
“Apakah pantas melihat sebuah kapal kapuk jikalau tetiba terdampar sebuah penginfusan.”
🪐🪐🪐
Denyut-denyut sangat perih, cukup membuat kedua sahabat sangat khawatir.
"Kapan dia seperti ini?" Kata Varinta, sangat terpukul.
Padahal kepulangan dari Padang ingin mengajak mereka menikmati perjalanan seperti biasa, tapi mendengar kabar tidak mengenakan, sangat murka dengan bule london itu.
Lagian, kenapa tidak melantangkan protes? Saat tahu ide termanipulasi pun memaksa nafsi merangkul seorang yang tidak tahu berterima kasih apalagi tidak tahu diri, hingga buat sahabat sendiri terkulai lemah diatas bed rawat inap rumah sakit.
"Waktu itu dia paksa diri selesaikan semuanya, tapi begini deh," Gessa menginfokan.
Sangat tahu persis kali pertama melihat sahabat keras kepala pingsan tetiba depan laptop dengan kondisi gemetar hebat bercampur keringat bercucuran juga demam tinggi, yang buat kedua orangtuanya melarikan ke rumah sakit terdekat.
Gessa hanya terpaku melihat ketakberdayaan sahabat yang selalu ceria mengejar prestasi dari Harris J sampai saat ini belum diberikan kepastian apakah novel tersampai baik atau paling nggak diberikan panggung apresiasi, seperti workshop?
Ini sama sekali tidak ada.
Arg. Menggeretakkan gigi, sangat greget sekali dengan bule london yang melantangkan sebagai sahabat juga nyatanya menelantarkan bakat gadis sederhana hanya memiliki bola mata aksara.
Terlebih lihat mereka ngambil paksa tanpa ijin sungguh semakin menerbitkan keki dalam batin.
"Sudah saya tegaskan juga, kalau jangan pernah ajak mereka. Tapi begitu, keras kepala." Gessa berkicau.
Varinta tidak bisa berkata-kata selain menatap tubuh sahabatnya yang masih melekat selang infus pun oksigen di hidung.
"Keras kepalanya itu yang bikin kita jengkel. Sibuk membahagiakan orang lain tapi tidak bisa mengurus kesehatan sendiri." Ketus Varinta.
Membuang napas sangat gusar, "trus..Harris J tahu soal ini?" Lagi, Varinta bertanya.
Hanya gelengan diperlihatkan Gessa.
"Yang jelas dia pikiran, setelah tahu hanya dapat notif vidio dari Harris J lewat managernya. Sudah gitu, JJS-nya copas sana-sini ide nulisnya lagi."
Varinta semakin kesal bukan main.
Melihat sosok keras kepala yang terbaring lemah begini, cukup mengambil energi mereka juga.
"Mama-mu tahu kalau kamu ke sini?" Lagi, Gessa bertanya.
Hanya anggukan kecil, "bahkan mamaku kaget pas tahu saya mau ke rumah sakit." Intonasi berbalut lirih.
"Sori, padahal kita mau have fun, tapi.."
"Sudah. Yang terpenting kesehatan Dinda saja jadi prioritas sekarang." Varinta melempar senyum getir.
Mereka berinisiatif keluar cari makan, "eng..kamu sudah yang beli, saya tunggu di sini, gimana?" Usul Gessa.
"Mau makan apa?"
"Dari saja, yang penting jangan mahal-mahal eh?"
Ok. Varinta pun keluar dari ruang rawat inap sembari menjelajahi area Kotaraja.
__ADS_1
Oh, sudah lama sekali tidak mencicipi makanan itu, dua bola mata perempuan hijabers tersebut mengarah pada warung sebelah pertamina.
Hah..padahal janjian makan sama anak itu baru, gumamnya dengan lirih.
Setelah di bungkus, mencari minuman dingin lebih dulu lalu kembali ke rumah sakit.
"Geprek?" Gessa menyambut sangat antusias.
Dibalas dengan anggukan cepat.
"Jadi ingat dia, kalau kamu ke sini pasti ngajak makan geprek," ada tawa-tawa penuh luka di sana.
"Kita berdoa saja, insyaallah dia siuman secepatnya, be the way mamanya ke mana?" Varinta melupakan sosok penting dalam hidup sahabatnya itu.
Gessa mengatakan kalau sedang pulang ke rumah mengambil baju ganti.
Sambil ngobrol ringan sesekali memerhatikan gadis aksara yang belum sama sekali novel itu terbaca oleh sahabat rambut mie london yang terlantang begitu percaya diri, tiap kali bersitatap dengan mereka berdua.
"Oh, astaga..Kak Lefan! Dia harus tahu ini, Rin.." Buru Gessa sambil menepuk jidatnya.
"Jangan..nanti bakal sampe ke Harris J." Mohonnya.
"Tapi kan? Kak Lefan harus tahu kondisinya, kalau tidak, justru kita yang kenal omelannya." Sambil menunjuk ke arah Adinda yang masih koma menggunakan dagu.
Hm. Sangat penting juga untuk mengabari ke kakak yang selalu memberikan jembatan kala sahabatnya tidak mendapati kepastian apresiasi dari rambut mie.
Butuh beberapa pertimbangan, hening sambil ditemani decih sendok.
"Ok, setelah makan baru kita telpon." Varinta pun memutuskan setelah itu kembali makan.
🪐🪐🪐
Rutin. Tanpa mengenal lelah menjenguk.
Kali ini mereka berdua membawa cemilan sambil sesekali ngobrol dan memijit pelan jemari-jemari itu.
"Din .. Bangun, kita kangen cerewetmu. Masa sih saya kembali ke Padang bawa sedih?" Lirih Varinta.
Sedangkan Gessa sibuk merapikan cemilan itu diatas nakas rumah sakit, sesekali melirik gadis yang memiliki bola mata aksara.
"Tadi .. Kak Lefan telpon," kata Gessa.
"Kak Lefan tahu nomormu?!" Buru Varinta, tak percaya.
Menggeleng sangat pelan, "dia telpon di nomernya Dinda."
"Trus..kenapa tidak angkat?"
Bukan kah kemarin sepakat habis makan bakal mengabari kondisi gadis itu?
Ah, benar. Ada banyak keraguan terbentang pelupuk mata.
Drrtt..Drrtt..,
Panggilan dari nomor luar negeri cukup mengagetkan mereka berdua yang sedang nikmati rasa kalut.
__ADS_1
"Angkat.." Kata Varinta.
Karena kebetulan HP itu diatas nakas tepat di samping tangan Gessa yang sibuk mengatur cemilan mereka.
"Trus, mau ngomong apa?" Gessa bingung sendiri.
"Sini..biar saya yang jelaskan." Dan, Varinta pun mengulurkan tangan meminta HP itu diberikan.
Benar. Saat HP sudah berada di tangan, gemetar bercampur nerveous.
"Hallo, assalamualaikum, dek. Kok baru diangkat? Katanya mau cerita tentang JJS."
Varinta menggigit bibir bawahnya.
"Waalaikumsalam, maaf kak ini bukan Dinda tapi sahabatnya."
Mendadak intonasi itu menjadi kebingungan di seberang telepon.
"Dinda-nya ke mana, dek? Pergi jajan boba kah? Oh, kalau begitu nanti sampekan ke dia kalau saya telpon tadi."
Sebelum di akhiri pembicaraannya, "kak..kak, bukan. Dia lagi sakit."
"Sakit? Kok tumben saya tidak di kabari sama dia?"
Biasanya Adinda sangat manja sekali dengan kakak menyebalkan itu.
Varinta sambil melirik ke arah perempuan berdarah papua itu, mendapati anggukan lalu menceritakan kronologisnya.
"Harris J sudah tahu kalau Dinda di rawat inap?"
Mendengar nama yang cukup buat mereka selama ini menunggu sahabatnya siuman, menahan geram.
"Tidak sama sekali, kak."
Tapi, kalau menutupi kenapa bisa gadis itu terbaring lemah dari Kak Lefan, kemungkinan besar bakal memuntahkan protes setelah tahu dari orang lain atau bahkan Adinda sendiri.
"Kak, sebenarnya Dinda sakit karna ngurus project JJS, antologi. Kakak tahu kan, dia tidak bisa kecapean apalagi banyak pikiran?"
Dan, Varinta pun menjelaskan mengenai ide termanipulasi juga vidio thanks di beri Harris J setelah itu hilang tiba-tiba yang menerbitkan inisiatif ngerangkul bunga harapan bule itu berkarya.
Tapi? Yang di dapatkan sahabatnya hanya keterlukaan, membuat mereka khawatir dengan big dreams batas di pandang sebelah mata saja oleh Harris J.
Fine, tahun lalu sudah diajak berlibur ke london menghadiri acara yang bukan orang sembarangan melainkan artis.
Varinta juga tidak mengelak kalau bule itu sudah menanggapi mimpi besar tersebut di depan banyak tamu undangan bahkan di buatkan lagu khusus, sebagai kado.
Kenapa saat gadis sederhana batas memiliki bola mata aksara menginginkan hal tidak rumit, workshop kepenulisan dibaluti apresiasi depan JJSnya ini loh artinya berjuang lewat hal-hal kreatif yang berfaedah bukan hanya di tamu undangan yang bahkan Adinda tidak mengenal mereka begitu pun sebaliknya.
"Makasih informasinya, dek. Insyaallah kakak datang ke indonesia, lihat kondisi Dinda."
"Tapi, kak? Kakak kan lagi kerja di Jepang? Apa tidak mengganggu pekerjaan kakak di sana?" Varinta tidak enak hati jadinya.
Ada tawa santai terdengar di sana, "apapun buat adik cerewetku, kakak bakal lakukan, dan lebih penting itu kesehatannya. Ok, sampai disini dulu, kakak akhiri obrolan kita yak, assalamualaikum and thanks for information?"
Din..bruntung sekali dapat orang-orang yang peduli sama kamu. Walau dari orang luar, buat saya iri. Gumam Varinta sambil mengelus-ngekus puncak kepalanya yang dibaluti jilbab. []
__ADS_1