Ikanaide

Ikanaide
Pelangi dari Harris J


__ADS_3

β€œPanjang. Dibaluti banyak luka dan air mata. Dimana kisah mimpi yang tertidur dalam kedua bola aksara menjadi pertentangan sangat kuat dari Mama.”


πŸͺπŸͺπŸͺ


Setelah mendapatkan kebahagiaan tanpa menjelajahi pulau kapuk, melainkan realita sungguh manis, Adinda tak bisa berkata-kata selain rasa syukur trus mengalir dalam hati.


Dan kedatangan sahabat rambut mie london yang tiba-tiba cukup buatnya tertawa lepas, senang.


Walau sisi lain, masih kesal, it's okay masih ada ruang berikan apa yang selama ini di nanti Adinda.


Pintu apresiasi langsung diberikan oleh mereka.


Bodoh wae yang namanya terkesan cari muka agar bisa mendapati posisi apresisi dari salah satu adminnya, cukup buat luka baru berasal dari Intan.


Tujuan gadis aksara adalah terakui perjuangannya bukan terobsesi agar novel itu tersodor paksa atau kurang ikhlas di berikan pintu apresiasi.


Andai ada Gessa, kemungkinan besar bakal merengek minta ikut ke sana.


Really!


Gadis aksara ..


Bincang trending


Sangat manis


Walau sempat tangis


Sekarang .. Penuh simfoni


Asa dinanti sangat menarik


Hingga tak produksi lirih


Makasih pintu apresiasi.


Usai buat puisi itu, ada senyum sangat merekah di wajah gadis aksara.


Sudah tidak sabar untuk menunggu kedatangan mereka ke Jayapura.


Sudah seminggu berjalan semenjak mereka menelpon.


Drrt..Drrt..Drrt..,


Huaa.. Adinda lompat girang mereka menghubungi tapi nomor berbeda dari seminggu lalu.


"Hallo, assalamualaikum.." Ada gantungan di sana, takut salah orang.


Dan, hanya menunggu respon dulu di sebrang telepon.


"Waalaikumsalam, Adinda, kami sudah di bandara sentani, bisa share lokasi kamu, nak?"


Fix! Tanpa membuang-buang waktu, langsung send.


Duh, gelisah sendiri campur senang.


Wait.


"Eng..bagaimana kalau saya yang jemput di bandara, bu?" Adinda menawari diri.


Yah. Di tolak sangat halus dan tinggal menunggu saja di rumah.


Adinda takut mereka nyasar.


Katanya pakai taksi bandara, hah .. Semakin mahal sudah mereka bayar.


Em. Adinda menerka-nerka berapa orang yang datang ke rumah?


Sambil mengangkat kedua bahu, tidak tahu menahu.


Oh, astaga menepuk jidat, "mama..ada tamu penting nanti datang ke rumah!" Girang gadis itu.


Hana yang sedang mencuci di wastafel, melongo, lalu mengabaikan kicauan ananda.


"Ma.." Lagi, tapi kali ini dengan nada merengek.


"Apa kah, Dinda?! Orang penting siapa kah, hah?!" Ketus Hana, tak ingin merespon.


Selalu saja seperti itu.


Kenapa tidak ada yang mau menanggapi omongannya, untuk kali ini saja? Please..


Rasa-rasanya pengen nangis. Padahal sedang diceritakan adalah pintu rezeki, bakal buat Hana tidak susah payah lagi nyari duit lewat jualan kue seribuan tersebut. Pun nafsi takkan minta uang di keluarga lagi.


Tapi, kok respon ibunda sangat tidak menginginkan sekali dengan ceritanya?


Apa karena terlalu di labelkan gagal melulu pun payah di sekolah, maka dari itu tidak teranggap?


Tanpa kata lagi, Adinda berjalan tak bersemangat ke atas kamar.


Membuang diri diatas kasur, menahan sebuah bulir-bulir yang dengan pongah meluncur bebas di pelupuk mata.


Ada tawa-tawa sumbang terdengar, saat napas yang tersendat-sendat akibat nahan tangis, rasanya sesak sekali dadanya.


Ges..hari ini pihak DNA Production datang, kasih apresiasi.


Sambil melihat benda itu dengan lamat-lamat, sangat terluka.

__ADS_1


Kok, lama sekali kabar mereka sampai depan rumah? Apakah benar, nyasar dan tidak berhasil temukan alamat yang sudah di kirimkan beberapa menit lalu?


Lagi, menahan sesak-mendesak dalam dada. Yang tanpa sadar memukul-mukuli penuh tatapan nanar.


Syurr..akhirnya tak tertahankan lagi, air mata itu banjir membasahi pipi juga bantal kepalanya.


Pasti mereka tipu saya, getir Adinda dalam batin, begitu terluka seorang diri dalam kamar.


Tak menyadari kedua bola mata itu tertutup, akibat lelah menangis lima menit berlalu.


Drrtt..Drrtt.., ada sebuah nomor asing yang sama tadi menelpon pertama tertera di layar HP.


Buru-buru merespon, dengan pikiran yang kacau juga suara serak bekas nangis tadi.


"Hah?! Sudah di depan rumah, bu? Oh..baik-baik, saya segera ke bawah." Buru-buru memakai jilbab dengan dada sesak bercampur kepala yang mau meledak, sakit sekali.


Tak tergubriskan.


Bismillah .. Mengatur detak napas dengan normal, melangkah buka pintu kamar.


"Siapa itu, Dinda?" Oh, ternyata Hana juga menyadari mereka sudah di depan. Namun tidak tahu siapa yang sudah berdiri depan pagar rumah.


Hanya tersenyum miring.


"Itu orang penting yang tadi saya bilang ke mama." Masih ada intonasi luka terdengar begitu bergetar di sana.


Sedangkan ibunda masih belum ngeh dan melongo memerhatikan Adinda buka pagar rumah.


Setelah semua masuk ke dalam rumah di sambut hangat oleh Hana, manager besar Harris J pun buka suara serta tujuan mereka silaturahmi ke Jayapura.


Tampak bola mata ibunda tak percaya, sambil mengarahkan pandangan ke Adinda betul mereka mau undangan kamu ke sana, nak? Yang mengisyaratkan tanya tersebut.


Tanpa pikir panjang, mengangguk mantap.


"Ibu, boleh kami minta ijin untuk ke kampusnya?"


Hah? Kenapa..kenapa? Sedikit bingung campur senang.


Melirik sekilas jam yang melingkari di tangannya, detak jarum menuju di angka sembilan pagi.


Tidak salah dengar kah?


"Eng..gimana yah, bu?" Kata Adinda, sedikit malu-malu.


Hana pun mentitah gadis iti segera mengganti pakaian dan langsung ke kampus.


"Tapi, Ma? Mama juga ikut ke sana, soalnya nanti tidak dapat ijin," alih-alih gadis itu berbisik pelan.


"Hm, kamu ganti baju dulu sudah sana. Kasihan ndak enak di tunggu sama orang."


πŸͺπŸͺπŸͺ


Rasanya pengen menangis, sangat haru.


Syukur itu terus mengalir dalam hati, melihat mereka masih berada di rumah, seperti sesuatu yang bukan mustahil bagi Dia memberikan simfoni bersiul manis dengan kedatangan orang penting tersebut ke jayapura, papua.


Dua hari lalu, Bu Rina dan ibunda masuk dalam ruang waldos gadis itu untuk mengantongi ijin tanpa harus mengulang matkul tahun depan.


Hah .. Senang.


Tak masalah sudah vidio tak istimewa sempat viral di sosial media, atas dasar tangan-tangan yang belum ijin pemilik asli, menyebarluaskan cukup jadi kenangan pahit.


Sempat bermalamkan sebuah luka berlarut-larut ditambah sahabat rambut mie london memuntahkan amarah tahu nafsi sedang mengemas sebuah project buat dirinya.


But, now mendapati simfoni-simfoni sangat manis pun tangkai sempat patah tergantikan oleh kedatangan tak terduga manager besar Harris J ke Jayapura.


"Jadi? Selama ini kamu hilang ke mana, heh?!" Ok, kali ini Adinda akan minta penjelasan, sedetail mungkin.


"Kenapa tidak jujur, kalau kamu punya fisik tidak boleh gampang lelah, Din?"


Justru dialihkan dong semakin buat Adinda bete tiba-tiba.


Saat ini kedua sahabat itu sedang duduk santai di teras rumah samping kamar gadis aksara.


"Jadi, setelah pulang dari jakarta, please your focus for studi, okay?! Kenapa harus paksa diri ajak mereka berkarya?"


Loh, kok sahabat rambut mie london tidak terima sih?


Ada sebuah rasa sesak melebur begitu sesak, kala daun telinga menangkap penutiran tersebut.


"Saya mau ke bawah dulu, masih mau duduk disini?" Tanpa tambahan kata lagi, langsung berdiri meninggalkan rambut mie seorang diri.


Jujur, sebenarnya Harris J menyembunyikan rasa senang itu dari sahabat gadis aksaranya, takut semakin tidak fokus dengan deret-deret cukup memijit pelipis di balik nominal tak sedikit, ngulang yang berarti tahun depan bayar spp lagi.


"I proud of you, gadis aksara .." Gumam Harris J.


Dua hari kemudian ..


Mereka sudah berada di hotel sekitar Bandung, mempersiapkan meet and greet penulis sekaligus artis.


Pun tiket yang seminggu lalu di promisi telah habis bahkan Pak Hafiz kwalahan untuk mencetak ulang, karena persedian tiket meet and greet hanya 100 kouta.


Sebelum mencetak tiket itu, butuh pertimbangan lagi apakah benar hanya di Jakarta? Tapi dari keduanya ingin semua ikut serta, tiket tersebut dicetak ulang.


"Kalian berdua, langsung naik ke mobil." Titah Kak Shelly.


Dengan gerakan gesit, keduanya pun turun ke bawah.

__ADS_1


Duh, bagaimana yak nanti menyampaikan materi tentang kepenulisan ke JJS? Sedangkan diri begitu nervous kalau sudah berpijak depan banyak orang.


"Rileks .. Enjoy, santai seperti kali pertama kamu datang ke workshop mendadak dari gurumu di sekolah."


Eh? Kok Harris J tahu persoalan workshop itu di sekolah?


"Bagaimana mau tenang coba, Ris? Kalau seumur-umur belum pernah ngomong depan banyak orang. Lagian waktu di workshop hanya beberapa, jadi saya bisa kontrol kegugupanku depan mereka." Adinda protes seperti kereta.


Justru di balas tawa dong dari rambut mie, cukup mendengus kesal milik Adinda.


"Eh, be the way, musikalisasimu bagus-bagus apalagi yang struktur mimpi."


Ups .. Adinda jadi tersipu.


"Jangan fokus ke suaramu eh? Makanya waktu itu jan hilang kabar napa sih?! Kek cewek lagi datang bulan tahu nggak sih lu?!" Loh..loh, Adinda kok ngamok?


"I'm so..sorry, Din. Itu adalah pilihan terakhirku."


"Iya pilihan terakhir yang dapat ceramah kan, sama Kak Lefan, karna udah buat adik kesayangannya ini nangis, week!" Lalu gadis aksara pun ngeledek Harris J.


Sampai di lokasi, mereka langsung mempersiapkan diri tak lupa rambut mie london kasih kata-kata berbalut menenangkan Adinda yang sedang gugup itu.


Telah di siapkan sebuah meja khusus penjualan Fighting Dreamer sebuah novel revisi telah tercetak ratusan buku.


Juga ada kaset musikalisasi puisi milik Adinda di mana terdapat judul Struktur Mimpi, Musim Luka, Poem for Harris J, Sio Ado dan masih banyak lagi yang ikut berjejer diatas meja penjualan. Tidak lupa ada kaset Salam Alaikum pun lagu terbaru Harris J yang berjudul Save Me From Myself berdampingan dengan kaset musikali gadis aksara.


Ok. Semua sudah diatur oleh panitia acara meet and greet.


Hari ini mereka memilih tempat di wisata stone garden, Bandung.


Peserta juga sudah banyak berdatangan pun beri jejak tanda tangan serta nama di buku tamu.


Mereka juga diberikan aksesoris berupa ganci yang berdesain dari Gadis Aksara and Rambut mie London serta notebook juga pensil.


Kedua bola mata gadis itu menangkap sosok penting dalam berproses kejar mimpi pun memberi motivasi saat tertidur di selimutkan oleh nestapa.


Lusiana Rossa, Nanda Mulyaning, Dita Fitri, Intan Widiya, Deva Arsi, dan Layla Agustina.


Senyum-senyun terus terproduksi, syukur Lusiana melihat ke arahnya, jadi bisa lempar senyum.


Ok. Mereka sudah memenuhi tempat sekarang waktunya sesi tanya jawab seputar kepenulisan juga menariknya kenapa sih Adinda memilih menulis?


Tak hanya sekedar share kepenulisan ada games seru di sana.


Menariknya lagi acara tersebut di gelarkan selama lima hari tapi bukan satu lokasi saja melainkan berpindah-pindah.


Dua hari acara itu di pakai khusus bandung dulu, selepas selesai pengumuman pemenang baru mereka akan berangkat ke Solo.


Hal menarik yang dilempari mc adalah boleh tahu, siapa yang menerjemahkan novel ini, Kak Adinda?


"Sudah jelas dia adalah sosok malaikat yang sangat ramah dan mendukung apapun mimpi sedang ku bangun, Renata."


Juga ada games mengenai siapa yang memiliki puisi menarik akan mendapatkan hadiah total uang jutaan rupiah pun tote bag cantik.


Helvy Tiana Rosa yang menjadi juri saat games tersebut.


Syukur, selama memberikan pelatihan online, Lusiana bisa menciptakan sebuah diksi-diksi manis di puisinya dan terpilih sebagai juara kedua.


"Kak, makasih loh, aku nggak bisa ngomong apa-apa selain makasih selama ini udah ngajarin Sasa buat cerita termasuk puisi. Huee..hadiahnya mau aku kasih ke mama." Sempat istirahat, Lusiana menghampiri gadis itu sambil memeluknya penuh haru.


"Ris .. Kenalkan dia itu adik onlineku yang selalu ada biar sekali pun saya koar-koar dia nggak pernah pergi. Selalu kasih dukungan dan percaya dengan mimpiku, saat kamu ilang kabar, huuh.." Urai Adinda diakhiri dengan protes.


Adinda juga tidak lupa kasih penghargaan ke adik online kesayangannya itu.


Ada Layla yang jauh-jauh dari Bali hanya demi tiket meet and greet di Bandung sibuk ngomel karena puisinya tidak masuk juara.


"Duh, kalau yang ini, adik paling bawel tapi garis terdepan ngebela saya saat ada JJSmu yang ngehujat saya. Walau pun bawel, dia baik kok, Ris." Sambil ngacak pelan jilbab Layla.


Dan .. "Intan .. Sini dek!"


"Kamu tahu? Intan ini orang yang sangat penting dalam temani saya membangun mimpiku saat tahu novelku tidak kamu bawa, dia sampai ku cuekin seminggu, karena problem. Sori yah dek, sempat marah-marah hehe, kamu tahu, Ris? Intan yang bela-belain ngontak salah satu admin JJS, untuk nanya bisa apa tidak novelku di kirim ke london."


Pokoknya JJS yang pernah terlibat pun selalu ada saat mimpi-mimpi sempat termanipulasi, sudah diperkenalkan langsung ke sahabat rambut mie london.


Dan, lihatlah .. Apa yang diberikan oleh Harris J?


Hoodie limitid yang harganya kalau beli online bisa dapat HP Iphone 7 plus dengan cuma-cuma.


"Terima kasih, sudah temani dan dukung Adinda dengan mimpi-mimpinya selama saya tour dan lupa bawa novelnya. Sebagai rasa syukurku, bisa dapat sahabat aksara seperti dia, mau saya belikan tiket liburan ke london?"


Huaa .. Hari itu juga mereka lompat sangat girang. Seperti mimpi mendapati sebuah tiket liburan gratis dari idola.


"Kak! Mau!! Layla rela kok cuti kerja, untuk bisa liburan ke london, huee!" Jangan heran lagi, karena Layla adalah penggemar garis terdepan Harris J.


"Haha. Iya-iya, sudah pasti Bang Jey-nya kalian kasih kok, mana ada dia bercanda." Adinda sambil memberikan kode ke bule itu.


Lalu membicarakan kapan berangkat ke sana. Tanpa harus terlibat dengan jadwal seperti kerja dan sekolah.


"Kak, Din! Bilangin ke Bang Jey, kalau kita bisa ijin atau tunggu bulan depan libur sekolah, gimana?! Bang Jey masih mau kasih nggak, kak?!" Buru Intan.


Yang diangguki cepat oleh Lusiana Rossa.


"I'm agree. And just call me or pass it on to Adinda, okay?!" Tanpa aba-aba, Harris J langsung memberikan jawaban yang menenangkan mereka semua.


Sangat menyenangkan sekali.


Terima kasih pelangi indah dari Harris J kali ini adalah mengajarkan arti sabar menunggu kabar yang tetiba menyelinap hilang lalu tanpa terka datang memberikan aroma bunga yang mewah. []

__ADS_1


__ADS_2