Ikanaide

Ikanaide
Bersajak Bersama


__ADS_3

β€œGadis sederhana, cukup mencuri perhatian bule berambut mie untuk mencintai hobinya, menulis.”


πŸͺπŸͺπŸͺ


Akhir-akhir ini sahabat rambut mie tidak sedang baik-baik saja. Bukan dikarenakan sakit, melainkan bingung apakah pantas menjadi sahabat realita yang di kagumi Adinda, sedangkan puisi di ciptakan saja masih kurang bagus?


"Hei..kenapa?" Adinda menyapa.


"Nothing." Berusaha menyembunyikan rasa gelisah itu dari gadis aksara.


"Why? Rindu kampung halamanmu kah di london?" Adinda berusaha menebak, sedikit mengernyitkan dahi, bingung.


Menggeleng dengan cepat.


"But? Kok tumben tidak cerewet?"


Ups, apakah sekentara itu memperlihatkan kegelisahannya mengenai kado sedang di kemas bertiga?


"Din!" Seru Gessa.


Hah. Bernapas sangat lega. Syukur ada perempuan berdarah papua itu mencairkan suasana ketegangan.


"Hei .. Dari mana? Tadi saya cari di kamar, tidak ada," protesnya.


Dengan cepat Gessa membawa sahabatnya keluar dari hotel, "panas-panas begini tuh, enaknya minum yang dingin. Ke sana yok!" Sambil menunjuk mini market di seberang jalan.


"Ih, Gessa mah kebiasaan dah! Saya tidak bawa dompet, ada di kamar!" Sudah tahu apa dialog selanjutnya dengan cepat menahan tangan itu, "eits..sudah, biar kali ini saya yang traktir!" Putus Gessa dengan cepat.


Adinda hanya mengembungkan pipi, kesal.


Diajak tiba-tiba.


"Yang sudah dapat apresiasi dari artis london, novel laris manis, trus guru smk sempat pandang sebelah mata justru undang kamu ke sana isi workshop. Oh, satu lagi.." Kata-kata Gessa menggantung, cukup menerbitkan bingung dari gadis aksara.


"Apa?" Jawab Adinda dengan santai.


"Tidak semua orang pintar di luar sana bisa buat novel dalam dua bahasa sekaligus, Din! Bahkan mereka lebih baik baca buku pelajaran dibanding berimajinasi."


"Oh..tapi, kan, mereka bisa tuh ngeborong piala dari hasil lomba olimpiade tingkat provinsi sampai nasional. Lah, saya apa, Ges? Hanya bangga punya novel doang?" Adinda merespon sangat miris.


"Hei .. Come on, kamu itu memang punya potensi tersembunyi, salah satunya menulis. Din, listen .. Tidak semua prestasi harus berdasarkan dari akademik tapi non akademik."


Hm. Hanya diangguki oleh Adinda.


Bohong kalau saat ini tidak senang sedang di puji oleh sahabat sendiri yanh dulu sempat meragukan dream impossibel miliknya.


"Dan, satu lagi. Ternyata tulisan adalah prestasi, hasilkan cuan banyak, tanpa harus minta jajan di keluarga, hiya kan?" Seru Gessa.


"Hm, betul sih. Apa yang sudah di kasih sama Harris J itu salah satu mimpi terbesarku yang sempat di tertawai banyak orang. Bahkan .."


"Tante Raniamu sekali pun kan? Tidak percaya sama mimpimu ini buat ketemu sama Harris J?" Gessa langsung potong.


Diangguki cepat.


"Well. Semua sudah terlihat sempurna, Din. Saya tahu setelah ini kamu bakal berangkat lagi kan? Ingat, prioritaskan cita! Pokoknya saya tidak mau dengar alasan apalagi hanya karna hobimu, kuliahmu brantakan, kamu harus bisa wisuda tepat waktu, okay? Your promise to me?!"


Membuang napas dengan lelah, "iya-iya, thanks yah? Kalian sudah ada buat saya dalam pertahankan mimpi mustahil ini jadi nyata."


Mereka duduk depan mini market yang sudah tersedia bangku serta meja mini sambil menyerupi sebuah minuman dan ngobrol asik.


"Eh, Varinta apa kabar? Astaga..saya lupa vidio call tahu?!" Adinda menepuk jidat.


"Sudah. Santai saja, biasalah anak kuliahan mah sibuk dengan tugas-tugasnya apalagi anak itu kan lagi turun lapangan. Bueehh..tidak ada waktu buat ngobrol."


Gessa tahu betul, kalau sekarang menelpon paling nggak bakal ada kecoplosan di bibir Varinta.


Jadi, lebih baik mencari alasan kuat dulu yang tentunya tidak mencurigakan gadis itu.


"Oh, betul kali eh, sok sibuk juga anak itu." Celetuh Adinda.


Ah, ada satu hal yang mengusik isi kepalanya saat ini, "Ges..yang saya dapatkan ini semua hanya kebetulan. Tidak sebanding dengan anak pintar sudah lebih awal kasih piala itu ke orangtua, bangga pasti mereka punya anak yang borong piala olimpiade di sekolah."


Duh, mulai lagi deh cukup buat Gessa membuang napas jengah.


"Saya kasih tahu eh, Din? Terlalu pesimis sekali kah, lihat dan buka matamu lebar-lebar! Karna bakatmu ini hasilkan novel dua bahasa, tidak sadar kah? Kamu sudah cukup bahkan lebih hebat beli omongan mereka di luar sana." Cerocos Gessa, "kamu tahu? Mereka-mereka yang sempat remehkan kamu di sekolah, sekarang bangga dan puji karyamu." Tambah perempuan berdarah papua tersebut.


"Yah..tapi, kan, sudah saya bilang toh? Semua ini hanya kebetulan saja." Lagi, Adinda protes. Masih belum puas.

__ADS_1


"Dengar, yang harus kamu tahu, tidak semua orang bisa membeli prestasi alamiah yang ada di dirimu terutama anak pintar yang selalu kamu kagumi itu, tidak bakal sempat punya waktu buat novel setebal yang kamu bikin. Dan pastinya mereka juga iri dengan apa yang sudah kamu capai saat ini."


Please..sekali ini saja dengar dan renungkan kalau kamu itu berharga juga istimewa. Greget Gessa dalam batin.


Adinda hanya menundukkan kepala, delima.


Ok, fine. Yang dikatakan sahabatnya ada benarnya. Tapi kok ada sesuatu yang tidak bisa didapatkan yaitu prestasi di akademik.


But, cukup membanggakan mereka kok apalagi dapat cuan banyak gini trus di berangkatkan lagi.


Senang kok, hanya itu dia payah di bagian pelajaran.


Apalagi mengingat saat sekolah sering bolos pelajaran Matematika dan Fisika. Bagi dia sangat membosankan pun melukai otak, saat berpikir keras menghitung untuk nyari hasilnya.


Di sisi lain, Harris J masih memerhatikan benda persegi panjang itu dengan lamat-lamat dibaluti kecemasan.


Kenapa sejak mereka berdua meninggalkan hotel, Varinta belum beri kabar sama sekali.


Sudah selesai belajar otodidak walau hanya tiga hari tiga malam, apakah itu sudah cukup untuk dinilai guru online-nya nanti?


Bagus atau jelek?


Pemikiran-pemikiran itu pun menjeruji ketakpercayaan diri rambut mie london saat ini.


"Assalamualaikum, Harris .. Sori, baru ada kabar, gimana? Sudah ada perkembangan dengan puisimu?"


Hah. Bernapas sangat lega, mengurangi satu beban pikiran.


Dengan cepat menyalin puisi yang sudah di tulisnya lewat lembar hvs tersebut.


Menerbangkan senang tak terduga


Saat temukan novel indah


Adinda..sulit ku jelaskan bangga ini


Gadis sederhana dengan keyakinan


Buat saya..


Bagian yang hilang itu cukup menumpukan rasa frustasi buat Harris J.


Lagi-lagi mengundang tawa di seberang telepon.


Sengaja hari ini ingin bersajak bersama, namun sebelum membersamai baca puisi, Varinta ingin lihat sampai mana perkembangan bule itu belajar puisi.


Oh, rupanya masih belajar banyak lagi.


It's okay.


Tadi, saat menertawainya, "saya mana bisa secepat itu tangkap, kalau Dinda sudah jelas bagus puisinya." Kesal Harris J.


"Okay, no problem. Sekarang saya revisi kata-kata yang ada di puisimu dulu eh?"


Usai revisi ternyata ada tambahan.


"Nah, sekarang coba ikuti arahanku dan kita bersajak bersama, gimana? Supaya nanti kedepannya kamu tidak kebingungan lagi."


Ok. Mereka pun memulainya.


Tok..tok..tok..,


Ah, suara ketukan pintu yang menganggu konsentrasi bule london itu lagi belajar puisi.


"Wait. Saya cek siapa yang ada di depan." Kata Harris J.


"Harris, sudah makan malam?" Oh, ternyata Pak Hafiz.


"Belum, Pak. Nanti saya turun sendiri saja, soalnya masih ada kerjaan."


Tanpa basa-basi lagi beliau langsung meninggalkan kamar Harris J.


πŸͺπŸͺπŸͺ


Varinta tidak menyadari bahwa seorang sahabat keras kepalanya bisa mencuri hati artis ternama untuk mencintai aksara, menulis puisi salah satunya.


Padahal selama mengajarkan bule itu, terlihat begitu santai walau tahu sedikit susah untuk memahami cara buat puisi.

__ADS_1


But, mengacungkan jempol.


"Sa bangga sama ko, Din!" Tetiba tercetus kalimat itu, menggunakan logat papua.


Sudah lama sekali merindukan kota Jayapura dan suasana di sana apalagi ketika istirahat dalam kamar, sudah dirusuh lebih dulu dan diculik oleh Adinda.


Sekarang gadis yang memiliki bola mata aksara sedang menikmati perjuangan panjang dibaluti luka, air mata bahkan mendengar ide termanipulasi JJS telah diberikan simfoni manis.


Ah, andai dulu bisa mendalami hobi yang satu ini, kemungkinan besar sama seperti Adinda, jemput pertemuan tanpa mengeluarkan uang sepersen pun dengan Wali-Band.


Varinta pun tersenyum kecil.


Sebentar malam adalah terakhir mengajari Harris J karena mereka di sana bakal berangkat ke Jakarta, pulang.


Walau mimpi itu belum digapai sekarang, seenggaknya ada Adinda yang menjadi kebanggaan AVN saat ini.


Pun, telah membeli omongan-omongan yang telah melabelkan Adinda gagal sekarang diangkat sebagai mutiara tak ternilai, sangat berharga.


Pernah, "Rin, saya rasa Harris J tidak suka sama karyaku, soalnya toh, masih banyak harus di revisi." Rengek gadis itu, insecure.


Tapi? Realita sangat indah di dapatkan bahkan dengan cuma-cuma manager indonesia gelarkan acara event dan workshop kepenulisan.


Bukan hanya memiliki mimpi menjadikan bule london sebagai sahabat melainkan berdiri depan banyak orang untuk membagikan ilmu kepenulisannya, yang saat ini sudah terwujudkan.


Oh, sebelum masuk ke chatroom whatsapp, Varinta mengetikan sesuatu ..


Be the way, kapan rencana kasih kejutan itu ke Dinda? Soalnya kalau kamu tidak ngajak ngobrol, sudah pasti curiga tuh.


Hanya mengingatkan. Jangan sampai rencana awal sudah di bangun sia-sia merasa kecewa tidak jadi spesial lagi.


Tidak butuh waktu lama untuk mendapatkan reson Harris J.


Insyaallah secepatnya, setelah sudah sampai di Jakarta nanti saya fokus buat kadonya.


Menghelakan napas lega.


Ingat, jangan sampai ketahuan, apa perlu saya minta tolong Gessa buat alihkan dia?


Nah, sekarang baru hilang nih anak bulenya orang.


Buat Varinta gemes sendiri tahu tunggu balasannya.


Come on, sudah bela-belain untuk jeda tidak kerja tugas hanya untuk diskusi justru orangnya hilang tiba-tiba.


It's okay. Jangan khawatir, saya bisa handle kok. Be the way, kemarin yang kita belajar sama-sama sudah saya tangkap. Dan, itu cukup membantu, thanks?


Loh, kok tiba-tiba bilang seperti itu sih? Bukannya tadi pagi masih sedikit bingung yak?


Jangan bingung, saya tahu kamu lagi banyak tugas kuliah. It's okay, prioritaskan cita sampingkan guru private online-me, bye..assalamualaikum.


Chat terakhir itu cukup buat Varinta senyam-senyum salah tingkah tahu.


But, kalau benar-benar ada yang mau kamu tanyakan, silahkan. Tidak ganggu kok.


Varinta berusaha yang terbaik supaya kado itu terlihat perfect di mata sahabat keras kepalanya.


Namun di tolak sangat halus oleh bule london dan mengatakan semua akan baik-baik saja ditambah sudah tidak ada kebingungan lagi ketika belajar tidak mencapai seminggu.


Hm. Apa boleh buat?


Perempuan itu juga sudah bantu sebisanya kok.


Jujur, kalau iri ada dengan pencapaian Adinda saat ini.


Sudah bisa menghasilkan uang sendiri tanpa harus minta lagi ke orangtua pun keluarga. Coba dulu bisa bagi waktu, mungkin karyanya nangkring di meja penjualan mereka saat event berlangsung.


Sebab Varinta belum bisa apa-apa selain memberikan gelar ke orangtua tanpa ma, minta no rekeningnya, dong. Justru sebaliknya.


Berarti .. Adinda sudah bisa membiayai kuliah sendiri juga kasih Laila uang jajan tanpa terbebani lagi.


"Enaknya.."


Eh, dengan cepat, "astagfirullah..rejeki sudah ada yang atur, Rin."


Yup. Rejeki memang sudah Allah atur, tapi prestasi lewat hobi yang sama dengan sahabat keras kepala, tidak mudah di dapatkan kalau dibatasi dengan sibuk kuliah.


Adinda saja bisa bagi waktu menulis dan kuliah, kok perempuan itu tidak bisa?

__ADS_1


Ah, benar sekali. Mengingat fisik yang rentan sakit, tidak menutupi kemungkinan kalau membagi waktu untuk hobi, pasti sering opname di rumah sakit. []


__ADS_2