
"Ternyata batas asa saja di beri, terkecup perih cukup jangka permanen dalam puisi."
🪐🪐🪐
Adinda masih menunggu, berada dalam delusi mengenai mimpi tertinggal di sana.
Apakah masih memberikan detak kesempatan?
Harris J juga menghilang tanpa alasan, nomer tidak aktif sama sekali. Bahkan chat centang satu.
Semakim buat gadis aksara itu berdecak pinggang, selama di london mendapati diksi paling mewah dari Harris J kala duduk berdua sambil menganyunkan kaki memandang indah sungai thames di sana.
Renata berada di sana, sambil bercerita sumringah bersama rambut mie itu.
Begitu sangat berarti penuh warni tanpa harus memungut lirih dalam nafsi.
Tak henti menyampaikan kalau perjuangan gadis sederhana bermodal bola aksara, sangat luar biasa tak tanggung-tanggung dalam mengejar artis ternama sedang naik daun itu di berbagai negara bahkan indonesia, sering sekali ke tanah air kepentingan konser pun sempat buat film.
Menghubungi manager indonesia pun tak ada satu pun respon menyenangkan asa.
Apa susahnya dalam memberikan respon pun janji yang sudah di berikan?
Kenapa terus-menerus memamerkan sebuah pongah, saat konser itu berlangsung di indonesia?
Dan, bertanya dalam benak, apa yang salah? Padahal tidak ada sama sekali. Hanya menginginkan kepastian.
"Dasar, sombong sampe!" Kesal Adinda, masih berkutat dengan benda pipih itu.
Memerah, menjalar sangat membara.
Benar kah pintu mimpi menghilang?
Big no! Jangan sampai sebuah perjuangan serta pintu asa mendahagakan tenggerokan imaji hingar-bingar dalam puisi.
Bakalan menjadi repot jika Adinda mengurusi semua mimpi serta-merta pintu melongos angkuh lalu menampik-nampik novel dengan tawa-tawa tak berperasaan di sana.
Mencoba untuk menghubungi bule london itu, beberapa kali lagi kirim chat yang hanya centang satu saja di chatroom?
"Duh, kenapa lagi nih bocah hilang kabar?!" Memejamkan bola mata, sambil menahan amarah di dada.
Pak Hafiz juga sedang sibuk di sana, terbukti ketika chat yang perulangan di kirim gadis itu tak ada respon manis sama sekali.
__ADS_1
Ugh. Sakit tak tertahankan.
Kalau saja Varinta ada dan mengetahui kabar itu pergi tanpa aba-aba, sudah jauh hari menelpon sampai meneror Harris J sekedar tahu novel itu sudah di pegang tanpa harus lihat bertumpukan lupa di sana.
Butuh respon manis
Bukan undang tangis
Aksara berbaris
Banyak perih di beri.
Kembali bersajak dalam sunyi, memelihara begitu banyak nestapa tak henti di beri oleh Harris J. Apa sekedar hal biasa dalam berkarya tak bermain pada unfaedah?
Seperti .. Mengoleksi foto dan vidio bule itu lalu menjadikan sebuah pajangan vidio pendek terus di upload ke youtube setelah itu menyeruak cemburu JJS disana?
Apa benar Harris J menginginkan hal itu dari seorang gadis aksara yang telah memberikan banyak catatan panjang dalam hal berjuang?
Oh, ayolah. Jangan seperti kembali pada sebelum Harris J bersitatap apalagi bela-belain datang ke ujung indonesia sekedar ingin tahu siapa telah buatkan karya, hingga mengguggahkan rasa penasaran sampai membatalkan penerbangan ke london.
Di sana gadis itu merasakan sangat sesak dan memeluk tangis seorang diri, tahu tak bisa terbang ke sana tertambah novel kala itu belum diterbangkan.
Dengan tiba-tiba datang sampai buat hati merona gembira.
Banyak catatan bengis saat sebelum bersemuka dengan Harris J.
Assalamualaikum, how are you, Din?
Gadis itu saat ini ingin menangis. Meledakan apa yang menjadi desak dalam dada, novel masih belum ada kabar sama sekali.
Malas merespon lebih dulu merehat luka seorang diri.
Membaringkan tubuh di atas sofa, sambil melihat atap-atap kamar, penuh rasa sangat sesak. Really.
🪐🪐🪐
"Din, nanti kumpul tugas sistem berkas eh? Kita rame-rame kerja di rumahku, mau ikut?" Kata Ika membuyarkan lamunan gadis itu.
"Oh? Ok, kapan mo jalan?" Menimpali sangat bengong.
Ika langsung melongo, kenapa dengan teman kepercayaannya itu?
__ADS_1
"Kenapa? Dari tadi kamu sama sekali tidak konsen saat matkul." Ika meneguri, sangat khawatir campur takut.
Menggeleng. Malas menanggapi, bukan hal penting juga sih. Karena memang mimpi itu batas beri transit asa lalu berkecup perih lewat puisi berjangka sangat permanen.
Gessa yang ikut hilang kabar semakin buat dia frustasi mau lari ke mana dalam meninggalkan luka dalam dada.
Benar. Pintu mimpi menghilang! Sangat dipenuhi hingar-bingar dalam diksi, kala tahu Pak Hafiz tidak begitu suka merespon sebuah karya.
Begitu deh, menanggapi seperti fans lainnya di luar sana.
Masih paham dan ingat dalam kepala, mengenai pendapat serta kalimat menjelma hangat melalui salah satu wartawan, Bunda Meita.
Sayang, bukan sebuah permata indah yang pantas di angkat dari permukaan sederhana lewat karya, batas kecup asa tak berikan kepastian nyata lewat apresiasi mereka di sana.
"Kenapa nggak balas chat kakak?" Protes seorang di seberang telepon.
Adinda hanya tersenyum sangat getir, apa boleh melarikan luka ke sana?
Jangan. Sudah terlalu banyak membantu dalam menjadikan karya dua version.
"Sori kak, kemarin saya ada kelas, makanya tidak sempat balas." Adinda nyengir sambil menahan perih di dada.
"Oh, pantes." Sangat tahu kok kalau sedang menyimpan luka, sudah sangat jelas dibalik intonasi diberikan gadis itu.
Hanya tersenyum tipis lalu, "lain kali kalau ada masalah, jangan ragu buat cerita ke kakak yah, Dek?" Ups, mendadak rona wajah gadis itu tersipu, tetiba menghangat dalam jiwa.
Maaf, Kak, biar mimpi ini ku simpan sendiri saja. Getir Adinda dalam batin bersuara.
Adinda meminta untuk menutup panggilan mereka, beralibi ada tumpukan tugas dan ia pun mengindahkan.
Banyak orang-orang baik di sekitar gadis itu, hanya saja tak ingin memberikan pikulan mimpi ke mereka. Cukup nafsi serta puisi bersorak protes di paragraf-paragraf terproduksi.
Walau tahu pintu mimpi menghilang, mungkin saja bule berambut mie itu tidak menginginkan lagi novel itu.
Hm, tersadar karena sudah beberapa hari ini nomer Harris J tidak aktif.
Malas memaksa sesuatu yang bukan kehendak kita, sangat tahu begitu teliti mimpi di bawah big ben london memberikan banyak asa menerbangkan realita hangat.
Itu di london, bukan indonesia sangat tertawa pongah serta terlupakan begitu saja.
Tanpa perasaan sedikit pun.
__ADS_1
Kalau saja mengetahui novel sangat mustahil diberi apresiasi oleh mereka, lebih baik simpan secara baik-baik dan menunggu detak waktu untuk mengirimkan novel ke tangan Harris J, tanpa harus menunggu dibalik bola-bola nestapa seorang diri.
Untuk pintu mimpi menghilang, jangan ada lagi sebuah detak asa dibalik diksi-diksi manis di rasa, karena mengetahui nestapa berjangka panjang takkan mampu berdamai pada jarak. []