
Friederich memandangi Elle yang terbaring di tempat tidur. Sesekali ia akan mengusap rambut ikal nya dan mengganti patch penurun panas di dahi nya.
"apa dia baik-baik saja doc?" untuk kesepuluh kalinya Friederich menanyakan hal yang sama. Ia terlihat cemas dan gelisah.
"aku bosan mendengar pertanyaan mu, yang itu-itu terus.. " dengan santai doc duduk di sofa kecil yang ada di kamar itu, mencatat sesuatu di blacksheetnya. Friederich menghela napas panjang, ia terlihat lelah.
"apa ada perkembangan?" kali ini Friederich mengganti pertanyaan nya.
"belum. Panas nya memang naik, tapi secara umum kondisi Elleonora stabil. Ia hanya kelelahan, itu saja. Aku masih optimis kondisi nya akan segera membaik, dia hanya butuh istirahat.. Itu saja."
Friederich memandangi doc dengan tatapan protes.
"Leo tidak hanya kelelahan, Leo syok..! Siapapun akan mengalami syok bila harus membunuh seseorang untuk pertamakalinya!"
"Jangan menyalahkan aku.. Kalau bukan karena aku meletakkan handgun itu dengan sengaja, Elleonora mungkin tidak selamat." doc tersenyum sinis.
Friederich menggeram, doc memang benar, bila bukan karena paranoia nya, Elle mungkin sudah tewas di tangan Franzeska.
“menurutmu, apa pria itu yang membawa virusnya? Aku pernah melihatnya masuk ke kamar Leo.“ Friederich melirik doc.
“kemungkinan besar.. Dia memiliki kesempatan untuk melakukan kontak langsung dengan Elleonora. Pria itu Franzeska, beauty assistance Elleonora selama di Nuremberg. Siapa kira gagak hitam akan menyamar sebagai beauty assistance..“
Friederich menggeram kesal membayangkan seorang gagak hitam bisa mendekati Elle dengan bebas dan bahkan membuat nya terinfeksi virus.
"tenanglah Friederich, Elleonora akan baik-baik saja. Dia kuat.."
"ya.. Leo sangat kuat dan berani.." Friederich meremas tangan Elle dan menciumnya dengan lembut.
"daripada itu, apa tidak lebih baik kau mengkhawatirkan Viktor? Dia masih diluar sana, dan sebentar lagi senja."
"Viktor.. Sedikit tersesat.." Friederich nyengir.
"ya ampun.. Dasar amatir" doc terkekeh.
"aku akan mencari Viktor, sekalian memasang parameter dan ranjau.."
"tenang saja, aku tidak akan berlebihan kali ini.." doc cepat-cepat menambahkan.
"Mustahil.. Mau bertaruh?" Friederich terkekeh.
"sia-sia, kau tidak pernah menang taruhan denganku sobat.. Simpan saja uang mu untuk mengajak gadismu kencan di restoran mewah di Prague." doc terkekeh.
Friederich nyengir, tapi wajahnya terlihat sedikit merah.
Selama setengah jam berikutnya Friederich dengan setia menemani Elle di samping tempat tidur, tidak beranjak sedikitpun. Matanya mengawasi setiap tarikan napas Elle yang teratur, seolah ia takut gadis itu akan berhenti bernapas kapan saja. Sesekali ia akan meremas tangan Elle dan mencium jemari nya. Friederich merasa luar biasa lega ketika akhirnya gadis itu terbangun. Gadis itu mengerjap-erjapkan matanya dengan mengantuk, untuk
sesaat ia kehilangan orientasi tempat dan waktu, sampai akhirnya ia sadar bahwa ia terbangun di tempat yang berbeda.
"dimana ini..?" Ruangan ini mirip dengan kamar yang kutinggali di bunker black forrest, sama-sama bercat kuning muda, dengan interior ruangan yang mirip.
"selamat datang di bunker Certovo Jezero, Leo.." Friederich tersenyum. Kedua matanya memandang Elle dengan tatapan yang teduh.
Elle terdiam, saat ia ingat dengan peristiwa mengerikan yang dialaminya di tenda kecil diatas pohon pinus raksasa,
seluruh tubuhnya berubah tegang.
"Franzeska?!!" ia mencengkeram lengan Friederich.
"dia sudah.. teratasi.." Friederich tak bisa menemukan kata lain yang lebih halus untuk menggantikan kata "tewas".
"aku.. Apa aku membunuhnya?" suara Elle tercekat dan ia tampak syock.
"tidak.. Leo, kau hanya melukai nya. Akulah yang membunuhnya.." Friederich tersenyum, sembari membelai
__ADS_1
wajah dan kepalanya. Ia berusaha menenangkan Elle dan memberinya kebohongan yang pasti akan membuat nya merasa lebih baik.
"Benarkah..? Franzeska tidak mati karena aku..?" Kedua mata Elle membelalak, dan kedua tangan nya mencengkeram lengan Friederich, mengharapkan jawaban. Ia berharap, benar-benar berharap, Franzeska bukan mati karena tembakan nya.
"tidak.. Handgun mu kosong.. Aku berada di pintu tenda waktu itu, dan akulah yang menembaknya” Friederich menatap Elle lekat-lekat, berusaha meyakinkan nya bahwa dirinyalah yang membunuh Franzeska.
Elle terdiam selama sesaat, awalnya ia merasa tak yakin, tapi setelah melihat wajah Friederich, juga kedua matanya yang penuh dengan keyakinan, Elle menghela napasnya. Ia merasa sangat lega.
Aku tidak ingin membunuh.. aku tidak ingin membunuh siapapun.. aku tidak ingin jadi pembunuh..
Elle memandangi kedua tangan nya, tangan kurus dan lemah yang menggenggam handgun dengan gemetaran. Benar.. tidak mungkin tangan lemah ini sanggup melukai siapapun..
Perlahan lahan senyuman lega terurai di wajah nya, yang diikuti oleh desah napas lega Friederich.
"Franzeska.. kupikir dia orang yang bisa kupercaya, kukira kami bisa berteman.. aku tak pernah bisa menyangka, ternyata dia adalah salah satu gagak hitam yang berusaha membunuhku."
Nada sesal terdengar jelas dalam suaranya.
"Maafkan aku Leo, harusnya aku memeriksa pria itu dengan lebih teliti sebelumnya." Begitu banyak peluang, Franzesca bisa membunuh Elle kapan saja tanpa bisa Friederich cegah, ia tak percaya bagaimana dirinya begitu gagal, tidak hanya sekali, tapi berkali kali.
"itu tidak sepenuhnya salah mu. Kamu sudah berusaha.." Elle menggeleng.
”Untunglah aku menembak pria itu tepat waktu, bila tidak.." Friederich menghela napas panjang. "Aku tidak bisa membayangkan seandainya sesuatu yang sangat buruk terjadi padamu.. Rasanya aku ingin mati saja.."
Apa..??
Dengan cepat topik Franzeska yang tadi mengisi pikiran nya menguap, apa yang dikatakan Friederich barusan lebih menyita perhatian nya.
"apa.. Aku harus nyaris mati, untuk bisa membuatmu berpikir bahwa..kehilanganku mungkin akan membuatmu merasa ingin mati?" ?"
Dada Elle berdebar kuat, begitu menginginkan jawaban yang sangat ingin didengarnya. Rasanya aku tidak
keberatan bila harus nyaris mati sekali lagi, asalkan aku bisa mengetahui kebenaran dibalik sikap-sikap dan tindakanmu.
Oh, kau akan bungkam lagi.. Sedikit saja aku memaksa, maka kau akan menarik diri.. Klasik sekali.
"bisakah kau tinggalkan aku..? Aku ingin sendirian.." Elle membuang muka nya, terlalu lelah dengan harapan-harapan yang pada akhirnya hanya terhempas sia-sia.
Friederich terdiam, memandangi Elle dengan menyesal. Tapi ia tidak beranjak sedikitpun dari kursinya.
"bisakah kau tinggalkan aku sendirian, please..??!" Elle mengulangi kalimatnya, dengan lebih banyak penekanan. Sudah pasti dia sendiri yang akan pergi seandainya ia sudah cukup kuat untuk berjalan sendiri.
"tidak.. Aku tidak mau meninggalkanmu." Friederich menggeleng.
Elle menoleh padanya, memandang nya dengan tatapan yang marah. Seharusnya hanya dengan menatap mataku kau bisa mengerti, bahwa aku sungguh-sungguh ingin kau pergi dari hadapanku.
"aku tidak ingin meninggalkanmu Leo, tidak lagi, tidak semenit pun. Kau tidak bisa membantahku.." kekeras kepalaan terpancar di kedua matanya yang memandangi Elle dengan pandangan menyesal.
Lagi-lagi.. Kau selalu teguh dengan pendirianmu, apa pun keputusan yang kau buat.. Selalu tak terbantahkan. Dan kau sama sekali tidak memperhatikan perasaanku!
"kenapa..?" kedua mata Elle terasa panas, ia enggan mengakui ini, tapi Friederich berhasil menyeret emosi nya hingga ke batas kesabaran dan ketegaran nya. Kini ia harus berusaha keras agar tidak menangis dan terlihat
menyedihkan.
"karena sesuatu yang buruk selalu terjadi tiap kali aku meninggalkanmu. Aku tidak mau sesuatu yang buruk terjadi padamu lagi. Aku akan menjagamu, aku tidak akan membiarkan mereka mengancam mu, apalagi melukaimu. Tidak sedikitpun.." Friederich meraih jemari Elle dan meremasnya lembut. Ada emosi yang terpancar dari wajah nya yang mengeras, sesal, kemarahan, kekecewaan..
"kau..!!" Elle rasanya mau meledak. Ia menarik tangan Friederich dari jemarinya dan menghempaskan nya dengan kasar. "apa kau tidak bisa perduli sedikit saja pada perasaanku?!! Aku benci kamu!!" Elle nyaris berteriak.
Friederich menelan ludahnya. Ini adalah pertama kalinya ia melihat Elle semarah ini padanya. Ia tak pernah
melihat gadis itu begitu emosional sebelumnya. Sekilas ia mengira Elle akan berubah histeris, meneriaki nya
dan memukuli nya, mengusirnya pergi. Tapi Elle terlalu lemah untuk melakukan nya. Lain waktu, mungkin..
"maafkan aku Leo.." bisiknya.
__ADS_1
"doc..! Aku mau doc! Panggilkan doc..!" doc pasti mau membantuku mengusirnya pergi.
"doc pergi.. Dia mencari Viktor yang tersesat." Friederich menjawabnya dengan cepat.
Elle memejamkan kedua matanya kuat-kuat, semua amarah yang meledak-ledak ini membuat kepalanya sakit, sangat sakit.
"doc.. Cari doc.." rintihnya perlahan. Ia memegangi kepalanya dengan kedua tangan nya, terlihat sangat kesakitan. Friederich seketika terlihat pucat dan panik, ia tidak menyangka Elle akan terlihat begitu kesakitan.
" Baik..baik! Aku akan memanggil doc! Bertahanlah Leo! Bertahanlah..!"
"apa yang kau lakukan dengan pasienku?!!!" dengan emosi doc melempar tube kosong bertuliskan obat penenang pada Friederich. Beruntung bagian jarum nya tidak menancap di kepala Friederich, hanya bagian tube nya saja yang memantul dengan kuat di kepala Friederich dan menggelinding di lantai. Friederich hanya diam, ia merasa bersalah.
Setelah Elle merintih kesakitan Friederich segera memanggil doc melalui badge bintang merahnya. Doc yang
sedang memasang parameter dalam radius 5 km segera kembali dan menemukan Elle sedang berjuang melawan nyeri kepala yang dirasakan nya. Setelah ia memberinya satu dosis obat penenang dan obat penghilang nyeri, Elle segera tertidur dengan cepat.
"kalian pasti bertengkar lagi.. Kau benar-benar bodoh.." doc melipat kedua tangan nya di dada, menatap Friederich dengan tatapan menyalahkan.
Friederich menunduk, lidahnya kelu. Ia tak punya pembelaan apapun.
"kalian berdua harus segera membereskan masalah ini secepatnya. Kau mungkin tak akan memiliki banyak kesempatan untuk bersamanya lagi sesampai di Prague nanti, jadi gunakan waktu mu sebaik-baiknya.. Gunakan lah semua peluang ini dengan bijaksana, dan pilihlah keputusan yang terbaik untuk kalian berdua."
"Oh Friederich.. Sekali-sekali, ikuti saja apa kata hatimu. Tidak buruk mengikuti keinginan terliarmu sekalipun itu melanggar banyak aturan.." doc menambahkan. Ia tersenyum penuh arti.
Setelah matahari benar-benar tenggelam barulah Viktor tiba di bunker. Ia terlihat berantakan dan penuh dengan lecet.
"apa yang terjadi denganmu nak?" doc terkekeh, memandangi Viktor dari atas kepala hingga kaki.
"jangan bilang kalau kau terjatuh karena berusaha menaiki motor trail.." Friederich nyengir. Viktor terkekeh mengiyakan.
"dasar anak tanggung.." doc terkekeh.
"bagaimana Elle?" tanya Viktor.
"kacau.. Si bodoh ini membuatnya migrain." Doc melirik tajam padanya.
"ya ampun. Tidak bisakah kau berhenti membuatnya sedih? Dia sedang sakit.. Paling tidak, tunggulah sampai dia
sembuh." Viktor menatapnya dengan pandangan menyalahkan sekarang.
"jangan buang waktu untuk menasehati ayahmu Viktor, dia tidak akan mendengarkan siapapun."
"tapi kurasa pangeran Heinrich pasti bisa menghibur hati Elleonora. Kudengar dia sangat pintar menyenangkan hati wanita.." doc menambahkan.
"apa..?" Friederich mulai mengernyit.
"rekanku di Plzen memberitahuku, bahwa pangeran Heinrich sudah berada di Plzen sekarang. Ia meneruskan pengobatan nya dan menunggu Elle di sana." doc tersenyum penuh arti.
"kurasa pangeran Heinrich tidak buruk. Tapi, bagaimana kalau kau serahkan saja Elleonora padaku, Friederich? Aku muda dan energik. Yang pasti aku tidak akan mengombang ambingkan perasaan nya seperti perahu..” Viktor mengakhiri kalimatnya dengan cengiran, yang membuat Friederich melotot marah.
"apa kau tahu Friederich, wanita yang sedang patah hati akan lebih mudah untuk didekati.. Aku yakin Elleonora tidak akan keberatan bila putra mahkota kita yang tampan itu mengajaknya kencan." Doc terkekeh.
"kau..!" Friederich menggeram kesal.
"pikirkan lah lagi Friederich.. Siapkah bila kau harus benar-benar melepaskan Elleonora?"
"kau boleh saja perduli padanya, tapi siapapun pria pilihan nya nanti, baik atau buruk, bukan kau yang akan menilainya. Melainkan Elleonora sendiri.. " doc menambahkan.
__ADS_1