
"Luka menjadi terpaku bersitatap dengan mereka batas mengeluarkan rupiah. Seru penuh kebahagiaan sesaat."
πͺπͺπͺ
Mau makan siang dan diskusi bareng Harris J? Silahkan hubungi nomor didalam poster ini yaa.
Caption terkemas sangat nyeri saat tahu batas rupiah mereka yang ingin berkunjung pada destinasi dinner.
Lalu, melihat sebuah komentar sangat-amat sesak, semakin meruntuhkan asa menggenggam pintu apresiasi lewat mereka.
Mereka yang sedang mengadakan sebuah launch and learn Harris J.
Kenapa tidak memberikan satu kesempatan dalam bersemuka, atau novel itu di beri langsung ke tangan bule berambut mie?
Paling tidak jangan membuat asa sebuah kreatifitas anak bangsa menjadi debu tak terurus dalam pintu harap telah di terbangkan.
Harris J juga sejak kemarin tidak ada kabar sama sekali. Apa benar mengganti nomor jalan pintas terbaik tidak terusik oleh sahabat sendiri?
Adinda rasa sangat mustahil dan itu bukan pilihan bijak seorang penghapal quran berhati ramah itu.
Dulu, setahun lalu sangat menikmati penuh keindahan.
Harris memperilaku penuh ramah tanpa ada amarah lahir di sajak.
Juga kedatangannya ke indonesia langsung berikan sebuah kertas tak terterka oleh Adinda, sungguh menggambarkan keseriusan seorang artis ternama tersebut.
Calvin Harris. Bukan orang biasa yang sembarangan diberikan undangan, apa itu tidak mencerminkan kalau Harris bukan tipekal orang pecundang?
Big no!
Mungkin saja saat seperti ini sedang membutuhkan ruang rehat, sembari fokus pada tour kali pertama di jalankannya.
Loh? Makan siangnya dimana?
Kak, itu di Jakarta aja ya?
Pengen ikut, tapi kemahalan
Harganya?
Harga asli 1 juta, promo 500k
Ada sebagian dari mereka menangis, meringkih tak memiliki duit lebih untuk memposisikan diri dinner dengan sang idola.
Jelas sangat melukai kreatifitas gadis itu sendiri sih, biar bagaimana pun meminta sodorkan saja, setengah mati sekali.
Uang. Diksi ini paling enggak bisa dihandalkan jika dia ingin lihat novel itu ada di tangan Harris J.
Kalau saja mengukur sesuatu dengan rupiah, bakat anak bangsa semakin tenggelam jauh dari permukaan apresiasi.
Membutuhkan dianggap bukan terbuang begitu saja.
Benar. Acara itu dibuat hanya satu kota, Jakarta. Semakin meringkih batas kolom komentar saja.
Hanya memantau kegiatan bule rambut mie itu, memang tak lepas dari latihan atau konser. Membosankan? Tidak sama sekali melainkan ingin mendapati titik harap novel itu telah berada di dekapan mata Harris J.
"Oh, masih belum konser di satu kota lagi?!" Kok Adinda tiba-tiba saja mendecak sendiri?
__ADS_1
Melihat postingan admin JJS Ina itu, memperkuat amarahnya.
Tidak perlu banyak mengumpulkan kantong harap novel itu di sodorkan, kalau saja tidak memberikan uang atau nafsi langsung memberi ke Harris J, itu pun kalau bruntung jika berbanding terbalik? Sepeti panitia buat peraturan ketat tak memperbolehkan fans sodor kado.
Arg. Kesal sekali.
Oh, benar juga bukan sebuah faktor utama kantong tak mendukung ikut acara terbilang limitid edision itu, melainkan hampir semua JJS berstatus sekolah. Tentu tidak memiliki banyak harap buat ke sana.
Adinda tersenyum lirih.
Malas berenang terlalu lama di sana, hanya menghabiskan detak waktu yang memproduktif amarah terus-menerus menjalar di jiwa.
Baru beberaa detik melepaskan tangan dari HP, sudah berisik sekali sebuah notifikasi di chatroom whatsapp.
Hm, mendesah sangat gusar.
Mereka sekedar menanyakan hal yang barusan menjadi potret amarah gadis aksara.
Adinda mendiamkan, semakin tertumpuk tak ada jeda diberi.
yah, begitu deh, mereka hanya prioritaskan duit. Kalau nggak ada uang, novel kakak juga tidak di kasih ke Harris J.
Memang, ada salah satu JJS bertanya mengenai kabar novel itu di sana.
Tidak lupa balas chat yang menanyakan bagaimana pendapat dia mengenai acara tersebut.
Tidak usah khawatir, Dek. Kalau masih rezeki, kalian bisa ketemu Harris J kok, udah..udah, jangan dipikirkan terlalu lama, next time ade bakal dapet lebih dari acara itu kok.
Begitulah chat dibalas Adinda ke salah satu JJS, merengek dan ringkih tak bisa di posisi mereka.
Meratapi ketakbruntungan sangat menyebalkan, apalagi mengedepankan rupiah terbilang tak sedikit, jelas menusuk-nusuk kasar kantong jajan mereka.
Oh benar juga, Adinda sempat lihat komentar JJS yang tidak sabar buat beli tiket itu.
Kak, perjuangan kakak lebih hebat tahu daripada acara itu. Jangan kasih keluar uang hanya demi makan bareng sama Bang Jey. Kita disini masih tetap dukung kakak kok.
Salah satu JJS memberikan motivasi hebat, padahal gadis itu sekedar bercanda menanyakan untuk terbang ke Jakarta ikut acara itu.
Terkekeh pelan.
Masih ada orang yang peduli dan sayang apalagi mengapresiasikan perjuangan mimpi itu, sangat menyanyangi mereka.
πͺπͺπͺπͺ
Gessa. Datang ke rumah, setelah drama panjang di lewati, akhirnya sahabat pendengar setia itu mengindahkan permintaan dia.
"Sepertinya Harris J jadikan saya sahabat palsu." Ucap Adinda, membuka obrolan mereka.
"Stop sudah! Setahun lalu dia rela datang buat jemput kamu ke acara pernikahannya Calvin Harris, pikir itu tidak main-main kah?!" Gerutu Gessa, masih menampik omongan sahabatnya sendiri.
Adinda tertunduk, sangat lirih. Kalau bukan menganggap sahabat palsu, mungkin saja sudah dari bule itu mendarat, dia bakal duduk manis sambil mengenalkan karya itu depan JJS.
"Kok Harris tidak kasih undangan begitu buat saya ke acara tournya?" Adinda berkicau sangat tak terima.
Gessa mendesah sangat panjang. Bingung mau menyampaikan apa lagi selain menatap jengah.
Keras kepala sekali.
"Belum waktunya, Din. Tunggu saja."
__ADS_1
Uh, kalau saja ada Varinta disini mungkin bakal memberikan jalan pintas terbaik tentang mimpi itu.
Gusar sendiri.
Jika egoisme diri sudah terhempas, dipastikan sejak tadi vidio call sahabat yang paling memahami perjalanan mimpi di bangun dari nol oleh Adinda.
Ok. Fine, kepedulian Gessa mengenai mimpi sempat terlantang protes karena tahu impossibel digapai, sekarang mencari-cari keseimbangan di balik bimbang terbentang jelas di bola mata sahabatnya saat ini selalu menjadi perbincang imaji mendadak hilang kabar dari chatroom whatsapp.
"Trus..gunanya novelku di sana apa, Ges?!" Pekik Adinda sangat frustasi.
Mendecak sangat manja sekalipun di sahabat, takkan bisa menolong kembali pintu mimpi terlanjur tertutup, bukan? Apalagi tahu fakta bahwa manager di indonesia terkesan pongah, menyamai tujuan, mimpi serta karya itu tak ternilai, sama halnya dengan JJS di luar sana, fanatik. Mengejar unfaedah sesaat.
"Iyo juga sih, Din. Kamu lagi nih terlalu kepala batu. Orang kasih saran bikin proposal baru sodorkan ke sana, dana terkumpul trus kita berangkat saja. Soal nginap dan makan bisa belakangan kalau kita sudah sampe ke sana." Gessa cerocos, cukup buat dia tertawa geli.
Sabar dulu, kalau sudah mendapati bantuan dari sana, apakah pantas mengimbangi perjuangan masih di pertahankan, walau pun sudah lihat banyak JJS copas ide tersebut? Dan, sangat gampang Gessa mencetus ulang pemikiran itu?
Hah. Seperti kehabisan kesabaran, setelah tahu Harris J hilang ke mana.
Well, masih memiliki harapan, nomor sepupunya, Aisha.
Pun, bisa melarikan nestapa lewat kakak berkacamata, tapi nanti banyak intograsi yang sangat di hindari oleh Adinda. Bukan waktunya untuk menimpali semua pertanyaan terbilang horor, tahu bakal mendapati peluang sahabat london ada kabar.
Yang .. βKenapa kamu sering ngeluh di Kak Lefan soal saya, Din?! Sudah saya bilang, kalau kamu sahabatku.β Harris J semprotkan penuh sarkas.
Kemarin mengenai satu hal hampir terlupakan..
Kak...bagaimana cara ketemu? Lewat satu juta itu?
Just read dari manager indonesia. Menyebalkan sekali, bukan?
"Din, betul kah Harris J ganti nomor?" Gessa membangunkan lamunan gadis itu.
Terperangah, kaget diingatkan hal menyakiti imaji.
"Begitu deh." Sambil mengangkat kedua bahunya, cuek.
Tampak jelas Gessa sedang berpikir keras, masa sih bule itu ganti nomor?
Kalau memang benar, kenapa hilang kabar setelah menyelenggarakan sebuah acara terbilang tak main-main biaya mendapati semua itu.
"Mungkin lewat acara launch itu menutupi kerugian mereka jual marchandise Harris J kali." Gadis itu berujar sangat ketus dan cuek.
"Ah, masa sih, Din?" Kali ini Gessa masih belum percaya.
Sangat-amat membutuhkan sosok motivasi dari Varinta sejak kepergian destinasi favorit seperti biasa gadis itu berkunjung, imajinasi bersimfoni manis. Apakah mengharuskan duduk bincang diksi lagi?
Jujur, sangat bingung dengan keputusan Harris J bermain putak umpet lewat realita seperti itu. Benar kah sudah menganggap sahabat? Lantas, chatroom whatsapp pun centang satu, cukup mengundang banyak overthing dalam kepala.
Seorang sahabat adalah seseorang yang mengetahui tentang dirimu dan tetap mencintaimu. -Ellen Hubbard-
Gessa terlihat nyata ketika tanpa sengaja baca caption sedang di buka gadis aksara lewat pencarian brouser HP-nya itu. Pembuktian bahwa rambut mie london tidak bercanda menjadikan sahabatnya orang terpenting.
Ah, menggeleng sangat tak percaya melihat reaksi sahabatnya itu.
Bentar deh, siapa sih yang sebenarnya sahabat Gessa disini? Harris J atau dia? Kok justru ke arah lebih berpihak ke bule itu.
"Ges, percuma kalau kamu tanya ini dan itu soal Harris, tidak dapat apa-apa, hanya di kasih kecewa saja sama dia dan manager indonesianya tuh." Kesal Adinda, mencak-mencak penuh menggebu.
Gessa melongo menanggapi perkataan gadis itu. Mengakui sendiri kok kalau tidak pandai menghibur atau bijak seperti Varinta.
__ADS_1
Dengan bersitatap memangku nestapa sahabat, cukup memberikan dahaga sembari mengelupaskan luka mengenai perjuangan nyata di permainkan cuma-cuma. []
Β