Ikanaide

Ikanaide
Sweet Promise Harris J


__ADS_3

β€œSelarik telah tercabik-cabik cukup menjadi saksi bahwa sweet promise kepunyaan Harris batas tenangkan asa JJS pun gadis aksara.”


πŸͺπŸͺπŸͺ


Agustus 2018, akhirnya antologi kumpulan puisi sudah rilis.


Begitu banyak antusias dalam grup kala mendengarkan karya JJS berhasil di bukukan.


Wait. Bukan apresiasi lewat chat melainkan yang berpartisipasi kenapa tidak membeli? Sebagai kebanggaan atau menghargai orang yang sudah banyak membantu bahkan tak memedulikan kesehatan sendiri loh demi prioritaskan karya itu diterbitkan.


Hah. Adinda membuang napas lelah.


Hanya beberapa saja yang niat beli sisanya pantau grup pun lebih kejam lagi ada yang keluar dari sana.


It's okay, setidaknya perjuangan itu berfaedah walau ketakmungkinan nutup biaya percetakan pakai uang pribadi belum bisa kembali modal.


Kalau Lefan, Gessa dan Varinta tahu hal ini, uh..sudah habis-habisan kena khotbah panjang kali lebar, cukup mengundang uapan asap berasal dari telinga.


Ok. Ada sekitar belasan orang yang beli, dengan cepat mengambil beberapa kertas foto untuk di print lalu menunggu buku sampai di jayapura terus kirim ke alamat yang sudah memesan.


Menit-menit waktu berlalu, semangat itu tetiba runtuh ketika ..


Dalam grup membatalkan pesan antologi tersebut.


Retak. Hal apa yang harus dibanggakan selain kecewa?


Sudah terpakai vidio sana-sini, ditambah JJS batas beri harapan palsu.


Uh, kalau tahu, tidak akan pesan buku sebanyak yang terkirakan.



Semahal apa sih sebuah cover cantik diatas? Kenapa membatalkan pesanan, saat sudah semangat untuk packing?


"Din, ingat, saya akui perjuanganmu tapi jangan terlalu baik sama orang baru." Sudah seperti peringatan, tapi kenapa terlalu percaya JJS akan menjadi penawar terbaik tanpa harus melukai mimpi?


Arg. Merutuki kebodohan sendiri, memang sangat-amat baik dalam merangkul kasih untuk lihat JJS punya karya di produksi tapi yang diberikan hanya tangis usai melewati proses dengan terkulai seorang diri.


Hanya menginginkan timbal balik, karena membutuhkan ide menarik yang tak melulu perulangan bingkai birthdays tak dihiasi hal sama.


Bahkan nafsi telah menegaskan, "Ris, saya mau ubah mindset JJS-mu kalau kejar sesuatu itu harus bermanfaat bukan buang waktu dengan koleksi foto atau vidiomu. Well, saya tidak larang kok, tapi kan? Hal itu juga memicu mereka saling benci." Dan, respon bule london tersebut sangat mengapresiasikan niat baik sahabat aksaranya.


Tapi, usai melangitkan mimpi lewat imaji, kenapa hal ini diberi?


Dasar .. JJS tidak tahu diri! Gerutu Adinda dalam batin.


Pengen kirim foto itu ke chatroom pribadi Harris J di whatsapp, orangnya saja sudah hilang kabar hampir tiga bulan.


Yang selalu melantangkan bangga, kagum pun apresiasi garis terdepan adalah Renata.


Kak, hasil kolaborasi keduaku sama JJS (': be the way kak, ini antologi khusus hadiah birthdays Harris. Tapi gitulah haha orangnya ilang kaga tahu ke mana.

__ADS_1


Masih belum mendapatkan respon, apa sibuk dengan jadwal perkuliahan di london?


Entah. Yang jelas belum mendapati balasan chat dari kakak terjemahan itu, mengundang kegelisahan dalam batin, tidak biasanya rasa gusar seperti ini.


Oh benar juga, kehilangan tempat dalam menceritakan semua dengan bebas tanpa harus berekspresi pura-pura.


πŸͺπŸͺπŸͺ


Adinda masih tersimpan sebuah rekaman jejak mengenai percakapan 2016 lalu, di mana salah satu fans ingin sekali fotbar dengan Harris J tapi satpam di sana, "tidak bisa. Dia harus naik ke panggung, kalau ingin bicara silahkan. Tapi, jangan lama-lama." Mengatakan hal demikian.


Bruntung sekali bisa mengantongi sejarah terindah belum tentu di dapatkan oleh JJS diluar sana, ngobrol seadanya.


"Sebenarnya bukan kalian yang ingin menemui saya, tapi kalau bisa, saya ingin menemui fans saya di indonesia. Itu pun kalau bisa."


Sweet promise Harris J berupa screen shoot pun tersebar di beberapa grup JJS bahkan di grup project birthdays ada.


Adinda sudah terima.


Dan, apakah ingin menarik kembali ekspresi hangat itu dengan mengirimkan screen shoot tersebut?


Menggeleng sangat lemah, "tidak mungkin berhasil." Pikir Adinda sangat miris.


Sebab sudah tak memiliki asa kedua, ketika kali pertama kejar Harris J sebagai sahabat melantangkan, "HARUS bisa terbitkan novel dala. dua bahasa! Biar ketemu Harris J dengan cepat dan dipermudah managernya!"


Realita di dekap adalah pongah kepunyaan manager indonesia, bukan?


Naif sekali.


Kali ini, gadis aksara sudah benar-benar kehilangan sesosok sahabat ramah berselimut jail jikalau bersua bersama.


Dua bulan kemudian ..


03 Oktober 2018, terlihat sedang merayakan birthdays setelah beberapa bulan dilewati dengan tangis, sakit, luka dan kecewa.


But, tetap sama, bukan? Dikarenakan sahabat berambut mie dari london saja belum terdengar kabar baik.


Saat ini masih berada di lingkup kampus, duduk ditangga fikom.


"Nanti acara apa nih?" Kata Yongki dengan cepat.


Hampir melupa sesuatu, "ah, betul! Nanti kalian bisa ke sentani? Mamaku ada buat bakso." Seru gadis itu.


Tapi tidak terlalu berharap banyak sih, karena mereka saja membenci karena satu hal, Nafa yang menjadikan sekelas terhasut benci diri.


Ika terlihat bengong sendiri. Sudah jelas kan? Kalau butuh jawaban ..


"Nanti kalau Yanti ke sentani, kita semua juga ke sana." Kata Irja.


Benar. Yanti seperti sesosok yang berperan penting agar lainnya bergerak.


Hah. Bisa ketebak sekali.

__ADS_1


Ris, jujur saya trauma dengan pertemanan apalagi teman kampus yang bertopeng ini. Getir Adinda dalam batin.


"Din, nanti saya tunggu saja eh di atas? Saya duduk dalam kamarmu saja?" Ah, ingatan mengenai permohonan dari Gessa kemarin sore menari-nari di benak.


Hanya tersenyum miring. Kalau ada Varinta, jelas tidak akan ada namanya pertanyaan sore itu di lontarkan oleh sahabat sendiri.


"Nanti ada kue kah tidak nih?" Pertanyaan dari Yanti, membangunkan diri dari lamunan, sudah berada diatas motor loh.


Memang eh, harus kah fasilitas terlengkap dulu baru mau ke sana, meramaikan birthdays-nya?


Sangat miris sekali. Terlalu material sekali kalau berteman dengan seseorang yang sangat kelewat baik.


"Ada," jawab gadis itu seadanya.


"Ih..kalian nih, kalau mau ngbrol tuh pas sudah


sampai saja di rumahnya Dinda. Jalan nih..itu eh dengar klakson dari kendaraan lain tuh tegur


kita jangan ngobrol di jalan." Ika menegur mereka yang kebetulan naik diatas motor Adinda.


Ada senyum tipis terbit di sana.


Saat sampai di rumah, tak mengelak kok ada dentum bahagia walau tak sepenuhnya karena yang berada depan mata meramaikan tiga oktober adalah teman dipenuhi oleh toxic.


Coba saja kalau Harris J tidak marah, kemungkinan besar sudah datang jauh-jauh hari bahkan diberikan kejutan sama halnya dalam mimpi kala tertidur panjang saat sakit.


"Nanti katanya Nafa mau datang. Tapi, tudak tahu rumahmu, Din." Seru yongki.


Jujur yak, mendengar nama menyebalkan itu tak bohong ada decih-decih keki tapi harus mengesampingkan egoisme dan terbitkan senyum tipis.


"Nanti suruh telepon saja, atau siapa kah yang jemput begitu. Soalnya saya capek bawa motor


jadi."


Ika, teman kepercayaan sempat menusuk juga sih ketika bentrok dalam kelas, memahami sorot tersebut, meminta teman cowok yang jemput.


"We..we, Nafa bilang kesasar sampai ke bawah." Panik Yongki.


"Ya astaga..suruh dia putar balik. Siapa suruh gas sampai ke bawah." Ini suara Irja.


Adinda hanya cengir sendiri.


Drrtt..Drrtt.., ada panggilan masuk cukup buat memompa jiwa yang dari tadi terasa tertekan.


"Yah, ke sini sudah? Jangan parkir motor di sana, itu bukan rumahku tapi tetangga." Adinda mengajak seorang itu untuk memajukan motornya sedikit dengan berdecak pinggang.


Saat sampai di samping gadis itu, "saya malu masuk? Saya tunggu disini sudah eh?" Ucap Gessa.


"Ah, macam orang lain saja! Masuk sudah, langsung ke kamarku, ada Laila juga tuh di kamarnya sih." Justru menyeret langsung ke kamar.


Dengat gesit naik ke atas tanpa melihat ke arah teman-teman kampusnya gadis itu. []

__ADS_1


__ADS_2