
"Tidak mungkin. Kakak tahu Harris J anggap dia beda dari fans lain, terbukti saat nyanyi fighting dreamer di london matanya penuh bahagia. Dinda itu istimewa."
🪐🪐🪐
Tidak menyangka dengan melihat kondisi sang adik cerewet ini cukup mengundang banyak ruas-ruas sesak dalam dada.
Ke mana sahabat rambut mie yang pernah menyanyikan fighting dreamer di london?
"Sudah berapa lama Dinda belum siuman?" Kata Renata, sangat khawatir.
Dan bagi Renata sendiri, ini pertama kali melihat sosok adik aksara terbaring lemah ditemani sebuah penginfusan juga oksigen.
"Eng..kalau tidak salah tiga minggu, kak." Jawab Gessa.
Cowok berkacamata sibuk memerhatikan lamat-lamat adik cerewetnya terbaring lemah diatas bed rawat inap sembari menyimpan bingkisan dari Jepang diatas nakas rumah sakit dan mengambil tempat buat duduk dekat pintu.
Memijit pelipis dengan perasaan gusar.
Kenapa Harris J tidak tahu hal ini? Tiga minggu bukanlah detak-detak singkat melihat ketakberdayaan gadis itu di rumah sakit.
"Kak, apa benar Harris J anggap Dinda hanya orang biasa? Seperti halnya fans di luar sana?" Varinta bertanya sangat ngilu.
Mendengar hal itu, sungguh semakin buat kepala Lefan berdenyut lagi.
Harus dari mana menjelaskan kalau bule itu benar-benar menanggapi serius persoalan perjuangan nyata Adinda?
Renata yang mendengar hal itu hanya menoleh sebentar lalu kembali mengelus-ngelus kepala adik aksaranya yang ditemui beberapa tahun lalu.
"Kalau benar apa yang temanku bilang, kenapa Harris J ngundang dan kasih harapan tinggi, ujung-ujungnya di PHP seperti manager indonesianya." Gessa mencibir.
Lagi, Lefan terdiam.
Kedatangannya ke indonesia bukan mendapati pertanyaan yang sama sekali tidak diinginkan melainkan ..
"Harris J kenapa tidak tahu soal dia sakit?"
Butuh waktu panjang untuk mendapati jawaban dari kedua sahabatnya.
"Kasih tahu saja, kemungkinan Harris datang ke sini?" Renata memecahkan keheningan yang ada.
"Sori kak, bukannya menutupi kesehatan Dinda, tapi.."
"Jangan bilang kalian tidak mau buat Harris merasa bersalah dan kepikiran, iya?!" Tegas Lefan.
Cukup buat keduanya menunduk, lemah.
"Dek, tidak mungkin. Kakak tahu Harris J anggap dia beda dari fans lain, terbukti saat nyanyi fighting dreamer di london matanya penuh bahagia. Dinda itu istimewa." Lagi, Lefan berkicau.
Yang di ketahui adalah keseriusan Harris J menanggapi dan mengapresiasikan bakat gadis aksara saat ini sedang terbujur lemah, belum siuman di london begitu bangga lewat sorot mata kagum, mendapati sesosok Adinda pantang nyerah pun berhasil patahkan garis fans dan idola sebagai friends till jannah.
Apa belum cukup menjadi pembuktian nyata terbentang di pelupuk mata tamu undangan di london?
Apa belum cukup juga kala ayunan langkah itu mencari alamat Adinda lalu menjemputnya ke london?
Masih berapa kali lagi kah, untuk menyakinkan mereka berdua bahwa Harris J nyata terima perjuangan seorang gadis aksara?
"Oh, kakak hampir lupa. Yang kalian maksud itu apresiasi lewat workshop dan di undang lewat konser Harris J di indonesia, iya kan? Dengan begitu JJS-nya, oh terutama manager dari indonesia mengakui prestasinya, iya kan?"
Ah, Lefan benar sekali sih. Sayang anaknya sedang terbujur lemah seperti ini, tidak memungkinkan untuk merespon baik.
__ADS_1
"Sebaiknya, Harris J perlu tahu kondisi Dinda."
Jujur, Lefan sendiri pun sudah lost contact dengan bule london berambut mie yang sering di sebut-sebut Adinda.
Setidaknya kasih kabar, menunjukkan bahwa Harris J masih berperan penting dalam jemari mimpi belum terapresiasi di ingin.
"Kalau boleh tahu penyebab Dinda sakit apa?" Kali ini Renata yang melempar pertanyaan.
"Eng..dia terlalu capek ngurus project, kak. Yang buat dia drop gini." Gessa menjawab.
"Project? Seperti apa?" Renata penasaran.
"Menulis. Dia ajak fans Harris J buat salurkan bakatnya ke tulisan, seperti kirim puisi, cerpen dan cerbung."
"Loh, kok bisa drop? Bukannya itu salah satu hobinya yah?" Renata kembali bingung.
Dan, "Ren, dia tidak boleh terlalu capek, fisiknya lemah. Apalagi berpikir terlalu berlebihan." Lefan meluruskan secara to the point.
"Kok saya tidak pernah di kasih tahu, saat dia datang ke kost minta transletkan naskahnya?" Justru masih mengundang bengong dari kakak terjemahannya itu.
Lefan hanya membuang napas begitu gusar.
Pernah melantangkan satu pertanyaan yang bahkan tak habis pikir, terlalu berambisi mengejar mimpi tapi sudah tercapai. Kok sekarang terlalu gegabah yang bahkan merusak kesehatannya sekarang.
Hah. Din, kamu itu tidak berubah sama sekali yah, dek. Keras kepala..gusar Lefan dalam batin bersuara.
"Kak, tahu ndak? Kalau yang saya kejar itu prestasi? Banyak loh fansnya kejar karna terobsesi pengen pamer ke JJS lain. Saya beda kak."
Iya dek, kamu beda. Sangat beda yang buat kamu terbaring gini kan? Lagi, Lefan bergumam dalam batin. Sangat lirih
Ingatan bersama gadis aksara saat masih di london, terus saja terbentang di pikiran. Juga kalimat sangat antusias ingin mendapati alamat bule london kali pertama tapi berakhir tangis karna harus pulang secepatnya ke indonesia.
🪐🪐🪐
Mengambil tempat kosong lalu melirik sangat lirih ke sesosok periang sedang terbaring lemah diatas bed rawat inap rumah sakit.
"Dinda belum sadar, kakak tiga hari ke sini kondisinya masih sama. Belum ada perubahan." Lefan membuka obrolan.
"Saya benar-benar minta maaf, waktu itu sudah marah sekali dengan dia. Kalau bisa diulang.."
"Dek, jangan menyalahkan diri, semua sudah berada dalam skanario Allah. Cukup doakan yang terbaik saja."
Bagaimana tidak mengindahkan perkataan Lefan, coba? Kalau bukan dirinya melakukan hal tak sepantasnya, kemungkinan bakal mendengar cerewet serta bawelnya di seberang telepon.
Apakah sosok ceria memiliki trauma mental atau penyakit lain? Yang buat dia terbaring lemah seperti ini?
Pernah, Lefan menceritakan tentang denyut perih di area kepala.
Wallahi. Saat itu Harris J tak tahu-menahu, apa karena sudah dikepung oleh amarah?
"Katanya minggu depan kamu konser?"
Ah, benar juga.
"Insyaallah bisa di tunda, kesehatannya jauh lebih prioritas sekarang, kak. Saya mau temani sampai siuman."
Percakapan terhenti, kala melihat dua orang masuk dalam ruang inap.
"Harris! Brani sekali ko datang ke sini, hah?!" Sarkas Varinta menggunakan logat papua, masih belum terima.
__ADS_1
Bule london itu hanya terdiam dan tidak ada senyum menghiasi wajahnya.
Ok. Fine, sekarang diperbolehkan dalam menangkap semua amarah menjalar ke seluruh tubuh sahabatnya Adinda pada diri.
Because itu murni kesalahannya.
"Rin..Rin, ini rumah sakit, jangan bikin ribut ih.." Gessa mencoba menenangkan perempuan itu.
"Trada, Ges! Anak ini jan mentang-mentang artis trus di kejar-kejar sama sa sahabat, semena-mena perlakukan dia. Apa?! Lihat sana! Dinda belum sadar, karna ko pu ulah sendiri!" Sungguh emosi itu meletup-letup bagaikan kobaran api.
"Rin..please, sekali ini aja, tolong maafkan Harris J, yah?" Pinta Gessa.
Justru tidak diindahkan melainkan masih berkoar-koar terus menyalahkan bule london atas ketaksadaran diri sahabatnya diatas bed rumah sakit.
"Em, boleh kita berdua saja bicara? Saya bakal menyelesaikan masalah ini berdua. Bagaimana?" Akhirnya Harris J buka suara.
Masih belum merespon indah melainkan tatapan intimidasi sangat menyeramkan milik Varinta.
"Dek, tidak baik kalau ada orang yang berniat memperbaiki hubungan, dibalas dengan keangkuhan. Allah tidak suka." Lefan mulai meredakan situasi sedang panas itu.
Hah. Membuang napas dengan gusar sembari keluar dengan kesal dari ruang inap, "ngomong! Jangan terbelit-belit." Ketusnya sambil menyandarkan tubuh di tembok rumah sakit.
"Sebenarnya saya pribadi minta maaf sepenuhnya. Karna tahu Dinda mendzolimi dirinya dengan cara ajak fansku berkarya."
Ada jeda di percakapan Harris J.
Membuat Varinta menoleh sekilas dan memangku kedua tangan depan dada, "saya pikir dengan marah dan tidak kasih kabar beberapa waktu, bakal buat dia berubah pikiran. Wallahi, saya benar-benar nyesal sudah seperti ini, kalau kondisinya separah sekarang." Sesal Harris J.
"Hm. Penyesalanmu tidak buat sahabatku bangun kan?! Kenapa juga sih tidak tanya-tanya Kak Lefan, huh!"
"Rin..saya tahu kamu sahabat bijak saat Dinda kejar saya sebagai sahabat. Dan .. Hanya kamu satu-satunya orang yang percaya dengan mimpi besar yang mustahil di telinga orang, tapi tidak dengan kamu."
Harris J menghembuskan napas secara teratur, "kamu beda dengan orang sekitarnya, yang anggap mimpinya lewat tulisan seperti orang bodoh. Saya benar-benar minta maaf sudah buat sahabat berhargamu sakit. Jujur, saya juga tidak minta dia begini."
"Ok fine, saya maafkan. Seharusnya kamu juga minta maaf ke dia, karna keras kepalanya tahu novel yang sudah di buat dua bahasa belum dapat kepastian, yang bikin dia seperti ini kan?"
Ah, benar sekali ucapan Varinta.
Bule london itu hanya tersenyum tipis, "insyaallah setelah Dinda siuman, saya minta maaf setulusnya. Promise .. Tidak bakal mengulangi kesalahan kedua kalinya. Thanks?"
Mereka pun masuk ke dalam ruang inap, meminta untuk duduk di kursi samping bed rawat inap yang sedang di pakai Gessa.
Seperti mengerti maksud kode Harris J, dengan cepat bangkit dan beralih ke sofa menghampiri Varinta.
Ada senyum-senyum getir tercipta di sana, tanpa sadar ..
Keheningan menjadi syahdu kala bule london melantunkan Surah Ar-Rahman.
"Fabiayyi ala irobbikuma tukadziban--" Harris J menjedakan bacaan qurannya ketika melihat pegerakan di jemari gadis itu.
"Kak Lefan?!" Spontan berbalik ke mereka sedang sibuk ngobrol, begitu pemilik nama terpanggil langsung menoleh.
Lalu mengode lewat jari telunjuk ke arah Adinda, seketika mereka yang duduk di sofa berbondong menghampiri kasur gadis tersebut.
"Dek?" Lefan mencoba memanggil.
Begitu pun dengan yang lainnya.
Butuh lima menit lamanya, melihat kelopak mata yang dirindukan terbuka perlahan-lahan.
__ADS_1
Ruas-ruas syukur pun terbit di bibir mereka, "Din..kenapa gemar bikin orang lain khawatir sih?!" Gemas Gessa. []