Ich Liebe Dich, Leo!

Ich Liebe Dich, Leo!
Episode 31 Pengkhianatan Ridnik


__ADS_3

"Ayo Friederich, kita berangkat." Doc berdiri. Ia memeriksa senapan nya dan membuka kunci nya.


Viktor keluar lebih dulu dari semak-semak, dengan hati-hati mengamankan rute yang akan mereka lalui. Setelah itu Friederich menarik Elle keluar dari semak-semak, baru kemudian Doc keluar paling terakhir.


"Tetaplah disampingku Leo.. Apapun yang terjadi, jangan pergi dari sisiku. Kecuali aku memerintahkanmu." Friederich menarik handgun dari sabuknya, sementara tangan yang lain mencengkeram tangan Elle dengan kuat.


Viktor memandu Friederich melalui rute yang telah dibahasnya dengan Doc, dengan melewati area pepohonan yang rimbun, kemudian menyeberangi padang rumput kering dan menuju reruntuhan pedesaan yang ditinggalkan. Friederich berjalan dengan sangat hati-hati, dengan berlindung dibalik rumah-rumah yang telah ditinggalkan. Doc berjalan tepat dibelakangnya, dengan senapan yang mengarah keluar.


"Doc, aku melihat pergerakan." bisik Friederich. Suaranya terdengar tegang.


"Ya, aku juga. Setidaknya ada sepuluh orang, tiga dibalik semak-semak diarah jam 3, dua di balik sumur tua diarah jam 11, tiga dibalik bilik peternakan tua diarah jam 9, dua lagi.. Entahlah, aku tidak yakin." jawab Doc.


"Sial! Padahal pintu masuk bungker hanya 100m didepan." Viktor berdecak kesal.


"Viktor pancing mereka keluar, Doc kau di arah jam 11 dan jam 9. Aku akan menyelesaikan di arah jam 3."


"Leo tetap merunduk disini sampai aku perintahkan untuk bergerak."


Tanpa perlu mengangguk Elle merunduk serendah mungkin, sambil memegangi kepala dengan kedua tangan


nya. Ketegangan melanda nya bahkan sebelum baku tembak benar-benar pecah dihadapan matanya.


Viktor berlari dari balik bangunan tua yang mereka jadikan tempat berlindung, menuju reruntuhan rumah hanya beberapa meter didepan nya. Tiba-tiba saja dari kejauhan peluru tajam mengincarnya, meleset hanya beberapa inci dari tubuhnya. Tanpa menunggu tembakan selanjutnya Viktor melompat kebalik reruntuhan, sementara Doc dan Friederich mulai menembak sasaran mereka.


Doc berlari dari tempatnya berlindung, menuju kebalik reruntuhan lumbung untuk mendapatkan sudut tembak yang lebih baik. Dan Friederich, ia menembak dari balik bangunan yang mereka jadikan tempat untuk berlindung. Beberapa kali ia nyaris tertembak dan harus merunduk dibalik dinding bangunan yang rendah untuk menghindari peluru yang ingin menembus tubuhnya. Bangunan itu terlalu rapuh untuk menahan tembakan, cepat atau lambat


bangunan itu akan hancur, karena itu Friederich harus melakukan sesuatu secepatnya.


Tak kehabisan akal, Friederich melubangi dinding bangunan dengan pelurunya, kemudian membidik mereka dari lubang yang dbuatnya. Dengan mata binokularnya ia bisa melihat dengan jelas bahwa peluru-pelurunya telah berhasil mengenai ketiga musuhnya. Saat ia menoleh pada Doc, pria itupun sudah menjatuhkan beberapa. Dan Viktor, bocah itu masih baik-baik saja, membantu Doc dengan tembakan-tembakan nya.


"Doc,Viktor, lindungi kami!" Friederich memperingatkan Doc dan Viktor. Keduanya hanya mengangguk dengan patuh dan bersiap. Dalam hitungan ketiga Friederich menarik Elle keluar dari tempat persembunyian dan berlari kebalik sebuah bangunan rumah yang berada 10 meter di depan.


Ellle menghembuskan napasnya pendek-pendek, terlalu tegang dan takut untuk melakukan apapun kecuali membiarkan Friederich menariknya dengan kuat. Ia bisa mendengar suara letusan senapan, lagi dan lagi, saling bersahut. Sesekali ia akan mendengar pekik kesakitan di kejauhan, atau sumpah serapah Viktor yang diucapkan


dengan sungguh-sungguh. Dadanya selalu hampir berhenti setiap kali peluru-peluru itu menghembus kuat di sekitar mereka, seolah jarak kedua nya dari kematian sangat-sangat dekat.


Elle nyaris memekik ketika Friederich mengangkat tubuhnya dan membawanya melompat kebalik reruntuhan rumah.


"Kau tidak apa-apa?" tanya Friederich. Elle mengangguk, terlalu ketakutan untuk bicara apapun.


"Bertahanlah Leo, kau lihat reruntuhan gereja disana." Friederich menunjuk sebuah reruntuhan gereja yang berdiri dipuncak bukit landai kurang dari 100 meter didepan mereka.

__ADS_1


"Disanalah pintu bungker nya."


"Mereka lebih dari sepuluh." Doc menyandarkan punggungnya ke tembok bangunan. Ia baru saja menyusul Friederich dan Elle, dan ikut berlindung dibalik bangunan yang sama, sementara Viktor berlindung dibangunan lain yang berjarak hanya beberapa meter.


"Aku sudah menghitung, delapan yang kita temukan keberadaan nya sudah dieksekusi. Kemudian muncul empat lagi dari balik pepohonan. Entah apakah masih ada lagi Gagak Hitam yang bersembunyi diluar sana." Doc


mendengus kesal.


"Mereka tahu target kita adalah bungker." Friederich bergumam.


"Artinya seseorang telah menyadap jaringan komunikasi internal antara para unit khusus dan bos nya." Doc menempelkan *patch*antikoagulan di lengan nya yang terserempet peluru.


"Siapapun dalang yang menggerakan dan mengendalikan Gagak-gagak Hitam itu pastilah sangat terampil, karena ia bisa menebak setiap langkah kita dan mengantisipasi nya." Friederich melemparkan patch antikoagulan pada Viktor, yang tertembak di kaki nya.


"Hei Doc lemparkan morfin nya!!" teriak Viktor, menyeringai kesakitan.


"Dengan kata lain pengkhianat itu adalah seseorang dari unit kita sendiri.." Doc melemparkan tube suntikan yang


berisi morfin pada Viktor, yang segera menyuntikkan nya pada paha kiri nya untuk menghilangkan nyeri akibat tembakan.


"Aku tidak sabar ingin mengetahui siapa dalang dibalik penyerangan ini.." Doc mendesis kesal.


di kejauhan, menembak mereka dengan membabibuta, membuat Friederich dan Elle tak bisa bergerak sedikitpun dari tempat mereka berlindung.


Friederich menarik salah satu granat dari sabuknya, kemudian melemparkan nya dengan kuat kearah para Gagak Hitam. Saat granat itu meledak di kejauhan mereka bisa mendengar pekik kesakitan dan sumpah serapah


penuh kemarahan. Dengan memanfaatkan kelengahan Doc membidik dan menembak Gagak Hitam dengan akurat. Setelah merasa cukup aman Friederich menarik Elle berlari kembali, dengan dilindungi oleh tembakan-tembakan Doc dan Viktor. Friederich menarik Elle berlindung dari satu bangunan dan reruntuhan ke reruntuhan yang lain,


sementara Doc dan Viktor berlari sambil terus menembak dibelakangnya, melindungi keduanya.


"Ayo Leo, hanya tinggal sedikit lagi. Sedikit lagi kita bisa mencapai gereja tua itu." ucap Friederich, menyemangati Elle yang terlihat sangat pucat.


"Friederich kau pergi saja lebih dulu, aku akan segera menyusulmu." ucap Doc. "Yang satu ini benar-benar licin.." ia menambahkan, mengomentari Gagak Hitam buruan nya yang selalu saja luput dari tembakan nya.


"Doc benar! Kami bisa mengatasi ini. Tenang saja" Viktor terkekeh, sambil terus menembak dua musuh yang bersembunyi di balik pohon di kejauhan. Ia sudah sama sekali melupakan kakinya yang tertembak. Berkat morfin rasa nyerinya hilang sama sekali.


"Baiklah. Aku mengandalkan kalian. Ayo Leo cepat!" Friederich menarik Elle yang sudah nyaris tidak bisa lagi berjalan karena terlalu ketakutan.


Keduanya berlari dengan cepat, dengan mempercayakan nyawa mereka pada Doc dan Viktor yang melindungi mereka berdua, melewati reruntuhan bangunan pedesaan dan padang rumput tinggi, hingga akhirnya


mencapai bangunan gereja tua. Friederich menarik Leo kedalam bangunan gereja tua, ia membiarkan gadis itu mengatur napasnya yang terengah sementara ia memeriksa bangunan itu sebelum membawa Elle keruangan utama dari gereja tua dimana pintu bunker berada.

__ADS_1


"Selamat Friederich.. Kau telah melakukan tugasmu dengan baik."


Friederich tersentak kaget. Ia membalikkan badan nya dan terkejut saat menemukan seseorang yang dikenalnya, menodongkan senapan padanya.


"Ridnik..? Kau...?" kata-kata Friederich tercekat begitu saja. Ia tidak perlu meneruskan kalimatnya, ketika berbagai pikiran mengenai adanya mata-mata yang telah membocorkan seluruh informasi berkecamuk di kepalanya, semua tiba-tiba terlihat jelas.


”Jadi kaulah penghianatnya...” dengan perlahan Friederich berjalan memutari Ridnik, ia harus melindungi Elle yang membeku hanya beberapa meter dari Ridnik berdiri. Ridnik memang tidak mengacungkan senapan pada Elle, tapi ia tahu, pria itu bisa menembak Elle kapan saja. Ridnik bahkan bisa menembak gadis itu tepat di kepalanya tanpa harus benar-benar melihatnya. Fakta bahwa Ridnik tidak seketika menembak Elle menandakan kepercayaan diri nya yang sangat tinggi. Ia begitu yakin bisa mencabut nyawa Elle kapan pun ia mau, dengan atau tanpa perlindungan Friederich.


Friederich beruntung, Ridnik begitu murah hati. Setidaknya pria itu tidak menembaknya ditempat, melainkan membiarkan nya menghampiri Elle yang ketakutan dan melindungi nya dengan tubuhnya.


Elle membeku di dinding gereja yang rapuh, terlalu takut untuk melakukan apapun. Napasnya tersengal karena kelelahan dan  ketakutan, sementara seluruh tubuhnya terasa sangat dingin dan kebas.


Saat pria bersenjata itu muncul begitu saja dari balik ruangan gereja Elle tak bisa melakukan apapun selain membisu. Ia bahkan tak bisa memperingatkan Friederich. Ia benar-benar merasa bodoh dan tak berdaya. Sekarang pria itu menodongkan ujung senapan nya pada Friederich, ia merasa semua ini sebagian nya adalah kesalahan nya.


"Friederich...?" Elle mencengkeram baju Friederich dengan kuat, sekuat yang bisa ia lakukan dengan kedua tangan nya yang kebas, dingin dan gemetaran.


"Tenanglah Leo.. Dia hanya seorang teman.. Tetaplah berdiri dibelakangku." Friederich menuntun Elle agar gadis itu berdiri tepat dibelakang tubuhnya, terlindung oleh tubuhnya yang besar dan kekar.


“Kenapa kau lakukan itu Ridnik?" Friederich berniat untuk mengulur waktu sampai Doc atau Viktor tiba dan menembak Ridnik, atau setidaknya mengejutkan nya. Ia membutuhkan peluang untuk menembak Ridnik, meski hanya sedikit saja. Tanpa peluang yang tepat ia tak akan bisa menjatuhkan Ridnik. Ridnik seperti dirinya dan Doc, adalah anggota Unit Khusus Misi Rahasia. Seperti dirinya dan Doc, pria itu tidak mudah dijatuhkan dan sangat terampil dengan senapan.


"Aku hanya berusaha sedikit lebih jujur dengan jatidiriku yang sebenarnya. Aku hanya berusaha lebih jujur dengan darah dan gen yang aku miliki dalam diriku.." pria besar berambut merah itu menyeringai, mengerikan.


”Kau bangga dengan garis keturunan Germania yang kau miliki, meski kakek dan ayahmu menderita karena mereka? Mereka berusaha melakukan segala cara untuk menghilangkan penanda itu, sedangkan kau... kau malah menjilat pantat mereka.. kau menyedihkan Ridnik..” Friederich masih berusaha mengulur waktu. Ia benar-benar berharap Doc dan Viktor segera menyusulnya.


”Aku realistis.. aku tidak seperti ayah dan kakek ku. Berpikirlah dengan realistis Friederich, negara ini akan hancur. Magna Germania akan menghabisi negara ini dalam satu atau dua tahun kedepan. Bukalah mata dan pikiranmu Friederich, negara ini sudah kehilangan semangat tempurnya.. Negara ini sudah diambang menyerah. Mungkin sebaiknya kau juga bersikap lebih jujur pada darah dan gen yang kau miliki Friederich..”


Apa..? apa yang pria itu katakan? Apa maksudnya?


"Itu karena mereka telah membunuh para ibu, para istri, para anak wanita, dan para adik kita! Itu karena mereka telah membunuh para wanita di negeri ini! Para ayah kehilangan putri mereka! Para suami kehilangan istri dan anak perempuan mereka! Para anak kehilangan ibu dan adik mereka! Dan para pria, mereka kehilangan kekasih mereka! Semua itu membuat mereka kehilangan tujuan hidup, kehilangan semangat, kehilangan sesuatu yang mereka perjuangkan untuk tetap hidup!” Friederich menjawabnya dengan emosional.


”tapi semua itu akan berubah Ridnik.. gadis ini.. gadis ini adalah harapan kita. Gadis ini adalah jawaban yang kita cari. Gadis ini akan membawa harapan baru bagi kita.” saat Friederich melirik Elle dari sudut matanya, tatapan nya berubah teduh.


”Aku tidak akan terkesan dengan pidato mu Friederich. Sekarang minggirlah, biarkan aku membunuh gadis itu!" ia


memberi kode pada Friederich agar menepi dengan menggoyangkan moncong senapannya ke samping.


”Demi darah dan gen yang kau miliki, dan demi pertemanan kita, aku akan membiarkan mu hidup kali ini.” ia menambahkan.


"Tidak akan!!" Friederich menggeram marah.


"Sudah kuduga.. Sudah kuduga aku harus menghabisimu lebih dulu sebelum membunuh gadis itu." Ridnik menyeringai.

__ADS_1


__ADS_2