
"Benar. Banyak kehilangan setelah tahu letupan merah berasal dari rambut mie dari london. Ok, fine, saya salah."
🪐🪐🪐
Rambut mie london sedikit frustasi, kenapa kemarin terlalu keterlaluan mengatakan hal yang tidak seharusnya tercetus?
"Maaf.." Getir Harris J sendiri.
Memerhatikan benda pipih itu dengan rasa sesal.
Ditambah percakapan kemarin dengan Lefan, cukup buat ia sangat merasakan bersalah dengan sahabat gadis aksaranya itu.
"Dek, kenapa kamu tidak berikan undangan itu ke Dinda? Apa kurang cukup perjuangannya jadikan kamu sahabat lewat novel?" Sempat Lefan memuntahkan protes.
Dan ada senyum-senyum getir tercipta di sana.
"Kalau saja yang adakan tour langsung dari Pak Mahmood, maybe saya akan jauh-jauh hari belikan Dinda tiket ke Jakarta, kak."
Lefan melongo, "apa kendala dan bedanya kalau beliau yang buat tour itu? Kakak rasa sama saja deh?"
Menggeleng dengan ekspresi terluka, "beda kak, mereka sendiri yang meminta buat saya sama Pak Mahmood saja yang hadir tanpa tamu undangan."
"Kalau saja waktu itu ade yang sarankan ke pihak DNA Production, ada kemungkinan Dinda punya perjuangan dan novel itu di apresiasikan."
Skatmat sudah, kenapa bisa Lefan bisa membaca isi kepala bule di depannya ini?
Salah sendiri juga, waktu meet up dengan JJS mendengar kisah gadis aksara yang ngerangkul mereka berkarya sampai terjatuh sakit, buat Harris J tidak mengumpulkan niat untuk ngomong langsung ke manager indonesia, Pak Hafiz.
"Kenapa ade diam? Apa ada masalah dengan Dinda?"
Menggeleng pelan, "maaf kak, sebenarnya waktu itu saya ada pikiran buat ngundang dia ke Jakarta bahkan sudah persiapkan panggung apresiasi. Tapi.." Kata-kata Harris J menggantung.
"Tapi kenapa lagi, dek?" Buru Lefan tak sabaran.
"Kakak tahu sendiri, dia ngurus project sendiri dan jatuh sakit. Project itu berkaitan dengan fansku juga."
"Lah, apa yang salah dengan project dibuat Dinda? Itu juga kan fansmu, mungkin dia mau kamu senang dengan adanya project itu."
Lagi, gelengan itu di perlihatkan, "bukan kak. Dia lebih prioritaskan kebahagiaan orang lain yang bahkan fansku sendiri tidak mengerti rasa sakitnya Dinda. Kalau senang ada, tapi semakin buat saya marah waktu itu karena dia lebih prioritaskan waktu orang dibanding kesehatannya, kak."
Oh, jadi begitu alasan Harris J.
Sekarang bule itu bingung cara minta maaf ke Adinda, sudah jahat sekali kemarin.
Benar. Harusnya klarifikasikan mengenai vidio diberikan bukan datang marah-marah yang melukai tangkai-tangkai mimpi untuk mendapati apresiasi darinya.
Assalamualaikum, maaf soal kemarin?
Belum mendapati respon baik dari sahabat gadis aksaranya itu.
Hah. Wajar dia marah.
Harris J lebih baik melangkah santai lalu ngambil selembar kertas kosong ..
Perjuanganmu nyata
Tanpa undang air mata
Lewat bunga harap
Yang selalu bikin luka
Gadis aksara ..
Bincang sebuah trending
Gadis aksara ..
Nyata dalam berkarya.
Lirik lagu sudah di buat namun ingin sekali menambahkan dari diksi Adinda.
Oh, wait..wait, bagaimana kalau lirik itu di gabungkan dengan pemikiran Lefan?
"Insyaallah dia mau!" Seru Harris J dengan menggebu.
Kemungkinan besar, masih berada dalam amarah karena terlalu kasar mencetuskan hal itu.
Harus bersabar menunggu beberapa hari dulu setelah mereda, bisa mengajak diskusi untuk buat sepotong lirik belum selesai.
Saat ini sibuk memikirkan instrumen apa yang bakal di produksi.
__ADS_1
Jujur, masih belum merasakan lega setelah tahu sahabat gadis aksara sedang merangkul bunga harapannya berkarya.
Ok fine, memang itu salah satu hal yang manis, tapi seengaknya ingat kesehatan tidak bakal buat Harris J muncratkan kekesalan saat bersitatap kemarin dengan Lefan.
"Hah..kenapa bisa? Sudah saya anggap sahabat, masih nekat dzolimi diri." Ucap Harris J dengan lesu.
Harris..kamu masih marah yah?
Deg. Kok tetiba saja dikirim chat whatsapp dari Adinda?
Duh..bingung rambut mie london mesti apa nih sekarang? Apakah melunak dan kembali ramah seperti kali pertama berjumpa di big ben london?
"Tidak..tidak, biar dia tahu namanya prioritaskan diri dan kesehatan!" Tegas Harris J.
Ris..piu..piu, kenapa sih kamu marah sekali sama saya? Ih..kamu tidak suka kah kalau saya rangkul fansmu menulis?!
Loh, kok Adinda yang protes kalau sedang memelihara amarah?
Harris J bingung sendiri kan.
Hm..ingin sekali merespon cepat sebuah chat berada di whatsapp itu, tapi berusaha dengan tegas untuk tidak mengabari lebih ramah.
Yang diharapkan lewat sikap datar, dingin, ketus, bengis milik Harris J semoga tersampaikan ke gadis aksara.
Ada panggilan masuk berasal dari Adinda.
Tidak digubris sama sekali, melainkan memerhatikan dengan datar tanpa tertarik untuk menjawab panggilan tersebut.
"Sori.." Getir Harris J.
Wajar juga sih ada banyak ketertakutan dalam diri Adinda, sebab beberapa hari lalu telah memuncratkan protes tanpa sebab.
Bukannya klarifikasi kenapa hanya kirim vidio ucapan dan novel itu kok tidak sempat di bawa atau paling enggak mintalah ke Pak Hafiz.
Malah sebaliknya, marah-marah tanpa sebab yang buat gadis aksara terus nyepam di chatroom bule london.
Tampak terlihat Harris J sibuk memainkan sebuah alat musik favorit kalau sedang free tidak manggung, piano.
Walau tahu chat dari Adinda terus mengusik tak mengganggu konsentrasi bule itu sama sekali dalam memainkan piano dengan tenang.
Dek, kalau masih kesal dengan tindakan Dinda, bicarakan dengan baik-baik, jangan hilang kabar lagi.
Mendadak permainan piano Harris J berantakan, sebab satu chat yang masuk cukup buat diri tertegun, susah menelan slavina.
Ah, benar sekali.
Waktu menyerupi sebuah aroma kehilangan tanpa sebab, ingin sekali memberikan rasa minta maaf justru memuncratkan keki tanpa alasan.
Cukup buat Adinda terus nyepam tanpa ada balasan satu pun dari dirinya.
🪐🪐🪐
Huaa..tugas kuliah mengalahkan tumpukan laundry. Penat sekali, rasa ingin picah saja isi kepala.
"Kamu kenapa, Din?" Ika teman dekatnya, peka dengan perubahan ekspresi gadis itu langsung melempari pertanyaan.
"Eh? It's okay, why?"
Walau berusaha menutupi rasa ketaksanggupan menahan perih dari teman kepercayaan, terasa rumit.
"Jangan bicara seolah-olah kamu baik-baik saja. Sakit?"
Eh, mendadak salah tingkah dong langsung ke point tanpa terbelit-belit.
"Hehe..ketahuan yak?" Adinda cengir lebar.
Sedangkan Ika hanya menggeleng tak habis pikir.
"Bagaimana nanti kalau Harris J tahu, kalau kamu disini tidak tidur dengan baik, hanya ngurus karya JJS saja."
Getir-getir pun tercetak begitu sempurna saat daun telinga menangkap kata-kata tersebut.
"Lagian anak itu hilang kabar, walau sudah di baca, tetap no respons. Jadi, buat apa coba harapin dia jadi sahabatku lagi?" Ada jeda tiga detik, sambil membuang napas lelah, "lagian kalau kebahagiaan sudah tidak ada di realita, yah..lari ke imaji. Kan, kamu sendiri tahu, kalau.."
"Mengurung diri dengan delusi cukup buat kamu bahgia, gitu?" Dengan cepat terpotong oleh Ika.
"Din..please deh, kalau kamu sedih atau Harris J tidak kasih kabar bahkan sikapnya berubah, apa gunanya saya sebagai sahabatmu? Cerita aja."
Intonasi sangat menjanjikan kebahagiaan tanpa memberikan luka apalagi bermain dengan imaji sering tersaji seorang diri, ketika tangkai-tangkai itu patah tak terduga.
"Makasih pengertiannya. Tapi..saya maunya dia, yang sudah diperjuangkan susah payah. Justru berubah gini." Balas Adinda sangat lirih.
__ADS_1
"Sebenarnya kalian ada masalah apa sih? Apa ini ada kaitannya dengan projectmu?"
Loh, kok bisa tahu saja sih?
Lagi, senyum lebar di perlihatkan gadis itu depan Ika.
Dan, perempuan hijabers tersebut hanya membuang napas dengan lelah.
"Din, bukannya saya larang kamu berkutat dengan hobi, tapi susahnya tuh kamu tidak bisa prioritaskan waktu. Nanti kalau sakit, kuliahmu bagaimana?"
Benar juga sih apa yang dikatakan Ika. Tapi, kenapa akhir-akhir ini lebih asik dengan dunia imajinasi dan gemar sekali merangkul mereka yang tidak menentukan bawakan kebahagiaan tulus.
Semenjak Harris J menyelinap sembari kirim vidio thanks lalu datang dengan muncrat amarah tanpa sebab yang buat nafsi ingin ngajak bunga harapannya berkarya.
Assalamualaikum, Din, maaf kalau beberapa hari ini saya keterlaluan.
"Huaa..dapat chat dong sama Harris J!" Gadis itu lompat sumringah.
Tak menyadari kalau dosen sudah duduk depan kelas.
"Siapa yang barusan teriak, hah?!" Kesal beliau.
Syukur tadi ada beberapa bising-bising, yang buat suara Adinda tidak jelas di dengar oleh dosen.
"Ups.." Ika yang mencubit lengannya, cukup buat gadis aksara itu menutup mulut dengan malu-malu.
Tapi, kalau kamu masih nekat ajak mereka berkarya, lebih baik saya pergi. Serius.
Ih..mendadak dongkol lihat chat kedua bule london berambut mie itu.
"Kenapa sih? Bisa nggak kalau lagi belajar, jangan merhatikan HP, simpan dulu, nanti di rumah baru balas." Ika menasehati.
Sepulang kampus, berada dalam kamar ..
Sudah tidak sabar buat vidio call, lama sekali melakukan rutinitas tersebut semenjak Harris J konser tour pun lanjut ke Amerika memenuhi undangan ditambah hilang kabar.
Hah..seperti ada sesuatu yang memompa rongga-rongga yang belakang ini sempat ambruk sebab hilangnya Harris J dari chatroom whatsapp.
"Asssalamualaikum.."
"Waalaikumsalam, bikin apa di sana?"
"Mau main piano."
"Oh, boleh nih minta diajarin?"
"Hm, sejak kapan kamu suka main piano?"
Loh, kok suara Harris J mendadak tak seramah ini sih?
Bukannya tadi sudah chat minta maaf kok berubah gini?
"Ris..kenapa sih? Masih marah?" Tuntut Adinda, tidak suka.
Hanya mendengar helaan napas gusar dari bule london itu.
"Kenapa sih masih keras kepala?! Kalau sakit lagi, mau di opname?! Kuliahmu berantakan nanti, Din."
Deg. Cukup tercekat, kata-kata yang selama ini tidak pernah melukai daun telinga juga menusuk hingga rongga jiwa, sekarang menjelma luka menyeruak berusaha menahan bulir-bulir sebesar pulpy orange agar tidak banjir, menahan tangis juga sesak.
Harris J tidak pernah sekasar ini, selalu menjaga perasaan sahabat gadis aksaranya.
"Maaf..kalau saya salah, tapi kan, ngajak mereka berkarya meminimkan mereka tidak benci satu sama lain. Mereka fansmu, keluarga keduamu kan?"
Terdengar lemah, tidak tahu kenapa sangat-amat kurang bersemangat sejak kata-kata kasar itu tercetus dari mulut sahabat berambut mie berasal dari london.
Beberapa hari kemudian ..
Tidak terasa sudah masuk tiga hari, sejak ikatan persahabatan mereka retak, mendadak ada rasa salah dan sesal tersemat dalam dada Adinda.
Setelah mendapati banyak kehilangan, cukup buat dada merasa sesak.
Apakah pantas mengembalikan moment ramah kali pertama bersua dengannya?
Sepertinya sudah tidak memiliki detak kesempatan untuk memupuk asa kedua lagi, setelah semua berantakan tak tersisa simfoni berasal dari rambut mie london.
Chatroom whatsapp juga tampak sunyi, tidak ada yang mengusili diri sedang santai begini atau ngajak buat bikin jengkel.
Berubah.
Letupan merah milik Harris J, cukup melukai destinasi simfoni bersiul riang dan melihat larik menawari banyak hingar-bingar juga di gerbang diksi yang ingin di pilih Adinda, sebagai teman menyambut sunyi pun merawat nestapa campur luka seorang diri.
__ADS_1
Mendadak hari-hari yang dulu di nikmati Adinda penuh kebahagiaan, tawa, warna menjelma kabut pekat menggumpal tak tersisa detak asa kedua.
Dan, sorot mata memerhatikan grup khusus kepenulisan, ada getir tercetak di wajah. []