
βMata yang sayup tak tergubris melainkan keharusan dalam memberikan kejutan manis.β
πͺπͺπͺ
Lewat potret perjuangan gadis aksara yang melantangkan jadikan diri sebagai sahabat lalu menepis jauh-jauh sebagai idola, cukup kagum dan bangga.
Mengingat satu hal saat lagu trend sholawat berkolaborasi rap di mainkan ketika acara workshop berlangsung, semakin kagum dengan sahabat aksaranya itu.
Yang buat Harris J jatuh hati dan terenyuh ketika ..
Rabb .. Bukan menjadi prioritas
Melainkan kejar keterbatasan
Lewat kreatifitas, aksara
Dalam menjadikannya sahabat
Dan, yang pantas diidolakan
Adalah baginda nabi muhammad
Harris J bukan siapa-siapa
Yang menjadikannya berharga
Untuk mendiskusikan jannah.
Benar kata Kak Lefan beberapa tahun lalu, gadis itu sungguh-sungguh mengejar sebagai sahabat bukan idola.
Terbukti ketika acara berlangsung beberapa hari lalu, apresiasi di butuhkan seorang gadis sederhana berbekal bakat.
"Dinda tidak butuh fotbar sama kamu, dek. Tapi prestasi dari kamu. Percuma sudah anggap sahabat tapi perjuangannya belum kamu anggap."
Pernah Kak Lefan menyampaikan hal tersebut, saat masih di london.
Ketika gadis memiliki bola mata aksara kembali ke indonesia pun telah mendapati alamat bule london sembari memberikan secarik surat ditambah keinginan berbalut apresiasi telah tersampaikan ke Harris J lewat Kak Lefan juga tante Yuli.
Dan, Harris J tidak menyangkal kedatangan mereka berdua ke rumah bukan sekedar silaturahmi melainkan satu asa ingin disampaikan.
Yang kini sudah diberi dengan simfoni paling manis.
Oh be the way, saat ini kerumitan membelenggu pikir sebab masih bingung harus bermusikalisasinya dengan tepat. Dan, terus melakukan kesalahan.
Instrumen yang sudah dibuat sendiri, juga berusaha untuk mengikuti irama, lagi dan lagi terdengar aneh di daun telinga bule london.
"Hehe.." Tawa itu terdengar sendiri dalam ruang studio rekaman musik.
Tadi sebelum masuk ke ruang tersebut, "Pak, saya ijin pakai ruangan itu, boleh?" Kata Harris J sepelan mungkin.
Yang menerbitkan ekspresi melongo dari sang manager, tumben sekali Harris J ingin masuk seorang diri di sana.
"Untuk apa?" Justru di tanya balik.
Lalu tanpa terbelit-belit, menjelaskan secara to the point. Hanya di balas senyum tipis dari sang manager.
Sori, Din. Saya benar-benar minta maaf untuk novelmu. Getir Harris J dalam batin bersuara sangat bersalah.
Setelah melihat respon kurang minat dari beliau, sudah cukup menggambarkan kenapa sahabat gadis aksara sebelum diberikan apresiasi tidak bahagia.
Dan, sebagai gantinya ingin memberikan kado terbaik, walau sepenuhnya belum berkolaborasi dengan puisi Adinda.
Setidaknya bisa menjadi obat untuk luka gadis aksara selama menunggu kabar novel itu di dekap, tapi nihil, masih berada di kantor DNA Production.
__ADS_1
"Thanks buat perjuangannya." Gumam Harris J.
Bola mata memotret sebuah arti perjuangan terbentang nyata, bukan menanggapi idola melainkan sahabat cukup menarik minat seorang rambut mie dari london untuk belajar hal beda, hobi gadis itu, bermusikalisasi.
Yup. Benar sekali, Harris J bermusikalisasi.
Sorot mata menangkap alat berukuran persegi panjang, ada senyum terbit di sana.
Dengan gerakan cepat mendekati benda tersebut lalu duduk manis tak lupa menyalakan laptop.
Tuts-tuts terdengar begitu manis syukur saat sedang latihan Adinda lagi keluar bersama sahabatnya, sengaja. Supaya tidak mencari keberadaannya, bisa fokus latihan bermusikalisasi.
M-Audio di mainkan begitu santai penuh arti.
Tidak lepas kok dari gagal berkolaborasi dengan nada-nada tersebut.
Musikalisasi adalah hal baru yang dikenal olej rambut mie london.
Teruntuk sahabat gadis aksara yang bawel penuh perjuangan nyata, keharusan dalam mendedikasi terbaik lewat simfoni walau belum bisa memenuhi ingin itu, kolab bersama puisinya langsung.
Harris J merasa sudah mantap, untuk kesekian kali adanya perulangan.
Kembali menarikan jemari itu diatas tuts M-Audio.
A samu t'lah tersambut humble
D an pintu apresiasi menanti, liburan
I ndah penuh simfoni di balik puisi diberi
N ada-nadaku mendedikasi perjuangan
D i kolaborasi akan penuhi larik-larik
A kan bersitatap ruas kebanggaan
Tidak lama kemudian, ketukan pintu terdengar.
Buru-buru memindahkan file tersebut ke HP dan menunggu siapakah di balik pintu dapur rekaman musik?
Mengernyit, kok lama sekali memunculkan batang hidungnya.
Semakin berwaspada kalau itu sahabat gadis aksaranya.
"Hm..saya pikir siapa," lega rambut mie london.
"Sudah selesai?" Kata seorang itu, sambil terkekeh.
Membalas dengan anggukan kecil.
"Mau di kasih lewat apa?" Lagi, ia bertanya sangat penasaran.
"Chat, tapi bukan kejutan lagi sih," Harris J menggaruk kepala yang tak gatal itu.
Ris, kita lima belas menit ke bandara, tidak mau antar kah?
Ups, dapat chat dari Gessa.
"Pak, mereka sekarang di mana?!" Buru Harris J.
Beliau langsung menginfokan mereka sedang berada di ruang tamu.
Buru-buru keluar dari dapur rekaman, "thanks, sir!" Sebelum benar-benar menghilang dari hadapan Pak Hafiz, rambut mie melempar rasa terima kasihnya.
__ADS_1
"Dari mana sih?! Di cari-cari juga," ketus gadis aksara.
Bule itu hanya cengir lalu menyodorkan sesuatu, sangat kecil.
Gadis Aksara _ Harris J
Ada satu alis terangkat, "apa nih?" Bingung Adinda.
"Nanti diatas pesawat kamu tahu sendiri, thanks?" Kata Harris J.
πͺπͺπͺ
Benda kecil itu pun dikeluarkan dari kotak berukuran mungil yang diberikan oleh rambut mie tadi sebelum berangkat.
"Maksudnya apa tuh, Din?" Kata Gessa, bingung juga dengan tulisan Gadis Aksara _ Harris J.
"Entah, anak itu juga ilang, bagaimana saya tahu coba?"
Tapi, bentar, "ih..ih, ini namaku! Harris J buat dalam bentuk puisi, huaaa!" Girang gadis itu di kursi pesawat.
"Ah, serius?! Sejak kapan Harris J belajar musikalisasi?" Sengaja memancing, karena Gessa sudah tahu persiapan kado itu.
Sebelumnya dia sudah memasukkan memory card ke dalam HP dan penasaran jauh lebih mendominasi, mendapati kejutan manis dari sahabat rambut mie dari london.
Uh, sweet sekali.
"Senang? Itu kado Harris J bermusikalisasi buat kamu, Din. Karna perjuangan yang benar-benar menganggapnya sebagai sahabat. Kak Lefan juga sudah chat saya soal ini." Kicau Gessa.
Tanpa disadari ada secarik kertas dari bule itu.
Perjuanganmu begitu nyata, benar kata Kak Lefan yang kamu kejar itu apresiasi bukan obsesi, thanks sudah buat saya tertarik belajar hobimu.
"Ges..kepalaku sakit," lirih gadis itu.
Mendadak penglihatannya berubah menjadi gelap, hawa dingin menyergap.
Apakah perjuangan yang selama ini di nanti lewat keterlukaan ide termanipulasi berakhir lewat penginfusan nafsi?
Gessa terlihat panik sedangkan masih berada diatas pesawat. Jangan bilang kalau sahabat keras kepalanya itu lupa makan nasi tapi sudah lebih dulu konsumsi coklat satu bungkus.
Arg. Rasa frustasi membelenggu diri perempuan berdarah papua itu.
Melihat sisa bungkusan coklat yang tergeletak di meja, cukup memproduksi amarah.
Salah diri, kenapa tidak mengontrol asupan gadis itu sebelum berangkat.
Gessa mengambil minyak kayu putih lalu di usap-usapkan ke dalam perut juga dadanya, tahu kok kalau saat ini tidak berdaya sebab menahan sakit yang mengakibatkan dia pingsan seperti ini.
"Din..kenapa keras kepala kah?! Sudah tahu tidak bisa makan coklat, masih saja di lakukan, hah!" Kesal Gessa berbicara sendiri.
Semenjak kegiatan terakhir mereka, baru menyadari gadis tersebut tidak bisa mengonsumsi coklat berlebihan yang mengakibatkan kesakitan hingga pingsan.
Masih menyandarkan kepala sahabatnya sesekali memijit-mijit lengannya pun mengusap dengan minyak kayu putih.
Kalau Harris J tahu hal ini, sudah dipastikan bakal terjadi peperangan paling bengis.
Cukup. Gessa tidak menginginkan sahabatnya yang satu ini kehilangan sosok penting sudah di perjuangkan dengan air mata seorang diri.
Tidak bisa menjaga kesehatan, itulah kekurangan yang termiliki Adinda.
Fine, kehilangan sebuah kasih sayang dari pondasi pertama bukan berarti menjadikannya sesuka hati menyakiti diri sendiri.
Apakah tidak menyadari ada penawar terbaik dari sosok bule london yang bahkan orang lain atau fans bertahun-tahun sekalipun tidak punya yang dimiliki Adinda.
__ADS_1
Dan, mengejar semua keterlukaan yang terbentang mata bukanlah satu hal mudah namun dengan cuma-cuma terambil pongah oleh mereka yang tidak paham arti berjuang lewat proses bukan instan.
Hm. Membuang napas gusar, sambil merapikan sisa-sisa cemilan diatas meja termasuk bungkusan yang cukup menahan geram lalu membuangnya ke dalam kantong kecil. []