pada sebatang dahan yang kuat. Setelah itu Friederich melangkah dengan ringan diantara dahan-dahan yang besar.
Bila Elle melihat bagaimana Friederich terlihat begitu terbiasa berjalan diantara dahan-dahan itu, ia yakin, Friederich pasti sudah pernah menaiki pohon ini setidaknya satu kali.
Saat Friederich mencapai rumpun benalu berbunga putih yang saling menjalin menjadi jaring raksasa yang
berkelopak putih, Friederich menghentikan langkahnya.
"Friederich..kau tidak akan meletakkan aku di jaring benalu itu kan?" Elle menguatkan pelukan nya,
"tenang lah Leo, ini hanya sebuah kamuflase." dengan sebelah tangan ia menarik ujung terpal kamuflase yang tersamarkan dibalik rumpun benalu. Kemudian dengan hati-hati ia menyibak nya dan terbuka lah sebuah pintu yang terbuat dari kain terpal kaku. Setelah zipper pintu berhasil terbuka Friederich meletakkan Elle di dalam. Setelah itu
ia menyalakan saklar lampu emergensi dan memeriksa tempat itu.
Elle tak berani bergerak. Ia bahkan tak berani bernapas. Bila tempat ini adalah sebuah tenda yang diletakkan 10
meter diatas dahan sebuah pohon raksasa, bukankah akan sembrono bila ia bergerak dengan tidak hati-hati dan membuat tenda nya bergoyang? Akan jadi mimpi buruk bila kemudian tenda itu terjatuh ke tanah yang keras.
"Leo, aku harus membereskan beberapa hal, bisakah kau menunggu disini?"
Elle mengangguk pelan, terlalu tegang untuk menjawab.
Friederich berjalan kembali ke pintu terpal, saat ia hendak memasangkan zipper kembali di pintunya, ia berkata. "Leo, jangan pernah membuka zippernya, ingat itu!"
Masih dengan ketegangan yang membuat kaku seluruh otot nya Elle mengangguk
Friederich nyaris berlari diantara dahan-dahan yang kuat, kemudian melompat untuk meraih tali harpoon yang digunakan nya untuk naik keatas pohon. Sesaat kemudian tubuhnya melesat turun dengan sangat cepat, dan tepat sebelum kakinya menjejak tanah dengan hentakan yang bisa mematahkan tulang-tulangnya, tali itu dengan seketika terhenti. Untuk meghilangkan jejak ia menarik tali tersebut sekuat tenaga sebanyak 3 kali hingga ujung tajam harpoon yang tertancap di kayu yang keras tercabut paksa dan terjatuh di dengan bunyi yang cukup keras di
depan kakinya. Dengan terburu-buru ia menggulung tali itu dengan asal dan memasukkan nya kembali ke dalam ranselnya. Tepat disaat ia selesai membersihkan jejaknya, ia mendengar suara motor trail di kejauhan.
Friederich berlari sejauh mungkin dari pohon tersebut, ia tidak ingin mengambil resiko dengan melakukan baku tembak di dekat pohon tempat ia mengamankan Elle. Setelah merasa cukup jauh ia memanjat salah satu pohon dengan menggunakan hanya kedua kaki dan tangan nya yang kuat, dan bersembunyi di salah satu dahan yang tidak terlalu tinggi. Kemudian ia mengeluarkan bagian-bagian dari senjata sniper dari dalam ranselnya dan
merakitnya dengan sangat cepat. Setelah ia selesai merakit Friederich memasukkan peluru nya satu demi satu ke dalam wadah peluru.
__ADS_1
Ia mulai mencari sasaran nya, memperhitungkan jarak nya, memperhitungkan kecepatan angin dan sudut puntiran peluru. Setelah ia merasa siap, Friederich pun menembak. Di kejauhan, 20 meter jauhnya dari tempat
Friederich bersembunyi, seorang gagak hitam berseragam tentara tiba-tiba terjatuh dari motor trail nya. Sebuah peluru melubangi kepalanya.
Ketiga teman nya yang terkejut segera mencari arah tembakan sembari mengemudikan trail mereka dengan zigzag untuk menghindari tembakan. Tapi Friederich tidak akan membiarkan mereka bersenang-senang lebih lama dengan kendaraan curian yang mereka pakai. Friederich membidik lagi. Kali ini ia mengincar motor trail yang mereka
gunakan.
Kelemahan motor trail terletak pada sistem batrai yang digunakan untuk membuat roda nya tetap bisa berputar dalam kecepatan putaran yang tinggi. Batrai nya terlalu lemah, tidak sempurna, dan lapisan pelindungnya terlalu tipis, sehingga bila terkena tembakan, batrai itu akan meledak dan melukai pengguna nya.
Friederich membidik lambung motor trail, tempat dimana batrai berada. Saat tembakan nya mengenai sasaran, tiba-tiba saja motor trail itu meledak dan melempar pengendara nya cukup keras ke tanah lembab. Luka ledakan yang parah memenuhi sepanjang perut dan kaki nya, membuat gagak hitam itu tak sadarkan diri.
Kedua pengendara trail yang lain segera meninggalkan kendaraan mereka dan bersembunyi di balik batang-batang pohon pinus raksasa. Saat mereka balas menembak dengan senapan serbu yang bisa memuntahkan sampai dengan 100 peluru dalam satu menit, Friederich melompat turun. Ia berlari menghindari berondongan peluru yang mengancamnya dan berlindung dibalik akar pohon raksasa.
Friederich meninggalkan senapan snipernya dan mulai mengeluarkan kedua handgun otomatisnya. Dengan hati-hati ia merangkak dibawah naungan akar raksasa yang melindunginya dari ratusan peluru yang ingin melubangi tubuhnya. Saat ia menemukan peluang, Friederich segera menembakkan handgun nya.
Peluru tersebut tepat mengenai tangan gagak hitam, satu atau dua jari nya terlihat nyaris hancur. Sontak pria itu berteriak kesakitan, menjatuhkan senapan nya dan memegangi tangan nya yang berdarah. Friederich tersenyum, memandangi gagak hitam yang terluka dengan tatapan yang sangat dingin dan kejam. Tanpa membuang waktu
ia mengangkat handgun nya dan menembak kepala pria itu hanya dalam satu tembakan. Hanya sedetik kemudian gagak hitam itu terjatuh ke tanah dengan kepala yang pecah.
Seorang gagak hitam yang tersisa dengan panik menembakkan senapan serbu nya dengan nyaris membabibuta. Ia memandangi teman nya yang kehilangan beberapa jarinya akibat tembakan Friederich, teman nya yang lain yang terkapar di tanah lembab dengan luka yang parah di perut dan kaki nya dan terakhir, ia memandangi teman nya yang kepalanya berlubang. Ia merasakan kengerian saat ketiga teman nya itu dengan mudah dilumpuhkan oleh seorang tentara bersenjatakan sniper dan handgun.
Sambil menembak dengan membabibuta gagak hitam itu berjalan menjauh. Niatnya jelas, ingin melarikan diri. Ia
berusaha mencapai motor trail nya yang ia tinggalkan hanya beberapa meter di belakangnya. Sayangnya ia tidak tahu kalau Friederich berjalan mengendap-endap di dekatnya seperti seekor harimau yang mengincar
korban nya. Tembakan yang membabibuta dan tidak terarah itu malah memberinya kesempatan untuk mengambil jalur memutar dengan berlindung dibalik akar-akar pohon dan mengincar nya dengan lapar.
Saat gagak hitam itu membalikan tubuhnya, tiba-tiba saja Friederich melompat dari balik akar pohon dan mencengkeram leher nya. Gagak hitam itu sangat terkejut, dan sebelum ia bisa melakukan apapun untuk menghalau Friederich pergi dari punggungnya, Friederich mematahkan leher nya.
Friederich tersenyum, dengan tatapan yang sangat dingin dan kejam, memandangi seorang gagak hitam yang tersisa, yang berdiri hanya beberapa meter darinya. Dengan panik dan ketakutan gagak hitam itu mengarahkan senapan nya, dia bisa melihat jelas bagaimana gagak itu berusaha mempertahankan genggaman nya yang lemah dan gemetaran. Friederich berjalan dengan perlahan, tadinya ia berniat merebut senjata itu dan melumpuhkannya dengan satu atau dua pukulan. Tapi kemudian ia sadar, ia mungkin harus melupakan rencana nya, dan mulai berbuat sesuatu sebelum pria dihadapan nya itu melubangi tubuhnya dengan peluru-peluru yang acak.
Tepat sebelum gagak hitam itu menembak nya, Friederich menarik mayat gagak hitam yang ia patah kan lehernya itu dari kakinya, dan menggunakan nya sebagai perisai. Hanya sedetik kemudian tembakan-tembakan dari jarak dekat menyerangnya dengan bertubi-tubi dan tidak terarah. Perisai manusia itu berguncang seiring dengan peluru demi peluru yang ditelan nya, Friederich hanya perlu bertahan sedikit lebih lama. Ia tahu perisai manusia yang digunakan nya tak akan sanggup melindungi seluruh tubuhnya, yang notabene jauh lebih besar daripada perisai yang dipakai nya. Tapi toh ia tak perlu melindungi seluruh tubuhnya, ia hanya perlu melindungi kepala dan bagian tubuh nya yang vital saja. Dan ia tak terlalu perduli ketika peluru-peluru tak terarah itu menembus perisai manusia nya dan melukai kaki dan lengan nya.
Merasa sudah cukup bersenang-senang, Friederich memutuskan untuk mengakhiri permainan nya. Dengan cepat ia menarik handgun nya dan menembak kepala pria itu hanya dalam satu tembakan. Hanya sedetik kemudian
gagak hitam itu terjatuh ke tanah dengan kepala yang pecah.
__ADS_1
"dasar amatir.." dengusnya.