
“Tidak mengerti, kenapa semesta selalu tawari getir? Hm..lagi-lagi luka baru muncul cukup buat nafsi memeluk mimpi sangat ngilu”
🪐🪐🪐
"Kenapa lagi sih, Din, gemar sekali bikin diri terluka?! Sudah enak lihat JJS kirim karya, kenapa harus lihat postingan itu lagi sih, hah?!" Kesal Gessa.
Well. Hari ini sahabat berdarah papua itu datang, sesuai permintaan Adinda dengan kesan maksa campur manja.
"Ges, bisa rasain ndak sih, kalau posisi mereka itu hanya--"
"Jangan pernah bilang karyamu tidak layak di baca Harris J! Dan, mereka-mereka dalam postingan itu layak di apresiasikan kado yang tidak setara dengan novelmu, begitu, hah?!"
Ugh. Bisa-bisanya perempuan ini memotong pembicaraan Adinda.
Memang wajar memuntahkan amarah itu, sebuah postingan dari instagram yang menampilkan JJS sodorkan kado berupa aksesoris ke rambut mie london tersebut tidak setara dengan perjuangan nyata terbentang oleh mata kepunyaan Adinda, novel.
"Tolong kah, Din, untuk sekali ini saja. Berhenti cari hal-hal yang bikin kamu sakit hati." Kata Gessa, sedikit memohon walau dengan intonasi gemas sendiri, pengen nelan sahabatnya hidup-hidup hari ini juga.
Terdiam.
Tidak banyak kata lagi terlantang, selain memotret kebahagiaan mereka yang bisa sodorkan langsung tanpa prantara, sama halnya novel belum sampai ke tangan bule itu.
Siapa. Siapa yang tidak cemburu? Kado biasa begitu sangat mudah sampai ke Harris J sedangkan novel yang diperjuangkan susah payah dinilai sangat murah ditambah vidio thanks terobral sana-sini oleh JJS di sosmed.
Pergi .. Ke mana pun langkah imaji berlari,
Jangan pulang sebelum bawa kunci
Karena ..
Di luar sana butuh pintu pelangi
Bukan sebuah tangis diri di rawat ilusi.
"Awas eh, kalau saya tahu kamu pikir jelek. Trus drop, tidak bakal datang jenguk kamu, biar sekalipun maksa, saya tidak mau!"
Ups, masih ada Gessa yang membangunkan nafsi dari destinasi imaji.
"Siap bu negara! Tapi, tinggal buat sertifikatnya saja sih." Adinda membalas dengan cengiran lebar.
Hah. Gessa membuang napas lelah, bingung mau bagaimana lagi?
Sejujurnya tidak setuju lihat sahabat keras kepala itu nyusun project di mana nyita waktu kuliahnya.
Apalagi tubuh Adinda sangat rentan sakit.
Mau di larang juga percuma.
Kalau mereka tidak lost contact dengan Varinta, sudah di pastikan memberikan banyak motivasi pun tidak ceramah paling sedikit kekesalan yang bakal tertampil di wajahnya kok, ehe.
"Pasti dia senang juga kok, kalau saya buat project ini, Ges?" Tetiba Adinda berkicau.
"Benar. Tapi, kalau tahu kamu hobinya nyiksa diri, dia marah jugalah!"
"Sori bu bos." Adinda nyengir lebar.
"Be the way, Harris J tahu kah kalau kamu buat antologi tentang dia?" Gessa bertanya dengan wajah melongo.
"Haha..boro-boro tahu, dia saja lagi ngambek heh sana..bagaimana mau bilang coba?"
Tapi, karna project ini sudah yang bikin dia marah besar. Imbuh Adinda dalam batin, sangat getir.
"Loh? Kok bisa sih dia tidak tahu sama sekali? Ih..sayang sekali, coba kek kalian diskusi apa begitu, siapa tahu Harris mau ngundang salah satu penulis di antologi kalian?"
Iya..rencananya sih gitu. Tapi sayang banget sahabat rambut mie sampai detik ini tidak kasih kabar sama sekali ke Adinda.
Bakal lompat sumringah menceritakan tentang hobi dan project itu ke Harris J.
Apalagi dia sudah bisa menghapus jejak delusi tertambah iri hati JJS dengan menggantikan produktifkan bakat lewat langit aksara.
Egois ndak sih, kalau menyembunyikan kemarahan Harris J dari sahabat sendiri?
Hm. Daripada menyimpan sendiri, menarik napas dalam-dalam lalu membuangnya dengan setenang mungkin.
"Ges.." Panggil Adinda lalu menoleh dengan raut bingung.
Tidak biasanya.
"Kenapa? Ngomong langsung ke intinya saja."
Hehe sudah bisa menebak isi kepala gadis itu saja yang langsung tertawa kecil.
"Soal kenapa Harris J marah dan hilang kabar? Yah, itu karna dia terlalu berlebihan mikir soal kesehatanku," mengambil jeda beberapa detik, lalu membuang napas gusar, "kan, dia tahu sendiri tujuanku buat project supaya bikin JJS bisa mandiri dan berkarya, bukan ngoleksi suatu hal yang hanya habiskan waktu doang. Tapi, dia murka sekali eh sama saya." Imbuh Adinda penuh intonasi getir hebat.
Tampak Gessa berpikir panjang.
"Ada benarnya juga sih, Din. Apalagi kamu kan lagi kuliah, takut ganggu citamu. Mungkin Harris tidak mau lihat sks-mu terbakar berulang-ulang, makanya dia marah."
Uh..kalau sedang bimbang seperti ini, yang dibutuhkan saat menumpuk nestapa adalah Vatinta.
Sahabat bijak paling bakal menengahi sebuah prahara juga takkan bakal mencetuskan sama halnya yang sudah di sampaikan Gessa.
"Tapi, kan, dia bisa ingatin saya kalau terlalu fokus sama hobi. Tidak harus pakai marah-marah dan hilang kabar juga, kan?" Adinda mencoba mengeluarkan protes.
"Setidaknya dengan kemarahannya, coba kek kamu sendiri datang minta maaf, trus bicarakan baik-baik, supaya tidak bikin kamu sakit sendiri disini."
Sebuah saran yang memang membangun, hanya sulit mencoba menghubungi bule london.
"Kalau Kak Lefan tahu, dia ikut marah ndak eh?" Tampak Adinda berpikir.
Tidak ada jawaban sama sekali, selain kedua bola mata menatap sangat miris.
Menambah-nambah peran orang dalam melihatkannya pada nafsi sedang produksi satu antologi tanpa libat tangan JJS, jelas bakal memuntahkan amarah sama halnya dengan Harris J.
Eh, tapi Gessa tidak tahu pasti kalau kakak itu marah atau sama halnya seperti Varinta?
"Ges.." Panggil gadis itu sedikit gemas.
"Apa kah?" Di balas dengan sewot.
__ADS_1
"Kira-kira kalau saya curhat tentang Harris J marah, Kak Lefan ceramahin bule itu ndak eh?"
Hm. Menarik napas gusar, "saranku jangan dulu."
Lantas ke mana melarikan nestapa, saat susah hubungi sahabat berambut mie london?
"Bakso yok?!" Tetiba saja perut Adinda lapar, ingin diisi berkuah juga sambal.
"Saya tidak bawa uang, Din."
Hm. Selalu terjadi seperti itu, cukup buat dia mendengus panjang, sangat kesal.
"Sudah. Hayuk..gunanya sahabat itu saling ngisi kekosongan. Jangan bla..bla tolak!" Langsung di semproti protes dong.
Yang di balas hanya cengiran lebar dari Gessa.
"Din, kalau saya sudah punya pekerjaan tetap, janji..bakal gantian traktir kalian berdua." Gessa berkicau di belakang kemudi motor.
"Huss..bacot dah! Kita tidak butuh namanya timbal balik. Cukup terima apa adanya dan bersyukur miliki kita, sudah lebih dari sempurna."
"Tumben bijak." Gessa mencibir dong.
Hanya mencak-mencak tidak jelas, sembari menunggu pesanan datang ke meja mereka.
Adinda melihat chatroom lewat jalur pribadi, lalu mengetik sesuatu ke salah satu JJS, menumpah ruahkan rasa kesalnya kenapa bisa manager indonesia tidak menepati janji sodorkan novelnya ke bule london ..
Kakak senang saat Pak Hafiz minta novel dua versi, kakak pikir dibaca. Tahu-tahunya cuma dicuekin novelnya bahkan gak dibawah Harris J ke London.
Coba waktu kali pertama di berikan pintu asa sangat bersimfoni hangat, bisa di terowong detail, jikalau batas sampai, sebisa mungkin takkan mengirim kedua novel itu.
Ugh. Menggeretak sangat sesal.
Hanya menaruh harapan palsu :( jika saya jadi kakak mungkin saya sudah menyerah dan putus ada tapi kakak hebat. Kakak tetap berkarya walaupun banyak rintangan.
Ada senyum-senyum getir tercetak di sana. Lalu membalas dengan senyum lebar, walau sisi lain ada luka tersembunyi.
Menyerah itu bagi orang tidak suka kelas luka berikutnya. Hanya pejuang mimpi, allah buka ruang tak terduga bakal beri bahagia. Perjuangan dan pengorbanan diperlukan, dek. Agar ngerti proses di balik air mata, luka dan kecewa.
Karena tidak mudah dapatkan sukses dengan instan. Tapi, masih ada jembatan sisi lainnya berbisik nyerah, tergantung kita, mau nyebrang trus belok ke sana atau lurus ke tujuan.
Satu lagi, saat kalian jadikan kakak motivator, ada rasa senang tersendiri. Tapi, jujur, kakak tidak pantas dijadikan motivator dan inspirasi kalian, karena novel kakak saja masih tertinggal di kantor DNA Production.
Tapi, cukup buat kakak bangkit kejar mimpi tertinggal.
Ping,
Kak :( kata-katanya menyentuh hati banget. Oh yah kak, gimana udah ada respon dari kak Shelly setelah saya lempar no kak Shelly?
Intan Widiya memang sangat pengertian dalam menjadikan nestapa pun mimpi tertinggal sebagai pendengar terbaik walau batas chatroom, cukup melegakan rongga-rongga mimpi Adinda.
🪐🪐🪐
Kok bisa? Just di read kah? Atau sama sekali nggak?
Sebentar deh kak, saya coba tanya sama admin Harris yang lain, Insya Allah dia tahu. Atau kakak mau nanya sendiri?
Napas sangat kempas-kempis, menahan emosi saat baca chat dari Intan.
Persoalan mimpi dan keterlukaan di sengaja, bukan sebuah diskusi sebarluas, semakin membuncahkan amarah itu dalam dada.
"Shelly siapa, Din?" Gessa melongo.
"Anak dari manajemen DNA Production."
Tidak tahu kenapa menceritakan mengenai mimpi yang tertinggal, ada ruas-ruas sesak melebur lagi.
No need. I’m fine.
Oh be the way tadi belum membalas chat itu, sedikit kesal. Sungguh! Tidak tipu-tipu.
Untuk apa coba menanyakan satu hal yang sudah di janjikan, seperti merobak luka perulangan, nyeri tak tertolong.
Oh, oke :(
Saya cuman bantuin kakak dan saya nggak bermaksud untuk ikut campur kak. Maaf :(
Apa sih, so sad sekali chat yang dikirim Intan.
Ok, fine, tidak permasalahkan membantu jemari mimpi yang tertinggal, tapi kan, harus ijin dulu sebelum nanya kabar novel itu sekarang di mana.
Bukan selancang dilakukan Intan lalu kabari tiba-tiba yang cukup buat Adinda emosi sangat meletup-letup.
Dan, pada akhirnya dia minta bukti dengan mengirim screen shoot percakapan mereka. Kepo, apa saja yang ditanyai ke Rahma, salah satu admin sekaligus panitia konser Harris J di indonesia.
Apresiasi gimana lagi? Masa disodorin ke Harris, sambil bilanng ‘ini novel wajib kamu baca’ gitu? :D Kan ya gak mungkin, yang pasti udah di kasikan novelnya. Mungkin karena terlalu banyak kadonya jadi dia gak sempat pilih-pilih mana yang harus dia bawa. Tapi Harris selalu menghargai kado-kado yang diberikan JJs.
Mereka yang tidak memahami arti perjuangan, bakal melantangkan tawa-tawa ringan dan santai.
Padahal di balik perjuangan itu butuh layak di jadikan motivasi bagi JJS yang masih bermain dengan delusi.
Tapi, setelah lihat chat tersebut, sangat memandang remeh arti sebuah karya dalam dua bahasa sekaligus tercipta.
Kak Dinda sudah berusaha chat Pak Hafiz tapi nggak ada respon apalagi ke kak Shelly. Dan mungkin cuman kakak satu-satunya harapan buat kak Dinda agar bisa respon.
Lagi dengan percaya diri penuh semangat Intan tidak nyerah untuk mengembalikan senyum sang motivatornya, terutama tidak menginginkan amarah terus meledak-ledak di chatroom whatsapp.
Saya tidak bisa bantu apa-apa dek, yang setahuku yang pasti kado-kado dari JJs yang dikirim sudah dikasihkan ke Harris.
Yaya, kado yang sudah sampai bakal diberikan ke Harris J, tapi realita tidak menjamin semua dalam chat dari Rahma tersebut.
Saya tahu itu, tapi Kak Dinda cuman mau tahu apa novel itu dibawa Harris atau ditinggal sama Harris di Indo? Karna Kak Dinda sekarang sedang bekerja sama sama JJs untuk buat buku antologi karya semua JJs.
Hah. Kenapa harus berusaha mengejar sesuatu yang sudah jelas terbentang oleh mata kalau tidak ada kejelasan kabar dari manager indonesia.
Itu Dinda masih beruntung loh disuruh ngirim kadonya. Soalnya banyak JJs yang mau ngirim kado nggak ada kesempatan, karena Pak Hafisnya selalu sibuk kalau Harris kesini jadi gak sempat ngurusin kado-kado yang dikirim.
Bukan sebuah keberuntungan kalau batas sampai lalu dijadikan debu di sana.
Tidak beda jauh dengan kado-kado JJS lainnya yang telah sampai di sana, membedakan satu, kalau bruntung dan suka pasti Harris J bawa pulang.
__ADS_1
Lah, ini novel kenapa tidak menanyakan langsung sih ke Pak Hafiz?
Semakin memperjelek tanggapan Adinda ke sahabat rambut mie itu.
Seolah-olah menjadikan nafsi sebagai figuran saja.
Kak, saya tahu kalau saya ikut campur dengan masalah kakak. Tapi saya cuman mau kakak bahagia dengan karya kakak yang dibaca Harris. Dengan lancang saya ikut campur tanpa izin kakak.
Fine. Tidak ada yang salah kalau Intan ijin lebih dulu, bukan lancang mengambil sesuatu yang bahkan di pandang remeh oleh admin JJS Ina itu lewat chatroom whatsapp.
Sungguh, ada detak-detak sesak juga sakit hati di tambah amarah menjalar ke seluruh tubuh, tahu mimpinya di campuri seperti ini.
Kalau tanggapan Rahma bagus, it's okay, tapi sudah baca semua percakapan mereka, terkesan remeh menilai sebuah karya semakin buat Adinda jengkel.
Buat apa harus bilang? Kan sudah saya kasih tahu no need, okey? Nanti kesannya saya dikatain gak bersyukurlah...ntar dibentak-bentaklah, dimakilah sama Pak Hafiz
Whatever
Karena ketidaktahuanku kalian chat siapapun yang berkaitan dengan admin JJs Ina...buat saya terluka.
Uh..menumpuk-numpuk chat itu ke Intan tidak bisa mengembalikan keadaan pandang remeh dari Rahma mengenai mimpi juga novel yang sampai detik ini belum sampai ke tangan Harris J.
Maaf kak sebelumnya, saya jadi ngerasa bersalah kalau saya ikut campur masalah kakak
Saya jadi ngerasa bersalah dan tindakan saya ini cuman bikin hancur...maaf kak saya sama sekali nggak ada bermaksud apapun.
Chat saya sama Kak Rahma itu enggak terkesan serius kak dan sekali lagi aku minta maaf, mungkin saya ceroboh.
Kak, saya cuma mau kasih info kalau novel A Dreams masih ada di DNA
Ya Allah kak...saya benar-benar ngerasa bersalah
:( maafin saya kak, kalau kakak benci sama saya, silahkan karena saya juga yang salah.
Aku nggak mau lagi dengarin curhatan kakak, karena dengan curhatan kakak saya kaya ngerasa ada diposisi kakak dan saya pasti akan lakuin apapun agar tidak sedih...daripad saya ceroboh lagi. Mending saya diam dan tutup telinga atau bisa aku keluar aja biar kakak nggak ketemu orang kayak saya yang sukanya ikut campur urusan orang lain.
Kzel dah. Spam chat dari Intan cukup membuncahkan amarah itu dalam dada.
Kalau tidak ada respon seenggaknya berhenti mencari cela agar melihat motivatornya kembali seperti dulu.
Ibaratkan bunga yang layu, tapi berusaha di sirami air agar mekar. Seperti itulah hati Adinda saat ini, sudah mati rasa dengan namanya respect pun humble ke satu JJS itu.
Padahal dulu, kalau menceritakan tentang mimpi tertinggal, sangat nyaman tanpa ada keraguan, tapi sekarang sejak lihat chat mereka semakin menumbuhkan benci pun amarah.
Luka baru muncul yang membuat tangkai-tangkai mimpi semakin terkulai lirih sangat pedih terasa seorang diri.
Ditambah Harris J belum beri kabar, semakin menyeruak luka dalam dada.
Dengan perasaan gusar, mengambil HP merespon semua spam itu ..
Tanggapannya aja seperti itu. Nah, itu yang kakak gak bakal suka kalau gak kasih tahu dulu ke orangnya...jangan asal bunyi dek. Dibilang apresiasi segala...jelas mereka bakal ketawa dek...kesannya mereka, kakak gak bersyukur dan gila apresiasi.
Satu yang saya inginkan ‘kepastian’ bukan gila pujian bahkan apresiasi.
Esok hari ..
Ada sebuah cerpen di instagram yang cukup menarik perhatian gadis aksara, sebab dari tadi dapat spam di whatsapp tidak mau di buka.
Rasa penasaran pun membuat jemari itu melihatnya ..
Hancur Sudah
Adinda Ariani merupakan JJs Indonesia yang mempunyai potensi tinggi dan berbakat dalam membuat karya Puisi ataupun sebuah Cerpen.
Tahun 2017 adalah tahun yang ditunggu Adinda karena Harris J akan ke Indonesia dan Adinda siap menerbangkan karya novelnya ke Jakarta untuk Harris J.
Hari yang ditunggu-tunggu pun tiba, Adinda sangat bahagia karna novelnya sudah sampai di kantor DNA. Dengan bahagianya Adinda menerima sebuah Video ucapan terimakasih dari Harris J, Adinda pun berulang kali memutar video itu tanpa rasa bosan.
Dengan rasa bahagia yang memuncak, Adinda pun berpikir akan mengajak JJs berkarya. Tanpa berpikir panjang Adinda pun membuat Grup yang dia berinama " AKSARA FOR HARRIS J". Dengan menggandeng beberapa JJs yang berminat dalam berkarya, Adinda sedikit demi sedikit mulai mempunyai rencana akan membuat Buku Antalogi yang berisi karya para JJs yang rencananya Insya Allah akan dibaca oleh Harris J.
Waktu berlalu sangat cepat, Adinda sibuk menyeleksi karya para Jjs. Ada kesedihan dalam kebahagiaan yang Adinda rasakan pada waktu itu, Adinda merasa bingun apakah Buku Antalogi ini akan dibaca oleh Harris J sedangkan karya novelnya yang lalu sama sekali tak ada kabar yang pasti dari pihak DNA.
Dalam belenggu yang suram, Adinda tak kuasa menahan semua rasa sedih yang berkepanjangan. Berceritalah dia dengan salah satu JJs. Pikirnya dengan cara ini mungkin luka yang dia alami akan berkurang lambat laun. Adinda menceritakan semua rasa lukanya kepada ia, pun dengan senang hati mendengarkannya. Ia pun menjadi pendengar setia Curhatan Adinda tetapi lama kelamaan ia merasa bahwa ia ada didalam masalah itu.
Ia pun berpikiran, jika memberikan no Kak Shelly salah satu Admin Harris J. Adinda akan merasa sedikit lega karena dengan cara itu mungkin Adinda tahu apakah novelnya sekarang sudah di tangan Harris J. Namun setelah beberapa hari berselang, dia menanyakan kembali tentang apakah ada jawaban dari Kak Shelly kepada Adinda dan dengan jawaban yang singkat Adinda menjawab "NO". Ia pun merasa harus melakukan sesuatu agar Kak Adinda Bahagia, ia menawarkan apakah ingin no Kak Rahma yang juga Admin Harris J Indonesia. Namun Adinda menjawab "No, I'm fine".
Tapi entah mengapa, ia merasa harus melakukan sesuatu lagi. Tanpa berpikir panjang, ia mengirim pesan kepada Kak Rahma dan menanyakan apakah novel karya Adinda itu sudah ditangan Harris J atau masih ada di kantor DNA. Kak Rahma pun menjawab "Akan ditanyakan kepada Pak Hafidz".
Tetapi dengan cerobohnya, ia membicarakan yang tidak sepantasnya dibicarakan. Setelah mendapat jawaban dari Kak Rahma, ia pun merasa senang dan berpikir Adinda akan senang karena kebingungannya itu telah terjawab. Segeralah ia memberi tahu Adinda dengan menangkap layar sebagian pembicaraanya dengan Kak Rahma.
Pikirnya Adinda akan bahagia mendengar Kabar ini. Namun beberapa menit berselang Adinda mengirin pesan yang menandakan sangat tidak suka jika ia menanyakan itu kepada Kak Rahma tanpa meminta izin dahulu. Adinda meminta agar menangkap layar semua percakapannya dengan Kak Rahma, Setelah itu Adinda pun membaca semuanya.
Dengan rasa kecewa, Adinda memarahinya yang ceroboh mengatakan sesuatu tanpa seizinnya. Adinda merasa kesal dengannya, yang pikirnya ia akan menjadi teman curhat yang bisa mengikis perlahan lahan lukanya. Adinda pun menasehati ia, pun merasa bersalah telah berbuat ceroboh dan ikut campur dalam masalah Adinda.
Ia merasa sangat bersalah, pun memberi penjelasan kepada Adinda tapi entah kenapa Adinda seperti tidak dapat memaafkannya karna telah merusak Imagenya di wajah Admin Harris J Indonesia dan Pihak DNA. Ia berusaha memberikan penjelasan kepada Adinda, namun Adinda tidak menanggapinya.
Rasa salah itu selalu ada dalam benaknya. Merasa telah berbuat hal yang bodoh, berusaha dan terus berusaha meminta maaf kepada Adinda namun tidak membalas itu. Ia pun merasa khawatir jika Adinda membencinya, Setiap harinya ia selalu mengirimkan permintaan maaf. Tetapi sekali lagi tidak ada jawaban dari Adinda.
Adinda jelas memberikan kode bahwa sangat kecewa dengannya . Ia yang bingung ingin melakukan apa agar bisa menebus kesalahanya ini, ia hanya bisa mengatakan permintaan maaf, maaf dan maaf. Tetapi Adinda mengabaikannya. Rasa bingung itu selalu ada dalam pikirannya sampai-sampai ditegur oleh kedua guru yang berbeda karena tidak fokus dalam mengikuti pelajaran.
Selalu memikirkannya, merasa Adinda benar-benar kecewa dan tidak ingin berbicara dengannya lagi. Dengan masalah ini, selalu berpikir bagaimana caranya. Setiap hari hanya memikirkan masalah itu sehingga ia sakit dan tertimpah masalah yang lebih dahsyat yang membuat ia Down dan menangis sepanjang hari tanpa henti.
Mengeluarkan air mata penuh penyesalan dan air mata penuh dengan masalah yang kini sedang melanda dalam kehidupannya.
Kini yang ia harapkan hanyalah Maaf itu agar Adinda bisa memaafkannya dari segala kesalahan yang telah dibuat dan berjanji tidak akan mengulangi perbuatan ini lagi. Jika perlu jangan beri kesempatan ia dalam berkarya untuk Harris J, karena ia bergabung berkarya tetapi ia yang membuat semua hancur.
Niatnya mengikuti ini hanyalah pengisi waktu agar ia bisa melupakan semua penyakit yang bersarang di tubuhnya. Iia hanyalah wanita lemah , wanita yang ceroboh dan wanita yang tidak mempunyai teman.
Untuk itu, ia meminta maaf kepada Adinda. Semoga Adinda tulus memaafkannya juga berharap Adinda tidak membencinya.
Jika Adinda tulus memaafkannya, ia akan sangat bersyukur dan mengucapkan terimakasih atas pemberian maaf ini.
I Love You Adinda Ariani ❤
Intan Widiya N.
Malas menggubris isi cerpen itu melainkan langsung keluar dari aplikasi instagram tapi sisi lain ada rasa haru dibuatkan tulisan minta maaf lewat sosial media.
__ADS_1
Namun, rasa kecewa masih mendominasi dalam hati. Seenggaknya sisi lain senang kok, tapi belum ada niatan kembali humble seperti dulu. []