
"Percuma lantangkan bersitatap kalau Harris saja tlah hilang kabar dari chatroom gadis aksara.”
🪐🪐🪐
Masih belum menyangka, melihat keindahan kota penuh memoar ini bakal merindukan suatu saat nanti.
Benar. Harris J sudah banyak kali menginjak kaki di indonesia, makanan di sana juga tidak terlalu aneh buat mulut bule sepertinya. Seperti Sate dan Bakso, kedua makanan itu tlah menjadi favoritnya kalau datang konser di indonesia.
Tersenyum samar. Sebelum naik konser terakhir, ingin sekali mengabari gadis aksara bawel bak kereta itu.
Tunggu, mana mungkin bisa membiarkan dia menangis dalam mengantarkan kepergiannya ke London?
Oh, benar juga. Satu hal ingin disampaikan sebelum usai di indonesia.
"Harris?" Panggil Mahmood.
"Yah?"
Mahmood mengatakan kalau segera menyiapkan diri untuk makan dulu.
Makanan terlihat sederhana tapi rasa sangat menggiurkan tenggerokan.
Memang Pak Hafiz sangat telaten sekali sejak bule itu terbujur lemah di atas sofa, akibat sakit karena salah makan di Padang.
Makanan sehari-hari di london sudah siap di lahap dengan enak.
Harris tersenyum senang, bisa mencicipi makanan yang sudah lama ini dirindukan.
Sebelum tour terakhir di Solo, mempersiapkan lagu solo yang sudah jauh-jauh hari dikemas seorang diri lewat latihan di studio musik milik DNA Production.
Oh yah, mendengar penuturan Angelita kala meet and greet, sedikit menahan geram. Sebab, merangkul karya JJS secara cuma-cuma, tidak ada hasil rupiah di produksi.
Adinda selalu saja seperti itu. Kenapa .. Terlalu baik dalam hal merangkul karya, tetapi tidak memikirkan diri sendiri, kesehatannya semakin menurun.
Denyut-denyut berdengung parah. Terabaikan begitu saja, demi .. Kebahagiaan bunga harapannya agar karya-karya tersebut bisa segera Harris baca.
Berdecak sangat kasar. "Kenapa keras kepala?!" Ketus Harris.
Masih belum habis pikir dengan isi kepala sahabat aksaranya itu.
Ok, fine Harris bersalah karena menelantarkan bakat serta tak memberikan kabar atau beri undangan untuk bisa berbagi pengalaman di Jakarta, selama tour berlangsung.
Jelas. Buat Adinda mengambil jalan alternatif dengan merangkul JJS melangitkan asa lewat tulisan. Just for fun untuk dirinya sendiri.
"Maaf.." Getir Harris J.
Tidak bisa berbuat apa-apa dan hal banyak selain maaf terluncur lewat bibir bule tersebut.
Benar apa yang dikatakan Yusha. Kenapa tidak diskusikan hal penting yang telah jadi prestasi lewat karya tulis lewat manager indonesia? Supaya Adinda bisa diundang.
Arg. Frustasi pun mengelilingi kepala Harris saat ini.
Bingung harus bagaimana.
Mengambil mic yang di sodorkan panitia. Dengan cepat menetralkan kegelisahan itu dan naik ke atas panggung.
HP telah hilang tanpa disengajakan itu cukup buat rambut mie london setengah mati berkomunikasi dengan Lefan.
Setelah konser berakhir, akan menghubungi Rahim Jung dan Umaimah untuk beli HP baru.
Walau sudah memiliki banyak uang, bukan kebiasaan Harris membeli sesuatu sebelum izin orangtua.
Ok. Fix, alunan nada terakhir, sebelum benar-benar berangkat dan tidak tahu kapan lagi kembali ke sini, yang jelas ada satu kemasan terbaik walau tahu sangat melukai hati sang sahabat aksara.
Seenggaknya, bisa buat Harris sedikit lega tak terbayang-bayang kesalahan itu lagi. Walau tidak sepenuhnya hilang, semoga memberi dahaga terbaik untuk dia.
Din..semoga kamu suka dengan lagu ini. Gumam Harris, sedikit menarik bibir menjadi bulan sabit, tersenyum tipis.
"Ok, kita sambut kembali Harris J untuk membawakan lagu berjudul 'Fighting Dreamer!' Lagu penutup acara kita di malam hari ini!" Seru mc tersebut.
Antusiasme JJS cukup buat bule london itu tersenyum getir, akan kah ekspresi mereka tetap sama kala memperkenalkan sahabat baru diatas panggung?
Butir-butir asa terus terproduksi dalam kepala, semoga yang di harap menjadi realita penawar terbaik kala sahabat aksara memelihara luka seorang diri lewat larik.
Masih terekam jelas mengenai asupan sembarang di beri, ketika konser di Pesisir Selatan yang buat tubuh terbujur lemah diatas sofa.
Rasa menjalar hingga mual juga pusing di area kepala, cukup buat bule itu sedikit bergerak menjadikan diri kurang produktif. Tidak memberikan kepuasaan manager, melainkan kecewa.
Well. Tahu kok kalau mereka mengerti situasi yang sedang di alami Harris, tetap buat diri tidak enak hati karena jatuh sakit mendadak saat mau tour lagi di kota lain.
Begitu di nikmati sangat heboh oleh bunga harap di bawah panggung. Kalau ada Adinda, bisa saja memperkenalkan karya terbilang langka di dapati sejak terus-menerus datang konser, pasti mendapati kado dari JJS, selalu sama.
__ADS_1
Dan, buat menarik hati adalah novel.
Berdecak kagum juga merasa bersalah, belum bisa memberikan penawar terbaik sesuai keinginan sahabat aksara.
Done. Usai pamit dan memberi senyum lebar ke JJS, turun dari atas panggung sekedar istirahat sejenak lalu berkemas berangkat ke Amerika, memenuhi undangan di sana.
Oh yah, tadi lagu di bawakan untuk menggantikan diksi maaf sebab tak membawa atau menanyai keberadaan novel itu di Pak Hafiz.
Mendapati informasi juga dari beliau, kalau A Dreams tersebut tertinggal di Jakarta. Sekarang posisi bule itu di Solo. Tidak ada waktu lagi untuk kirim novel tersebut, karena Mahmood sudah pesan tiket keberangkatan ke Amerika.
"Nanti saya kirim vidio itu ke Pak Mahmood." Kata salah satu panitia.
Harris hanya manggut paham dan tersenyum tipis.
Sungguh .. Masih terbayang rasa bersalah.
Padat, mendesak dalam kepala, hingga melupa menanyai novel itu supaya tidak lupa dan terbiarkan berdebu di kantor DNA Production.
Karena sangat di sayangkan sekali, kalau karya sangat menginspirasi itu nangkring tak terpedulikan di sana.
"I proud of you, Harris J." Pak Hafiz menepuk-nepuk pundak bule itu, sangat bangga.
Baru mengetahui selama memakai dapur rekaman, tidak ingin terganggu oleh siapa pun, ternyata menyiapkan satu lagu perpisahan yang terkesan bagus, menggunakan bahasa indonesia. Fasih sekali.
Tapi, tak diketahui manager indonesia kalau itu semua adalah kado permintaan maaf ke gadis aksara.
"Thanks, Sir." Jawab Harris J sekenanya.
Mereka kini sudah sampai depan pintu keberangkatan.
Melepas kepergian dua orang itu masuk dalam pesawat, sambil melambai-lambai bangga.
Pasti. Adinda akan mencari vidio konser tour terakhirnya. Bismillah saja.
Sebab .. Apa lagi selain kado permintaan maaf lewat lagu yang diambil dari sajak, jika hal sederhana itu cukup buat Adinda tertawa girang?
Bentar, tertawa? Harris bahkan tidak bisa menerowong sangat jelas mengenai isi hati gadis aksara itu. Mungkin sebaliknya kah?
Masih terekam jelas, mengenai ..
Konser terakhir hari itu di Solo, di tempat istirahat, Pak Hafiz memanggil.
Dengan wajah bengong ada apa, pak? Ke arah beliau sambil duduk diskusi.
Ok. Beliau pun menyarankan buat vidio ucapan terima kasih ke satu fans yang buat novel tentang dirinya.
Hingga .. Perulangan vidio, karena tidak bisa menghentikan rasa tawa, senang campur haru.
Harris pun tertawa getir, melihat kembali lagu serta vidio big thanks for sahabat aksaranya. Tidak tahu kenapa bisa beliau lupa bawa ke Solo?
Hah..berharap Adinda bisa segera mendengar kado dari puisi yang dibuat dan terbaca oleh bule itu lewat DM telah menjadi lagu di konser terakhirnya.
Pasti, Kak Lefan bakal mengamuk tahu dirinya tidak memberikan undangan khusus.
Membayangkan hal itu saja, cukup buat Harris tersenyum geli.
🪐🪐🪐🪐
Terkejut bukan main. Aroma nada-nada mampu menghipnotis mereka yang menyumpal ke daun telinga, mengenai kenangan serta cerita manis waktu di london.
Juga .. Sholat berjamaah bareng keluarga Jung di sana. Tak lupa bermain salju.
Adinda kembali diingatkan oleh memoar kota big ben.
Balik ke kota sendiri, fokus pada titik cita yang berantakan, matkul banyak ngulang.
Paling beta sekali lihat nilai hangus berjejer di KRSM.
Ah, daripada memusingkan nilai hangus, bagaimana mengingat ulang tentang perjuangan dia menghubungi manager sombong itu?
Benar sekali. Malam itu, sebelum konser Harris berakhir, berupaya menghubungi managernya untuk memastikan novel A Dreams telah disodorkan ke bule london.
Ugh. Bermain dengan perasaan. Sungguh.
Air mata tidak lupa menjadi temannya kala menunggu asa diberi Pak Hafiz.
Sakit.
Berpikir kenapa sih mereka terlalu menyepelehkan sebuah bakat tak bermain dengan detak waktu dalam mengumpulkan unfaedah? Justru beri sesuatu yang bernilai?
Heran. Mereka mengapresiasikan jemari-jemari yang membeli secarik kertas konser dibanding lihat sebuah perjuangan mendapati posisi prestasi.
__ADS_1
Karya tulisan dijadikan hiasan saja.
Berdebu. Lusuh tak terurus, justru rupiah-rupiah itulah yang mereka butuh.
Oh iya benar juga, Adinda teringat satu hal ..
Kalau itu gak bisa, ada aturannya.
Ping,
Yah.. Saya pikir bisa, padahal pengen JJs beli bukunya.
Percakapan berdurasi singkat dengan manager indonesia. Sudah sangat jelas di nilai kalau butuh biaya besar, sponsor salah satunya.
Hah..menghelakan napas sangat gusar.
Andai Harris ada kabar dan terpastikan gadis aksara itu menunjukkan chat tersebut lalu mendiskusikan karyanya ikut terjual-belikan selama konser tour berlangsung.
Lagi mematahkan sebuah harap dalam mengantongi rupiah sendiri dari hasil karya diproduksi.
Mengingat kolaborasi dengan JJS tidak hasilkan apa-apa hanya beberapa saja yang beli, itu pun tidak mampu menutupi kekurangan yang ada.
Yang diinginkan adalah mengalirkan rupiah terus-menerus sampai bisa hasilkan royaliti, bagi-rata dengan JJS.
Sebab dia tidak mau bikin karya orang sia-sia tak terbayarkan.
Gessa. Mungkin bisa mencari solusi terbaik kali?
Mempersiapkan diri untuk pergi ke rumah sahabatnya, semoga saja ada di rumah.
"Yah..makasih, tante, kalau begitu saya pamit pulang dulu, mari tante." Kata Adinda dengan lesu.
Gessa ke mana saat lagi butuh solusi di tengah buntu tidak memiliki kabar sama sekali dari sahabat bule london?
Balik lagi ke rumah dengan perasaan tumpang-tindih.
Resiko memiliki mimpi jadikan bule rambut mie dari london sahabat, yah .. Begini, tidak jelas arahnya.
Drrtt..Drrtr.., tunggu, ada yang mengusik isi pikiran Adinda saat ini.
Merogoh kantong celana lalu melihat ke layar benda pipih tersebut, siapakah yang menelpon?
Tidak mungkin ..
"Gessa!" Pekik gadis itu sangat lantang diatas motor.
Keajaiban sekali, sahabat paling sok sibuk ini menelpon.
Huee..pengen nangis trus berhamburan ke pelukannya.
"Hallo, Din, katanya tadi kamu datang ke rumah cari saya kah?"
"Iyo..dasar hilang-hilang tros kah! Orang lagi butuh juga!" Ketusnya.
Terdengar ada tawa di sebrang sana. Cukup buat Adinda berdecak pinggang.
"Bentar ah, saya masih di jalan nih, tapi jan kasih mati dulu. Sedikit lagi saya sampe rumah." Adinda melanjutkan dengan mode protes.
"Hm..saya tunggu," Gessa menimpali sangat santai tapi berbungkus tawa.
Usai memasuki motor, buru-buru masuk dalam kamar, karena tadi ingin balik ke rumah sahabat, sudah dipastikan tidak leluasa bercerita. Jadi lebih baik lewat telpon saja.
Adinda pun menjelaskan kedatangannya tadi ke rumah.
"Ji, kenapa tidak langsung telpon Harris saja kah? Menyusahkan diri disitu."
"Ges, percuma saya punya nomor bule itu, tapi tidak ada kabar sama sekali."
"Kenapa bisa Harris J tidak ada kabar, Din? Anak itu ke mana? Masih konser kah?"
Menggeleng pun hal percuma. Karena sahabatnya tidak melihatnya.
"Semalam konser terakhirnya, Ges. Mana sempat dia kabari saya kalau mau berangkat?"
Gessa juga bingung mau menanggapinya seperti apa?
"Sudah, begini saja, kenapa tidak buka youtube saja? Coba lihat dia nyanyi, siapa tahu ada sesuatu yang Harris sudah persiapkan buat kamu, begitu? Makanya dia sengaja hilang kabar."
Ah, betul kah?
Adinda masih belum yakin dan percaya.
__ADS_1
Tapi, "ok deh, kalau begitu nanti saya nonton sudah. Thanks?"
Tidak. Dia justru asik menangis mengetahui perjuangannya dinomorduakan oleh manager yang telah memberikan pintu asa bahwa novel itu bakal di kasih tapi ternyata senang belaka. []